
Cinta menjadikan kita sempurna. Namun cinta tidak butuh seseorang yg sempurna. Kesempurnaan bisa di dapati ketika bisa saling menyeimbangi.
Setelah selesai mandi, Kenan keluar kamar lebih dulu dan menunggu Belinda di meja makan.
Tidak lama kemudian, Belinda juga sudah datang di ruang makan dengan memakai kemeja Kenan dan membuat Belinda semakin cantik terutama dengan wajah polos tanpa make up itu.

“*Subhanallah, kenapa semakin lama dia semakin cantik*.” Batin Kenan yang terpesona menatap kecantikan natural Belinda.
“Kamu ngapain ngeliatin aku kayak gitu Kenan?” tanya Belinda yang risih karena dari tadi Kenan memperhatikannya.
“Cantik!” ceplos Kenan yang membuat wajah Belinda memerah menahan malu.
“Eh maaf Bel, mulutku suka susah di atur.” Ucap Kenan dengan senyum terpaksanya.
“Tidak masalah, ayo kita makan! Aku sudah menyiapkan sayur bening, telur mata sapi dan tempe goreng untuk di makan. Maaf ya aku menggunakan bahan di kulkasmu tadi.” Ucap Belinda sambil menyodorkan berbagai jenis makanan hingga membuat Kenan bingung.
“Iya tidak apa-apa toh aku juga tidak pernah memasak.” Ucap Kenan.
“Lalu, kenapa di kulkas ada banyak sekali bahan makanan?” tanya Belinda.
“Mamiku sering ke sini untuk membersihkan apartment dan membuang bahan makanan yang sudah busuk dan menggantinya dengan yang baru, mami takut kalau aku sedang di apartment tapi tidak ada bahan makanan.” Jelas Kenan.
“Loh, berarti mami kamu tau tentang Diana?”
“Tidak, mami tidak membersihkan kamarku. Mami hanya membersihkan kamar satunya.”
Belinda hanya mengangguk mendengar ucapan Kenan dan kembali menyantap makanannya yang ada di hadapannya.
“Hm, enak sekali masakanmu Bel.” Puji Kenan.
“Benarkah? apa kamu sengaja memujiku karena kamu merasa telah merepotkanku?” tanya Belinda.
“Kamu tau bukan, aku ini tipe orang yang blak-blakan mengenai apapun.”
“Ya, seperti kamu mengataiku bawel saat kecil! Oh iya, kenapa namaku di kontakmu gadis pembawa masalah!?” selidik Belinda yang membuat Kenan menghentikan makannya.
“Iya, karena dari dulu kamu selalu membuat masalah! Saat kamu pindah ke Jepang, kamu membuatku tidak memiliki teman. Saat kamu kembali ke Indonesia, kamu membuat hatiku bimbang.” Ucap Kenan.
“Bimbang?” tanya Belinda yang tidak mengerti.
“Hm, karena saat pertama bertemu denganmu aku merasa hatiku berpaling dari Diana dan membuat mataku terbuka akan sifat asli Diana. Mungkin terdengar aneh, tapi semenjak kedatanganmu sifat buruk Diana terbuka satu per satu Bel.” Jelas Kenan.
“Jadi maksudnya aku sudah merusak hubunganmu dan Diana?” tanya Belinda.
“Tidak, justru kamu telah membuka mata hatiku jika Diana tidak cocok untuk menjadi pendamping hidupku. Dan selama ini aku selalu menutup rapat telingaku jika Key menjelek-jelekkan Diana.” Ucap Kenan sambil tersenyum.
Belinda yang mendengar Kenan menyebut nama Key tiba-tiba saja memukul keningnya sendiri karena teringat akan sesuatu.
“Kamu kenapa Bel?” tanya Kenan yang terkejut karena Belinda memukul keningnya sendiri.
“YaAllah aku lupa Kenan, kamu di suruh menghubungi Key! Dari tadi siang Key mencarimu.” Ucap Belinda.
Akhirnya Kenan segera menuju kamar dan mengambil hpnya di dalam kamar untuk menghubungi adik perempuannya itu.
“Halo Key, kata Belinda kamu mau berbicara kepada abang?” tanya Kenan.
“Abang? Abang baik-baik saja kan? Sebenarnya apa yang terjadi sampai abang minum-minum?” tanya Key khawatir.
“Abang baik-baik saja, nanti saja abang akan ceritakan. Sekarang kamu kenapa nyari abang?”
“Ah iya, besok bisakah abang meluangkan waktu untuk makan siang bersamaku? Aku ingin mengenalkan seseorang dan orang itu mau berbicara denganmu bang.” Jelas Key.
“Baiklah, kita makan siang di café dekat taman bermain saja ya.”
“Baiklah bang, dah abangku sayang.. cepatlah bawa calon kakak iparku ke rumah dan berkenalan dengan papi dan mami, mereka pasti akan senang.”
“Memang siapa yang mau kamu jadikan kakak ipar?” tanya Kenan sambil menggelengkan kepala mendengar permintaan adiknya.
“Kak Belinda! Aku hanya ingin kak Belinda yang menjadi kakak iparku bang, aku tidak mau jika harus menjadi adik ipar si nenek lampir!” ketus Key.
