MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
HARI PERNIKAHAN KEY DAN BERNARD 2


Brukk!!


"Yaampun Elsa, apa yang terjadi?" Tanya Lana sambil melihat keadaan Elsa.


Elsa menabrak Rey yang sedang membawa beberapa hadiah yang di berikan para tamu undangan untuk Key agar tidak penuh di bawah.


"Rey? Kamu baik-baik saja?" Tanya Lana sambil memungut barang-barang yang berserakan di lantai.


Namun Rey sama sekali tidak menggubris ucapan Lana, dia terpaku melihat Elsa yang sedang berdiri di hadapannya.


"C-cantik sekali!" gumam Rey yang masih bisa di dengar oleh Lana.


"Ha? Kamu ngomong apaan sih Rey!? Siapa yang cantik?" Tanya Lana.


"Hah? Eh, Key cantik sekali." ucap Rey yang tersadar akan lamunannya.


"Key? Aku bahkan tidak bisa melihat Key dari sini, gaunnya saja tidak terlihat!" ucap Lana yang membuat Rey menjadi salah tingkah.


"M-maaf kak Rey, aku tidak sengaja." ucap Elsa sambil mengulurkan tangannya kepada Rey dan tersenyum ke arahnya.



"Tidak apa-apa, lain kali kalau jalan liat-liat!" ketus Rey yang sudah sadar dari lamunannya dan segera mengambil kado yang berjatuhan.


"Elsa bantu kak."


"Tidak usah!" ketus Rey sambil menepis tangan Elsa yang mau membantunya.


Elsa sudah terbiasa dengan sikap Rey yang acuh tak acuh padanya, sedangkan Lana malah merasa heran dengan sikap Rey kepada Elsa.


Tuk! Lana menjitak kepala Rey hingga membuatnya kesakitan.


"Aw! Kenapa kamu menjitak kepalaku!?" Tanya Rey dengan kesal.


"Kamu ini tidak di ajarkan sopan santun ya!? Kalau ada orang yang Minta maaf itu harusnya di terima dengan baik!" ketus Lana.


"Diamlah! Aku tidak sedang ingin berdebat denganmu!"


"Kamu! Lihat saja nanti, kalau suatu saat nanti kamu menyukai Elsa, aku adalah orang pertama yang menertawakanmu!" tegas Lana.


"Gila!" ketus Rey yang langsung masuk ke dalam kamar Key tanpa permisi.


Lana menghampiri Elsa yang sedang berdiri di depan pintu kamar Key dengan menundukkan kepalanya.


"Kamu baik-baik saja Els?" Tanya Lana.


"Aku baik-baik saja kak, aku sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu dari kak Rey." ucap Elsa sambil tersenyum ke arah Lana.


"Aku mau turun dulu ya kak." lanjutnya.


"Ayo turun bersamaku, aku ingin turun ke bawah juga dari pada harus bertemu dengan orang sepertinya." ucap Lana.


Akhirnya Lana dan Elsa turun ke bawah bersama dan menghampiri keluarga mereka yang ada di lobby hotel.


Sedangkan di dalam kamar Key, Rey baru saja menaruh beberapa kado yang dia bawa.


"Nih Key, maaf ya kalau ada beberapa yang rusak karena Elsa menabrakku tadi!" ucap Rey.


"Tidak apa-apa Rey, aku tadi dengar kok, tapi Rey apa kamu tidak bisa bersikap halus kepada Elsa? Kasihan dia selalu kamu marahin gitu."


"Aku ga marahin dia kok, aku biasa aja kok."


"Menurutmu biasa aja, tapi tidak untuk orang yang melihatnya! Kamu hanya bersikap kasar kepada Elsa dan di saat itu Elsa akan mengira kalau kamu benar-benar membencinya."


"Aku tidak membencinya!"


"Kamu menyukainya?"


"Iya! Eh TIDAK!! Menyukainya? Haha apa kamu sedang bermimpi?!"


Key hanya tersenyum mendengar ucapan saudaranya itu, dia sudah mengerti kalau Rey ternyata menyukai Elsa.


"Kamu menyukainya Rey! Jangan membohongi dirimu sendiri sebelum ada seseorang yang merebutnya dan kamu hanya bisa melihatnya bahagia dengan yang lain!" tegas Key.


