MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
CINTA PERTAMA


Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. 




Kalandra, Khansa dan Edo pergi menuju ruang rapat sedangkan Rose hanya duduk di sudut ruangan menyimak rapat yang sedang berjalan.



“Selamat siang tuan Kalandra.” sapa Aldi sambil menjulurkan tangannya.



Khansa terkejut melihat laki-laki yang sedang menyapa suaminya itu, laki-laki itu adalah cinta pertama Khansa saat masih SMA. Aldi adalah kakak kelas 2 tahun di atas Khansa, saat itu Khansa baru masuk SMA sedangkan Aldi masih menjabat sebagai ketua osis di sekolahnya, di mata Khansa Aldi adalah laki-laki tampan dan baik, dia adalah orang kaya namun tidak pernah menyombongkan kekayaannya di hadapan orang lain.



Khansa selalu ingin mengungkapkan perasaannya kepada Aldi namun dia tidak berani karena merasa Khansa hanyalah gadis miskin yang tidak pantas bersanding dengan laki-laki sesempurna Aldi. Hanya saja teman-teman Khansa selalu menggodanya dan selalu mengatakan kepada Aldi jika Khansa menyukainya, namun Aldi hanya membalas dengan senyum tanpa mengatakan apapun.



“Selamat siang tuan Aldi, jadi anda sudah mengambil alih perusahaan ayah anda..” balas Kalandra sambil tersenyum dan membalas jabatan tangan Aldi.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1606618067376.jpg)



“Tentu saja, saya tidak ingin kalah dari tuan Kalandra.” Canda Aldi sambil melirik ke arah Khansa.



Aldi juga terkejut melihat Khansa di hadapannya, ia tidak menyangka ternyata adik kelas yang dulu menyukainya sekarang ada di hadapannya dan bekerja di perusahaan yang terkenal.



“Siapa wanita cantik yang ada di sebelah anda tuan Kalandra?” tanya Aldi yang berpura-pura tidak mengenal Khansa.



“Ah, kenalkan wanita cantik ini adalah sekertaris dan juga istri saya tuan Aldi.”



“Selamat siang tuan Aldi, saya Khansa sekertaris sekaligus istri tuan Andra.” Ucap Khansa sambil tersenyum dan membungkukkan badannya, Khansa berusaha untuk menenangkan diri dan tidak mengingat masa lalu.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1606618067369.jpg)



Aldi membalas senyuman Khansa dan membungkukkan badan.



“Anda beruntung memiliki istri yang muda dan secantik nona Khansa tuan Andra.” Ucap Aldi yang hanya di balas senyuman oleh Kalandra.



“Silahkan duduk, kita mulai pembicaraan tentang bisnis sekarang.” Ajak Kalandra yang mempersilahkan Aldi untuk duduk.



Aldi menganggukkan kepala dan menuruti Kalandra untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan, di ikuti yang lainnya.



Disana mereka membicarakan tentang kerjasama mereka dengan serius, dan betapa terkejutnya Kalandra karena Aldi memberikan pertanyaan sesuai dengan yang ditanyakan oleh Khansa sebelumnya.



“*Ternyata istriku hebat ya*.” batin Kalandra sambil tersenyum sendiri.



“Tuan Kalandra, siapa yang akan membawakan presentasi tentang model baju yang baru di desain?” tanya Aldi.



“Sekertaris saya yang akan mempresentasikan produk baru ini karena dia sendiri yang men desain model baju tersebut.” Jelas Kalandra.



“*Beruntung sekali Kalandra bisa mendapatkan gadis kecil itu, aku juga tidak menyangka dia bisa menjadi secantik dan secerdas ini*.” Batin Aldi yang sebenarnya dulu juga sempat memperhatikan Khansa karena teman-temannya selalu mengejeknya dan selalu menitipkan salam kepadanya.



Aldi awalnya mengira jika Khansa masih belum menikah dan dia akan berusaha untuk mendapatkannya, namun harapannya runtuh karena ternyata gadis kecil itu adalah istri dari seorang pebisnis sehebat Kalandra.



Khansa mempresentasikan produknya dengan sangat baik dan jelas, dia juga menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan oleh Aldi dengan tegas dan tanpa ragu, dan membuat Aldi semakin mengagumi sosok Khansa.



“*Aku harus mendapatkan wanita seperti dirinya. Andai saja dulu aku langsung menyukainya, mungkin saat ini akulah yang akan menjadi suaminya*.” Batin Aldi.



