
Ada seribu hal yang bisa membuatku berpikir untuk meninggalkanmu, namun ada satu kata yang membuatku tetap disini. Aku Cinta Kamu.
Pagi itu Kalandra terbangun lebih dulu dari Khansa, Kalandra menatap wajah istrinya yang sedang terlelap cukup lama lalu mencium kening istrinya.
Khansa terbangun perlahan karena merasakan sentuhan di keningnya dan terkejut melihat wajah Kalandra yang sudah berada tepa di hadapannya.
“Mas, kamu ngapain?” tanya Khansa.
Kalandra tidak berbicara apapun, dia hanya kembali berbaring sambil memeluk tubuh Khansa dan mengelus perut buncitnya.
“Maafkan mas ya sayang, mas ga bermaksud ngebentak kamu.”
Khansa lega akhirnya suaminya mau berbicara padanya dengan lembut seperti biasanya.
“Tidak apa-apa mas, aku juga minta maaf karena sudah membantah keputusanmu.”
“Aku hanya tidak ingin kebaikanmu di manfaatkan orang lain sayang, mas ga mau kamu terlalu baik dan memberikan kesempatan kedua kepada siapapun.”
“Aku tau mas. Sudahlah tidak usah membahas itu lagi aku capek diem-dieman terus sama kamu.” Ucap Khansa dengan nada sedih.
“Iya sayang, aku juga capek diem-dieman sama kamu, aku kangen kamu.” Rengek Kalandra sambil mempererat pelukannya.
Khansa membalas pelukan suaminya itu dengan perasaan yang sangat bahagia.
“Oh iya, sebentar ya sayang mas lupa mau ngabarin Ryan untuk booking hotel buat kita.”
“Loh mas, kita emang kapan berangkat?” tanya Khansa.
“Besok pagi kita berangkat sayang, jadi hari ini aku sudah menghubungi Riko untuk membawa Lila ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan kandungan bersama denganmu karena aku memajukan jadwal pemeriksaan kandungan kalian.” Jelas Kalandra.
“Ha? kapan kamu ngehubungi Riko mas?” tanya Khansa heran.
“Kemarin saat kamu tidak makan malam bersamaku dan Kenan.” sindir Kalandra.
Khansa hanya mememerkan gigi putihnya mendengar sindiran dari suaminya itu.
“Aku mau mandi dulu terus menyiapkan sarapan untukmu dan Kenan.” ucap Khansa mengalihkan pembicaraan.
Kalandra yang tau jika istrinya sedang mengalihkan pembicaraan itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah melihat Khansa sudah masuk ke dalam kamar mandi, Kalandra segera mengambil hpnya dan menghubungin Ryan untuk menyuruhnya membooking hotel untuk keluarganya.
Jepang
Ryan yang baru saja selesai mandi melihat ke arah hpnya yang berdering dan terpampang nama Kalandra di layar hpnya, dengan segera Ryan menjawab panggilan dari Kalandra.
“Halo Ndra?” tanya Ryan.
“Halo yan, aku mau minta tolong padamu.” Ucap Kalandra langsung kepada intinya.
“Astaga Ndra, kamu tuh ya bukannya basa basi tanya kabar dulu kek.” Protes Ryan.
“Mendengar suaramu yang masih bisa berbicara dengan lantang sepertinya kamu baik-baik saja bukan? Lalu untuk apa aku bertanya.” Ketus Kalandra.
“Apa kamu ingin berlibur ke Jepang Ndra?”
“Iya, aku ingin mengajak istri dan anakku berlibur karena Kenan juga sedang libur sekolah. Aku memilih Jepang agar kamu juga bisa bergantian mengajaknya berlibur.” Ucap Kalandra.
Ryan sangat bersyukur karena Kalandra tidak pernah mencoba untuk menjauhkan dirinya dengan Kenan.
Sedangkan Kalandra memang mencoba untuk bersikap adil kepada Ryan selaku papa kandung Kenan, Kalandra tidak ingin Ryan merasa iri dengannya.
“Baiklah aku akan booking hotel untukmu dan Khansa, jika kamu ingin menjenguk anakmu yang masih di perut Khansa aku siap dititipkan Kenan di kamarku.” Ucap Ryan menggoda Kalandra.
“Sialan kau ini yan, sudahlah aku tutup dulu!” Kalandra yang salah tingkah akhirnya langsung mematikan telfonnya.
Ryan hanya tersenyum karena berhasil membuat sahabatnya itu salah tingkah dengan candaannya.
Ryan mengganti bajunya dan menghubungi receptionist untuk memesan satu kamar lagi di sebelahnya.
