
Jangan menunggu seseorang yang sempurna. Tunggulah seseorang yang berpikir kamu adalah seseorang yang sempurna.
Hari sudah berganti, keluarga papi Kalandra memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Bernard dan Belinda juga akan ikut ke Indonesia bersama dengan keluarga papi Kalandra.
“Kalian yakin ingin ikut ke Indonesia?” tanya papa Bernard kepada Bernard dan Belinda yang sedang duduk di ruang tamu.
“Iya pa, lagi pula Belinda juga harus ikut serta memantau persiapan pernikahan, kan ga mungkin dong kalau semuanya di urus mami Khansa.” Ucap Belinda.
“Kalian berdua hati-hati ya dan harus tetap saling menjaga satu sama lain, dan kamu Bernard jangan membuat masalah di sana, cepatlah bawakan mama menantu jangan kalah sama Belinda.” Ucap mama Bernard.
Bernard dan Belinda yang mendengar ucapan mamanya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Mereka berdua sudah terbiasa dengan keinginan mamanya yang ingin memiliki menantu dan cucu secepat mungkin, itulah alasan Bernard dan Belinda selalu di jodoh-jodohkan.
“Sudahlah ma, mama itu jangan menyuruh anaknya cepat menikah terus nanti mama akan di sulitkan untuk mengurus cucu-cucu mama.” Ucap Bernard.
“Menikahlah dulu baru berbicara mengenai cucu.” Ucap mama Bernard.
“Sudahlah jangan berdebat terus, pusing papa dengernya. Kalian berdua pergilah ke kamar masing-masing dan kemasi barang-barang kalian yang akan di bawa ke Indonesia.” Ucap papa Bernard.
“Apa lagi yang mau kita bawa pa, di apartment kita juga sudah ada banyak barang yang kita perlukan jadi tidak perlu membawa apapun lagi.” Ucap Belinda.
Mendengar ucapan Belinda, papa dan mama Bernard dan Belinda hanya menganggukkan kepala dan pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
Melihat papa dan mamanya yang sudah pergi ke atas Belinda berusaha berbicara dengan Brnard tentang kejadian kemarin malam yang membuat Kenan menghubungi Belinda.
“Kamu ini kenapa tidak berbicara kepadaku dan Kenan kalau Key merencanakan sesuatu yang berbahaya Bernard?” tanya Belinda.
“Ini sudah kejadian kemarin Bel, kenapa kamu baru tanya sekarang?” tanya Bernard.
“Karena aku tau kemarin kamu masih lelah dan aku juga tidak mau membuatmu semakin stress, makanya aku tanya sekarang.” Ucap Belinda.
“Aku hanya ingin membantu Key, dia tidak mau kamu dan Kenan terluka karena ancaman yang tertuju padanya, aku juga tidak ingin kamu dan Kenan terluka itulah kenapa aku membantu Key untuk diam-diam merencanakan hal yang tidak kalian ketahui.” Ucap Bernard.
“Tapi tetap saja itu salah Bernard, kamu tau hal itu bukan? Aku tidak menyangka jika adik Diana akan melakukan hal seperti itu, aku dengar dia masih seumuran dengan Key bukan?” tanya Belinda.
“Iya, dia seumuran dengan Key tapi sudah berani mengancam seseorang bahkan memasukkan obat perangsang di dalam minuman Key.” Jelas Bernard.
“Oh iya ngomong-ngomong soal obat perangsang, bukankah kamu membawa Key ke apartment pribadimu saat itu? Lalu, apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kalian? Kamu tidak melakukan hal-hal yang aneh kepada wanita yang sedang tidak sadar kan?” tanya Belinda.
“Tidak lah! Ngaco kamu! Aku tau aku laki-laki, dan kalau aku bilang tidak tergoda berarti aku bohong banget, tapi aku masih bisa mengontrol hasratku lah apa lagi Key sedang tidak sadarkan diri saat itu! Walaupun ada yang dengan senang hati naik ke atas tempat tidurku saja aku tidak akan menyentuhnya, apa lagi itu Key!” tegas Bernard.
Belinda melihat kedua mata dan ekspresi dari saudara kembarnya itu untuk melihat kejujuran di matanya.
“Baguslah kalau begitu, aku tidak mau sampai kamu merusak kehidupan wanita yang polos, karena seharusnya aku yang di terror olehnya bukan Key, Key tidak salah apa-apa tapi dia yang harus mengalami hal seperti itu.” Ucap Belinda.
“Sudahlah! Kamu ini ngomong apa sih! Semuanya sudah berlalu dan wanita itu juga sudah berada di penjara.” Tegas Bernard.
“Kenapa? Kamu takut kalau aku kenapa-kenapa ya? kamu mengkhawatirkanku ya?” ejek Belinda.
