
Aku selalu berharap semoga sang mentari senantiasa menyinari hatimu, kesuksesan selalu menyertaimu, dan kebahagiaan akan datang menjawab doa-doa mu.
“Belinda? Bukankah Belinda itu temen kamu waktu sd itu kan Kenan?” tanya mami Khansa yang masih mengingat Belinda.
“Iya mi, benar sekali. Dan yang sedang duduk di sebelah Key adalah saudara kembarnya.” Ucap Kenan.
“Tunggu! Jadi maksudnya kalian saudara kembar?” tanya mami Khansa yang di balas anggukan oleh Kenan.
“Loh, jadi kamu bawa aku ke sini karena ada Bernard?” tanya Belinda.
“Hm, aku ingin kamu melihat jika saudara kembarmu ini sedang berjuang meminta ijin dari papi dan mamiku untuk membawa adikku ke Jepang.” Jelas Kenan.
“Jadi wanita yang mau kamu kenalin ke mama itu Key?” tanya Belinda kepada Bernard yang hanya di balas dengan anggukan.
“Tunggu, ini gimana sih maksudnya. Key adik kamu Kenan.” ucap Belinda yang sedang bingung dengan situasi ini.
“Ya terus kenapa Bel?”
“Gimana jadinya kalau kita berhubungan kayak gini? Maksudnya Key dengan kakakku dan aku denganmu, aku ga ngerti deh apa bisa kayak gitu?” ucap Belinda yang masih tidak mengerti dengan keadaan yang sedang dia alami.
“Kenapa ga bisa sayang? kamu duduklah dulu, nanti tante akan menjelaskan semua.” Ucap mami Khansa.
Akhirnya Kenan dan Belinda duduk di sebelah Key dan Bernard. Bernard hanya menatap ke arah saudara kembarnya seolah bertanya kenapa Belinda berada di sana.
“Oke, sekarang jelasin sama papi sebenarnya apa yang terjadi? Siapa Belinda?” tanya papi Kalandra kepada Kenan.
“Mas, Belinda itu teman sdnya Kenan yang waktu itu nyamperin kita loh..” ucap mami Khansa.
“Lalu, apa yang terjadi sampai kalian bisa kebetulan saling berhubungan dengan saudara masing-masing?” tanya papi Kalandra.
Akhirnya Kenan menjelaskan awal pertemuannya dengan Belinda dan awal pertemuan Key dan Bernard yang tidak terduga.
Setelah di jelaskan panjang lebar oleh Kenan, papi Kalandra seperti menelaah semua perkataan anak sulungnya itu dengan baik.
“Mas, ini namanya sudah takdir Allah menjodohkan mereka, tugas kita sekarang hanya mendoakan semoga anak-anak kita bahagia dengan pasangannya masing-masing.” Bisik mami Khansa kepada suaminya.
“Kalau begitu, kamu dan Belinda ikut ke Jepang saja sekalian berkenalan dengan orang tua mereka.” Ucap papi Kalandra yang membuat mereka berempat terkejut.
“Iya benar, abang ikut aja sekalian.” Lanjut Key yang bersemangat mendengar ide dari papinya.
“Tidak bisa! Kenan dan Belinda juga belum resmi memiliki hubungan, lagipula Kenan masih mengurus masalah mantan pacar Kenan yang sedang membuat skandal agar nama Kenan jatuh.” Jelas Kenan.
“Mungkin setelah masalah itu selesai, Kenan dan Belinda akan menyusul mereka. Benarkan?” tanya Kenan kepada Belinda.
Belinda hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata, dia hanya tersenyum menanggapi ucapan kekasihnya.
“Apa kamu bisa mengurus masalah ini?” tanya papi Kalandra.
“Tentu saja bisa pi! Ini masalah yang sangat mudah!”
“Sudahlah, hari ini mami tidak ingin ada yang membicarakan pekerjaan. Sekarang Belinda, Key dan Elsa ikut mami ke dapur dan memasak, biarkan para laki-laki itu membicarakan masalahnya masing-masing.” Ucap mami Khansa.
Akhirnya semua perempuan mengikuti mami Khansa ke belakang untuk membantunya memasak, sedangkan para laki-laki hanya diam dengan kecanggungannya masing-masing.
Bernard dari tadi tidak nyaman karena papi Kalandra menatapnya dengan tajam dan membuatnya gugup karena hal itu, sedangkan Kenan yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Pi, sudahlah jangan menatap Bernard seperti itu. Kasihan dia nanti ga bisa makan sangking gugupnya.” Ucap Kenan memecah suasana.
“Itu urusan dia kalo ga bisa makan!” ketus papi Kalandra.
“*Yaampun, gini amat nasibku ya.. perasaan tadi Belinda di sambut dengan senang hati, lah aku kenapa seperti anak tiri begini huhuhu*..” batin Bernard sambil meratapi nasibnya.
“A,,aku ikut!” ucap Bernard segera.
“Eh, ga bisa! Kamu temenin papi di sini.” Ucap Kenan dengan senyum penuh arti sedangkan Bernard hanya melebarkan matanya ingin protes kepada Kenan.
“Kenapa? Saya menyeramkan memang sampai kamu tidak ingin menemani saya?!” ketus papi Kalandra.
