
Keesokan paginya, Ken dan Rey kembali ke gudang kosong untuk melepaskan Audrey dan ingin melaporkannya ke kantor polisi. Rey terkejut saat melihat Audrey yang masih saja terlihat segar padahal dia sudah di tinggal semalaman.
“Kenapa dia segar sekali! Bukankah seharusnya dia lemas karena sudah di tinggalan semalaman?” tanya Rey kepada Ken.
“Aku sudah menyuruh seseorang datang pagi-pagi sekali untuk memberinya minum dan roti, setidaknya aku tidak ingin saat polisi datang dia malah melihat wanita ini lemas dan justru menyalahkan kita.” Jelas Ken.
Mendengar penjelasan dari Ken membuat Rey mengerti dan menganggukkan kepalanya.
“Sekarang lepaskan ikatannya, setelah itu kita akan membawanya ke kantor polisi.” Ucap Ken.
“Kenapa kita harus membawanya? Lebih baik panggil saja polisinya ke sini.” Ucap Rey.
“Apa kamu bodoh? Jika kita menyuruh polisi ke sini nanti mereka akan mengetahui tempat ini dan kita akan di gantung oleh papi!” ketus Ken.
“Ah iya hehe aku lupa kalau tidak ada yang mengetahui tempat ini kecuali kita.” Ucap Rey sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Audrey hanya diam, dia tidak berbicara sedikitpun membuat Ken dan Rey merasa ada yang aneh dengannya.
“Hei Audrey! Kamu tumben ga mohon-mohon? Biasanya juga berisik!” ucap Rey yang sudah melepaskan ikatan tangan Audrey.
Audrey hanya bergumam tanpa mengeluarkan suara apapun membuat Ken dan Rey saling bertatapan dan mengerutkan keningnya.
Drrtt,, drrtt… tiba-tiba saja hp Ken berbunyi dan bertuliskan nama Kenan di layar hpnya, dengan segera Ken mengangkat telfon dari abangnya itu.
“Halo abang? Ada apa?” tanya Ken.
“Bagaimana hukuman dariku? Apa kamu menyukainya?” tanya Kenan tiba-tiba.
“Ha?! maksud abang apa?” tanya Ken.
“Dia sudah tidak bisa berbicara bukan? Itu adalah hukuman dariku karena aku belum memberikan hukuman apapun kepadanya.” Ucap Kenan.
Mendengar hal itu membuat Ken dan Rey terkejut dan tidak menyangka kalau abangnya akan melakukan hal seperti itu.
“Abang, apa ini tidak berlebihan?” tanya Ken.
“Tidak! Dia sudah membuat keponakanku meninggal, jadi dia harus membayar ganjarannya dan menurutku kehilangan suaranya saja tidak ada apa-apanya!” ucap Kenan.
“Yaampun abang ingatlah kalau kak Belinda sedang mengandung saat ini.”
“Aku tahu! Karena itulah aku ingin menghukumnya dulu sebelum pensiun.” Ucap Kenan.
“Pensiun? Pensiun menghukum orang maksudnya?” tanya Ken yang di balas tawa oleh Kenan.
“Yaelah bang, sudahlah aku akan membawanyake kantor polisi.” Ucap Ken.
“Tunggu Ken! Kamu harus tahu sesuatu, Audrey tidak bisu selamanya, dia bisa berbicara kembali seiring berjalannya waktu jika dia ada keinginan unuk berbicara.” Ucap Kenan.
“Baiklah bang, aku matikan dulu ya bye..” ucap Ken yang langsung mematkan telfonnya.
Setelah melihat Ken sudah mematikan telfonnya, Rey yang sejak tadi tidak mendengar apapun langsung menghampiri Ken dan bertanya kepadanya.
“Abang Kenan ngomong apa Ken?” tanya Rey.
“Audrey tidak bisa berbicara karena abang Kenan.” ucap Ken.
“Wah! Memang anaknya om Andra yang terlalu baik hati hanya kamu saja Ken!” ucap Rey.
Ken hanya melirik sinis ke arah Rey dan segera menghampiri Audrey yang masih duduk di kursinya.
“Bangunlah, kamu tenang saja kamu tidak bisa berbicara hanya sementara saja, jika kamu ada keinginan kamu bisa berbicara lagi suatu saat nanti.” Ucap Ken sambil menyuruh orang yang ada di luar untuk masuk dan membawa Audrey.
Mereka semua sudah berada di depan kantor polisi dan di sana juga sudah ada banyak sekali polisi yang tadi di telfon oleh Ken sedang menunggu kedatangan Ken di depan kantor polisi.
“Kamu sebaiknya berada di sini dengan tenang dan terima hukumanmu, aku harap selama di sini kamu bisa merenungkan semua kesalahanmu dan berusaha untuk memperbaikinya.” Ucap Ken.
Audrey hanya menatap sendu ke arah Ken tanpa berbicara apapun karena sulit untuk mengeluarkan suara.
Setelah melihat para polisi membawa Audrey masuk ke dalam, Ken dan Rey segera kembali masuk ke dalam mobilnya untuk menuju ke rumah sakit.
