
Mencintai seseorang berarti menjadikannya bagian dari dirimu. Itu sebabnya akan terasa sakit saat kehilangannya.
Drrtt,, drtt..
Di dalam mobil Bernard, semua orang yang mereka di kagetkan dengan dering telfon dari hp Bernard.
“Bernard, hp kamu ngagetin aja sih!” ketus Jonathan yang hari itu berperan sebagai sahabatnya bukan asistennya.
“Aku juga kaget kali dengernya.” Jawab Bernard sambil mengambil hp yang ada di dalam sakunya.
“Siapa yang nelfon kak tengah malam begini?” Tanya Rey.
“Maminya Key.” Jawab Bernard hingga membuat semua orang yang ada di dalam mobil terkejut.
“Apa? Jangan-jangan tante Khansa sadar kalau Key tidak ada di rumah?” tanya Rey.
Bernard tidak menjawab pertanyaan Rey, dia hanya memberi isyarat kepada mereka untuk diam dengan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
“Halo tante.” Sapa Bernard dengan santai.
“Halo Bernard, kamu di mana? Apa kalian sudah sampai?” tanya mami Khansa.
“Sudah tante, Bernard sudah berada di gedung X sekitar setengah jam yang lalu dan Bernard sedang memantau Key.” Jelas Bernard.
Semua orang yang ada di dalam mobil terkejut menoleh ke arah Bernard secara bersamaan dengan tatapan aneh.
“Tante tenang aja, Bernard akan menjaga Key dengan baik.” Ucap Bernard.
“Baguslah, tolong jaga Key dan selalu kabari tante kalau ada sesuatu karena tante akan segera mengirim orang untuk ke sana.” Ucap Bernard.
“Sepertinya tidak perlu tante, karena Key lebih handal dari yang Bernard fikirkan.”
“Tapi dia tetap saja perempuan Bernard. Dia memang handal dalam beladiri, tapi semua orang ada saat dimana mereka akan lengah.”
“Iya tante, Bernard juga membawa bantuan untuk berjaga-jaga jika Bernard tidak bisa mengatasi keadaan di sini.” Ucap Bernard.
“Baguslah kalau begitu tante titip Key ya kamu juga hati-hati jangan sampai ada yang terluka.” Ucap mami Khansa lalu mematikan telfonnya.
Setelah telfon Bernard mati, semua orang di dalam mobil langsung menatap Bernard dengan penuh tanda tanya.
“Kamu bilang kalau kita ada di sini?” tanya Harry.
“Hm, tante Khansa sudah tau tentang hal ini dia tidak sengaja mendengar ucapan Key, Lana dan Elsa dan menyuruhku untuk menjaga Key dengan baik.” Jelas Bernard.
“Tante Khansa tidak bilang sama om Kalandra?” tanya Rey.
“Aku juga tidak tau masalah itu, tapi kalau memang om Kalandra tau tentang hal ini pasti dia sudah membereskan semuanya tanpa harus menunggu Key masuk ke dalam gedung itu.” Ucap Bernard.
Setelah mendengar ucapan Bernard akhirnya mereka melanjutkan pemantauan mereka sambil meminum dan memakan camilan yang sengaja di bawa oleh Harry untuk persiapan mereka di mobil.
\*\*\*
“Kita ambil gampang aja deh, aku akan melunasi semua hutang kakakmu itu tapi kamu harus melepaskan aku dan anggap kalau kita tidak pernah bertemu. Aku malas berurusan dengan orang sepertimu!” ketus Key.
“Apa kamu bilang!? Semudah itu kamu bilang akan meluasi semua hutang kakakku!? Apa kamu memang di ajarkan untuk menjadi wanita yang sombong!? Kalian kenapa diam saja! pegangi dia!” teriak Dina.
Ke lima laki-laki bertubuh besar yang berada di belakang Key segera memegangi tangan Key dengan sangat kuat. Key membiarkan laki-laki tersebut menyentuhnya karena ia ingin tau apa yang akan di lakukan oleh dina.
Plak!!
Semua orang yang mendengar suara tamparan yang kencang itu langsung membulatkan mata mereka.
“Jangan kak! Key belum memberikan kode apapun, dia akan marah kalau kakak mengacaukannya.” Ucap Rey.
Mendengar ucapan Rey akhirnya Bernard langsung kembali berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak terbawa emosi.
Sedangkan Key sangat kesal karena Dina berani menyentuh pipinya menggunakan tangan kotornya.
“Berani sekali kamu menyentuh wajahku dengan tangan kotormu itu!” bentak Key.
