MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
TERIMAKASIH KARENA SUDAH MENGEMBALIKAN SUAMIKU


Kita tidak bisa mencegah atau menghapus perasaan. Kita hanya bisa mengendalikannya, atau dikendalikan olehnya.




Setelah diperiksa oleh Anita, Kalandra diberi obat sehingga dia kembali tertidur.



Khansa dan Kenan menunggu di luar dengan perasaan cemas akan keadaan suaminya.



“Kak, bagaimana keadaan mas Kalandra? apa dia mengenalimu?” tanya Khansa setelah melihat Anita keluar dari ruangan suaminya.



“Tenanglah, keadaannya masih belum stabil. Aku baru saja memberikannya obat dan dia sedang tertidur. Tunggu setelah dia bangun kita akan mengetahui apakah dia mengalami amnesia total atau hanya sebagian.” Ucap Anita



“Tapi hanya sementara kan kak?” tanya Khansa.



“Iya sa, jika kamu terus melakukan hal-hal yang biasa kalian lakukan, dia akan mengingat semua tentangmu.”



“Baiklah kak terimakasih..” ucap Khansa.



“Mami, ayo kita masuk ke dalam dan melihat papi.” Ajak Kenan.



“Apa kami sudah boleh melihatnya kak?” tanya Khansa kepada Anita.



“Boleh sa masuklah, aku akan menghubungi orang tua Kalandra dan yang lainnya untuk memberitau kabar baik ini.” ucap Anita lalu meninggalkan Khansa dan Kenan.



Khansa dan Kenan masuk ke ruangan Kalandra dengan sangat hati-hati, mereka tidak ingin mengganggu tidur Kalandra.



“Mami, Kenan seneng banget papi udah sadar. Kenan mau cepetan main sama papi dan mami lagi..” ucap Kenan dengan antusias.



Khansa hanya tersenyum getir mendengar ucapan anaknya itu.



“*Semoga papi akan mengingatmu sayang, mami tidak ingin melihat kekecewaan di wajahmu*.” Batin Khansa yang melihat Kenan dengan tatapan sedih.



Khansa menghampiri Kalandra dan menggenggam erat tangan suaminya itu.



“Mas, terimakasih karena kamu sudah siuman, hari ini adalah hari yang membahagiakan untukku.” Ucap Khansa sambil mencium punggung tangan suaminya.



Tiba-tiba Kalandra menggerakan tangannya dan membuat Khansa dan Kenan terkejut.



“M,,mas?” panggil Khansa dengan lembut.



“Kenan? kenan mana?” tanya Kalandra dengan terbata-bata.



“Ini Kenan papi..” sahut Kenan.



“Kamu Kenan? bukankah Kenanku masih bayi?” tanya Kalandra.



DEG!!



Khansa terkejut mendengar pertanyaan suaminya.



“*Apa maksudnya ini? bagaimana Kenan masih bayi katanya*?” batin Khansa bertanya-tanya didalam fikirannya sambil menundukkan kepalanya.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1604761723237.jpg)



Dengan segera Khansa menelfon Anita untuk segera ke ruangan Kalandra.



“M,,mas? Kamu ga kenal Kenan?” tanya Khansa dengan ragu.



“Kamu siapa?” tanya Kalandra.



Khansa diam dan menutup mulutnya karena terlalu menyakitkan baginya melihat suaminya yang tidak mengenalnya sama sekali.



Khansa menarik nafas panjang dan mengatur emosinya agar dia tidak menangis.



“Mas, aku adalah istrimu setelah mbak Amelia. Ini adalah Kenan, dia sudah berumur 6 tahun sekarang. Mbak Amelia meninggal 6 tahun yang lalu, dan kamu menikahiku saat Kenan berumur 5 tahun.” Khansa menjelaskan dengan perlahan.



“Kenapa aku tidak mengingatmu dan anakku sendiri? Bagaimana aku tidak tau tentang tumbuh kembang anakku? Bagaimana aku berada di rumah sakit, apa yang terjadi padaku?” tanya Kalandra



Kenan yang mengetahui jika papinya tidak mengingatnya itu langsung menangis dan memeluk Khansa.



“Hikss,,hikss mami.. papi tidak mengenal kita mi bagaimana ini? ini semua salah Kenan hikss, jika Kenan tidak di culik pasti papi tidak akan tertembak dan melupakan kita mi hikss,, hikss..” Kenan duduk di sofa sambil merengek karena papinya tidak mengingatnya.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1604761723234.jpg)



“Sstt Kenan sayang jangan menangis, ini bukan kesalahan Kenan. Ingat perkataan mami kan? Tidak ada yang salah, ini adalah ujian yang diberikan Allah kepada kita.” Khansa dengan sabar menenangkan dan menjelaskan kepada Kenan.



Ryan dan Rose yang memang masih berada di rumah sakit untuk memantau para wartawan itu suah mendengar kabar Kalandra dari Anita dan langsung menuju ke ruangan Kalandra untuk melihatnya.



“Ndra! Kamu udah sadar? YaAllah Alhamdulillah..” ucap Ryan yang langsung memeluk Kalandra.



“Selamat ya kak sasa, tuan Kalandra sudah sadar,.” Ucap Rose.



Khansa hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Rose.



Kalandra yang mendapat pelukan dari Ryan langsung terkejut dan mendorong Ryan.



“Aww! Kamu apa-apaan sih Ndra?” ketus Ryan.




“Ha? Ndra? Kamu baik-baik aja kan? Kita sudah berbaikan beberapa bulan yang lalu.”