“Iya! Eh,, maksud saya iya saya ga jadi nemenin Kenan om saya di sini aja temenin om hehe.” Ucap Bernard dengan canggung.
Sedangkan papi Kalandra dari tadi hanya menajamkan matanya kepada Bernard.

“Kamu tau? Kamu adalah laki-laki pertama yang di bawa Key ke rumah ini! dan untuk pertama kalinya juga saya melihat ketulusan Key saat memberimu kekuatan saat berbicara tadi.” jelas papi Kalandra.
“Itu adalah kali pertama juga untuk saya mendapatkan perlakuan seperti tadi om.” ucap Bernard.
“Jika kamu menyakiti anak perempuan saya! saya tidak akan segan kepadamu!” tegas papi Kalandra yang di balas senyuman oleh Bernard.
“*Saya juga om, saya tidak akan memaafkan diri saya sendiri kalau saya menyakiti Key dan membuatnya menangis*.” Batin Bernard.
“Om, bisakah saya bertanya sesuatu?” tanya Bernard.
“Apa?”
“Tadi Key memberitau saya kalau om mendidik anak-anak om dengan ketat, mereka juga harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu, benar kan om?” tanya Bernard.
“Hm, benar!”
“Kenapa om? Maksudnya, om sudah memiliki semuanya dan semua yang om punya kan untuk Keluarga om juga, lalu kenapa harus brusaha untuk mendapatkannya?”
“Sebenarnya saya memang ingin memberikan semuanya dengan mudah kepada ketiga anak saya. tapi istri saya membuat peraturan itu, dia mau anak-anaknya bisa menghargai uang dan orang yang sudah banting tulang bekerja menghasilkan uang itu. Dia ingin anak-anaknya tidak dengan mudahnya mengeluarkan uang mereka untuk hal-hal yang tidak penting.” Jelas papi Kalandra.
“Kan tidak masalah menghamburkan uang yang memang sudah di miliki orang tua mereka.”
“Karena roda selalu berputar nak Bernard, kita tidak selamanya berada di atas. Kami tidak ingin membiasakan mereka dengan kemewahan dan jika suatu saat nanti keluarga kami tidak berada di atas, mereka tidak akan merasa terpuruk karena sudah terbiasa hidup dengan sederhana.” ucap mami Khansa yang kebetulan masuk ke dalam untuk mngambil sesuatu.

Mami Khansa menghampiri Bernard dan menggenggam tangan laki-laki tampan itu, sedangkan papi Kalandra melotot melihat kejadian itu.
“Sayang… kamu ngapain pegang-pegang!” protes papi Kalandra dengan nada manjanya yang membuat Bernard terkejut melihat sisi lain dari papi Kalandra.
“Mas! Kamu ini kayak anak kecil aja! Ga malu apa di lihat nak Bernard!?” ketus mami Khansa sambil menatap tajam ke arah suaminya.
“Tante, kayaknya lepasin aja deh tangan Bernard. Lihatlah om Kalandra sepertinya akan memakan Bernard.” Bisik Bernard yang dari tadi melihat papi Kalandra menatapnya dengan tajam.
“Sudahlah biarkan dia!” ketus Khansa.
“Nak Bernard, tante ingin mengucapkan terimakasih karena telah merubah anak perempuan tante yang tadinya dingin menjadi sehangat sekarang. Key adalah orang yang susah membuka diri untuk menerima sembarang orang itulah kenapa selama ini sahabatnya hanya Lana, tapi tante tidak menyangka jika dia mau membuka diri untukmu dan Belinda. Mami tau kamu sudah melelehkan batu es di hati Key, maka dari itu trimakasih.” Ucap mami Khansa dengan senyum manisnya.
“Tante, Key tidak berubah karena Bernard. Key berubah karena dia di kelilingi orang yang sangat menyayanginya, dan terlebih lagi ada keinginan untuk berubah di dalam diri Key, jadi itu bukan karena Bernard dan tante jangan bertrimakasih kepada Bernard.” Balas Bernard.
“Sudah, sudah jangan lama-lama pegangan tangannya!” ketus papi Kalandra sambil melepaskan tangan istrinya.
“Ih kamu ini mas, masa iya cemburu sama anak muda kayak Bernard! Aku ini sudah tua mas!” ketus mami Khansa.
“Aku akan selalu cemburu kepada siapapun yang berani mendekatimu sayang..” ucap papi Kalandra sambil mmeluk tubuh istrinya.
“Mas! Malu di lihat Bernard! kamu ini kayak anak muda saja!” ketus mami Khansa sambil melepaskan pelukan suaminya.
Sedangkan Bernard yang berada di sana dan melihat tingkah Kalandra dan Khansa itu hanya tersenyum bahagia.
“*Bahkan saat sudah menua mereka tetap romantis tidak seperti keluargaku yang hanya saling diam saat bertemu satu sama lain, bahkan aku dan Belinda hanya dekat dengan mama sedangkan papa hanya sibuk dengan urusannya sendiri, aku sangat ingin kelak akan mendapatkan wanita yang sangat aku cintai hingga kami menua bersama*.” Batin Bernard.