MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SAPAAN PERTAMA KENAN


Ketika kita masih setia dan menunggu, disana masih ada cinta meski yang kita tunggu tak memperdulikan kita. 



Pagi itu Rose terbangun dari tidurnya, matanya sembab karena menangis semalaman. Rose beranjak dari tempat tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci wajah dan menyikat giginya.



Setelah selesai mencuci wajah dan menyikat giginya, Rose mengambil hpnya dan mengaktifkannya. Betapa terkejutnya Rose karena ada puluhan panggilan tak terjawab dan satu pesan dari Ryan.



Rose memberanikan diri untuk membaca pesan dari Ryan dan kembali menangis setelah membaca pesan itu.



“Hikss,, hikss kak Ryan maafkan Rose karena sudah menyakiti hati kakak, Rose juga sangat mencintai kak Ryan tapi Rose tidak ingin mengecewakan kakak.” Gumam Rose yang masih membolak balikkan hp yang ada di tangannya.



Rose hanya bisa merenung kamarnya sambil melihat ke arah jendela.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1606813427241.jpg)



Rumah Kalandra


Khansa yang baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk keluarganya, setelah memasak Khansa segera mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor.


Khansa membangunkan suaminya dan Kenan untuk segera mandi dan bersiap, sedangkan Khansa pergi ke kamar si kembar untuk menyiapkan Ken, Key dan Rey.


Khansa dengan telaten menyiapkan ketiga bayinya dengan perasaan bahagia melihat senyum dari bibir mungil ketiganya.



“Jika setiap hari mami selalu mendapatkan senyum kalian pasti akan sangat bahagia setiap harinya.” Gumam Khansa sambil tersenyum ke arah mereka.


“Sayang kamu sudah selesai?” tanya Kalandra yang sedang berdiri di ambang pintu.


“Sudah mas, aku juga sudah menyiapkan ASI untuk Rey.”


“Rey akan tetap tinggal dengan mama?” tanya Kalandra.


“Hm, mama ingin mengurus Rey mas katanya di rumah sepi kalo semuanya ga ada di rumah.” Ucap Khansa.


“Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu di bawah ya sayang kita antar Kenan ke sekolah dulu.” Ucap Kalandra yang di balas anggukan oleh Khansa.


Drrtt,,drrtt,,


Khansa mendengar hpnya berdering dan segera mengambilnya lalu mengangkat telfon tersebut.


“Halo kak sasa” ucap Rose dari sebrang telfon.


“Rose? Yaampun kamu ke mana aja sih? Kamu sengaja bukan mau bikin semua orang khawatir!? Kalo ada apa-apa sama kamu aku harus nyari kamu kemana coba?” bentak Khansa.


“Maaf kak, kemarin Rose hanya ingin sendiri aja.”


“Aku udah tau tentang masalah kamu dan kak Ryan, kamu tau gimana kacaunya kak Ryan kemarin sampe aku, mas Andra dan kak Edo membujuk kak Ryan untuk keluar dari kamarnya.”


“Benarkah kak? Apakah parah?” tanya Rose.


“Gausah tanya, kan kamu udah mengakhiri hubungan kalian jadi kamu ga perlu tau kondisi kak Ryan.” Ketus Khansa yang sengaja mengucapkan hal itu.


“Ih kak sasa kok jahat amat sih, aku kan Cuma mau tau kabarnya doang.” Rengek Rose.


“Tidak, jika kamu ingin mengetahui kabarnya tanyakan sendiri pada kak Ryan.” Ketus Khansa.


Rose hanya menghela nafas panjang karena ucapan Khansa.


“Kamu nanti ke kantor kan Rose?” tanya Khansa.


“Iya kak aku nanti bekerja.”


“Setelah itu datanglah ke rumahku, aku ingin meminta bantuanmu untuk mendandaniku.”


“Bukankah selama ini juga kak sasa berdandan?” tanya Rose.


“Tapi aku tidak bisa berdandan untuk ke pesta Rose, ini adalah pesta pertamaku aku tidak ingi memalukan suamiku di depan rekan bisnisnya.”


“Baiklah kak, nanti setelah pulang kerja aku akan ke rumah kak sasa.”


“Terimakasih ya Rose, sampai jumpa nanti..” ucap Khansa lalu mematikan telfonnya.


Setelah menelfon Rose, Khansa segera menggendong Rey menuju kamar mama mertuanya untuk menitipkan Rey karena mama Alisha sedang menelfon teman arisannya.


“Ma,,” ucap Khansa sambil membuka pintu kamar mama mertuanya.


“Hai sa, Rey tidur? Tidurin di atas kasur mama aja ya sa.” Ucap mama Alisha yang di balas anggukan oleh Khansa.


Khansa menaruh Rey di atas tempat tidur mama Alisha dengan sangat hati-hati dan mencium kening Rey terlebih dahulu setelah itu ia segera meninggalkan kamar mama mertuanya.


