MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SEASON 2 (KEMARAHAN KALANDRA)


Hidup bukanlah tentang bagaimana menemukan diri kita tetapi bagaimana menciptakan diri kita yang sebenarnya.



***Rumah Kalandra***



“Ken, bisakah kamu sedikit lebih serius? Jangan membuat papi dan mami selalu pusing memikirkanmu! Apa yang kamu lakukan di luar sana sampai tengah malam seperti ini?!” tegas Kenan kepada adik laki-lakinya yang selalu saja pulang larut malam.



“Hoam,, duh bang, percuma abang ngomong kayak gitu ujung-ujungnya ga akan di denger sama dia! Abang ngomong sampe mulut abang berbusa juga ga akan ngaruh ke dia!” ketus Key yang sudah mengantuk.



“Maaf bang, Ken terlalu asik berbicara dengan teman-teman sampai larut malam.” Ucap Ken dengan wajah memelas.



“Sudah berapa kali kamu bilang kayak gitu, ujung-ujungnya tetep di ulang lagi! Asal kamu tau, kalau teman-temanmu memberikan dampak buruk kepadamu, berarti mereka tidak pantas kamu jadikan teman! Teman yang baik itu adalah teman yang selalu mengingatkan saat kamu salah, bukan malah mengajakmu untuk pulang larut malam seperti ini!” tegas Kenan.



Ken tidak menjawab perkataan Kenan sama sekali karena dia tau jika abangnya sedang marah pasti akan sangat menyeramkan jika membantah perkataannya.



“Sudahlah, cepat naik ke atas dan ber istirahatlah! Abang ingin ini terakhir kalinya kamu pulang larut malam seperti ini!” ucap Kenan.



“Ya benar! Istirahatlah dan kumpulkan tenagamu untuk di marahin papi dan mami besok pagi!” sambung Key.



Ken menoleh ke arah kembarannya itu dan menatapnya dengan sangat tajam, sedangkan Key menjulurkan lidahnya mengejek kembarannya.



“Key, sudahlah. Kamu itu harusnya tidak ikutan kalau abang sedang memarahi kakakmu. Sudah tidur sana, kenapa kamu masih melek jam segini!?” ucap Kenan.



“Aku baru selesai mengerjakan tugas kampusku bang, ini aku juga udah mau ke atas kok kebetulan aja Ken baru datang dan di marahi abang jadi aku ikutan deh.” Ucap Key sambil memamerkan gigi putihnya.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1608628487618.jpg)



“Kakak Key kakak, jangan memanggil kakakmu dengan namanya. Ga sopan!” tegas Kenan.



“Haahhh,, sepertinya aku tadi mendengar sesuatu tapi siapa yang ngomong ya..? tidur aja ah..” ucap Key sambil meregangkan tangannya ke atas lalu pergi ke kamarnya dan berpura-pura tidak mendengar ucapan Kenan.



Kenan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik perempuannya itu, sudah berkali-kali Kenan mengingatkan Key untuk memanggil kembarannya dengan sebutan kakak tapi tidak pernah di dengarkan olehnya.


Di kamar, Ken yang baru meletakkan tasnya ke sembarang tempat langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan melihat hpnya dan membaca pesan dari teman-temannya.


Isi pesan.



“Apa kamu tidak di marahi oleh keluargamu?” tanya temannya.



“Tidak, kamu tenang sajalah keluargaku tidak pernah melarangku untuk pulang malam, tapi lain kali kita jangan pulang terlalu malam karena rumahku sangat jauh dan jalan menuju rumahku juga sepi, aku takut jika pulang sendiri.” Balas Ken berbohong.




“Tidak perlu, rumahku terlalu jauh jadi aku tidak ingin kamu repot mengantarku pulang. Sampai bertemu besok, kita lanjutkan rencana kita.”



Setelah itu Ken segera mematikan hpnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena merasa badannya sudah lengket.



Pagi harinya, keluarga Kalandra berkumpul dan sarapan bersama di meja makan. Mereka semua makan dengan tenang tanpa berbicara apapun karena memang peraturan Kalandra tidak mengijinkan berbicara saat sedang makan.


“Pulang jam berapa kamu kemarin Ken!?” tanya papi Kalandra yang baru saja menyelesaikan sarapannya.


Ken yang di beri pertanyaan secara tiba-tiba itu oleh papinya sangat takut dan melirik ke arah abangnya untuk meminta pertolongan.


“Pi..” ucap Kenan namun di putus oleh papi Kalandra.


“Papi tidak ingin kamu terus membela adikmu Kenan! Papi ingin dia sendiri yang menjelaskan kepada papi tentang kesalahan yang sudah dia lakukan.” Tegas papi Kalandra.