Khansa selesai mempresentasikan produk baru perusahaan Kalandra dan duduk kembali di kursinya.



“Kamu hebat sayang.” bisik Kalandra kepada Khansa yang hanya di balas senyuman oleh Khansa.




“Kak, si kembar menangis.” Bisik Rose kepada Khansa.



Khansa segera mengangguk dan meminta ijin untuk meninggalkan ruangan rapat itu.



“Permisi, saya mohon maaf kepada tuan Aldi dan tuan Andra tapi saya harus meninggalkan rapat hari ini lebih dulu karena anak saya sedang menangis.” Ucap Khansa meminta ijin.



“Oh silahkan nona Khansa.” Ucap Aldi mempersilahkan Khansa untuk meninggalkan ruangan itu.



Khansa menoleh ke arah Kalandra dan di balas anggukan oleh Kalandra. setelah mendapat ijin dari Kalandra dan Aldi, Khansa segera meninggalkan ruangan itu dan menghampiri kedua anaknya yang sedang menangis.



“*Ah jadi dia sudah memiliki anak. Mungkin tidak akan ada harapan untukku untuk mendapatkannya*.” Batin Aldi yang melihat kepergian Khansa dari hadapannya.



Di ruangan Kalandra, Khansa dan Rose segera masuk ke dalam ruangan si kembar. Khansa segera menggendong Key terlebih dahulu dan menyusuinya, sedangkan Rose menggendong Ken mencoba untuk menenangkannya sementara.



“Kak, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?” tanya Rose.



“Silahkan Rose, apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Khansa.



“Apa kak sasa mengenal tuan Aldi?” tanya Rose yang membuat Khansa terkejut.



“Ha? b,,bagaimana kamu tau Rose?” tanya Khansa yang seketika menjadi gagap.



“Aku melihat kak sasa sempat terkejut melihat kedatangan tuan Aldi begitupun dengan tuan Aldi yang sama terkejutnya dengan kakak.”



“Apa keterkejutanku sejelas itu?” tanya Khansa.



“Hm, kalau aku cukup peka untuk melihat hal itu kak.” Ucap Rose.



“Jangan bilang ini kepada mas Andra ya, aku tidak ingin hal itu akan mempengaruhi kerjasama di antara mereka.”



“Kenapa kak, bukankah lebih baik jika berbicara lebih awal kepada tuan Andra?” tanya Rose.



“Aku sudah melupakan masa laluku, itu hanyalah cinta monyet yang hilang di SMA. Dia juga tidak menyukaiku dan sekarangpun aku yakin perasaannya masih sama. Jadi untuk apa di bicarakan yang ada bikin salah paham.” Ucap Khansa.



“Bener juga sih kak, yang ada nanti tuan Andra mikir kalo kakak masih ada rasa sama laki-laki itu.”



“Sudahlah aku tidak ingin membahasnya, aku sudah sangat mencintai suami dan anak-anakku.” Ucap Khansa.



“Lihatlah, dia tersenyum saat aku mengatakan hal itu.” Lanjut Khansa yang melihat Key tersenyum setelah mendengar ucapan Khansa.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1606618067373.jpg)



“Sini Ken, sekarang giliran kamu yang mami kasih susu.” Ucap Khansa yang sudah menaruh Key di tempat tidur dan bergantian menggendong Ken dan menyusuinya.



“Kak, apakah aku benar-benar bisa merasakan mengandung dan melahirkan anak-anak yang lucu-lucu seperti si kembar?” tanya Rose.



“Rose, kamu harus optimis. Aku yakin kamu akan merasakan bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan anak-anak yang lucu-lucu.”



“Terimakasih kak, tapi aku belum bisa memberi tau hal ini kepada kak Ryan. Aku tidak siap melihat ekspresinya saat mendengar kabar dariku.” Ucap Rose dengan lemas.



“Rose, saranku kamu harus memberi tahu semuanya kepada kak Ryan. Jika memang dia mencintaimu dia akan menerima segala kekuranganmu dengan lapang dada dan akan merangkulmu dalam menghadapi masalah yang kamu hadapi, tapi jika memang dia tidak menerima itu semua ya berarti dia memang tidak benar-benar mencintaimu dan kamu harus menerima itu semua dengan ikhlas.” Jelas Khansa.



“*Kak sasa benar, siap atau tidak siap aku harus memberi tau kebenaran ini kepada kak Ryan, aku tidak mungkin terus-menerus membohongi kak Ryan*.” Batin Rose.