
Belinda terbangun secara perlahan dari pingsannya, dia merasa pusing dan heran melihat semua orang sedang mengerumuninya.
"Mi, ada apa ini? Kenapa semua orang melihat Belinda? Kenapa Belinda ada di sini?" Tanya Belinda dengan nada yang lemah.
"Kamu tadi pingsan sayang, jadi kami membawamu kemari untuk di periksa." jelas mami Khansa.
"Pingsan? Kenapa aku bisa pingsan mi?"
"Sayang, bagaimana bisa kamu begitu ceroboh saat ada bayi di dalam perutmu!" ketus mami Khansa.
"Ha? Bayi di dalam perutku? Maksud mami? Tunggu! M-maksudnya Belinda hamil mi?" Tanya Belinda yang di balas anggukan oleh mami Khansa.
"Beneran kan mi? Ini bukan mimpi kan? Belinda akan memiliki anak?" ucap Belinda berkali-kali karena dia tidak percaya dengan apa yang baru saja di bilang mami mertuanya.
"Iya sayang, kamu akan menjadi seorang ibu dan mami akan menjadi oma.." mami Khansa memperjelas ucapannya.
Belinda sangat bahagia mendengar kabar kehamilannya, dia bahkan sampai meneteskan air mata bahagia.
"Kenan sudah tau mi?" Tanya Belinda.
"Belum, dia hanya tau kalau kamu pingsan tapi tidak ada yang memberitahu tentang hal bahagia ini." jelas mami Khansa.
"Jangan ada yang ngomong ya mi, Belinda mau memberikan kejutan untuknya." ucap Belinda yang di balas anggukan oleh mami Khansa.
Namun tiba-tiba saja wajah Belinda berubah menjadi sedih hingga membuat mami Khansa merasa aneh.
"Ada apa sayang? Apa ada yang kamu fikirkan?" Tanya mami Khansa.
"Belinda jadi inget sama Andini, dia baru saja kehilangan bayinya sedangkan Belinda baru saja mendapatkan seorang bayi." ucap Belinda.
"Sayang, mungkin ini sudah jalan yang di berikan oleh Allah, mungkin Allah tidak ingin jika anak Andini lahir di luar nikah dan memberikan titipannya ini di dalam perutmu." jelas mami Khansa.
"Iya mami benar, mungkin bayi Andini pindah ke dalam perut Belinda, Andini juga akan menjadi ibu untuk bayi ini." ucap Belinda.
Mami Khansa tersenyum mendengar ucapan menantunya itu, bagaimanapun juga Andini harus bisa menerima takdir yang di berikan Allah kepadanya dan kepada Belinda.
"Karena kak Belinda sudah sehat, Key dan Rey kembali ke ruangan Andini ya.." ucap Key.
"Baiklah, mami juga akan segera menyusul ke sana nanti." ucap mami Khansa.
"Iya, aku juga sudah enakan jadi aku akan segera ke ruangan Andini nanti." sambung Belinda yang di balas anggukan oleh Key dan Rey.
Mereka berdua segera meninggalkan ruangan Belinda dan berjalan menuju ruangan Andini.
"Rasanya senang sekali mendengar kak Belinda hamil, aku jadi ingin menikah.." ucap Rey.
Key yang mendengar ucapan Rey langsung berhenti dengan tiba-tiba dan menatap sinis ke arah Rey.
"Apa? Kenapa kamu berhenti? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Rey.
"Kamu mau menikah? Apa kamu sudah memiliki calon? Pacar aja belum punya gimana calon istri!" ketus Key sambil menggelengkan kepalanya.
"Ih, ya kan aku juga lagi usaha mencari!"
"Makanya daripada mencari yang tidak jelas, lihatlah Elsa, setidaknya dia sudah jelas benar-benar menyukaimu!" ucap Key.
"Dia hanyalah adik kecil bagiku, aku tidak mungkin menyukainya!"
"Dia memang hanya adik kecil bagimu sekarang, tapi dia akan menjadi wanita dewasa yang cantik setelah kamu sudah kehilangannya." ucap Key yang langsung berjalan lurus meninggalkan Rey.
Rey hanya menghela nafas panjang lalu mengikuti Key yang sudah berjalan di depannya.
