MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
PENCULIKAN


Sejak Kenan dan Key mengetahui tentang kejadian yang di alami oleh Elsa, mereka berdua jadi semakin over kepada Elsa.


Bahkan mereka terus menghubungi Elsa kapanpun hingga membuat Elsa merasa kurang nyaman.


"Halo kak.."


"Els kamu dimana?"


"Di rumah kak, aku mau pergi bertemu teman lamaku." ucap Elsa


"Kamu mau kemana Elsa? Jangan pergi sendiri, kamu harus di temani oleh Rey."


"Kak Key, aku pergi di sekitar sini saja kok, lagian kak Rey sedang bekerja jadi jangan terlalu khawatir." ucap Elsa.


"Els, Aku takut kamu kenapa-kenapa! Tolonglah jangan bandel,, kalau aku sedang tidak hamil aku yang akan mengikutimu!"


"Hahaha, jangan kak Key nanti kak Bernard marah sama aku."


"Makanya nurut sama aku Els!"


"Baiklah, aku akan segera menghubungi kak Rey untuk segera menyusulku kalau dia sudah pulang kerja." ucap Elsa.


"Baiklah kalau begitu, aku juga akan menghubunginya, ingat jangan kemanapun tetap di sana oke!?" ancam Key yang langsung menutup telfonnya.


Setelah Key mematikan telfonnya, Elsa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Yaampun kak Key sampai segitunya banget.." gumam Elsa yang langsung memasukkan hpnya ke dalam tasnya.


"Els, kamu mau kemana?" Tanya Rose kepada anak perempuannya.


Sudah beberapa hari ini Elsa memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya, Sandy pun tidak terlihat keberadaannya dan itu membuat Elsa sedikit lebih tenang karena mungkin Sandy sudah takut sejak kejadian kemarin.


"Elsa mau ketemu Rania ma, inget ga? teman Elsa saat masuk SMA."


"Oh temanmu yang katanya terpaksa harus menikah dengan anak boss ayahnya itu ya? Karena dia terlilit hutang?"


"Iya ma, dia akhirnya mau menghubungi Elsa lagi setelah sekian lama."


"Baiklah kalau begitu hati-hati ya Els, kalau ada apa-apa segera hubungi mama atau papa." ucap Rose yang di balas anggukan oleh Elsa.


Elsa pergi dengan mobil sport kesayangannya, dia dengan senangnya ingin bertemu dengan sahabat semasa SMA nya itu.


Elsa masuk ke dalam cafe dan mencari tempat duduk di ujung cafe tersebut.


Tidak lama kemudian, ada wanita yang dia kenal sekali karena memang tidak ada perubahan di dirinya.


"Rania.." ucap Elsa.


"Elsa? Yaampun Els.."


Elsa baru tersadar kalau ternyata sahabatnya itu sedang mengandung.


"Kamu lagi hamil? Duduklah Rania, jangan berdiri terus." ucap Elsa.


"Bagaimana keadaanmu Els?" Tanya Rania yan sudah duduk di hadapan Elsa.


"Aku baik-baik saja Rania, kamu apa kabar?"


"Aku juga baik-baik saja, oh iya Els aku benar-benar ingin meminta maaf kepadamu tentang semua yang terjadi saat itu."


"Yaampun Rania, kenapa kamu meminta maaf? Kamu tidak salah, akulah yang salah karena tidak menghormati keputusanmu saat itu." ucap Elsa.


"Bagaimana pernikahanmu?" Tanya Elsa.


"Awalnya pernikahanku sangatlah menyeramkan, aku bagaikan hidup di neraka hidup dengan orang yang sudah memiliki wanita yang di cintainya."


"Tapi sekarang tidak lagi, setelah aku melahirkan anak pertamaku dia mulai berubah dan meninggalkan sikap kejamnya." jelas Rania.


"Syukurlah, untung saja dulu aku tidak memaksamu, mungkin aku akan menyesal seumur hidupku." ucap Elsa yang merasa bersalah.


"Jangan begitu, lalu bagaimana denganmu? Apa kamu sudah mendapatkan kak Rey mu?" Tanya Rania.


"Huh, tidak! Dia masih saja dingin seperti waktu SMA, setiap dekat denganku dia selalu marah-marah, mungkin aku sangat menyebalkan untuknya." jelas Elsa.


"Aku salut sama kamu Els, kamu bertahan cukup lama untuk menunggunya."


"Makanya aku ga nikah-nikah, sedangkan kamu sudah memiliki anak hampir 2."


"Tiga Els, anak pertamaku kembar laki-laki." sambung Rania.


"Apa!? Tuh kan lihatlah, aku sudah kalah jauh darimu.." Protes Elsa yang di balas tawa oleh Rania.


"Oh iya, kamu pesan apa? Hari ini aku akan membayar apapun yang bumil ini makan!" ucap Elsa.


