
Hai kakak-kakak, pertama author mau minta maaf karena kemarin tidak bisa update…
Kemarin author tiba-tiba drop badan panas jadi ga pegang laptop sama sekali huhuhu, jadi curhat deh..
Udah ah yuk kita lanjut ke ceritanya aja, selamat membaca~
Semua orang sedang pulang ke rumah mereka masing-masing karena harus mandi dan mengurus pekerjaan, saat itu Rey yang di tugaskan untuk menjaga Elsa di rumah sakit.
Hanya ada Rey dan Elsa di sana, suasana canggung mendominasi seluruh ruangan karena ucapan Rose yang menyuruh mereka menikah.
“Els, maaf karena aku tidak bisa langsung memberikan jawaban kepada tante Rose.” Ucap Rey yang memecah kecanggungan di antara mereka.
Elsa hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Rey, Elsa menatap Rey dengan tatapan sendunya.
“Kak Rey, apa kakak tau kenapa dulu aku menolak kak Rey dan malah memilih Sandy?” tanya Elsa.
Rey yang mendengar pertanyaan itu langsung menatap Elsa dengan tatapan penuh tanya.
“Itu karena aku merasa kalau kak Rey terpaksa waktu menyatakan perasaan kak Rey kepadaku. Aku tau kak Rey belum yakin dengan perasaan kak Rey kepadaku, kak Rey mengungkapkan perasaan kak Rey karena merasa aku akan di rebut oleh seseorang.” Ucap Elsa.
“Els, bukan begitu..”
“Jangan berbohong kak! Selama ini kamu sudah terbiasa di ganggu olehku, kamu hanya takut merasa kehilangan orang yang selama ini mengejarmu seperti orang gila.”
“Aku menyukaimu, tapi aku hanya masih belum memastikan perasaanku.”
“Sudahlah kak, tolak saja permintaan mamaku, aku tidak ingin berada di dalam hubungan yang di penuhi dengan paksaan.” Tegas Elsa.
Sebelum Rey menjawab, tiba-tiba saja Ryan dan Rose masuk ke dalam ruangan Elsa.
“Rey, kalau kamu ada keperluan di luar pergilah, kami akan menjaga Elsa sekarang.” Ucap Rose.
“Tante, Rey menerima pernikahan itu!” ucap Rey secara tiba-tiba.
Elsa yang mendengarnya langsung menatap ke arah Rey dengan tatapan tidak percaya.
“Kamu serius Rey!?” tanya Rose dengan mata yang sudah penuh dengan harapan.
“Serius tante, Rey akan menikah dengan Elsa dan menjaganya dengan baik agar tante dan om tidak merasa khawatir lagi.” Ucap Rey.
Rose dan Ryan sangat senang mendengar hal itu, mereka berdua langsung keluar ruangan Elsa untuk mengabari keluarga mereka dengan kabar bahagia tersebut.
Sedangkan Elsa kesal dengan jawaban yang di berikan oleh Rey, Elsa tidak suka dengan keputusan Rey yang menurutnya sangat egois.
“Apa maksud ucapanmu barusan kak Rey! Menikah bukanlah hal yang mudah.” Ketus Elsa.
“Aku tau menikah bukanlah hal yang mudah, tapi aku juga ingin membuktikan kalau aku benar-benar menyukaimu.”
“Kamu hanya takut tidak ada lagi orang yang mengejar-ngejar kamu kak!”
“Intinya kita akan menikah! Entah bagaimana perasaanku padamu, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.” Tegas Rey yang langsung meninggalkan ruangan Elsa.
Sedangkan Elsa yang masih kesal hanya bisa mengepal kedua tangannya dan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Walaupun aku sangat menyukainya, tapi aku tidak mau menikah hanya karena rasa penasaran kepada perasaannya kepadaku.” Gumam Elsa.
\*\*\*
Beberapa bulan telah berlalu, Andini telah melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat menggemaskan dan tampan hingga membuat semua orang sangat bahagia menyambut kehadiran keluarga barunya itu.
Darren Adibrata, nama indah yang diberikan oleh papi Kalandra untuk cucu keduanya itu.

“Kamu ini bagaimana sih! Kenapa tidak bisa menjaga Daren dengan benar!?”
“Ken kamu ini kenapa marah-marah sih! Kamu kira aku mau ngelihat Darren jatuh? Aku juga panik saat dia jatuh dari kasur, karena tadi dia sedang tidur!” ucap Andini.
“Aku emang ga bisa percaya sama kamu, dari awal kamu emang ga bisa jaga Darren dengan baik!”
Andini kesal dengan ucapan Ken yang menurutnya sangat menyakitkan, bagaimana bisa dia di bilang tidak bisa menjaga anaknya di saat Ken sendiri sibuk dengan pekerjaannya, dan dia juga harus mengurus urusan rumah tangga.
“Siapa yang melarangku mencari pengasuh?! Siapa yang menyuruh menyewa pembantu hanya untuk mencuci dan memasak saja?! Kamu Ken! Saat para pembantu sudah pulang, lalu saat aku membutuhkan apa-apa siapa yang menjaga Darren? Saat aku pergi ke kamar mandi siapa yang akan menjaga Darren?!” ketus Andini.
“Aku juga sudah lelah! Aku hanya meninggalkan Darren ke kamar mandi sebentar itupun karena aku melihat Darren sudah tertidur pulas!” lanjutnya.
“Kalau begitu aku akan mengantar Darren ke rumah kak Belinda saja, biar dia yang membantu menjaga Darren karena kamu tidak bisa!” tegas Ken.
Entah kenapa emosi Ken semakin tidak bisa terkendali semenjak kelahiran Darren, hal kecil apapun yang terjadi kepada Darren akan membuat Andini di marahi oleh Ken.
Tidak jarang Andini menangis secara diam-diam karena semua ucapan kasar Ken, awalnya Andini berusaha mengerti karena ini pertama kalinya Ken memiliki anak dan mungkin dia juga lelah karena setiap malam harus bangun untuk menenangkan Darren yang rewel.
Terkadang sifat Ken sangat lembut kepadanya, dia akan menyuruh Andini beristirahat dan menggantikan Andini untuk menjaga Darren, tapi kalau sesuatu sudah terjadi kepada Darren, Ken akan memarahi Andini seperti sekarang.
Ken sudah menggendong Darren dan membawanya turun ke bawah, sedangkan Andini yang masih berada di dalam kamar hanya bisa menangis mengingat semua perkataan Ken kepadanya.
“Bagaimana ada seorang ibu yang tidak bisa menjaga anaknya sendiri!” gumam Andini sambil meneteskan air mata.
Andini berusaha untuk sabar dan mencoba untuk menjadi ibu dan istri yang lebih baik lagi kedepannya.
Andini sering kali bercerita tentang sikap Ken yang berubah-ubah kepada Belinda, kakak iparnya yang selama ini selalu menjadi penasehatnya.
Belinda menyuruh Andini bersabar karena kadang dia sendiri juga mengalami mood yang berubah-ubah.
Setelah puas menangis, akhirnya Andini segera membersihkan diri sebelum Ken kembali ke kamar, setelah itu Andini turun ke bawah menghampiri Ken dan Darren.
Ken menoleh ke arah Andini yang sedang menuruni tangga, dia juga melihat mata istrinya yang sembab karena habis menangis.
“Maaf karena ucapanku membuatmu sakit hati lagi.” Ucap Ken hingga membuat Andini tersenyum ke arahnya.
“Tidak masalah, aku sudah terbiasa.” Ucap Andini.
“Duduklah, aku tau kamu pasti sangat lelah karena harus menjaga Darren dan juga mengurus pekerjaan rumah yang sangat banyak, maaf karena aku selalu memarahimu dan tidak mau mengerti dirimu.” Ucap Ken.
“Tidak apa, aku tau kamu sudah lelah karena pekerjaan dan melihat anakmu seperti itu pasti kamu akan merasa kesal dan marah.” Ucap Andini.
Dia tidak mau marah kepada Ken, dia tau kalau Ken juga sudah lelah karena pekerjaannya, Ken pasti sangat ingin di sambut oleh tawa anaknya saat pulang namun yang dia dengar adalah tangisan dari Darren dan juga benjolan yang ada di kepala anak laki-lakinya itu.
Ken memeluk Andini dan mencium kening istrinya itu, dia mau berusaha untuk mengontrol emosinya agar tidak terlalu berlebihan saat menghadapi masalah.
\*\*\*
Welcome baby Daren 🎉
Siapa nih yang setelah lahiran tuh bawaannya badmood atau sering di sebut baby blues? Nah kalau suaminya ada yang kayak Ken gini ga? Katanya suami juga bisa depresi setelah kelahiran anaknya loh... bener ga tuh?🤔
Btw Author akan menghentikan cerita Elsa dan Rey di sini yaa, karena mereka sudah punya novel sendiri.
(ELSA'S LOVE STORY)
Di novel mereka sengaja author kasih kilas balik gitu kisah mereka waktu SMA tapi insyaallah bakalan author persingkat biar ga terlalu panjang..
Author juga akan menceritakan hubungan Elsa dan Sandy saat mereka berpacaran, bagaimana sih sebenarnya sifat Sandy selama ini sama Elsa.