
Kadang masalah adalah sahabat terbaikmu. Mereka buatmu jadi lebih kuat, dan buatmu menempatkan tuhan di sisimu yang paling dekat.
Khansa baru saja selesai memandikan si kembar dibantu oleh mama Alisha dan bi Rini karena ini adalah kali pertama Khansa belajar memandikan bayi.
“Ah lucu sekali…” ucap Khansa yang baru saja memakaikan baju kepada si kembar.
Khansa memoto kedua anak-anaknya dan ingin mengirimkannya kepada Kalandra yang sudah berangkat kerja bersama dengan Kenan yang bersekolah.
“Pasti papi kalian ingin cepat-cepat pulang jika melihat kelucuan kalian berdua.” Gumam Khansa.
Cklek..

Khansa memotret kedua anaknya dan segera mengirimkannya kepada suaminya.
“Hai papi, kami sudah mandi lho,, tampan dan cantik kan anak papi ini..” Khansa menulis caption seperti itu di bawah fotonya dan mengirimkannya ke suaminya.
Tanpa menunggu lama, Khansa langsung mendapat balasan dari suaminya.
“Subhanallah,, anak-anak papi tampan dan cantik sekali.. papi ingin segera pulang dan menciumi wajah kalian sampai habis.” Balas Kalandra.
Khansa tersenyum membaca pesan dari suaminya.
“Kerja yang bener ya papi,, biaya sekolah mahal loh..”
“Siap bos,, papi akan segera menyelesaikan renovasi ruangan kantor dan segera membawa kalian kemari agar papi tidak kesepian..”
Khansa hanya membaca pesan dari suaminya tanpa membalas pesannya dan menaruh kembali hpnya di tempatnya.
Perusahaan Kalandra
Kalandra yang sedang rapat mengenai pembuatan lapangan golf perusahaannya sekaligus ingin mempromosikan pakaian yang di produksi oleh perusahaannya, itulah kenapa hari itu Kalandra dan seluruh karyawan mengenakan kaos yang sama di perusahaan.
Di dalam ruangan rapat, Kalandra senyum-senyum sendiri setelah mendapatkan pesan dan melihat ke arah hpnya hingga membuat seluruh karyawan yang berada di sana merasa aneh dengan tingkah Kalandra.
“Ndra..” tegur Edo yang berada di sebelahnya.
Kalandra terkejut dan kembali melihat ke arah karyawannya dan berdehem untuk menetralkan perasaannya.
Sedangkan Edo yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya karena Kalandra menjadi tidak fokus saat bekerja.
Setelah rapat selesai, Kalandra segera meninggalkan ruangan rapat dan pergi ke ruangannya dan disusul oleh Edo.
“Ndra, kamu dari tadi ga fokus amat sih?” tanya Edo.
“Aku rindu anak-anakku do.”
“Kamu ga biasanya kayak gini, seingatku Kalandra akan tetap professional dalam pekerjaannya.” Ucap Edo.
“Entahlah, aku ingin segera bertemu dengan anak-anakku. Aku juga ingin membawa mereka ke kantor agar aku bisa memantau mereka dan berada di dekat mereka, aku juga ingin setelah pulang sekolah Kenan segera kemari. Pasti akan seru jika aku bisa bersama dengan keluargaku saat bekerja.”
“Sepertinya Kalandra yang sekarang bukan hanya gila kerja tapi juga gila keluarga ya Ndra.” Ucap Edo sambil tersenyum.
“Oh iya, kamu gimana do? Kapan kalian akan menikah?” tanya Kalandra.
“Aku masih ingin bertemu dengan kedua orang tua Anita dulu Ndra, aku tidak mungkin asal nikahin anak orang hanya karena anaknya mau, aku akan meminta ijin dari mereka terlebih dahulu.” Jelas Edo.
“Jadi kamu akan bertemu dengan om dan tanteku di Paris?” tanya Kalandra.
“Hm,, aku ingin meminta cuti kepadamu.”
“Kapan? Aku akan selalu mengijinkanmu cuti do asal jangan lama-lama juga ya..”
“Setelah Khansa kembali bekerja bagaimana? Aku jadi lega meninggalkanmu karena ada Khansa yang menggantikanku.” Saran Edo.
“Kamu benar juga, mungkin lusa Khansa akan mulai bekerja disini jika ruangan ini sudah selesai semua.” ucap Kalandra.
“Baiklah Ndra, aku kembali ke ruanganku dulu ya..” ucap Edo yang segera pergi meninggalkan ruangan Kalandra.
***Sekolah Kenan***
“Kenan, kata bu guru kamu punya adik baru ya..” ucap Belinda.
“Ya.” jawab Kenan cuek.
“Kamu berisik sekali Belinda.” Ketus Kenan.