“Kenapa? Apa kamu tidak suka kalau wajahmu ku sentuh?” tanya Dina sambil tertawa dengan tangan yang mulai terangkat untuk kembali menampar pipi Key.
Key yang memang paling tidak suka kalau wajahnya di sentuh oleh siapapun langsung loncat dan menendang perut Dina dengan kedua kakinya.
“Aaa!” teriak Dina.
Para penjaga Dina yang melihat hal itu langsung segera mempererat cengkraman mereka tapi Key lebih ahli dalam melepaskan cengkraman mereka dengan sangat mudah, setelah melepaskan cengkraman mereka Key langsung memukul dan menendang perut laki-laki bertubuh besar itu dengan sangat mudah dan membuat mereka kesakitan.
“Huh, hanya segitu kemampuan kalian? Kalian semua sudah merasa kesakitan hanya karena aku memukul dan menendang perut kalian?” tanya Key dengan tawa yang sangat puas hingga Dina merasa kesal dan mengeluarkan pistol dari dalam celananya dan mengarahkannya tepat di hadapan Key.
“*Aku sudah mengira dia akan membawa senjata*.” Gumam Key di dalam hatinya.
“Kamu akan mati di tanganku Key! Aku sudah mengikutimu sampai di sini dan aku tidak akan membiarkanmu bahagia dan membuat semua yang ku lakukan menjadi sia-sia!” teriak Dina.
“Ah jadi kamu mengikutiku dari Indonesia sampai ke sini? Sepertinya kamu sangat menyukaiku sampai berusaha sekeras itu hanya untuk bertemu denganku.” Ucap Key.
“Kau!”
Dorr….
Suara tembakan terdengar dari dalam gedung, Bernard, Harry dan Jonathan langsung bersiap untuk keluar dari mobil namun di halangi oleh Rey.
“Tunggu! Key masih belum memberikan sinyal kepada kita.” Ucap Rey.
“Bagaimana bisa dia mengirim sinyal jika tertembak!?” tanya Bernard yang kesal dengan sifat Rey yang terlalu santai.
“Diamlah kak Bernard, apa kamu tidak percaya dengan Key? Key bukan wanita lemah seperti wanita-wanita di luar sana, dia tidak akan tertembak semudah itu.” Ucap Rey dengan penuh keyakinan.
Mendengar ucapan Rey, Bernard hanya bisa diam saja. Bernard sangat mengkhawatirkan keadaan Key namun di sisi lain dia juga harus mempercayai Key.
“*Aku mohon Key, beri tanda pada kami kalau kamu baik-baik saja aku mohon buatlah kami semua tenang karena mendengar suaramu*.” Gumam Rey di dalam hatinya.
“*Aku bersumpah aku tidak akan pernah mengijinkanmu untuk berada di dalam keadaan seperti ini lagi Key. Aku mohon bicaralah, kembalilah kepadaku karena masih banyak hal yang mau aku rencanakan bersama denganmu*.” Gumam Bernard di dalam hatinya.
\*\*\*
Sedangkan di apartment Key, Lana dan Elsa juga mendengar suara tembakan yang ada di gedung itu.
“Kak Lana, bagaimana ini? bukankah ini saatnya kita untuk memberitahu papi Kalandra dan mami Khansa?” tanya Elsa dengan panik.
“Tenang dulu, aku yakin Key tidak akan tertembak Elsa. Dia sudah sangat ahli dalam hal ini, walaupun Dina menyerang aku yakin kalau itu hanya meleset.” Ucap Lana.
“Kak, kenapa kak Lana begitu santai? Apa kak Lana tidak mengkhatirkan kak Key?” tanya Elsa.
“Tentu saja aku mengkhawatirkannya, tapi aku memilih untuk mempercayainya sebentar lagi! Key bilang waktunya 5 jam, jika 5 jam dia tidak kembali aku akan segera memberitahu om dan tante.” Ucap Lana.
“Apa kita sempat menyelamatkan kak Key dalam waktu selama itu?” tanya Elsa.
“Bisa, aku yakin bisa. Ada kak Bernard dan Rey di sana, aku tau kalau Rey sama hebatnya dengan Key dan aku percaya kalau kak Bernard juga pasti sudah terlatih dalam hal bela diri.” Ucap Lana.
“*Aku percaya padamu Key, ayo bicaralah agar kami tau kalau kamu baik-baik saja. come on Key aku mohon*.” Gumam Lana di dalam hatinya dengan telinga yang serius mendengarkan alat penyadap itu.
“*Kenapa kak Lana santai sekali? apa kak Key benar-benar tidak apa-apa*?” gumam Elsa sambil melihat ke arah Lana yang sedang fokus mendengarkan.