“Kamu ga mau pulang dulu aja Ken? Kamu emang ga mau mandi terus ganti baju dulu gitu?” tanya Rey.
“Engga deh, kenapa sih peduli banget sama aku Rey tumben!”
“Dih bukannya peduli, aku cuma kasihan aja sama Andini mencium bau badanmu yang busuk ini!” ejek Rey.
“Sialan kamu Rey! Aku ini tetap mandi di kamar mandi rumah sakit! Hanya saja aku belum sempat ganti baju karena kamu tidak peka untuk membawakanku pakaian ganti.” Ketus Ken.
“Baiklah, ayo kita membeli pakaian dan cemilan lebih dulu.” Ucap Ken yang segera melajukan mobilnya ke arah mall terdekat.
Drrtt,, drrtt, di dalam mobil ada hp yang bergetar. Ken yang merasakan getarannya langsung menoleh ke arah Rey yang sedang asik melihat ke luar jendela.
“Woy! Hp kamu geter tuh!” ucap Ken mengejutkan Rey.
Rey segera mengambil hpnya yang ada di kantong celananya dan melihat nama orang yang menelfonnya.
“Siapa? Kenapa ga di angkat?” tanya Ken.
“Elsa, dia menelfonku.”
“Angkatlah, aku yakin dia sudah mendengar kabar tentang kejadian Andini dan Audrey.” Ucap Ken.
Akhirnya Rey mengangkat telfon dari Elsa.
“Halo..” ucap Rey.
“Halo kak Rey! Apa kakak sedang bersama dengan kak Ken dan kak Key? Kenapa tidak ada yang memberitahu tentang kejadian kak Andini?!” tanya Elsa dengan nada yang meninggi.
“Santai Elsa, kita juga terlalu panik hingga tidak terfikir untuk memberitahu yang lain!” ucap Rey.
“Kak Rey, bisakah kakak menjemputku di mall Y? Aku sedang berbelanja di sini dengan mamaku dan aku ingin menjenguk kak Andini.” Ucap Elsa.
“Kebetulan sekali aku dan Ken akan pergi ke mall itu untuk membeli pakaian dan beberapa cemilan.” Ucap Rey.
“Baiklah aku akan menunggumu kak!” ucap Elsa yang segera mematikan telfonnya.
“Ada apa?” tanya Ken.
“Elsa menyuruhku untuk menjemputnya di mall Y, jadi kita sekalian bertemu di sana saja.” ucap Rey yang di balas anggukan oleh Ken.
“Apa hpmu mati Ken? Kenapa dia bukannya menelfonmu untuk bertanya tentang Andini?” tanya Rey kembali.
“Tidak, hpku tidak mati kok kan aku tadi habis telfonan sama abang! Itu sih emang alasannya Elsa aja yang mau menelfonmu hahaha..” ucap Ken sambil tertawa.
Mendengar ucapan Ken, Rey hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Rey kembali melihat ke arah luar jendela tanpa megatakan apapun.
Sesampainya di mall Y, Ken dan Rey melihat keberadaan Elsa dan mama Rose yang sedang berdiri di depan mall. Setelah memarkirkan mobilnya Ken dan Rey segera menghampiri Elsa dan mama Rose.
“Hai kak Ken, hai kak Rey.” Sapa Elsa dengan ramahnya.
Sudah beberapa minggu Rey tidak pernah melihat Elsa, dan hari itu saat bertemu kembali dengan Elsa, Rey merasa kalau Elsa sudah semakin dewasa dan semakin terlihat sangat cantik.
Mama Rose yang sudah tahu kalau putri semata wayangnya itu menyukai Rey hanya tersenyum melihat Rey yang terpesona dengan kecantikan putrinya.
“Hai mama Rose, apa kabar..” ucap Ken sambil mencium punggung tangan mama Rose.
“Hai Ken, bagaimana keadaan Andini? Mama Rose harap kamu dan Andini bisa selalu sabar dengan musibah yang sedang kalian berdua alami.” Ucap mama Rose.
“Iya mama Rose, Ken dan Andini sudah mulai menerima semuanya dan berusaha untuk berlapang dada.” Ucap Ken.
Mama Rose hanya tersenyum menanggapi ucapan Ken lalu beralih ke arah Rey.
“Rey, bagaimana keadaan kak Robert dan kak Hani?” tanya mama Rose.
“Papa dan mama baik-baik saja tante, kapan-kapan datanglah ke rumah tante.” Ucap Rey dengan ramah.
“Tentu saja, kapan-kapan tante akan mampir mengunjungi rumahmu.” Ucap mama Rose.
“Oh iya, kalau begitu mama Rose pulang duluan ya..” ucap mama Rose.
“Loh, mama Rose tidak ikut?”
“Tidak Ken, mama Rose akan mengunjungi rumah sakit bersama papa Ryan nanti, mama Rose titip Elsa ya..” pamit mama Rose yang langsung berjalan ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.
Setelah melihat kepergian mama Rose, akhirnya Ken, Rey dan Elsa masuk ke dalam mall untuk membeli pakain dan beberapa cemilah untuk mereka semua di rumah sakit.
***
Bonus foto Elsa nihhh~~