
Terkadang bukan karena kebohongan kamu membenci sesorang, tapi karena sedih menerima kenyataan bahwa ia tak bisa lagi kamu percaya.
***Rumah Sakit***
Kalandra yang baru saja kembali dari membeli makanan dan minuman melihat istrinya mematikan telfon sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Sayang, siapa yang telfon?” tanya Kalandra menghampiri Khansa.
“Mama mas”
“Kenapa? Anak-anak rewel?”
“Tidak mas, biasa lah mama lagi ngerjain Kenan.” ucap Khansa.
“Ha? ngerjain gimana sayang?” tanya Kalandra.
“Ntahlah aku juga ga tau mas, mama ga ngejelasin maksudnya gimana. Pokoknya mama bilang Kenan ngira kita di culik karena dari semalem belum pulang eh mama malah ikutan pura-pura panik.” Jelas Khansa sambil terkekeh mengingat kelakuan mama mertuanya.
“Yaampun mama tuh nyari kerjaan aja ih, gitu emang mama dari dulu kalo gapunya kerjaan ya ngerjain orang.” Ketus Kalandra sambil menggelengkan kepalanya.
“Sudahlah mas, mungkin itu hiburan tersendiri untuk mama.”
“Tapi Kenan masih kecil sayang, kalau dia sering di bohongi gitu nanti di fikiranya keluarga kita mengijinkan adanya kebohongan.” Ucap Kalandra.
“Coba bayangin kalo dia lagi ngebohong terus kita marahin, dia pasti bilang ‘nenek juga sering boongin Kenan berarti kan ga apa-apa kalo Kenan ngebohong’ gimana jawabnya kalo udah gitu?” tanya Kalandra melanjutkan perkataannya.
Khansa menatap suaminya, dia baru sadar jika kebohongan yang di anggap candaan bagi orang dewasa akan mejadi pelajaran yang tidak baik untuk anak-anak.
“Kamu benar mas, aku baru menyadari akan hal itu.” Ucap Khansa.
Kalandra hanya tersenyum mengetahui jika istrinya sudah mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Kalandra juga berniat untuk memberi penjelasan kepada mamanya agar tidak membohongi Kenan terus-menerus.
Oeekk…oeekk..
Kalandra, Khansa dan Riko saling menatap satu sama lain karena mendengar suara tangisan bayi dari ruang operasi.
“Alhamdulillah, selamat ya Riko kamu sudah jadi ayah sekarang.” Ucap Khansa memberi selamat kepada teman sekaligus pacar sahabatnya itu.
“Selamat atas kelahiran anaknya ya ko.” Ucap Kalandra.
“Terimakasih sa, tuan Andra karena sudah mau menemani saya di sini dan menyita waktu istirahat kalian.” Ucap Riko yang merasa bersalah.
Dokter keluar dari ruang operasi dan menghampiri mereka bertiga.
“Selamat atas kelahiran putrinya tuan, istri dan putri anda sehat tanpa kekurangan satu apapun.” Ucap dokter tersebut.
“Alhamdulillah, terimakasih banyak ya dok.” Ucap Riko.
“Wah aku memiliki keponakan perempuan mas, Key kita akan memiliki teman sekarang.” Ucap Khansa sambil menoleh kepada suaminya.

“Iya sayang, Key akan mendapatkan teman perempuan sekarang. Dan tugas ketiga anak laki-laki dirumah kita akan bertambah.” Ucap Kalandra.
“Ha? maksudnya mas?” tanya Khansa yang tidak paham dengan perkataan suaminya.
“Ya mereka yang tadinya hanya di tugaskan untuk menjaga Key sekarang mereka juga akan menjaga anak Lila dan Riko.” Ucap Kalandra.
Riko dan Khansa tertawa bersama karena ucapan Kalandra.
“Ko, apa kamu sudah menghubungi orang tua Lila?” tanya Khansa.
“Sudahlah biar aku menghubungi ibuku sekalian memberikan kabar ini kepada mertuamu.” Ucap Khansa.
Khansa mencoba menelfon ibunya untuk memberitau tentang kabar gembira ini.
“Assalamualaikum bu..” ucap Khansa.
“Waalaikumsalam sa, ada apa?” tanya ibu Khansa.
“Bu, apa sasa mengganggu tidur ibu?”
“Tidak nak, ibu sudah bangun bahkan sudah memasak untuk sarapan.”
“Bagaimana kabar ibu dan ayah disana?”
“Alhamdulillah kami baik-baik saja nak, kapan-kapan bawalah anak-anakmu berlibur di sini.” Ucap ibu Khansa.
