
Anda akan menjadi orang yang tersisihkan jika tidak siap menghadapi perubahan.
Khansa dan Kalandra pulang bersama dengan bayi Hani yang ada di gendongan Khansa. Semua orang yang sedang berbincang di ruang tamu terkejut karena Khansa dan Kalandra pulang dengan membawa bayi.
“YaAllah sa, ini anak siapa?” tanya mama Alisha yang heboh.
“Biarkan mereka masuk ke dalam dulu ma, kita berbicara sambil duduk.” Ucap papa Arnold.
“Ah iya benar, kalian berdua masuklah ke dalam kita berbicara di dalam.” Mama Alisha mempersilahkan Kalandra dan Khansa masuk ke dalam rumah.
Kalandra dan Khansa masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa, Kalandra menyuruh bi Rini untuk menyiapkan tempat tidur untuk bayi itu.
“Bi, minta tolong siapkan tempat tidur untuk bayi ini di kamar si kembar ya.” ucap Kalandra yang langsung di lakukan oleh bi Rini.
“Ndra, ini bayi siapa? Apa jangan-jangan kamu memiliki anak dari wanita lain!?” tanya mama Alisha dengan ketus.
“Wih ma, yang bener aja kalo nuduh jangan sembarangan dong.” Ucap Andra mengelak tuduhan mamanya.
“Lalu ini anak siapa sa?” tanya ibu Khansa yang dari tadi juga penasaran.
“Ini bayi Hani dan kak Robert ma, bu. Ini cucu mama juga.” Ucap Khansa.
“A,,apa!? Bagaimana bisa Robert menghamili seorang wanita?” ucap mama Alisha yang tidak percaya dengan ucapan Khansa begitu pula papa Arnold.
Akhirnya Kalandra menceritakan semua secara rinci tanpa terlewat satu apapun. Begitu pula dengan kejadian penculikan Kenan, selama ini orang tua Kalandra mengira jika itu hanya kecurgaan Kalandra belaka karena hubungan mereka memang kurang dekat, namun ternyata salah ternyata anak yang selama ini mereka sayangi dan mereka banggakan memiliki sifat seperti itu.
“Ma, selama ini Andra diam karena Andra tau kak Robert adalah kebanggaan kalian, Andra ga mau kalian kecewa dan sedih mendengar yang sebenarnya.” Jelas Kalandra.
“Maaf Ndra, papa dan mama tidak tau tentang hal ini. sekarang hanya wania itu yang menderita sedangkan dia masih menikmati kebebasannya dengan bahagia, papa tidak bisa membiarkan hal ini terjadi.” Ucap papa Arnold.
“Pa, tapi dia juga anak kita.”
“Justru karena dia anak kita, kita sebagai orang tua tidak bisa diam saja saat mengetahui anak kita melakukan kesalahan. Kemana anak kurang ajar itu sekarang, telfon dia sekarang ma.” Ucap papa Arnold yang mulai emosi.
“Pa, tenanglah Khansa dan mas Andra akan menghukum kak Robert dengan cara bisnis. Dia sekarang sedang bersenang-senang dengan uang yang dia hasilkan, Khansa dan mas Andra akan memberi kak Robert pelajaran dengan itu semua dan merasakan penderitaan yang tidak akan dia lupakan.” Ucap Khansa yang mencoba untuk menenangkan papa mertuanya.
“Khansa benar pa, jika hanya di penjara kak Robert dengan mudah bisa keluar menggunakan uangnya, kemarin juga dia bisa bebas karena memiliki uang. Andra ingin melihat apa yang akan dia lakukan jika dia tidak memiliki apapun lagi.” Ucap Kalandra.
“Baiklah, terserah kalian. Papa mempercayakan hal ini kepada kalian berdua.”
“Bisakah mama menggendong bayi itu?” tanya mama Alisha dengan ragu.
“Tentu saja boleh ma, ini adalah cucu mama juga mama memiliki 4 orang cucu sekarang, rumah ini akan sangat ramai dengan canda tawa mereka saat mereka bertumbuh besar.” Ucap Khansa sambil tersenyum ke arah mama mertuanya.
“Siapa namanya?”
“Rey, Hani hanya mengucapkan namanya Rey dia tidak bisa menambahkan nama kak Robert di dalamnya karena dia tidak memiliki hubungan yang sah dengan kak Robert.”
“Bagaimana bisa kalian membawanya pulang kerumah? Apa ibunya meminta kalian untuk menjaga anaknya?” tanya ibu Khansa.
“Khansa yang ingin merawatnya bu dan ingin menjadi ibu susu untuknya, penjara tidak baik untuk pertumbuhan bayi. Khansa akan menjaganya dan menyayanginya sama seperti ketiga anak-anak Khansa.”
“Bagaimana bisa hatimu semulia ini sa, mama benar-benar tidak menyangka Kalandra akan mendapatkan wanita yang berhati malaikat sepertimu.” Puji mama Alisha.
“Jangan memuji Khansa ma, tidak ada orang jahat di dunia ini. Hanya saja mereka mengambil jalan yang salah saat memilih.”
“Tuan, tempat tidurnya sudah siap.” Ucap bi Rini.
Mama Alisha segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar si kembar untuk menaruh Rey di tempat tidurnya.
“Sayang ayo kita ke kantor.” Ajak Kalandra.
“Sebentar mas aku ingin melihat anak-anak.” Khansa beranjak dari tempat duduknya dan menyusul mama mertuanya ke kamar anak-anaknya.
Khansa berhenti di depan kamar anak-anaknya karena mendengar jika mama mertuanya mengucapkan sesuatu.
“Rey, walaupun papa dan mamamu jahat dan memiliki sifat yang buruk tapi nenek janji tidak akan membeda-bedakan kamu dengan saudaramu yang lain, nenek tidak akan membencimu karena kamu tidak mengetahui apapun, orang tuamu lah yang bersalah atas semua yang terajadi. Maaf karena telah lahir dari orang tua yang tidak bertanggung jawab.” Ucap mama Alisha dengan tulus dan mencium kening Rey sebelum akhirnya menidurkannya di tempat tidurnya.

