
Tidak perlu iri, kita sudah memiliki porsinya masing-masing. Hidup yang terlihat indah belum tentu benar-benar indah.
“Kamu ini kenapa sih Key?” tanya Ken dengan tatapan tajamnya karena melihat keanehan sikap saudara kembarnya itu.

“Aku baik-baik saja, aku tidak suka kalau kalian terlalu mengkhawatirkanku.” Ketus Key yang langsung pergi meninggalkan semuanya.
Kenan, Ken dan Rey ingin menyusul Key namun di cegah oleh Bernard, menurutnya Key membutuhkan waktu untuk sendiri.
“Jangan di samperin, Key butuh waktu sendiri karena memang dari tadi sepertinya ada sesuatu yang di fikirkan olehnya.” Ucap Bernard.
“Baiklah, tapi bagaimana luka di tangannya. Itu harus segera di obati.” Ucap Kenan.
“Biar aku saja yang mengobatinya.” Ucap Bernard lalu menyusul Key ke dalam.
Mami Khansa yang melihat kejadian tadi menghampiri Kenan untuk menanyakan apa yang terjadi.
“Ada apa sayang?” tanya mami Khansa.
“Entahlah mi, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu Key.” Ucap Kenan.
“Kenan, tante, ayo duduk hidangannya sudah siap.” Ucap Belinda yang baru datang.
“Eh iya ayo sayang.” ucap mami Khansa sambil merangkul Belinda.
“Key sama Bernard kemana ya tante kok Belinda ga lihat.” Tanya Belinda.
“Biarkan saja,, mungkin mereka sedag berduaan, biarkan mereka lebih dekat satu sama lain.” Ucap Kenan berbohong agar Belinda tidak khawatir mengenai tangan Key.
Karena kebetulan tadi saat tangan Key terkena air panas, semua orang tidak melihatnya karena mereka semua sedang sibuk melihat-lihat sekeliling halaman rumah keluarga Bernard.
Di dalam, Bernard melihat Key sedang menunduk sambil memegang tangannya yang sudah memerah, Bernard menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Kamu sebenarnya kenapa sih Key?” tanya Bernard.
“Aku tidak apa-apa om beruang.” Ucap Key dengan senyum yang di paksakan.
“Coba aku lihat.” Ucap Bernard sambil memegang tangan Key untuk melihat keadaan tangannya.
“Aku baik-baik saja om beruang, tanganku hanya memerah saja kok.” Ucap Key.
“Tunggu di sini, aku akan mengambil kotak p3k!” tegas Bernard yang membuat Key hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan Bernard.
Tidak lama kemudian Bernard datang kembali dengan kotak putih yang berada di tangannya, dengan teliti Bernard mengobati tangan Key.
“Ga usah di obatin juga kayaknya ga akan kenapa-kenapa kan om beruang?” tanya Key.
“Kamu ini gimana sih! Kalau tidak di obati lama-lama akan ada air dan membuat kulitmu menggelembung seperti balon lalu akan menimbulkan bekas.” Ucap Bernard.
“Benarkah? kalau begitu obati saja om hehe.” Ucap Key sambil memamerkan gigi putihnya.
“Gitu dong, kalau senyum seperti itu kamu terlihat sangat cantik.” Puji Bernard yang membuat Key tersipu malu.
Di sisi lain, Lana yang memang mencari keberadaan Key melihat adegan romantis antara Key dan Bernard, Lana langsung mengambil hp dari saku celananya dan memotret mereka berdua.
“Ah romantisnya..” gumam Lana.
“Kamu ngapain di sini!” ucap Jonathan yang membuat Lana terkejut.
“YaAllah om Jojon ini selalu datang tiba-tiba. Om Jojon ngikutin Lana kan! Perasaan di mana Lana berada pasti ada om Jojon.” Ucap Lana.
“Enak aja! Saya itu di sini mau mencari tuan Bernard karena ada masalah pekerjaan yang ingin saya bicarakan.” Jelas Jonathan.
“Oh..” jawab Lana singkat.
“Apa jangan-jangan kamu yang mengikutiku ya..” selidik Jonathan.
“Enak aja! Aku itu di suruh tante Khansa untuk mencari Key karena acara makan malam akan segera di mulai tapi malah melihat adegan yang meng uwukan sekali sampai membuat jiwa jombloku meronta-ronta.” Ucap Lana dengan nada yang berlebihan.
“Apaan sih lebay banget deh!” ketus Jonathan.
“Om Jojon ga ada niat buat nembak aku gitu biar jiwa jombloku ga meronta-ronta lagi?” tanya Lana.
“Sebenarnya om Jojon ini lahir di abad ke berapa sih! Kuno banget deh ah.” Ketus Lana lalu pergi meninggalkan Jonathan sendiri.
“*Lah, aku kan bener kalau nembak orang bisa di masukin penjara. Ribet deh musuh perempuan*..” gumam Jonathan di dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
Bernard yang sudah selesai mengobati Key ingin menaruh kembali kotak obat ke tempatnya dan melihat Jonathan yang sedang menggelengkan kepalanya.
