MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
AKU TAKUT KEHILANGAN KENAN


Bagian tersulit dari perpisahan bukanlah saat aku melangkah perg, namun saat aku sadar bahwa kenangan slalu ada.




Setelah mendengar tentang kebenarannya, Khansa menjadi sangat over protective terhadap Kenan, Khansa selalu tidur dengan Kenan dan memeluknya dengan sangat erat, Khansa juga selalu menemani Kenan saat makan atau bahkan saat mandi, hingga membuat Kenan dan orang tua Kalandra merasa aneh dengan tingkah Khansa yang sangat berbeda.



“nenek, mami kok jadi aneh ya nek?” ucap Kenan kepada nenek Alisha.



“iya, nenek juga ngerasa ada yang aneh sama mami kamu”



Mama Alisha yang penasaran akhrinya mendekati Khansa ke kamarnya yang sedang menyiapkan pakaian Kenan dan Kalandra untuk konverensi pers.



“Khansa? Mama boleh masuk dan berbicara?” tanya mama Alisha



“boleh ma, masuklah.” Ucap Khansa mengijinkan



“mama ingin Bicara padamu sa” Khansa menoleh melihat mama mertuanya dan menghampirinya lalu duduk disebelahnya.



“ada apa ma?”



“apa akhir-akhir ini kamu ada masalah?” tanya mama Alisha.



“tidak kok ma, ada apa?”



“mama lihat kamu terlalu over protective terhadap Kenan, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari mama?” Khansa terkejut mendengar pertanyaan mama mertuanya yang sangat tiba-tiba.



“ha? m,,masa sih ma? Engga kok, mungkin bawaan adiknya mau deket-deket Kenan terus ma.” Khansa mencari alasan untuk membohongi mama mertuanya.



“*maafkan Khansa ma, Khansa belum siap untuk memberitahu kebenarannya pada mama, biarkan mas Andra yang memberitahu semuanya secara perlahan*.” Batin Khansa.



Setelah selesai berbincang-bincang, mama Alisha keluar meninggalkan Khansa sendiri dikamarnya.



“*bagaimana ini, aku bahkan sampai sekarang masih tidak bisa menerima kenyataan ini, apalagi mama yang sudah menjaga dan menyayangi Kenan saat Kenan masih sangat kecil. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kesedihan mama*” Khansa termenung memikirkan bagaimana perasaan mama mertuanya mengetahui semua kenyataan yang pahit itu.



Kalandra baru saja tiba dari kantor dan segera menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya.



“assalamualaiku..” ucap Kalandra sambil membuka pintu kamar



“waalaikumsalam,” ucap Khansa yang melihat suaminya sudah berada dirumah



“sayang apakah kamu dan Kenan sudah siap untuk konverensi pers hari ini?” tanya Kalandra



“insyaallah sudah mas, segera mandilah, aku sudah menyiapkan pakaian untukmu dan Kenan. aku akan menyuruh Kenan untuk mandi terlebih dahulu.”



“baiklah sayang”



Kalandra langsung menuju ke kamar mandi dan membersikan dirinya, sedangkan Khansa menuju kamar Kenan, ia melihat Kenan yang sudah mandi dan sudah memakai pakaian yang sudah disiapkan.



“wah, anak mami pintar sekali sudah bisa merapihkan baju sendiri.”



“Kenan memang sudah mandiri sekarang mami, mami aja yang ngerasa Kenan seperti anak kecil” Kenan memanyunkan bibirnya karena ia merasa Khansa selalu menganggapnya anak kecil.



“maafkan mami Kenan, mami bukan bermaksud seperti itu, mami kayak gini karena mami sangat menyayangi Kenan.” ucap Khansa penuh penyesalan terhadap Kenan.



Ia merasa bersalah karena sudah melakukan hal yang malah membuat Kenan risih.



“iya mami, Kenan ngerti kok pasti adik Kenan mau deket-deket sama Kenan ya?” tanyanya polos



“iya sayang, adik Kenan sangat ingin berada dekat Kenan terus menerus. Tapi mami akan menahannya agar Kenan tidak merasa risih.” Ucap Khansa



“engga mi, Kenan ga pernah merasa risih. Kenan ngerasa aneh aja mami tiba-tiba deket Kenan terus.”



“sudah ayo kita harus berangkat sayang.”



“iya mi, ayo kita berangkat”



Khansa dan Kenan baru saja turun dari tangga dan melihat Kalandra yang sudah berada di pintu depan menunggu mereka.



Kali ini Kalandra menggunaka supir dan mengutus beberapa pengawal untuk menjaga mereka, Kalandra takut jika ada hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi.



“mas, aku gugup” bisik Khansa kepada Kalandra



“tenanglah, aku akan selalu berada disampingmu, pegang tanganku dan jangan pernah lepaskan.” Ucap Kalandra menenangkan.




Setelah mereka sudah siap, Edo menyuruh pelayan disana untuk membukakan pintu agar para wartawan bisa memasuki ruangan konverensi pers. Ada banyak sekali wartawan yang masuk kedalam ruangan itu dan tidak henti-hentinya memotret mereka bertiga.



“mami, mata Kenan sakit.” Ucap Kenan yang terkena cahaya flash kamera para wartawan.