“Kamu ini selalu saja seperti ini kepadaku, emangnya aku ini salah apa sih sama kamu sampe kamu tidak pernah mau berteman denganku? Niatku ini baik ingin berteman denganmu Kenan.” ucap Belinda.
“Aku tidak suka berteman dengan orang yang bawel seperti kamu.” Ucap Kenan.
“Adik perempuanmu juga akan bawel sepertiku lihat saja nanti.”
“Jangan bawa-bawa adikku, adikku tidak akan sebawel kamu.”
“Kamu juga akan mempunyai pacar dan istri yang bawel juga nanti.”
“Tidak akan! Aku akan mencari istri yang pendiam tidak seperti kamu.”
“Jika begitu kalian akan menjadi pasangan batu yang keras dan tidak berbentuk.” Ketus Belinda lalu pergi meninggalkan Kenan di bangkunya.
Bernard yang melihat adik dan sahabatnya selalu bertengkar itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Kenapa kamu terlalu membenci Belinda sih Kenan?” tanya Bernard.
“Aku tidak suka orang yang berisik, lagipula dia itu perempuan seharusnya berteman dengan perempuan juga.” Ucap Kenan.
“Bertemanlah dengan adikku sebentar saja sebelum kami pindah Kenan.” Ucap Bernard.
“Kalian akan pindah?” tanya Kenan yang sedikit terkejut.
“Hm, kami akan pindah ke Jepang. Papi membuka perusahaan baru di sana dan memutuskan untuk tetap tinggal di sana.”
“Jadi kamu bertemanlah dengan Belinda sampai kami pindah, karena aku juga ingin melihatnya senang karena bisa berteman denganmu.” Lanjut Bernard yang langsung pergi meninggalkan Kenan.
Kenan terdiam dan memikirkan tentang ucapan Bernard barusan.
Kenan dan Bernard adalah anak yang sangat jenius, mereka juga selalu berada di ranking 1 atau 2 di kelasnya. Omongan mereka memang terlalu dewasa untuk anak seusia mereka.
Bel sekolah berbunyi, Kenan segera keluar dari kelas dan melihat papanya sedang menunggu di luar sekolah.
“Papa!!” teriak Kenan.
“Halo jagoan papa..” ucap Ryan yang langsung menggendong anaknya.
“Kenapa papa yang jemput Kenan?” tanya Kenan heran.
“Iya, tadi papa bilang ke papi kamu untuk menjemputmu dan membawamu jalan-jalan bersama dengan tante Rose.” Jelas Ryan.
“Kita mau jalan-jalan ke mana pa? Kenan kan tidak bawa baju ganti.”
“Tenang saja, sebelum ke sini papa sudah meminta mami kamu untuk menyiapkan baju untukmu sayang.”
“Baiklah kalau begitu ayo kita jalan-jalan pa..” Kenan sangat bersemangat untuk berjalan-jalan bersama papanya.
“Hai Kenan..” sapa Rose yang berada di dalam mobil.
“Hai tante.” Balas Kenan sambil memeluk Rose.
“Gimana nih yang udah jadi abang? Seneng ga?”
“Seneng tante, tapi adek-adek selalu menangis kencang bikin Kenan pusing.” Keluh Kenan yang membuat Rose dan Ryan tertawa.
“Ayo kita ganti baju dulu sayang, papa yang akan mengganti bajumu.” Ucap Ryan.
“Kenan malu papi, ada tante Rose di sini Kenan kan sudah besar..” ucap Kenan sambil meliirik ke arah Rose.
Rose tersenyum mendengar perkataan Kenan, “Baiklah tante akan menutup mata tante menggunakan tangan, tante janji tidak akan mengintip.” Ucap Rose yang segera menutup matanya dengan kedua tangannya.
“Awas ya tante gaboleh ngintip loh nanti matanya bintitan kata mami..” ucap Kenan dengan polos yang membuat Ryan dan Rose tertawa mendengar ucapan Kenan.
“Apa mami dan papimu tidak menyayangimu lagi setelah kamu memiliki adik?” tanya Ryan sambil memakaikan pakaian kepada Kenan.
Kenan menggelengkan kepalanya, “Tidak pa, papi dan mami tetap menyayangi kenan, papi bilang Kenan selalu menjadi yang pertama untuknya, bahkan semalam kami tidur bertiga di kamar papi dan mami.” Ucap Kenan menceritakan dengan semangat.
“Benarkan apa yang papa bilang, kalau rasa sayang papi dan mami kamu tidak akan pernah hilang. Mereka akan tetap menyayangi Kenan seperti dulu.” Ucap Ryan.
Kenan mengangguk setuju dengan perkataan papanya itu, Kenan sangat senang dan lega karena papi dan maminya tidak pernah melupakannya.