“Loh sa, habis naro Rey ya?” tanya papa Arnold yang baru saja mau masuk ke dalam kamar.


“Eh papa, iya pa ini sasa habis naro Rey. Sasa ke bawah dulu ya pa.” ucap Khansa yang di balas anggukan oleh papa Arnold.


Khansa pergi ke bawah untuk memanggil Kalandra untuk meminta tolong membawa anak-anaknya ke bawah.


“Mas aku minta tolong bawa anak-anak ke bawah ya.” ucap Khansa.


“Kamu ga sarapan dulu sayang?” tanya Kalandra.


“Kok bisa ga laper, ga mau tau pokoknya kamu harus makan sayang.” pinta Kalandra.


“Nanti aja mas aku bawa roti ya.” bujuk Khansa.


“Ga ada bantahan ya sayang, pokoknya kamu harus makan.” Ucap Kalandra dengan lembut namun terselip perintah.


“Baiklah mas aku makan tapi kita bawa anak-anak ke bawah dulu ya.”


Akhirnya Kalandra dan Khansa menuju ke kamar si kembar untuk membawa mereka ke bawah.


“Mas, aku ke kamar Kenan dulu yam au nyuruh dia sarapan juga.” Ucap Khansa yang di balas anggukan oleh Kalandra.


“Kenan sayang, ayo sarapan dulu.” Ucap Khansa yang melihat Kenan sedang sibuk dengan tali sepatunya.


Khansa yang melihat anaknya kesulitan memasang tali sepatunya itu menaruh Ken di atas kasur dan berjongkok untuk membantu anak kesayangannya itu.


“Kamu masih kesulitan mengikat tali sepatu sayang?” ejek Khansa.


“Mengikat tali sepatu itu lebih susah daripada ngerjain soal matematika mi.” keluh Kenan.


Khansa hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan anaknya itu.


“Ken, cepat besar ya biar bisa main sama abang.” Ucap Kenan sambil menciumi wajah adiknya yang sedang terlelap itu.


“Mami, kenapa sih anak kecil sukanya tidur terus?” tanya Kenan.


“Entahlah, mereka kayaknya lebih banyak tidurnya ya sayang?”


“Iya mi mereka kegiatannya cuma tidur, nangis, minum susu, tidur lagi. Terus kapan mereka main sama Kenan?” Ucap Kenan dengan kesal.


Khansa hanya tertawa dan mengelus rambut halus anaknya.


“Sudahlah ayo kita sarapan bersama, setelah itu berangkat ke sekolah.” Ucap Khansa.


Khansa, Ken, dan Kenan pergi ke bawah menyusul Kalandra dan Key yang sedang menunggu mereka di bawah. Setelah sampai di bawah mereka mulai sarapan bersama dengan tenang.


“Oh iya Kenan sayang, ingat ya apa kata mami jangan galak-galak sama Belinda.” Ucap Khansa.


“Hm, iya mi Kenan tidak akan galak sama Belinda lagi janj deh.” Ucap Kenan sambil mengangkat tangannya membentuk huruf V.




***Di sekolah Kenan***



Kenan yang sudah sampai di sekolah segera masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya.



“Hai Kenan..” sapa Bernard.



“Hai Bernard..” balas Kenan.



Kenan melirik ke belakang Bernard dan melihat Belinda hanya diam saja tidak menyapanya seperti biasanya, Kenan merasa ada yang aneh dengan sikap Belinda.



“Hai Belinda.” Kenan memberanikan diri untuk menyapa Belinda tetapi masih dengan nada cueknya.



Bernard dan Belinda terkejut karena Kenan menyapa Belinda dan itu adalah hal yang sangat langka, bahkan Belinda sangat ingin merekam ucapan Kenan.



“K,,Kenan kamu beneran nyapa aku?” tanya Belinda.



“Iya, kenapa?” Tanya Kenan.



“Wah hebat sekali Kenan mau menyapaku duluan.” Belinda sangat senang karena untuk pertama kalinya ia mendapatkan sapaan dari Kenan.



Biasanya Belindalah yang selalu menyapa Kenan duluan dan itu juga tidak pernah di balas oleh Kenan.



“Pfftt,, kamu emang harus sesenang itu mendapat sapaan dariku Bel?” ucap Kenan sambil tertawa dan membuat Belinda dan Bernard semakin terkejut lagi.



Selama ini Kenan yang mereka kenal adalah Kenan yang selalu diam, cuek dan dingin kepada siapapun, bahkan jika ada hal yang lucupun Kenan jarang sekali tertawa. Namun hari itu Kenan benar-benar tertawa dan membuat Bernard dan Belinda terkejut.



“Ternyata kamu lebih tampan jika tertawa ya Kenan.” ucap Belinda sambil tersenyum.



Kenan yang menyadar hal itu tiba-tiba menyadarinya langsung mengalihkan pandangan dari Bernard dan Belinda.