“Mas Andra kehilangan ingatannya kak, sepertinya mas Andra berhenti di ingatan saat Kenan baru di lahirkan.” Jelas Khansa.



“Kamu udah panggil Anita?”



“Sudah kak, aku sudah menelfon kak Anita dia akan segera kemari.”



Anita, dan orang tua Kalandra sudah berada di rumah sakit untuk melihat keadaan Kalandra.



“Sayang, kamu sudah sadar? Apa kamu merasakan sakit?” tanya mama Alisha kepada Kalandra.



“Ma, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kenanku sudah besar ma? Kenapa aku sudah menikah lagi dan bahkan dia sedang mengandung anakku. Lalu bagaimana aku dan Ryan sudah berbaikan? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Kalandra kepada mamanya.



Mama Alisha menyuruh semua orang yang ada di sana untuk keluar ruangan karena dia mau berbicara langsung dengan putranya.


Mama Alisha menceritakan semuanya secara rinci, bagaimana dia bisa menikahi Khansa, bagaimana dia berakhir di rumah sakit.



“Mama tau jika Kenan di culik?” tanya Kalandra.



“Tidak, mama baru diberitahu saat kamu masuk rumah sakit. Saat itu mama sangat terkejut mendengar kabar itu. Mama juga sangat terkejut saat mengetahui jika Kenan ternyata bukan anak kandungmu.”



“Maafkan Andra karena membohongi mama, dan maafkan Andra juga karena sudah melupakan semua kenangan Andra selama ini.” ucap Kalandra menyesal.



“Tidak apa-apa sayang.. ini semua kecelakaan.”



“Ma, boleh minta tolong untuk panggilkan wanita yang aku nikahi itu? Aku ingin berbicara berdua dengannya.” Pinta Kalandra.



Mama Alisha menyetujui permintaan anaknya itu dan keluar untuk memanggil Khansa.


Semua orang menunggu dengan perasaan khawatir di luar ruangan.



“Sa, Andra memanggilmu.” Ucap mama Alisha.



Khansa menatap mama mertuanya dengan penuh tanya, mama mertuanya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Khansa masuk ke dalam ruangan Kalandra dengan perasaan cemas, dia takut jika Kalandra tidak akan menerimanya dan anak yang ada di dalam kandungannya.



“Mas..” panggil Khansa.



“Duduklah.” Pinta Kalandra sambil melirik ke arah kursi yang berada di sebelahnya.


Khansa hanya menuruti permintaan suaminya itu untuk duduk di kursi yang berada di dekatnya.



“Siapa namamu?” tanya Kalandra.



“Pasti mama sudah memberitau namaku padamu kan mas?”



“Aku ingin mengenal istriku lebih dalam, jadi jawablah pertanyaanku.”



“Aku Khansa Olivia mas”



“Bisa ceritakan bagaimana kita bertemu dan akhirnya memutuskan untuk menikah?”



Khansa tersenyum mengingat perkenalan mereka yang aneh itu.



Khansa menceritakan semua dari awal sampai akhirnya mereka memutuskan untuk berteman setelah menikah dan membesarkan Kenan bersama agar Kenan mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya, dan Khansa juga menceritakan saat mereka mulai saling mencintai dan akhirnya Khansa mengandung anaknya.



Kalandra mendengarkan cerita Khansa dengan sangat serius, dia merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya saat melihat Khansa tersenyum di tengah-tengah ceritanya.



“*Yaampun kenapa perasaanku seperti ini, seperti ada sesak di dadaku yang aku sendiripun tidak tahu apa penyebabnya*.” Batin Kalandra dengan mata yang masih menatap wajah Khansa.



“Aku meminta maaf kepadamu karena sudah melupakanmu, aku akan berusaha untuk mengingat tentang kenangan kita.” Ucap Kalandra.



“Dengan kamu tidak menolakku saja aku sangat senang mas, aku senang karena kamu ingin berusaha untuk mengingat semuanya.”



“Jika memang kenanganku tidak kembali, aku ingin kita memulainya dari awal. Aku tau awal pertemuan kita tidak menyenangkan, maka dari itu aku ingin memulai awal yang baru denganmu.” Ucap Kalandra.



Khansa diam dan menangis mendengar perkataan Kalandra.



“Terimakasih mas hikss terimakasih banyak hikss, hikss..”



“Jangan menangis, entah kenapa hatiku merasa sakit melihatmu menangis.”



Mendengar perkataan Kalandra, Khansa dengan segera menghapus air matanya dan tersenyum kepada suaminya.



“*Mengapa dia sangat cantik jika tersenyum seperti itu*?” batin Kalandra yang terpana melihat kecantikan Khansa dengan senyum di wajahnya.



“Emm,, bolehkah aku menyentuk anakku yang berada di perutmu?” tanya Kalandra dengan ragu.



Khansa langsung mendekati suaminya dan menggenggam tangan suaminya lalu diletakkan di perutnya yang mulai membesar.



“Anak-anak kita mas. Mereka ada dua di dalam perutku.” Ucap Khansa yang membuat Kalandra terkejut dan tersenyum lebar menunjukkan gigi putihnya.



Khansa sangat bahagia melihat suaminya sangat senang saat mengelus perutnya.



“*Terimakasih yaAllah, kamu telah mengembalikan suamiku kepadaku dan anak-anakku. Aku akan selalu ada di sampingnya apapun yang terjadi*.” Batin Khansa dengan air mata yang jatuh di pipinya.