"Aku tidak menyukainya, aku benar-benar tidak menyukainya!" ucap Rey mencoba untuk meyakinkan Key.


Rey menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar kamar Key.


"Ingat ya aku tidak menyukainya!" ucap Rey sebelum menutup pintu kamar Key.


Key tersenyum melihat tingkah saudaranya yang tidak mau mengakui perasaannya itu, Key bingung harus bagaimana membuat Rey mengakui perasaannya.


Rey turun ke bawah dan tidak sengaja matanya bertemu dengan mata Elsa yang sedang berada di bawah tangga.


Wajah Rey semakin kesal saat melihat seorang laki-laki menghampiri Elsa dan mengajaknya berbicara, laki-laki yang sama yang mengajak berbicara Elsa di kampus.


"Kenapa laki-laki itu ada di sini? Apa Elsa mengundangnya kemari?" gumam Rey dengan tatapan tajam sambil menuruni tangga.


Rey melewati Elsa dan laki-laki yang sedang berada di sebelahnya tanpa menoleh ke arahnya sama sekali.


"Ken, siapa laki-laki yang ada di sebelah Elsa? Apa dia teman Key?" Tanya Rey yang baru saja menghampiri Ken di depan.


"Ah itu, ternyata dia adalah anak dari rekan bisnis papiku, dan dia juga sudah memiliki cabang perusahaannya sendiri, hebat bukan? sainganmu bukan kaleng-kaleng!" jelas Ken membuat Rey menatap tajam ke arah Elsa dan laki-laki yang ada di sebelahnya.


Papi Kalandra sudah berada di kamar hotel Bernard, di sana ada juga papa Bernard yang sedang menemani anak laki-lakinya.


"Tuan Kalandra, titip Bernard dulu ya saya mau ke bawah untuk menemui rekan bisnis saya." ucap papa Bernard yang di balas anggukan oleh papi Kalandra.


"Bagaimana perasaanmu Bernard?" Tanya papi Kalandra.


"Deg degan pi, Bernard gugup sekali."


"Papi mau berbicara serius kepadamu Bernard."


"Tentu papi, papi mau bicara apa?"


"Bernard, kamu harus tahu kalau Key adalah anak yang sangat baik tapi kadang dia juga sangat egois, papi harap kamu bisa menerima semua sikapnya dengan dewasa." ucap papi Kalandra.


"Papi harap kamu bisa menjaganya dengan setulus hati, jaga dia seperti kamu menjaga hartamu yang paling berharga, bimbing dia untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi." lanjutnya.


"Papi tenang saja, Bernard janji akan selalu membimbing Key dengan setulus hati, Bernard akan menjaganya seperti berlian pi." ucap Bernard.


"Terimakasih.. papi benar-benar bersyukur karena Key mendapatkan laki-laki yang mencintainya dengan tulus."


"Jangan begitu pi, Bernard yang berterimakasih karena papi mau memberikan anak kesayangan papi kepada Bernard."


Papi Kalandra dan Bernard saling berpelukan satu sama lain setelah saling mengucapkan terimakasih.


"Sudahlah, ayo kita turun karena acara akan segera di mulai." ajak papi Kalandra.


Papi Kalandra menggandeng tangan calon menantunya untuk pergi ke bawah.


Acara pernikahan pun di mulai, Bernard mengucapkan ijab qabul dengan lancar tanpan halangan apapun, setelah SAH menjadi suami istri, mami Khansa menjemput anak perempuannya untuk menemui suaminya.


Papi Kalandra tanpa sadar meneteskan air matanya saat melihat anak kesayangannya sudah menggandeng tangan laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya.


"Papi, jangan menangis seperti ini, bukankah papi bilang kalau laki-laki tidak boleh menangis." ucap Ken yang melihat papinya menangis.


"Biarkan papi menangis, tau sendiri kan kalau menyangkut masalah Key papi selalu seperti ini." sambung Kenan.


"Iya, papi kalian ini terlalu mendramatisir!" sambung mami Khansa.


"Kalian ngeroyok papi ya? Lihat saja nanti kalau kalian berdua memiliki anak perempuan pasti akan lebih parah dari papi!" ketus papi Kalandra yang di balas tawa oleh yang lainnya.


Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dan juga mengharukan untuk keluarga besar papi Kalandra.


***


Bernard



Kenan



Ken