
Kasih sayang adalah keindahan jiwa bukan kecantikan rupa.
***Pagi hari di Jepang***
Khansa baru saja membuka matanya dan melihat jika matahari sudah mulai naik. Khansa dengan segera melepaskan pelukan suaminya dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Khansa berjanji kepada Rose untuk mengajarinya memasak, karena hotel yang mereka pesan memiliki dapur di dalam kamarnya jadi Khansa bisa dengan leluasa mengajari Rose memasak.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, ia membangunkan suaminya untuk meminta ijin.
“Mas, ayo bangun sudah siang loh aku mau ke kamar Rose ya mau ngajarin dia masak.” Bisik Khansa di telinga suaminya.
Kalandra membuka matanya secara perlahan dan menatap wajah istrinya.

“Kamu kok lucu banget sih sayang hari ini?” tanya Kalandra yang melihat rambut istrinya hari itu di ikat menjadi dua seperti anak kecil.
“Ih biarin lah, biar kelihatan masih muda mas.” Ucap Khansa.
“Gaboleh sayang. Kamu udah mau jadi ibu 3 orang anak, aku ga mau nanti banyak laki-laki yang mengira kamu masih anak kecil.” Rengek Kalandra.
“Yaampun tenang aja kali mas, lihat ini perut sudah buncit kayak balon mau meletus masa iya masih ada yang mau ngelirik aku.” Protes Khansa kepada suaminya yang over.
“Sudahlah mas, ini masih pagi jangan ngajak ribut. Aku mau ke kamar Rose dulu ya dia pasti nungguin aku. Oh iya kamu juga jangan lupa tolong liatin Kenan di kamar kak Ryan, aku takut kak Ryan mengijinkan Kenan bermain game seharian.” Ucap Khansa sambil berjalan menuju pintu kamarnya.
Kalandra yang melihat istrinya sudah keluar kamar itupun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Khansa yang sudah berada di luar segera mengetuk pintu kamar Rose. Tidak lama dia mengetuk, Rose segera membukakan pintu untuk Khansa.
“YaAllah Rose, mata kamu kenapa kayak mata panda gitu?” tanya Khansa yang terkejut melihat lingkaran hitam di mata Rose.
“Kak sasa, aku ga bisa tidur semaleman huhuhu..” rengek Rose.
“Ada apa? Kenapa kamu ga bisa tidur Rose? Kamu sakit?” tanya Khansa sambil memeriksa kening Rose menggunakan punggung tangannya.
“Tidak kak, sepertinya ibukku akan menjodohkanku dengan anak teman bapak.” Ucap Rose.
“Apa!? Bagaimana bisa? Kenapa kamu tidak berbicara kepada orang tuamu jika kamu memiliki pilihanmu sendiri?” tanya Khansa.
“Aku bilang kalo aku sudah punya pacar kak, tapi ibuk ga percaya malah nyuruh aku bawa pacarku ke rumah.” Rose menjawab dengan nada lemas.
“Ya gampang, nanti setelah pulang dari Jepang bawalah kak Ryan menemui orang tuamu.”
“Tidak kak, aku dan kak Ryan tidak memiliki hubungan apapun, tidak mungkin aku membawanya ke rumahku dan mengenalkannya sebagai pacarku, yang ada nanti aku malu dikira ke pedean sama kak Ryan.”
“Tidak mungkin Rose, aku yakin kak Ryan tidak akan memikirkan hal itu. Aku yakin dia juga menyukaimu dari caranya memperlakukan dirimu.”
“Tapi kan dia belum menyatakan cintanya kepadaku kak, aku juga ga mungkin tiba-tiba bilang ke kak Ryan kalo aku akan di jodohkan.”
“Aku akan berbicara dengan kak Ryan tenanglah.” Ucap Khansa menenangkan Rose.
“Sudahlah, lebih baik kita mulai memasak. Kamu mandilah dulu sedangkan aku akan mempersiapkan bahan-bahan yang akan kita pakai.” Lanjut Khansa.
Rose menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap untuk memasak bersama Khansa.
Setelah selesai mandi, Rose segera menyusul Khansa di dapur dan bersiap untuk belajar memasak dari Khansa.
“Kak? Apa yang bisa aku bantu?” tanya Rose yang baru saja datang.
“Kamu bisa memotong sayuran kan?” tanya Khansa yang dibalas anggukan oleh Rose.
“Baiklah, kamu mulai dari memotong sayuran ya. Tapi tetap hati-hati, jangan sampai tanganmu kena pisau.” Ucap Khansa memperingati Rose.
Rose segera mengambil talenan, pisau dan beberapa sayuran yang akan dia potong. Khansa yang sedang menumis bumbu-bumbu sesekali melihat ke arah Rose karena takut jika Rose salah memotong sayurannya.

“Sudah kak, lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Rose yang sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk memotong sayuran.
“Wah, ternyata kamu hebat juga ya menggunakan pisau.” Puji Khansa yang membuat Rose tersipu malu.