Khansa yang melihat anaknya merasa tidak nyaman akhirnya mengambil kacamata hitam yang sudah ia siapkan di dalam tasnya.



Kalandra melihat Khansa yang mengeluarkan kaca mata hitam hanya bisa menahan tawanya.



“kamu sudah melakukan banyak persiapan sayang.” Canda Kalandra terhadap Khansa



“iyadong, aku sudah memperkirakan semuanya.”



Semua kursi yang disediakan sudah terisi penuh dan Kalandra mulai mengumumkan tentang hubungannya dengan Khansa dan Kenan, namun Kalandra tidak membahas tentang anak yang dikandung Khansa karena keinginan Khansa untuk merahasiakannya.


Semua wartawan yang ada disana memotret Kalandra, Khansa dan Kenan.



Kalandra memang tidak menerima pertanyaan, karena ia hanya ingin mengumumkan tentang keluarganya, akhirnya mereka segera pulang menuju rumah mereka. Kenan sudah tertidur dipangkuan Khansa, Tiba-tiba saja hp Kalandra berbunyi.



“halo?” ucap Kalandra



“halo sahabatku tercinta. Mengapa tiba-tiba kau mengumumkan tentang istri dan anakmu? Apa kamu takut jika aku akan melakukan hal yang tidak-tidak kepada mereka? Hahahaha” ucap orang yang berada di sebrang telfon.



“Ryan!?” ucap Kalandra yang membuat Khansa terkejut mendengarnya.



“wah kau bahkan masih mengingat suaraku?”



“apa yang kau inginkan!?”



“aku? Aku ingin melihatmu hancur karena kehilangan orang yang kamu sayangi.”



“Ryan aku mohon jangan sakiti keluargaku, lebih baik kita bertemu dan meluruskan kesalah pahaman ini.” ucap Kalandra



“hahaha,, apa lagi yang ingin diluruskan jika Amelia saja sudah tidak ada di dunia ini ha!?”



“dengarkan penjelasanku dulu! Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang sudah Amelia siapkan untukmu sebelum ia meninggal! Setelah itu terserah padamu apa yang akan kau lakukan!”



“baiklah, dua hari lagi kita bertemu di tempat biasa kita berkumpul. Tapi bukan berarti aku melupakan kesalahanmu, aku hanya ingin mengetahui barang apa yang diberikan oleh Amelia.”



Kalandra langsung menutup telfonnya. Khansa memegang erat tangan Kalandra dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda kalau ia tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan suaminya.



“tenanglah sayang, aku tidak akan membiarkannya menyakitimu dan Kenan.” Kalandra hanya bisa menenangkan dan mengelus punggung Khansa.



“tapi ini aneh mas, sebenci itu dia sama kamu tapi segampang itu dia menyetujui bertemu denganmu.” Khansa mencurigai Ryan yang dengan gampangnya menyetujui Andra untuk bertemu.



“aku akan membawa Edo bersamaku dan menyiapkan beberapa pengawal untuk aku bawa bersama.”



Kalandra menyuruh supir untuk menuju ke apartmentnya terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu.



“mas, apa yang kamu lakukan? Mau apa kita di apartment lagi?” tanya Khansa yang penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya.



“ikutlah kedalam, aku akan memberitahumu” ucap Kalandra sambil mengulurkan tangannya kepada Khansa.



“tapi Kenan bagaimana?”



“biarkan dia disini. Pak Asep akan menjaganya.”



Kalandra mengangkat Kenan dari pangkuan Khansa dan membiarkan Khansa keluar dari mobil lalu kembali membaringkan Kenan di dalam mobil . Kalandra menggandeng tangan Khansa hingga sampai di kamar mereka.



Kalandra membuka lemari yang ia kunci dan membukanya, disana ada banyak sekali barang-barang milik Amelia.



“mas, ini kan lemari yang isinya barang mbak Amel” ucap Khansa heran



“iya sayang, aku akan membukanya dan mengambil sesuatu untuk diberikan kepada Ryan”



Kalandra mengambil kotak sedang yang berisi barang-barang seperti gelang, cincin bahka ada sepucuk surat yang tidak pernah disentuh oleh Kalandra.



“ini adalah kenangan antara Amel dan Ryan, aku tidak tau seberapa berarti barang ini untuk Ryan tapi sepertinya surat ini adalah jawaban yang sangat diinginkan Ryan.” Jelas Kalandra memegang surat yang sudah mulai lusuh.



“sebenarnya ada kotak untuk Kenan juga, tapi aku tidak akan memberikannya sekarang, aku ingin menunggu Kenan dewasa dan bisa menerima semuanya dengan fikiran terbuka” lanjutnya.



“mas, Kenan adalah anak yang cerdas dan dia pasti akan mengerti dan berfikiran terbuka.” Khansa menenangkan suaminya, padahal didalam hatinya ia juga takut jika Kenan akan diambil oleh Ryan dan dibawa pergi jauh darinya.



“*sebenarnya aku sangat takut kehilangan Kenan, tapi aku harus berusaha menerima semuanya karena Kenan juga harus mengetahui tentang orang tua kandungnya*.” Batin Khansa.