"Serius Els? Makanku banyak loh!"


"Aku serius!!"


"Oh iya, bagaimana bisa kamu menemukan nomerku?" Tanya Elsa.


"Itu bukan hal sulit! Aku membuka hp lamaku dan iseng mencoba menghubungi nomer lamamu ternyata kamu masih memakainya." Jelas Rania.


"Untunglah aku tidak menggantinya, mungkin Kita tidak akan pernah bisa bertemu kalau aku mengganti nomerku."


Rania mengangguk setuju dengan ucapan Elsa.


Tiba-tiba seorang pria datang dengan menggandeng dua anak laki-laki yang sangat tampan.


"Mama!" teriak anak laki-laki itu.


Rania dan Elsa menoleh ke asal suara, Rania tersenyum melihat mereka sedangkan Elsa mengerutkan keningnya.


"Els, dia adalah suamiku dan dua anak laki-laki ini adalah anakku." ucap Rania mengenalkan Elsa.


"Wah, tampan sekali anakmu Ran! Kemarilah, aku adalah teman baik mama kalian." ucap Elsa.


Dengan ragu anak kembar tersebut menghampiri Elsa dan bersalaman dengannya.


"Kalau tante nanti punya anak perempuan, salah satu dari kalian harus menjadi pendampingnya ya.." ucap Elsa.


Kedua anak itu hanya saling melihat satu sama lain karena tidak mengerti ucapan Elsa.


"Els, mereka masih berusia 4 tahun mana mungkin mengerti tentang hal itu!" ucap Rania.


"Hehehe, siapa tau aja! Senangnya kalau bisa memiliki menantu seperti mereka.." ucap Elsa.


"Dia Elsa yang sering kamu ceritakan kan sayang?" Tanya suami Rania.


"Iya mas, dia Elsa yang selalu aku ceritakan padamu! Dia adalah sahabatku yang paling baik!" ucap Rania.


"Kamu selalu memujiku Ran! Hai aku Elsa, senang bertemu dengan suami sahabatku." ucap Elsa sambil tersenyum.


"Aku Roy, senang bertemu dengan sahabat istriku." ucap Roy.


"Duduklah Roy, pesan makanan juga aku yang akan traktir hari ini." ucap Elsa.


"Apa sahabatmu fikir aku tidak mampu membayar makanan ini sayang?" Tanya Roy kepada Rania.


"Mas, dia bermaksud baik bukan berfikir kamu tidak mampu." Bisik Rania.


Elsa yang mendengarnya hanya bisa melirik tajam ke arah Roy.


"Sepertinya bukan kak Rey saja yang menyebalkan, sekarang aku juga bertemu dengan laki-laki menyebalkan lainnya." gumam Elsa.


Di perusahaan Rey, Kenan mendatanginya untuk membahas tentang keberadaan Sandy, mereka masih berusaha mencari keberadaan Sandy namun tidak kujung di temukan.


"Apa om Dirga membantunya?" Tanya Rey.


"Mungkin saja! Tapi kita masih belum bisa menembus pertahanan mereka." ucap Kenan.


"Kalau papi Andra pasti sudah bisa dari kemarin bang."


"Jangan mengandalkan papi terus! Kita sudah dewasa, kita adalah seorang ayah jadi kita harus belajar untuk mengatasi kejadian seperti ini." ucap Kenan yang di balas anggukan oleh Rey.


Tidak lama kemudian ada seseorang yang menghubungi Rey, dia menelfon berkali-kali hingga membuat Rey akhirnya mengangkatnya.


"Siapa sih Rey?" Tanya Kenan.


"Entahlah bang!"


Rey melihat layar hpnya dan terpampang nama Elsa di sana.


"Elsa bang!"


Rey langsung mengangkatnya namun yang menjawab bukanlah Elsa.


"Siapa kamu?"


"Kak Rey? Kak ini aku Rania sahabat SMA Elsa, aku dan Elsa bertemu di cafe dekat rumahnya, lalu,,, lalu.."


"Lalu apa!?"


"Pokoknya kak Rey cepatlah kemari! Suamiku sudah meminta bantuan polisi, Elsa di culik!" teriak Rania.


Rey dan Kenan yang mendengarnya langsung terkejut, mereka segera berlari untuk menuju cafe yang di beri tau sahabat Elsa itu.


Di sepanjang perjalanan, Rey dan Kenan tidak berbicara apa-apa, mereka berdua takut terjadi hal yang tidak di inginkan kepada Elsa.


"Aku merasa tidak berguna sebagai seorang abang!" ucap Kenan.


"Bang! Kenapa abang bicara seperti itu? Abang adalah abang terbaik untuk kami semua, tidak ada yang bisa menyamakan kebaikan abang!" ucap Rey yang berusaha untuk menenangkan Kenan.