Sesampainya di ruangan Andini, Key dan Rey masuk dengan senyum bahagia yang terpancar di wajahnya.
"Kalian berdua kenapa senyam senyum?" Tanya Ken ke arah saudaranya yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Kak Belinda hamil!!" teriak Rey dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Namun tiba-tiba Ken terdiam dan menoleh ke arah Andini dengan perasaan bersalah.
"Din, maaf aku tidak bermaksud.."
"Tidak apa-apa Ken, aku juga sangat bahagia atas kehamilan kak Belinda, kamu tau bukan ada istilah mati satu tumbuh seribu." ucap Andini sambil tersenyum.
Ken tersenyum sambil berjalan ke arah Andini dan memeluk Andini secara tiba-tiba hingga membuat Key dan Rey terkejut.
"Tenang saja, setelah menikah kita akan memproduksi banyak anak benar kan?" ucap Ken yang membuat Andini terkejut dan malu.
"Ih apaan sih Ken!" ucap Andini sambil mendorong tubuh Ken dengan kencang.
"Aw! kok aku di dorong sih?" Tanya Ken.
"Kamu sudah gila! Jangan mengucapkan hal seperti itu lagi!" ketus Andini.
"Ken benar Andini, kalian berdua harus memberikan kami banyak keponakan yang lucu.." ucap Key.
"Tapi ngomong-ngomong, sepertinya hubungan kalian berdua sudah semakin dekat satu sama lain ya.." ucap Rey dengan tatapan menyelidik.
"Kita memang sudah seperti ini kok sejak awal!" ucap Ken.
Di tengah perdebatan mereka, papi Kalandra, mami Khansa dan Belinda masuk ke dalam ruangan Andini.
"Hai Andini, aku benar-benar turut sedih dengan kejadian yang kamu alami." ucap Belinda.
"Tidak apa-apa kak, selamat ya karena sebentar lagi kakak akan menjadi seorang ibu." ucap Andini.
"Anak ini juga anakmu, kita akan merawatnya bersama, bukankah keponakan itu sama saja dengan anak kita sendiri?" ucap Belinda.
Andini tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan calon kakak iparnya itu.
"Kamu tenang saja Andini, papi tidak akan pernah membiarkan Audrey menerima hukuman yang ringan!" ucap papi Kalandra.
"Terimakasih banyak papi, Andini terlalu merepotkan kalian semua.." ucap Andini.
"Bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu! Kamu adalah bagian keluarga kami jadi tentu saja kami akan melakukan apapun untuk memberi pelajaran kepada orang yang sudah menyakiti keluarga kita." ucap papi Kalandra.
"Oh iya, Ken ayo ikut papi keluar ada yang ingin papi bicarakan, kamu juga ikut Rey." ucap papi Kalandra.
Akhirnya Ken dan Rey segera keluar dari ruangan dan mengikuti papi Kalandra.
"Ada apa pi?" Tanya Ken kepada papinya.
"Papi sudah menyuruh orang untuk membawa Audrey ke tempat biasa, kamu bisa menghukumnya di sana." ucap papi Kalandra.
"Ah satu lagi! Papi sudah menyuruh om kalian untuk membuat perusahaan Aldi bangkrut!" lanjutnya.
Ken yang mendengar hal itu langsung terkejut tidak percaya dengan ucapan papinya.
"Pi, apa itu tidak terlalu berlebihan?" Tanya Ken.
"Tentu saja tidak Ken! Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nyawa cucuku!" ketus papi Kalandra.
"Tapi om Aldi tidak bersalah pi."
"Tentu saja dialah sumber masalahnya Ken! Kalau dia mendidik anaknya dengan baik tidak mungkin ada kejadian seperti ini!" Ucap papi Kalandra.
"Tapi..."
"Ayolah Ken, untuk sekali ini saja jangan mengikuti sifat mamimu!" tegas papi Kalandra.
Ken hanya menghela nafas panjang mendengar ucapan papinya, dia memang ingin memberikan hukuman yang setimpal untuk Audrey, tapi menurutnya Aldi tidak bersalah dalam hal ini.
Memang sifat Ken lebih cenderung mirip dengan mami Khansa, sedangkan Key justru lebih menurun kepada sifat dingin dan kejam papi Kalandra.