Dengan hati-hati Rose memasukkan bumu yang sudah di tumis oleh Khansa ke dalam panci yang berisi air yang sudah mulai mendidih secara perlahan.
“Tidak usah takut Rose, jika terkena air panas atau minyak panas itu akan menjadi makanan setiap hari saat kita sedang memasak.” Ucap Khansa.
“Ha? apa kak? Makanan setiap hari? Aku ga jadi belajar masak deh kak.” Rengek Rose.
“Hm? Tidak boleh begitu Rose, sebagai wanita memasak itu wajib. Jika kita bisa memasak dan menyajikannya kepada suami dan anak kita dan membuat mereka menikmati setiap makanan yang kita masak, itu akan menjadi kebahagiaan tersendiri untuk kita para wanita.” Jelas Khansa.
“Benarkah kak? Bagaimana bisa begitu?” tanya Rose tidak percaya.
“Awalnya aku juga tidak percaya saat ibuku memberitahu hal seperti itu kepadaku, tapi setelah aku menikah dan memasak untuk suami dan anakku untuk pertama kalinya, mereka benar-benar suka dan menikmati masakanku. Aku sangat senang melihat wajah mereka yang puas karena masakanku.”
Rose hanya merespon setiap ucapan Khansa dengan anggukan dan mencoba untuk mengerti setiap ucapannya.
“Sudahlah, ayo kita masak dulu dan kita lihat bagaimana kamu merasa bangga melihat orang-orang menikmati makananmu.” Khansa menyemangati Rose.
Akhirnya Rose melanjutkan memasaknya dan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Khansa mengintip lubang pintu dan melihat jika anak kesayangannya dan suaminya sudah datang. khansa segera membuka pintu kamar Rose dan mempersilahkan mereka semua untuk masuk ke dalam.
“Masuk dan duduklah, sebentar lagi makanannya sudah siap.” Ucap Khansa.
Kalandra, Ryan dan Kenan menuruti ucapan Khansa untuk duduk dan menunggu sarapan yang akan mereka santap bersama.
“Wah baunya wangi sekali mi..” ucap Kenan.
“Iya sayang, kak Rose memasak makanan special untuk kalian semua.” Ujar Khansa.
Setelah selesai memasak, Rose dan Khansa menyajikan makanan di meja makan dan mempersilahkan mereka untuk makan.
“Wah, enak sekali kak Rose. Benarkan pa?” Puji Kenan lalu bertanya kepada papanya.
“Iya sayang, ini enak sekali, sayurnya juga sangat segar.” Puji Ryan.
Rose melihat ekspresi Ryan dan Kenan yang sangat menikmati masakannya itu, dia sangat senang karena mereka memuji masakannya.
“*Wah jadi begini rasa senang melihat mereka menikmati masakanku*.” Batin Rose.
Khansa tersenyum melihat ekspresi Rose yang bahagia mendapatkan pujian dari Ryan dan Kenan.
“Benarkan perkataanku, itu adalah perasaan senang yang tidak bisa di gantikan oleh apa pun.” Bisik Khansa sambil menyikut lengan Rose.
Tiba-tiba Khansa memiliki ide untuk mengerjai Rose dan Ryan.
“Oh iya Rose, bukankah kamu harus pulang ke Indonesia besok?” tanya Khansa.
Ryan yang mendengar ucapan Khansa langsung terbatuk karena tersedak makanannya. Sedangkan Rose menatap Khansa dengan bingung.
“Kak, maksudnya apa?” bisik Rose.
“Diamlah.” Balas Khansa.
“uhukk,, uhukk,, kenapa pulang besok? Bukankah kita sudah membeli tiket untuk minggu depan?” tanya Ryan.
“Iya kak, tadi Rose baru saja membeli tiket pulang untuk besok karena semalam ibunya menelfonnya untuk segera pulang dan akan dijodohkan dengan anak teman bapaknya.” Ucap Khansa.
Ryan terkejut mendengar ucapan Khansa, dia tidak sengaja menyenggol gelas yang ada di sebelahnya hingga pecah dan membuat semua yang ada di sana terkejut.
“Apa! Tidak mungkin! Apa kamu menerimanya Rose!?” tanya Ryan.
Rose yang sudah mengerti maksud permainan Khansa hanya mengangguk mengerti.
“Aku belum menjawabnya kak, besok aku akan pulang untuk bertemu dengan pria itu. Jika aku dan dia memang cocok ya aku akan menerimanya.” Ucap Rose dengan nada lemah.
Ryan menghampiri Rose dan memeluk tubuh Rose dengan erat sehingga membuat Rose terkejut dan membuatnya sulit bernafas.
“Tidak! Tidak boleh ada yang memilikimu selain diriku. Kita akan pulang bersama dan aku akan menemui kedua orangtuamu untuk melamarmu.” Tegas Ryan.
Kalandra melihat ke arah istrinya yang sedang tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
“*Astaga, ternyata istriku bisa se jahil ini mengerjai orang*.” Batin Kalandra memukul keningnya.