“Pasti bu, tunggu anak-anak sudah semakin besar ya bu baru sasa tenang mengajak mereka melakukan perjalanan yang lumayan jauh karena selama ini mereka hanya keluar ikut sasa ke kantor.”
“Iya sayang, oh iya ada apa kamu pagi-pagi menelfon? Apa kamu baik-baik saja?” tanya ibu Khansa.
“Alhamdulillah baik bu, sasa mau mengabarkan kalau Lila sudah melahirkan anak perempuan bu, sasa minta tolong sampaikan kabar ini kepada orang tua Lila karena suaminya terlalu panik sampai lupa mengabari mereka.” Jelas Khansa.
“Alhamdulilla akhirnya melahirkan juga Lila ya sa, baiklah ibu akan segera memberitahu kabar ini kepada ibunya Lila.” ucap ibu Khansa.
“Baiklah bu, jaga diri ibu baik-baik ya sasa dan mas Andra akan ke sana untuk berlibur nanti, Assalamualaikum.” Ucap Khansa dan langsung mematikan telfonnya.
Setelah menghubungi ibunya, Khansa mengajak suaminya untuk kembali pulang ke rumah karena Khansa mengkhawatirkan anak-anaknya.
“Nenek bagaimana, apa sudah ada kabar dari mami dan papi?” tanya Kenan yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
“Sabar sayang, kamu kayaknya baru semalem ga ketemu mami dan papi kamu udah heboh aja sih.” Protes Alisha.
“Ya kan Kenan khawatir Kenan ga mau ada yang terluka lagi seperti dulu saat Kenan di culik hikss,, hikss..” Kenan kembali menangis mengingat kejadian buruk yang menimpanya.
Alisha tersadar akan bercandaannya yang sudah kelewatan hingga membuat cucunya kembali mengingat kenangan buruknya.
“Sayang, tenang lah tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Papi dan mamimu baik-baik saja percayalah kepada nenek.” Ucap Alisha mencoba menenangkan Kenan.
“Hikss,, benarkah nek? Bagaimana nenek tau?”
“Tadi nenek menelfon mamimu, mereka sedang berada di rumah sakit karena tante Lila akan melahirkan.” Ucap Alisha.
“Jadi papi dan mami ga di culik kan nek, berarti mereka ga ninggalin Kenan dan adek-adek kan nek?” ucap Kenan meyakinkan.
“Hm, iya Kenan mereka baik-baik saja.”
“Kenapa nenek bohong sama Kenan? kan kata papi kita tidak boleh berbohong.” Ucap Kenan.
“Maaf ya sayang, nenek salah sudah berbohong sama Kenan, Kenan mau maafin nenek ga?” ucap Alisha.
“Iya, Kenan maafin tapi lain kali nenek jangan kayak gitu lagi nanti Kenan aduin ke papi biar nenek di marahin sama papi.” Ucap Kenan mencoba untuk memperingati neneknya.
“Duh bahaya ini kalo anak sama cucu sama-sama suka ceramah, lama-lama bisa jebol ini telinga.” Batin Alisha.
“Nenek mau ke kamar adik-adik dulu ya sayang, kamu di sini aja dulu oke?”
Alisha pergi ke kamar anak-anak untuk melihat keadaan mereka bertiga, Alisha tersenyum melihat ketiganya masih tertidur pulas.
“Semoga kalian selalu akur dan saling menjaga satu sama lain saat dewasa nanti.” Batin Alisha.
Tinn,, tinn..
Alisha yang mendengar suara klakson mobil itu segera menutup kembali pintu kamar anak-anak Kalandra dan pergi ke bawah menghampiri suara mobil tersebut.
“Loh Ryan.” Ucap Alisha yang melihat Ryan yang baru masuk ke dalam rumah.
“Selamat pagi tante, Ryan mau jemput Kenan dan mau mengantarnya ke sekolah.” Ucap Ryan.
“Andra sudah ngasih tau kamu ya kalau dia sedang di rumah sakit?” tanya Alisha.
“Iya tante, tadi Andra telfon dan minta tolong untuk mengantar Kenan ke sekolah, Kenannya di mana ya tante?” tanya Ryan.
“Kenan ada di dapur tuh yan, dia lagi ngambek sama tante gara-gara tante kerjain.” Jelas Alisha.
“Dikerjain gimana tante?” tanya Ryan penasaran.
“Udahlah nanti juga di mobil dia bakalan curhat sama kamu yan.”
Akhirnya Ryan hanya mengangguk dan segera menghampiri anak semata wayangnya yang sedang berada di ruang makan.
“Morning anak papa..” sapa Ryan.
“Papa Ryann..” Kenan sangat antusias melihat Ryan.
Kenan memeluk papanya yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu, Kenan dan Ryan berpelukan bak teletubbies yang sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun.