MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
AGAR TIDAK BODOH SEPERTIMU!


Cinta bukan tentang berapa lama kamu telah mengenal seseorang, tapi tentang seseorang yang buatmu tersenyum sejak kamu mengenalnya.





“Iya, saya Kalandra dan dia adik saya! Kamu bilang kalau jas yang kamu pakai adalah pakaian yang di beli di butik K?” tanya Kalandra.



“I,,iya memang beli di butik K.”



“Tapi sepertinya ini adalah jas yang gagal di pasarkan, jadi mungkin harganya hanya berkisar 5 juga saja jika beli di gudang!” ketus Kalandra.



Laki-laki tersebut hanya mematung tanpa mengatakan apapun, dia memang tidak membelinya langsung di butik, dia membelinya di temannya yang kebetulan bekerja di butik Kalandra.



“M,,maaf tuan Kalandra..”



“Kenapa kamu meminta maaf kepadaku!? Kamu seharusnya meminta maaf kepada adikku dan gadis itu!” ketus Kalandra.



“Sial! Kenapa aku harus meminta maaf dengan seorang pelayan! Memalukan sekali!” batin laki-laki tersebut sambil menatap sinis ke arah Leo dan gadis pelayan itu.



Dengan berat hati, laki-laki tersebut meminta maaf kepada Leo dan gadis pelayan itu lalu pergi meninggalkan mereka semua.



Khansa menghampiri gadis pelayan tersebut dan membantunya untuk berjalan dan duduk di kursi. Manager café tersebut datang karena mendengar keributan dari dalam cafenya dan bertanya kepada pelayan yang lain apa yang terjadi di cafenya.



Kalandra menjelaskan kepada pelayan café tentang kejadian yang baru saja terjadi, dan pelayan café pun meminta maaf kepada Kalandra karena sudah merusak ketenangan mereka.



“Mohon maaf tuan, karena pelayan saya yang tidak becus bekerja membuat tuan Kalandra dan keluarganya tidak nyaman berada di sini.” Ucap manager café tersebut.



“Sudahlah, semua orang memiliki kesalahan jadi wajar jika pelayan anda berbuat salah. Saya akan membawa pelayan anda ikut dengan saya, saya akan membawanya ke rumah sakit.” Ucap Khansa.



“Tapi ini tanggung jawab saya untuk mengurus pelayan saya nyonya. Biarkan saya yang akan mengurusnya.”



“Tidak! Biar saya yang merawatnya, dan saya juga mewakilinya untuk meminta pengunduran diri kepada anda.” ucap Khansa.



“Tapi nyonya, saya tidak ingin mengundurkan diri.” Sambung gadis itu.



“Diamlah! Ikut saja denganku.” Perintah Khansa.



Akhirnya gadis tersebut ikut pulang bersama dengan Kalandra, Khansa dan Leo, sedangkan mobil Leo di titipkan di café tersebut dan akan di ambil oleh orang Kalandra.



“Kakak kenapa kak Andra dan kak Khansa ada di sana? Bukankah kakak akan pergi makan siang bersama dengan Kenan?” tanya Leo.



“Kenan di sini om Leo!” ucap Kenan yang ada di bangku paling belakang dan membuat Leo yang duduk di tengah bersama gadis pelayan itu terkejut melihat Kenan yang tiba-tiba muncul dari belakang.



“Yaampun Kenan! kamu ngagetin om Leo aja deh!” ucap Leo sambil mengelus dadanya dan mengatur nafasnya.



“Jangan mengubah topik! Seharusnya kakak yang tanya kenapa kamu ada di café! Bukankah kamu di tugaskan untuk mengerjakan laporan kantor!” Lanjut Khansa berbicara kepada Leo.



“Hehehe maaf kak, Leo tadi udah sumpek banget ga ada temen di kantor akhirnya Leo keluar sebentar ngajak teman Leo ngopi.



“Mi, kakak ini siapa? Jangan bilang pacarnya om Leo?” ucap Kenan.



“Bukan lah Kenan! ga akan mau dia sama om Leo! Tegas Leo.



Gadis itu terkejut mendengar ucapan Leo dan tiba-tiba saja wajahnya memerah karena malu.




“Kenapa ga mau om? Om Leo ganteng baik juga, masa kakak ini ga suka sama om Leo?” ucap Kenan dengan polosnya.



Gadis tersebut semakin malu dan wajahnya semakin memerah karena ucapan dari Kenan yang sangat polos dan blak-blakan itu. Khansa yang melihat dari kaca spion dan melihat jika gadis itu sudah sangat malu akhirnya angkat bicara.



“Sudahlah kalian ini! oh iya nama kamu siapa gadis manis?” tanya Khansa.



“Rein nyonya.” Ucap gadis itu singkat.



“Nama yang sangat indah! Dan jangan panggil aku nyonya! Panggil aku kak sasa ya..” ucap Khansa sambil tersenyum ke arah Rein.



Rein menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar kepada Khansa, dia tidak menyangka jika orang yang membantunya sangatlah baik.



“Oh iya, di mana rumahmu Rein?” tanya Khansa.



“Sebenarnya aku kabur dari rumah.” Ucap Rein.



“Kenapa kamu kabur dari rumah Rein?”



“Setelah pernikahan kakakku, aku kabur dari rumah karena ayah dan ibu selalu saja bertengkar, ibu sakit-sakitan sedangkan ayahku memiliki wanita lain di luar sana. Aku selalu ingin menghubungi kakakku, tapi ibu melarangku karena dia sedang berbulan madu saat ini dan ibu tidak ingin mengganggu kebahagiaannya.” Jelas Rein.



“Lalu maksudnya kamu lari dari masalah?” tanya Leo tiba-tiba dengan nada yang meninggi.



“Bisa di bilang begitu, aku pusing mendengar pertengkaran ayah dan ibu. Ayah tidak pernah memberi kami uang, kakak hanya memberi kami uang untuk biaya pengobatan ibu karena yang kakak tau jika aku dan ibu di berikan uang bulanan oleh ayah. Jadi aku bekerja dan mengumpulkan uang lalu pulang untuk memberikan uang itu kepada ibu.” Ucap Rein.



“Awalnya aku kira aku akan menyukaimu dan kepribadianmu, tapi jika kamu berfikir jika kabur akan membuat masalahmu selesai, aku akan menarik kembali ucapanku! Aku memiliki peyakit jantung sejak dulu, jujur aku patah semangat, aku ingin sekali menyerah untuk melanjutkan hidupku.


Tapi ternyata salah! Semakin aku menyerah semakin keluargaku berjuang untuk mencari uang untuk operasiku, semua keluargaku sangat ingin aku hidup lebih lama, bahkan kakakku merelakan masa depannya hanya untuk mencari uang untuk kesembuhanku dan itulah yang membuat aku bersemangat untuk bangkit kembali.”



“Mungkin ibumu saat ini sangat membutuhkan anaknya yang mendukungnya dan memberikannya semangat untuk hidup lebih lama lagi. Tapi jika kamu kabur seperti ini sepertinya ibumu juga tidak akan memiliki keinginan untuk hidup lebih lama.” Jelas Leo.



Kalandra yang sedang menyetir menoleh ke arah istrinya dan melihat istrinya yang sedang menunduk dan mengingat kembali masa-masa sulitnya bersama keluarganya, Kalandra menggenggam tangan Khansa dengan satu tangan untuk menguatkannya.



“*Bagaimana bisa keluarga yang terlihat sempurna seperti mereka juga memiliki masalah yang berat yang harus mereka hadapi*.” Batin Rein sambil menatap sendu ke arah Leo.



“Maaf, aku tidak tau jika ternyata yang memiliki masalah bukan aku saja hikss..” Rein mulai meneteskan air mata.



Leo yang melihat Rein menangis langsung menepuk pundak Rein mencoba untuk menenangkannya dan memberinya semangat untuk kembali bangkit.



“Sudahlah, sudah nangis-nangisnya! Rein kamu mau di obati di rumah sakit atau di rumah kami?” tanya Khansa.



“Lebih baik aku pulang saja kak.” Ucap Rein.



“Istirahatlah di rumah kami lebih dulu, besok pagi kami akan mengantarmu sampai ke rumah sekalian aku dan suamiku berangkat bekerja. Aku juga akan mengenalkanmu kepada anak-anakku.” Ucap Khansa.



“Halo kak, namaku Kenan! mami Kenan udah kenalan sama kakak Rein.” Ucap Kenan yang membuat semua orang yang berada di dalam mobil tertawa oleh tingkah Kenan.



“Yaampun sayang, kamu ini ada-ada aja deh, kan bisa kenalannya di rumah.”



“Tidak mi, Kenan mau duluan memperkenalkan diri. Nanti kalo kakak Rein sudah melihat adek-adek, dia akan melupakan aku mi.” ketus Kenan.



“Hahaha, tenang saja Kenan. Om Leo tidak akan melupakanmu! Setelah sampai ke rumah, main game bareng om ya!” ajak Leo.



“NO! Kenan harus mengerjakan tugas sekolahnya lebih dahulu. Kakak ga mau anak kakak ketularan bodohnya kamu!” tegas Khansa.