“Kamu ngapain geleng-geleng Jo?” tanya Bernard yang membuat Jonathan terkejut.
“Eh tuan, tidak ada apa-apa tuan.” Ucap Jonathan.
“Kamu ngapain di sini?”
“Saya ingin membicarakan masalah pekerjaan tuan.”
“Nanti saja, sekarang kita makan malam dulu oke?” ucap Bernard yang di balas anggukan oleh Jonathan.
Jonathan langsung pergi ke halaman belakang, sedangkan Bernard menghampiri Key dan membantunya berjalan.
“Kebiasaan deh om beruang, yang sakit kan tangan Key bukan kaki kenapa sih harus di bantuin?” protes Key.
“Kamu ini kebiasaan deh selalu aja protes kalau ada orang yang berniat baik padamu.” Balas Bernard.
Key hanya melirik tajam ke arah Bernard sampai di halaman belakang, semua orang sudah tersenyum penuh arti melihat Key dan Bernard datang.
“Kenapa semuanya menatap kita seperti itu?” bisik Key kepada Bernard.
“Entahlah, aku juga bingung di lihat seperti itu oleh mereka.” Balas Bernard.
Key dan Bernard duduk bersebelahan, mereka merasa ada yang aneh dari tatapan mami Kansa dan mama Bernard.
“Nyonya Kalandra, apakah anda tau kalau Key itu adalah anak yang baik, cantik, sopan, serba bisa lagi. Anda beruntung memiliki anak perempuan sepertinya.” Puji mama Bernard.
“Benarkah nyonya Sanjaya? Wah saya sangat tersanjung mendapat pujian seperti itu dari anda.” balas mami Khansa.
“Saya dan suami saya berniat untuk menjadikan Key menantu kami bagaimana?” tanya mama Bernard hingga membuat semua orang terkejut.
“Mama serius? asik,, Belinda punya adik ipar.” Ucap Belinda dengan antusias.
“Apa!? T,,tapi tante Key masih kuliah, Key masih ingin bekerja dan menggapai cita-cita Key.” Ucap Key.
“Tante tau sayang, tante, om, dan Bernard tidak akan melarangmu untuk kuliah dan bekerja, justru kami akan selalu mendukung cita-citamu sayang.” ucap mama Bernard.
Key menginjak kaki Bernard dengan keras hingga membuat Bernard meringis ke sakitan karena di injak oleh sepatu heels yang di pakai Key, Key kesal karena Bernard hanya diam saja di sebelahnya tanpa mengucapkan apa pun.
“Nak Bernard kenapa sepertinya sedang menahan sakit?” tanya mami Khansa kepada Bernard.
“Eh engga tante, Bernard baik-baik saja kok. Anu masalah pernikahan Bernard tidak menolak sama sekali karena Bernard juga sudah menyukai Key, dan benar dengan apa yang di katakana oleh mama kalau Bernard tidak akan menghalangi Key untuk mengejar cita-citanya.” Ucap Bernard yang membuat Key membulatkan matanya.
“*Ih kenapa om beruang jadi setuju sih*!” batin Key sambil melirik ke arah Bernard.
“Bagaimana menurutmu Key?” tanya mami Khansa.
“Mami, tapi Key masih berumur 19 tahun.” Ucap Key.
“Tahun ini kamu sudah berusia 20 tahun sayang, menurut mami itu tidak masalah karena waktu mami menikah dengan papi kamu juga saat mami berusia 19 tahun.” Jelas mami Khansa.
“Apa tidak masalah jika Key dan om beruang merahasiakan pernikahan kita? Setidaknya selama Key kuliah.” Ucap Key dengan ragu.
“Kenapa harus di rahasiakan Key? Pernikahan kalian harus lebih megah di banding pernikahanku dan Kenan.” sambung Belinda.
Key menelan ludahnya sendiri mendengar ucapan Belinda, dia belum siap dengan pernikahan, bahkan memikirkan untuk menikah saja tidak pernah.
“Tidak masalah untukku, kalau kamu lebih nyaman jika hubungan pernikahan kita di rahasiakan sampai kamu lulus kuliah itu tidak masalah, kita akan mengadakan pesta yang di datangi keluarga dan kerabat dekat saja, setelah kamu lulus nanti kita akan mengadakan pesta pernikahan yang megah.” Ucap Bernard.
“Wah, Key terima saja.. aku sudah tidak sabar untuk menjadi bridesmaid di pernikahan kalian..” ucap Lana dengan antusias.
“Kamu juga kan bisa jadi bridesmaidnya kak Belinda dana bang.” Ketus Key.
“Kalau pernikahan abang Kenan dan kak Belinda aku yakin pasti yang jadi bridesmaidnya kamu dan Elsa.” Ucap Lana.
Key tidak membalas ucapan Lana lagi, dia hanya bingung memikirkan lamaran yang di tawarkan oleh mama Bernard kepadanya.
“Bolehkah Key memikirkannya lebih dahulu tante? Karena menurut Key ini benar-benar hal yang sangat mengejutkan” ucap Key.
“Tentu saja sayang, tante akan membiarkanmu memikirkannya matang-matang.” Ucap mama Bernard.