“Bukan mengkhawatirkanmu! Tapi kamu tidak sehebat Key jadi aku yakin kamu akan menangis saat baru sampai di gedung itu!” ketus Bernard.
“Ih kamu kok ngeselin sih Bernard!” ucap Belinda kepada saudara kembarnya itu.
Bernard yang mendengar kalau kembarannya kesal itu hanya tersenyum mengejek, dan meninggalkan Belinda sendiri di ruang tamu.
“Kamu mau kemana?” tanya Belinda.
“Ke rumah Key lah, aku kan udah kangen sama dia.” Jawab Bernard.
“NO! ngapain kamu ikut aku?”
“Aku kan juga merindukan Kenan.” rengek Belinda.
“Naik mobil sendiri aja sana, lagian kalian ini akan segera menikah jadi tidak boleh sering bertemu.” Ucap Bernard yang langsung berlari keluar menaiki mobilnya dan berangkat tanpa menghiraukan ucapan kembarannya.
“*Huh dasar! Lihat saja kalau kamu membutuhkanku aku tidak akan membantumu*!” gumam Belinda di dalam hatinya sambil melihat kepergian Bernard.
\*\*\*
Bernard sudah sampai di apartment keluarga papi Kalandra, dia langsung keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam lobby apartment, di sana Bernard melihat Key yang sudah rapih memakai pakaian santai.
“Kamu mau kemana?” tanya Bernard dengan mengerutkan keningnya.
“Eh om beruang kok ga bilang kalo mau ke sini? Kita kan masih berangkan ke Indonesia nanti malam.” ucap Key yang baru saja melihat Bernard yang ada di depan pintu.
“Iya aku pengen ketemu sama kamu sekalian ngajak kamu muter-muter sebelum pulang ke Indonesia.” Ucap Bernard.
“Yah om beruang ga ngomong dulu sih, aku mau jalan sama my baby ku.” Jawab Key.
“Ha? my baby siapa?” tanya Bernard yang tidak mengerti dengan ucapan Key.
“Mobil kesayangan aku yang kemarin om. Atau om beruang ikut aku aja gimana?” ucap Key.
“Boleh deh, aku ikut kamu aja kita keliling daerah sini.” Ucap Bernard.
“Tapi aku yang nyetir ya om beruang.” Pinta Key.
“Kalo Key yang nyetir kamu harus rajin ngingetin dia ya Bernard, jangan sampai di ngebut!” ucap papi Kalandra yang baru saja turun ke lobby untuk menghampiri Key.
“Siap om, Bernard akan selalu menjadi alarm Key agar dia berhati-hati saat menyetir.” Ucap Bernard dengan tegas.
Key yang mendengar pembicaraan Bernard dan papi Kalandra hanya bisa menghela nafas panjang dan pasrah jika dirinya tidak akan bisa membawa mobilnya dengan cepat.
“*Yaelah, nambah satu lagi ini bodyguard pribadi*.” Gumam Key di dalam hatinya.
Akhirnya Key dan Bernard berpamitan kepada papi Kalandra dan mami Khansa terlebih dahulu sebelum akhirnya dia berangkat untuk berjalan-jalan dengan mobil kesayangan Key yang berwarna merah muda itu.
Di dalam mobil, Key gugup dan canggung mengingat ucapan papinya yang tidak mengijinkannya untuk mengebut terutama saat Bernard berada di sebelahnya. Bernard yang menyadari kegugupan Key yang ada di sebelahnya.
“Ga usah gugup, santai aja sama aku Key aku tidak akan mengadu kepada papi kamu kalau kamu tidak sampai berlebihan menyetirnya.” Ucap Bernard dengan nada berbisik.
“Benarkah om? Om beruang tidak akan mengadu kepada papi kan?” tanya Key dengan bersemangat.
Bernard hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Key, setelah mendapat ijin dari Bernard Key langsung menancap gas mobilnya dengan kencang namun masih bisa tekontrol. Namun Bernard tetap sedikit terkejut melihat Key saat membawa mobilnya dengan begitu kencang.
“Oh iya kamu ga mau syuting film lagi?” tanya Bernard yang membuat Key menoleh sebentar ke arah Bernard.
“Ha? syuting film gimana sih om beruang? Kapan aku syuting film?” tanya Key.
Akhirnya Bernard memutar suara Key yang sedang berbicara sendiri kemarin malam saat di dalam mobilnya. Key yang mendengar suaranya yang sedang berbicara sendiri itu langsung membulatkan matanya dan menghentikan mobilnya secara tiba-tiba di pinggir jalan.
“Aw! Key, kamu ga apa-apa?” tanya Bernard yang panik dengan keadaan Key.
“Om beruang kenapa punya rekaman suaraku itu!!” teriak Key yang membuat Bernard terkejut dan menutup kedua telinganya.