MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
TERIMAKASIH


Selama meeting, Brata memang benar-benar tidak membahas tentang sakit yang di alami oleh Karina dan itu membuat Karina merasa lega.


"Syukurlah tuan Brata tidak mengungkit apapun tentang penyakit bohonganku itu!" batin Karina.


"Terimakasih atas kerja samanya tuan Brata." ucap Rey sambil mengulurkan tangannya ke arah Brata.


"Saya yang harusnya berterimakasih kepada anda tuan Rey karena sudah mau melakukan kerjasama dengan perusahaan saya." ucap Brata sambil membalas uluran tangan Rey.


"Bagaimana kabar anda nona Karina?" Tanya Brata tiba-tiba hingga membuat Karina terkejut.


"A-aku,, aku baik-baik saja tuan Brata." balas Karina yang mulai merasa gugup.


"Memangnya kamu kenapa Karina?" Tanya Rey yang tidak tau apa-apa.


"Emm itu..." Karina ragu untuk menjelaskannya.


"Bukan apa-apa tuan Rey, jangan di pikirkan perkataan saya barusan." ucap Brata.


Rey hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Brata, setelah itu Rey dan Karina segera kembali ke mobil.


"Aku antar ke perusahaan atau aku turunkan di depan sana?" Tanya Rey.


"Kok ga ada pilihan di antar ke rumah Rey?" canda Karina.


"Aku serius Karina.."


"Baiklah, antar ke perusahaan saja aku bawa motor tadi ke perusahaan." jelas Karina.


"Ini sudah malam, bahaya kalau kamu naik motor, aku akan menurunkanmu di depan naiklah taxi biarkan motormu di perusahaan." ucap Rey.


"Lalu bagaimana motorku?"


"Motormu tidak akan hilang di perusahaan, nanti aku juga akan menunggumu sampai masuk ke dalam taxi! Aku tidak mau karyawanku mengalami masalah yang akan membuatku pusing!" ketus Rey.


Karina hanya diam tidak membalas ucapan Rey.


"Rey benar-benar sudah berubah sekarang, dulu dia tidak sekasar ini, apakah dia sedang memiliki masalah?" batin Karina.


Hanya ada kecanggungan di dalam mobil hingga mereka sampai di ujung jalan dan Rey menghentikan mobilnya.


"Tunggulah di sini, aku akan menghentikan taxi untukmu." Rey langsung keluar dari mobil dan mencoba untuk memberhentikan taxi yang melintas di sana.


Di dalam mobil, Karina hanya bisa menatap kagum ke arah Rey yang sedang mencari taxi, hari itu memang belum terlalu malam tetapi di tempat itu memang jarang sekali ada taxi yang lewat.


"Andai saja laki-laki itu bisa aku miliki.." gumam Karina sambil tersenyum menatap ke arah Rey.


Tidak lama kemudian, Rey berhasil menghentikan taxi, tanpa aba-aba lagi Karina segera keluar dari mobil dan menghampiri taxi tersebut.


"Masuklah, aku sudah membayarnya jadi kamu tidak perlu membayar lagi." ucap Rey yang langsung menutup pintu taxi tersebut saat Karina sudah naik.


Dengan segera Rey kembali ke mobilnya dan langsung menghubungi Elsa untuk bersiap namun ternyata Elsa tidak menjawab sama sekali.


"Kemana dia? Jangan-jangan ketiduran." gumam Rey yang langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sesampainya di apartmentnya, Rey segera masuk ke dalam namun dia terkejut saat melihat tangan Elsa sedang di tarik oleh Sandy di depan pintu.


Rey yang kesal segera menghampirinya dan meninju wajah Sandy dengan kencang hingga terjatuh dan mulutnya mengeluarkan darah.


Elsa yang menangis semakin histeris saat melihat perkelahian di antara mereka.


"Kamu tidak apa-apa Elsa?" Rey membantu Elsa yang berada di lantai berdiri.


"Hikss,, jangan bertengkar kak, hikss.." ucap Elsa terbata-bata.


"Masuklah, biar aku yang urus laki-laki brengsek ini!" perintah Rey.


Elsa menuruti ucapan Rey untuk masuk ke dalam, sedangkan Sandy yang masih duduk di lantai segera bangun untuk menahan Elsa namun Rey lebih dulu mencengkram tangan Sandy.


"Kamu mau menyakitinya lagi? Jangan harap!" bentak Rey.


"Apa hakmu melindunginya!?" ketus Sandy.


"Lalu kamu? Apa hakmu menyakitinya!?" balas Rey.


"Kamu tidak tau apa yang terjadi di antara kita Rey!"


"Aku tau tapi sayangnya aku tidak memperdulikannya dan aku juga tidak mempercayainya!"


"Hahaha, berarti kamu sudah melihat foto yang aku berikan kepadanya? Lalu kenapa kamu tidak mempercayainya?"


"Karena foto tidak bisa membuktikan apapun! Aku berani kalau kita pergi ke dokter untuk mengeceknya!"


Sandy yang mendengar hal itu langsung terkejut namun sebisa mungkin dia tidak memperlihatkannya.


"Sebelum itu aku akan merebutnya kembali darimu!" ketus Sandy yang langsung pergi meninggalkan apartment Rey.


Rey tidak ingin memperpanjang masalah karena dia ingin secepatnya melihat keadaan Elsa.


"Els!" Rey membuka pintu apartmennya untuk mencari keberadaan Elsa.


Rey membuka kamar yang di tempati Elsa, dia melihat Elsa yang sedang meringkuk ketakutan sambil menangis.


"Els, laki-laki brengsek itu sudah pergi jangan takut lagi ya.." ucap Rey sambil mendekati Elsa.


"Kenapa dia bisa kemari?" Tanya Rey.


"Aku juga tidak tau kak, tadi dia menekan bel pintu saat aku lihat dia memakai masker dan topi lalu bilang kalau dia mengantar paket jadi aku buka hikss.." jelas Elsa.


"Kenapa kamu buka? Kalau benar ada paketan dia akan menaruhnya di depan pintu."


"Aku tidak tau, aku kira kak Rey memesan sesuatu."


"Aku tidak suka memesan apapun!"


"Hikss,, hikss, kenapa nasibku buruk sekali kak! Dulu aku menyukaimu tapi kamu selalu jahat padaku, sekarang aku memiliki kekasih yang jahat juga padaku hikss.." Elsa tiba-tiba mengeluarkan isi hatinya sambil menangis.


"Hikss, padahal aku kan sudah susah payah melupakan kak Rey, tapi kenapa malah aku mendapatkan yang lebih buruk.."


"Hahahaha, kamu ini menggemaskan sekali Elsa! Aku sampai tidak jadi kasihan denganmu!" ucap Rey sambil tertawa terbahak-bahak.


"Ih, kenapa kakak menertawakan aku!"


"Jadi maksudnya kamu menyesal tidak menerima pengakuanku waktu itu?" Tanya Rey.


"Engga! Aku ga nyesel!"


"Ayo ikut aku, kita ke dokter dan buktikan kalau kamu masih suci Elsa." ajak Rey.


"Tidak kak, aku malu.."


"Kenapa harus malu? Percayalah padaku."


Elsa melihat ketulusan di mata Rey untuk pertama kalinya, dan untuk pertama kalinya juga dia melihat kelembutan pada Rey.


"Lalu bagaimana bertemu dengan kak Key? Aku sudah merindukannya.." rengek Elsa.


"Kamu mau bertemu dengan Key dengan mata yang sembab?"


"Tidak apa-apa, bilang saja aku habis nonton drama jadinya nangis deh.." ucap Elsa.


"Yaampun Els, kalian memang sudah seperti perangko, padahal dulu kalian jarang sekali berbicara." ucap Rey.


"Dulu ada sedikit kesalah pahaman, kalau sekarang tidak lagi."


"Baiklah, setelah ke rumah sakit kita pergi mengunjungi Key." ucap Rey.


Elsa yang mendengarnya langsung tersenyum senang seperti tidak terjadi apa-apa.


Sedangkan Rey yang melihatnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah siap, mereka berdua segera berangkat ke rumah sakit lebih dulu, sepanjang perjalanan ke rumah sakit Elsa hanya diam karena dia merasa gugup.


"Kamu takut?" Tanya Rey memecah suasana di dalam mobil.


"Hmm,, sedikit.."


"Kemana perginya Elsa yang tadi tertawa kesenangan?"


"Kak.."


"Ada apa?"


"Besok sepertinya aku akan pulang ke rumah papa dan mama."


Mendengar hal itu membuat Rey menoleh dan menatap dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa?"


"Aku rindu mereka,, selama ini karena kak Sandy aku jarang sekali bertemu mereka, jadi aku mau menemui mereka besok." jelas Elsa.


"Baiklah kalau memang itu keputusanmu, aku tidak akan melarang aku juga siap menolongmu kapanpun kamu butuh bantuan."


"Terimakasih kak." ucap Elsa sambil Tersenyum.


"Terimakasih karena sudah menjadi lebih hangat kepadaku kak Rey.." batin Elsa yang masih menatap Rey yang sedang fokus menyetir.