Khansa sedih mendengar ucapan mama mertuanya itu, dan tanpa sengaja Khansa meneteskan air matanya dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar.
“Loh kok sudah turun sayang?” tanya Kalandra yang melihat Khansa sudah turun ke bawah.
“Aku tidak jadi masuk, mama sedang berbicara panjang lebar dengan Rey. Kita langsung berangkat saja yuk mas.” Ucap Khansa yang di jawab anggukan oleh Kalandra.
“Papa, ibu, Khansa sama mas Andra ke kantor dulu ya, minta tolong bilang sama mama juga ya. titip anak-anak ya bu termakasih. Assalamualaikum..” ucap Khansa berpamitan kepada papa mertuanya dan ibunya.
Kalandra menancap gas menuju kantor bersama istrinya.
“Aku beruntung memilikimu sayang.” ucap Kalandra yang masih fokus dengan jalan di depannya.
Khansa menoleh ke arah suaminya dan tersenyum manis.
“Aku lebih beruntung lagi karena memilikimu mas.” Ucap Khansa.
Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai di depan perusahaan Kalandra.
“Selamat datang kembali di perusahaan sayang.” ucap Kalandra sambil mencium punggung tangan istrinya itu.
“Terimakasih pak Andra, mohon bimbingannya ya karena saya masih butuh banyak belajar. Oh iya satu hal lagi, jika di kantor kita tidak boleh bemesraan bukankah kita harus professional, benarkan?” ucap Khansa sambil menarik tangan yang dipegang Kalandra.
Khansa segera turun dari mobil dan meninggalkan Kalandra di dalam mobil, Kalandra berdecak kesal mendengar ucapan istrinya itu, Kalandra pun turun dari mobilnya dan menyuruh satpam yang ada disana memarkirkan mobilnya dengan benar dan segera menyusul istrinya.

“Selamat pagi bu, selamat pagi pak.” Semua karyawan yang ada disana mengucapkan salam sambil membungkukkan badan kepada Khansa dan Kalandra yang baru saja masuk ke dalam perusahaan.
Khansa dan Kalandra hanya tersenyum menjawab sapaan karyawannya.

“Selamat datang!!” teriak Edo di dalam ruangan Kalandra sambil memegang rangkaian bunga di tangannya.
“YaAmpun kak Edo ngagetin aja deh.” Ucap Khansa sambil memegangi dadanya yang hampir copot itu.
“Selamat datang Khansa, semoga kedepannya kamu akan betah bekerja di sini..” ucap Edo sambil menyodorkan bunga ke arah Khansa.
“Terimakasih kak” ucap Khansa sambil mengambil bunga yang di berikan oleh Edo.
“Oh iya, jika aku menjadi sekertaris mas Andra lalu bagaimana dengan sekertaris yang saat itu kalian pilih?” tanya Khansa.
“Ah itu, Kalandra tidak jadi mempekerjakannya karena wanita itu sama saja dengan wanita lainnya yang hanya ingin menggoda Andra.” Jelas Edo.
Khansa menoleh ke arah suaminya yang sedang berpura-pura tidak mendengar apapun itu, Khansa tersenyum senang karena suaminya selalu bersikap dingin kepada wanita yang ingin mendekatinya.