MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
KELUARGA BAHAGIA


Sebuah kata kadang menyejukkan, kadang membuat gerah. kadang menentramkan, kadang mematikan. maka berfikirlah sebelum berucap.



“Hai pak Direktur..” sapa Ryan dan Edo dengan nada candaan.



Kalandra hanya menatap kepada sahabatnya itu dengan tatapan tajamnya, Khansa yang melihat suaminya sedang memberikan tatapan tajam kepada teman-temannya itu segera mencubit perutnya.



“Aww..!” teriak Kalandra.



“Kamu ini jangan seperti itu mas!”



“Kamu kok ga belain aku sih sayang..” rengek Kalandra.



“Emang kamu yang ngajak ribut mas, masa aku mau belain yang salah sih!” ketus Khansa.



Kalandra yang habis di marahi oleh istrinya hanya diam saja tanpa berbicara apapun, Kalandra memajukan bibirnya dan menyilangkan tangannya di dadanya.



Khansa yang melihat suaminya sedang kesal itu segera merangkul tangan suaminya dengan tangan kanannya dan mengucapkan sesuatu.



“Congratulation sayangku.. Love you.” Bisik Khansa.



Kalandra yang tau jika istrinya jarang sekali mengucapkan kata-kata itu langsung luluh dan menoleh ke arah istrinya.



“Kamu lagi menggodaku ya sayang?” bisik Kalandra.



“Ih engga mas.. apaan sih, udah sana ke papa dan kak Robert.” Ucap Khansa sambil mendorong suaminya untuk menghampiri papa dan kakaknya.



Akhirnya Kalandra menghampiri papa dan kakaknya yang sedang berbincang-bincang dengan para rekan bisnisnya.



“Selamat menjadi direktur utama baru tuan Kalandra.” ucap para rekan bisnisnya tersebut.



“Terimakasih banyak, saya juga terkejut karena saya di jadikan sebagai direktur utama, sedangkan saya masih banyak kekurangan dalam banyak hal.” Ucap Kalandra mencoba merendah.



“Tuan Kalandra selalu saja merendah. Jika bukan karena tuan Kalandra, perusahaan yang dulunya kecil tidak akan menjadi seperti sekarang ini!” balas yang lain.



“Itu semua karena para karyawan yang membantu saya menangani pekerjaan.” Ucap Kalandra.



Semua orang hanya saling tersenyum dan menatap satu sama lain setelah itu pergi meninggalkan Kalandra, Robert dan papa Arnold disana.



“Kak, maksud kakak menjadikan direktur utama apa?” tanya Kalandra.



“Itu semua rencana dari kakakmu Ndra.” Ucap papa Arnold.



“Tapi kenapa kak?” tanya Kalandra lagi.



“Karena kamulah yang selama ini bekerja keras untuk membuat perusahaan kita menjadi sebesar dan sesukses ini Ndra, aku tidak ingin merebut perusahaan yang sudah kamu bangun dari nol ini.” jelas Robert.



“Kenapa tidak kakak saja yang menjadi direktur utama?”



“Aku sudah menjadi direktur utama di perusahaanku sendiri, dan aku ingin adikku juga menjadi direktur utama di perusahaannya sendiri, karena aku akan membalikkan nama kepemilikan dari perusahaan ini, aku akan memberikan perusahaan ini kepadamu Ndra.”



“Kakak yakin? Apakah kakak tidak akan mengambilnya lagi? Aku tidak akan memberikannya jika suatu saat kakak akan mengambilnya kembali dariku!” tegas Kalandra.




“Sudahlah tidak usah memikirkan hal yang tidak-tidak! Aku akan segera mengganti nama perusahaan ini agar kamu tidak mengkhawatirkan hal yang tidak-tidak.” Ucap Robert lalu pergi meninggalkan Kalandra untuk berbincang-bincang dengan rekan lainnya.



“Mas, apakah tidak masalah jika aku pulang lebih dulu? Sepertinya anak-anak sudah lelah.” ucap Khansa kepada suaminya.



Kalandra menoleh ke arah istrinya dan melihat anaknya yang sudah mulai tidak bisa diam.



“Aku akan ikut pulang.” Ucap Kalandra namun di tahan oleh Khansa.



“Tidak mas, jangan! Ini adalah acaramu juga jadi kamu tidak bisa meninggalkan acara ini begitu saja, aku mau bilang ke kak Robert kalo aku akan membawa kak Hani dan Rey bersamaku, jadi nanti kak Robert akan menjemput mereka di rumah.” Jelas Khansa.



“Siapa yang akan mengantar kalian?” tanya Kalandra.



“Aku sudah menelfon pa Asep, dia akan menjemput kami mas.”



“Baiklah jika begitu, tapi hati-hati di jalan dan jika ada apa-apa kamu harus segera menghubungiku!” tegas Kalandra.



“Siap mas.. aku mau ke kak Robert dulu ya..” Khansa meminta ijin kepada suaminya.



“Ga usah sayang,, aku yang akan berbicara dengan kak Robert, kamu pulanglah kasihan anak-anak semakin rewel.” Ucap Kalandra.



Akhirnya Khansa mengangguk menyetujui perintah suaminya, Khansa segera meninggalkan Kalandra dan pergi menjauhi suaminya.



Rumah Kalandra


Khansa, Kenan, Hani dan mama Alisha yang baru saja sampai di rumah mereka segera membawa anak-anak ke dalam kamar karena disana Khansa memang sengaja tidak menyingkirkan tempat tidur Rey jadi Rey bisa tidur bersama saudara-saudaranya saat dia sedang berada di rumah Kalandra.


“Kak, kak Hani juga harus menghubungi kak Robert ya agar dia tidak Khawatir, aku juga takut kalau mas Andra lupa menyempaikan pesan dariku.” Ucap Khansa.


“Baiklah setelah ini aku akan menelfon Robert.” Ucap Hani.


Khansa dan Hani memutuskan untuk turun dan menghampiri Kenan dan mama Alisha yang masih menggendong Ken di bawah.


“Ma, kenapa Ken tidak di taruh di atas?” tanya Khansa yang baru saja turun dari tangga.


“Dia masih main sama Kenan sa, dari tadi dia ga mau tidur nih.” Ucap mama Alisha.


Khansa melihat mama mertuanya yang sudah mulai lelah menggendong Ken yang sekarang sudah mulai berat itu akhirnya segera mengambil alih Ken dari gendongan mama mertuanya.


“Sudah ma, biarkan sasa aja yang menjaga Ken mama istirahatlah di kamar ya. Sasa tau mama pasti lelah.” Ucap Khansa.


“Apakah tidak apa-apa? Kamu juga kan lelah sa.”


“Tenang ma, ada Hani di sini. Hani dan Khansa akan bergantian menggendong Ken.” Sambung Hani.


“Iya nek, Kenan juga akan menggendong Ken.” Sahut Kenan.


“Dasar anak nakal! Kamu mau gendong Ken karena sudah nenek belikan mainan.” Ucap mama Alisha yang membuat Kenan tertawa mengejek.


Khansa dan Hani yang melihat tingkah mama mertuanya dan Kenan itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Kenan sayang, ga boleh kayak gitu sama nenek. Ayo bilang apa kalau salah? Dan bilang apa kalau sudah di belikan sesuatu?” tegur Khansa.


“Maaf ya nek dan terimakasih mainannya nek,, Kenan sayang banget sama nenek..” ujar Kenan lalu berlari ke arah neneknya yang baru saja ingin menaiki tangga.


Mama Alisha tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari cucu sulungnya itu lalu membalas pelukan Kenan dengan erat.


Khansa dan Hani pun ikut tersenyum melihat kemesraan mama Alisha dan Kenan.


Saat suasana sedang haru, tiba-tiba saja datang para pengganggu suasana ke dalam rumahnya, ya itu adalah Kalandra, Robert dan papa Arnold.


“Papa, kenapa kalian sudah pulang? Kami semua baru saja sampai di rumah.” Ucap mama Alisha.


“Duh papa pusing ngurus kedua bapak ini yang selalu saja meminta pulang untuk melihat anak-anaknya.” Protes papa Arnold sambil menggelengkan kepalanya.


“Lalu siapa yang menjadi tuan rumah di acara itu?” tanya Hani.


“Ada Edo, Anita, Rose dan Ryan, aku sudah memberikan cuti panjang untuk Edo dan Rose jadi sekarang aku menyuruh mereka pemanasan meladeni para tamu.” Ucap Kalandra dengan senyum liciknya dan membuat semua orang tersenyum kikuk melihatnya.


Di rumah itu, ada banyak tawaan dan candaan di dalamnya layaknya keluarga yang benar-benar bahagia.


“Alhamdulillah.. aku senang sekali karena keluarga ini sudah berkumpul dan bahagia, aku harap kebahagiaan ini akan tetap berlanjut dan tidak aka nada lagi permasalahan lagi ke depannya.” Batin Khansa dengan senyum yang terpampang di wajahnya.