Akhirnya Kenan diam tidak berbicara apapun karena papinya sudah mulai kesal dengan adiknya itu. Mami Khansa juga tidak pernah ikut campur jika suaminya sudah memarahi anaknya itu, karena menurutnya suaminya memarahi anak-anaknya demi kebaikan mereka juga.


“Maaf pi,, Ken tidak akan mengulanginya lagi.” Ucap Ken.


“Kenzo! Berapa kali kamu sudah seperti ini!? Papi sebenarnya tau jika kamu selalu pulang larut malam setiap hari, selama ini papi diam karena papi ingin lihat bagaimana abangmu mengajarimu, tapi sepertinya kamu tidak takut sama sekali dengan abangmu, jadi papi yang akan turun tangan langsung untuk mendidikmu!” bentak Kalandra.


Semua yang berada di meja makan terkejut melihat papi Kalandra yang sedang marah, Ken juga tau sebenarnya dia sudah sangat keterlaluan hingga membuat papinya semarah itu kepadanya.


Setelah selesai memarahi Ken, papi Kalandra segera meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju kamarnya.


“Sayang, kamu tau bukan jika papimu tidak pernah marah kepada anak-anaknya? Namun hari ini adalah pertama kalinya papi membentak anaknya, itu artinya kamu sudah kelewatan dan mami harap kamu bisa berubah setelah ini.” ucap mami Khansa lalu beranjak dari tempat duduknya dan menyusul suaminya.


“Kamu itu memang selalu saja membuat masalah! Makananku yang baru saja aku makan sepertinya akan keluar lagi karena mendengar kemarahan papi, makanya kamu berubahlah kamu sudah tua!” ketus Key.


“Lalu kalau aku tua kamu apa ha? nenek-nenek!?” balas Ken.


Ken dan Key memang selalu ribut jika bertemu, namun mereka diam-diam saling menjaga dan memperhatikan dari jauh, jika mereka berpisah terlalu lama mereka akan saling mencari satu sama lain bahkan terkadang bisa sampai sakit.


“Sudahlah, Key bawa piring kotornya ke belakang dan cucilah agar bi Rini tidak kecapean.” Ucap Kenan.


“Baiklah kak.” Ucap Key pasrah dan membawa piring dan gelas kotor ke belakang untuk di cuci.


“Sini non biar bibi saja yang mencucinya.” Ucap bi Rini yang sudah mulai tua, bahkan keriput di wajahnya sdah terlihat jelas.


“Sudahlah bi, biar Key saja ya bibi beristirahatlah jangan terlalu lelah. Nanti setelah pulang kuliah, Key akan memberi perawatan di wajah bibi bersama dengan nenek Alisha, agar wajah kalian kembali menjadi kencang seperti Key.” Ucap Key dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


Bi Rini tersenyum melihat tingkah Key, Key sudah menganggap bi Rini sebagai neneknya sendiri dan selalu memperhatikan kesehatan bi Rini.


Setelah selesai mencuci piring, Key menghampiri Kenan dan Ken yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil berbincang-bincang.


“Kalian lagi ngomongin Key ya? serius amat sih? Key tau kok kalau Key cantik ga usah di omongin gitu ah kan jadi malu.” Canda Key dengan sikap imutnya.


“Ueekkkk.. jijik banget ngomongin cewe bawel kayak kamu!” ketus Ken sambil berpura-pura ingin muntah.


“Ish! Abang, lihatlah dia selalu mengejekku!” protes Key ingin mendapat pembelaan dari abangnya.


“Lagipula kita memang tidak membicarakanmu Key.” Ucap Kenan.


“Ish, kalian ini sama saja! dasar laki-laki tidak pernah mengerti perasaan wanita! Pantas saja kalian masih jomblo!”


“Kata siapa? Abang sudah punya pacar kok.” Ucap Kenan pamer.


“Ha? benarkah bang?” tanya Ken dan Key secara bersamaan, karena selama ini Kenan tidak pernah tertarik dengan hubungan pacaran sama sekali.


“Biasa aja kali ga usah kayak gitu nanyanya! Abang kan jadi terkejoet..” ucap Kenan dengan diiringi tawa yang membuat kedua adiknya kesal karena sikapnya.


“Haiii,, abang Kenan, kak Ken, kak Key.. “ teriak seseorang dari depan pintu yang membuat mereka bertiga terkejut.


Key menoleh ke asal suara dan menghela nafas panjang setelah mengetahui siapa yang datang.


“Hadeuuhh,,, siapa yang mengundangnya ke sini..” gumam Key sambil memukul keningnya.