Setelah membooking kamar untuk Kalandra dan Khansa, Ryan segera keluar untuk mengajak Rose sarapan bersama. Semenjak kejadian makan bersama waktu itu, Rose mulai membuka diri dan sudah tidak menolak kehadiran Ryan, begitupun juga dengan Ryan yang berusaha untuk memantapkan hatinya dengan Rose.
Ryan mengetuk pintu kamar Rose dengan bersemangat, tidak lama kemudian Rose membuka pintunya tapi masih dengan keadaan yang belum melakukan persiapan.
“Kamu belum mandi Rose?” tanya Ryan
“Hehehe belum kak, masuklah aku akan bersiap lebih dulu.” Ucap Rose kepada Ryan.
Dengan ragu, Ryan akhirnya masuk ke dalam kamar Rose dan duduk di sofa kamarnya. Rose segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah beberapa menit Rose keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapih dan melihat Ryan tertidur di sofa.
Rose tersenyum melihat Ryan tertidur dan berusaha untuk menyelimutinya dengan perlahan, namun tiba-tiba tangan Ryan memegang tangan Rose dan menarik tangannya hingga Rose duduk di sebelah Ryan.
“Deg,,deg,,deg..” jantung Rose berdetak sangat kencang hingga semua orang mungkin bisa mendengarnya.
“Wah, jantungmu berdetak kencang sekali.” Ucap Ryan mengejek masih memejamkan matanya.
Rose terkejut mendengar ucapan Ryan dengan segera mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Ryan, namun Ryan malah semakin menarik tangan Rose hingga Rose jatuh di atas badan Ryan.
Ryan membuka matanya dan tersenyum melihat wajah Rose yang berada tepat di hadapannya. Rose mencoba melepaskan pelukannya hingga berhasil.
“A,,ayo kita makan kak, aku lapar.” Ucap Rose yang salah tingkah.
Ryan tersenyum melihat Rose yang menjadi salah tingkah karena kejahilannya.
Ryan beranjak dari sofa dan berdiri menghampiri Rose lalu menggenggam tangan Rose dan mengajaknya keluar mencari makan.
“Kak, gausah pengangan tangan kayak mau nyebrang aja.” Protes Rose.
“Biar saja, aku ingin semua tau jika kamu adalah milikku seorang.”
“Milikmu? Memang kita punya hubungan apa hingga aku menjadi milikmu kak?”
“Apa kamu mau aku melamarmu dan menikahimu sekarang?” Ryan menantang Rose yang menganggap remeh perkataannya.
“T,,tidak kak.” Rose kembali gugup karena ucapan Ryan.
"Bodoh kamu Rose, ngapain nantangin dia udah tau dia rada-rada." batin Rose sambil menepuk keningnya.
Ryan hanya tersenyum dan mempererat genggaman tangannya kepada Rose.
“Hari ini aku tidak ingin membawa mobil, aku mau kita berjalan agar lebih lama menikmati kebersamaan ini.” ucap Ryan.
“Baiklah kak, terserah kak Ryan aja.” Rose pasrah menerima semua perkataan Ryan.
Ryan mengajak Rose ke restoran dekat hotel mereka agar Rose tidak merasa lelah jika harus berjalan jauh.
Mereka berdua masuk ke dalam restoran dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka. Ryan memanggil pelayan restoran dan memesan makanan untuk mereka.
Dari awal duduk di restoran hingga makanan sudah datang, Ryan terus menatap Rose tanpa berkedip sedikitpun, Ryan terkagum karena kecantikan Rose yang menurutnya natural tanpa polesan apapun.
Rose merasa risih karena dari tadi Ryan yang berada di depannya melihatnya tanpa berkedip sedikitpun.
“Kamu ngapain sih ngeliatin aku kayak gitu kak.” Ketus Rose.
“Kamu cantik, gimana aku ga ngeliat kamu.” Ucap Ryan yang masih menatap Rose.
“Sudahlah kak jangan ngeliatin aku terus, ayo makanlah ntar makanannya capek Cuma diliatin aja.”
Akhirnya mereka makan dengan tenang tanpa berbicara sepatah katapun. Sesekali Ryan melirik ke arah Rose dan tersenyum.
“Tidak lama lagi aku akan melamarmu Rose, semoga kamu tidak akan menolakku saat aku melamarmu nanti.” Batin Ryan.
“Oh iya, mungkin besok Kalandra dan Khansa akan kemari untuk berlibur.” Ucap Ryan memecahkan suasana.
“Apa? Benarkah? Kita akan berlibur bersama mereka?” tanya Rose antusias.
“Tidak, Kalandra akan berlibur sendiri bersama keluarganya hanya saja dia menginap di hotel yang sama dengan kita, aku sudah membooking kamar untuk mereka tepat di sebelah kamarku.” Jelas Ryan.
Rose sangat senang karena dia akan bertemu dengan orang yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri.