
Pada akhirnya yang pernah mencintai tanpa tapi, pernah bertahan tanpa alasan, pernah sabar tanpa sadarpun akan melepaskan tanpa pesan.
Key, Bernard dan Alya sudah sampai di kediaman papi Kalandra, Key menggandeng tangan Alya dan masuk ke dalam rumah bersama.
Di dalam rumah, ada mami Khansa dan Belinda yang sedang mengobrol di ruang tamu.
“Loh Alya sudah pulang?” tanya Belinda yang baru saja melihat Key dan Alya masuk ke dalam rumah.
Alya segera berlari memeluk Belinda hingga membuatnya terkejut.
“Kenapa sayang? apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Belinda sambil membalas pelukan Alya.
“Key, apa ada sesuatu yang terjadi kepada Alya? Apa dia di nakalin sama anak-anak lain?” tanya mami Khansa.
Key duduk di sebelah maminya dan menceritakan semua yang terjadi kepada Alya hingga membuat mami Khansa dan Belinda terkejut mendengarnya.
“Benarkah itu? Apa kamu tidak apa-apa Alya?” Tanya Belinda.
“Tidak apa-apa tante, Alya baik-baik saja cuma Alya takut kalau mereka akan memukul Alya dan menyuruh Alya untuk mengemis lagi.” Ucap Alya dengan wajah sedihnya.
“Sudahlah tidak apa-apa, sekarang Alya aman di sini, kalau nanti tante dan om Kenan sudah menikah, kami akan mengganti nama Alya oke?” ucap Belinda yang mencoba untuk menenangkan Alya.
“Terimakasih tante, orang-orang yang ada di rumah ini semuanya sangat baik, beda sama teman-teman Alya yang dulu, mereka sering sekali menyuruh-nyuruh Alya karena Alya yang paling kecil di antara mereka.” Jelasnya.
“Mulai sekarang Alya tidak boleh mengingat masa lalu ya, lebih baik Alya ke kamar Alya untuk beristirahat karena kamar Alya sudah selesai di rapihkan, tante Key akan mengantar Alya ke sana.” Ucap mami Khansa.
“Benarkah? Alya beneran punya kamar sendiri?” tanya Alya tidak percaya.
“Tentu saja, pergilah untuk melihat kamarmu, oma dan tante akan membuatkan makanan yang enak untukmu.” Ucap Belinda.
“Oh iya Key, di mana Bernard?” tanya mami Khansa.
“Om beruang lagi parkir mobil, ga tau kenapa lama sekali.” jawab Key.
“Mungkin Bernard sedang melihat Kenan dan pak Joko latihan mi.” sambung Belinda.
“Pak Joko sudah mulai berlatih? Wah berarti pak Joko sudah bisa mengantar Key ke kampus mulai besok.” Ucap Key.
Akhirnya Key beranjak dari tempat duduknya dan menggandeng Alya untuk melihat kamar barunya lebih dulu setelah itu, Key berencana untuk melihat proses latihan pak Joko dan abangnya.
“Nah, ini kamar baru Alya bagus kan?” ucap Key sambil membuka pintu kamar Alya.
“Wah, bagus sekali tante, ini beneran kamar Alya?” tanya Alya.
“Tentu saja, sekarang Alya mandi ya, udah bisa kan mandi sendiri?” tanya Key yang di balas anggukan oleh Alya.
“Oke, kalau begitu Alya mandi dulu terus pake baju yang ada di lemari ini.” ucap Key sambil membuka lemari yang penuh dengan pakaian baru untuk Alya.
“Wah, Alya punya baju princess, nanti Alya boleh pake ini kan tante?” tanya Alya yang sangat senang melihat pakaian barunya.
“Tentu saja, kamu mandi dulu ya tante mau ke bawah dulu liat om Bernard.” Ucap Key sambil mengelus rambut Alya dengan lembut.
Alya segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi, sedangkan Key meninggalkan kamar Alya berniat untuk melihat pak Joko yang sedang berlatih.
Bukk,, buk,, buk,,
Suara samsak yang sedang di pukul terdengar sangat kencang dari luar, papi Kalandra memang sengaja membuat satu ruangan seperti gor yang memiliki fasilitas ring tinju dan lainnya untuk anak-anaknya, papi Kalandra sangat ingin membuat anak-anaknya memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri.
“Wah, pak Joko ternyata masih memiliki skill yang sangat bagus.” Ucap Key yang tiba-tiba saja masuk ke dalam.
“Key? Kamu kenapa ke sini? Mau berlatih juga?” tanya Kenan.
“Tidak deh, lebih baik abang ngajak om beruang jangan aku.” Ucap Key sambil melirik ke arah Bernard.
“Kamu sedang meremehkan aku? Kamu ga tau aku ini memiliki sabuk hitam loh.” ucap Bernard.
Mendengar ucapan Key membuat Bernard kesal dengan ucapannya.
“Bagaimana kalau kamu yang melawan Bernard Key..” ucap Kenan.
“Apa?! Kenapa aku bang? Aku kan perempuan, masa iya dia mau melawan perempuan?” ucap Key.
“Kan kamu yang meremehkannya, kalau aku sih tidak meragukan keahlian Bernard.” Ucap Kenan.
“Memangnya kenapa kalau aku melawanmu? Di mataku kamu itu perempuan perkasa Key, jadi sepertinya tidak masalah untuk melawanmu, memangnya kamu tidak mau membuktikan sendiri bagaimana kemampuanku?” tanya Bernard.
“Oke! Siapa takut, aku akan bersiap dulu setelah itu om beruang akan menyesal karena telah menantangku!” ketus Key yang segera pergi untuk berganti pakaian.
Bernard dan Kenan yang melihat tingkah Key hanya menahan senyum, sedangkan pak Joko heran melihat tingkah mereka bertiga.
“Apa tidak masalah tuan membiarkan nona Key melawan tuan Bernard?” tanya pak Joko kepada Kenan.
“Pak Joko tenang saja, Key itu memiliki kemampuan bela diri yang sangat bagus.” Ucap Kenan dengan santai.
“Hey Bernard! Kamu yakin mau melawan adikku? Aku hanya mengkhawatirkan tubuhmu itu.” Ejek Kenan.
“Jangan mengejekku, dia memang bisa bela diri, tapi dia tidak bisa menahan pesona ketampananku.” Ucap Bernard dengan pedenya.
“Cih, menjijikkan! Sepertinya aku harus merekam kejadian langka ini, aku ingin kamu melihat bagaimana ekspresimu saat adikku mengalahkanmu.” Jawab Kenan.
Tidak lama kemudian, Key datang dengan pakaian olahraganya yang lengkap, Bernard terpaku melihat Key yang sangat berkharisma menggunakan pakaian olahraganya.
Kenan yang melihat sahabatnya terpesona dengan adiknya itu hanya bisa tertawa hingga membuat Bernard tersadar dari lamunannya.
“Hahaha lihatlah! Belum apa-apa kamu sudah kalah dari pesona adikku Bernard!” ejek Kenan.
“Diamlah!” tegas Bernard.
Key segera masuk ke dalam ring tinju dan menatap tajam ke arah Bernard yang masih berada di bawah.
“Kenapa tidak masuk? Sekarang sudah mulai takut?” tanya Key.
“Siapa bilang takut!? aku tidak takut sama sekali.” ucap Bernard yang langsung masuk ke dalam ring tinju.
Key dan Bernard saling menatap satu sama lain sebelum memulai latihan mereka.
Deg,,deg,,deg,,
Jantung Key dan Bernard berdetak sangat kencang saat mereka berdua saling melihat satu sama lain, entah mengapa hal itu terjadi karena bisanya mereka tidak pernah merasakan hal seperti itu.
“*Gila! Jantungku sepertinya bermasalah, kenapa seperti ini? aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini jika melihat om beruang*!” gumam Key di dalam hatinya.
“*Sial! Kenapa aku malah terpesona oleh tatapan mata Key? Bisa-bisa aku di ejek habis-habisan oleh Kenan*.” gumam Bernard di dalam hatinya.
Kenan hanya menggelengkan kepalanya melihat Key dan Bernard hanya saling melihat satu sama lain.
“Woy! Ini kalian jadi latihan atau tidak?!” teriak Kenan hingga membuat Key dan Bernard terkejut.
“Ih abang bisa ga sih tidak teriak? Kami ini tidak budeg!” ketus Key.
Saat Key dan Bernard ingin memulai latihan mereka, tiba-tiba saja Alya berlari sambil menangis sesegukan hingga membuat semua orang yang ada di dalam gedung latihan melihat ke arahnya.
“Alya? Kamu kenapa menangis?” tanya Kenan yang langsung menghampiri Alya.
“Hikss, hikss,, om opa om…” ucap Alya sambil menangis.
Key dan Kenan tersadar akan sesuatu, mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan mata yang terbuka lebar.
“Tidak! Tidak! Jangan sampai apa yang aku fikirkan terjadi!” gumam Key yang langsung meloncati tali yang mengelilingi ring.
“Ada apa Key? Kenan sebenarnya ada apa ini?!” tanya Bernard yang tidak mengerti apapun.