“Sudahlah, abang tidak ingin membahasnya. Sampai bertemu besok.. abang tidak pulang hari ini, bilang sama papi dan mami ya takut mereka khawatir.”
“Tenang bang, saat kak Belinda menelfonku aku sudah langsung bilang papi dan mami jika abang tidak pulang ke rumah.”
Setelah menelfon, Kenan kembali ke ruang makan dan kembali duduk di hadapan Belinda.
“Terimakasih! Dan maaf!” ucap Kenan secara tiba-tiba.
“Ha? untuk apa Kenan?”
“Terimakasih karena sudah membantuku keluar dari tempat menjijikkan itu dan maaf karena sudah merepotkanmu.” Ucap Kenan.
“Sudahlah, itu memang kewajibanku sebagai sekretaris dan sahabat. Lagipula untuk apa kamu ke bar siang hari? Dan lagi kenapa ada bar buka di jam segitu? Apa tidak takut di grebek polisi ya.” ucap Belinda.
“Tidak akan ada yang berani menggrebek bar itu.”
“Dari mana kamu tau?”
“Karena aku adalah pemilik bar itu!”
“Ha? jadi kamu sering ke tempat itu?”
“Tidak, tempat itu menjijikkan, aku juga baru tadi ke tempat itu.”
“Lalu untuk apa kamu membuat bar itu?”
“Karena aku mendapat keuntungan dari para buaya yang datang ke sana!”
“Huh, dasar! Sepertinya semua pebisnis lebih mementingkan keuntungan. Sama seperti Bernard!” ketus Belinda.
“Tentu saja! kami harus pintar memilih usaha yang bisa menghasilkan keuntungan! Kami harus mengumpulkan uang untuk anak dan istri kami kelak!” ucap Kenan dengan senyum penuh arti dan membuat wajah Belinda kembali memerah.
“Sudahlah! Kemana baju yang kamu bawakan untukku? Apa belum datang? aku ingin pulang!” ucap Belinda mengalihkan pembicaraan.
“Apa kamu tidak ingin tinggal di sini? Kamu bisa tidur di kamarku dan aku akan tidur di kamar satunya.” Ucap Kenan
“No! kamu ini ga tau ya! anak gadis tidak boleh tinggal berdua dengan laki-laki yang belum menjadi suaminya! Sebenarnya sekarang ini aku sudah salah karena berduaan denganmu, maka dari itu aku ingin pulang!”
“Jika begitu aku akan menikahimu besok, bagaimana?” ucap Kenan yang membuat jantung Belinda berdegup dengan kencang.
“Ga usah bercanda Kenan! ga lucu!”
“Aku tidak bercanda Bel! Ayo kita menikah, dan berpacaran setelah menikah sepertinya akan lebih menyenangkan!”
Deg,,deg,,
Jantung Belinda berdetak lebih kencang, Belinda tidak bisa mengatur nafasnya karena ini adalah perkataan yang sangat ingin dia dengar dari mulut Kenan, laki-laki yang selama ini dia cintai.
“*No Bel, kamu harus memberi waktu Kenan untuk memperjuangkanmu. Jangan semudah itu mengiyakan ucapannya*!” batin Belinda sambil menatap Kenan.
“Aku mau, tapi tidak sekarang! Kamu harus meyakinkan kedua orang tuaku dulu karena setauku aku akan di jodohkan dengan laki-laki pilihan mereka.” Ucap Belinda.
“Apa!? Tidak boleh! Kamu harus menikah denganku! Aku akan segera menemui orang tuamu dan stelah itu kita akan menemui papi dan mami. Eh tidak, kita bertemu papi dan mami dulu saja malam ini!” ucap Kenan yang dengan sigap beranjak dari tempat duduknya.
“Kenan! kamu mau kemana?”
“Mau bersiap untuk menemui papi dan mami!”
“Kenan, besok saja oke? Sekarang sudah malam, aku akan segera pulang setelah mencuci piring bekas kita makan tadi.”
“Baiklah, aku akan mengantarmu!”
“Tidak! Kamu ini sedang mabuk, aku akan memesan taxi online saja. kamu istirahatlah karena besok kamu akan kembali bekerja.”
Akhirnya Kenan setuju dengan ucapan Belinda, setelah Belinda mencuci piring dan berganti baju Belinda segera kluar dari apartment Kenan, sedangkan Kenan bersikeras untuk mengantar Belinda sampai melihat Belinda naik ke taxi dengan aman.
“Hati-hati di jalan ya Bel, kirimkan aku alamat rumahmu aku akan menjemputmu karena mobilmu berada di kantor.” Ucap Kenan yang di balas anggukan oleh Belinda dari dalam mobil.
“Hati-hati ya pak, antar dia sampai ke rumahnya dengan selamat!” ucap Kenan kepada supir taxi.
Setelah melihat kepergian Belinda, Kenan kembali masuk ke dalam apartmentnya dan berbaring di atas kasurnya sambil memejamkan matanya.

“Aku harus segera melamar Belinda, aku tidak ingin kehilangannya lagi! Cukup saat kecil saja aku merasa khilangannya dan aku sangat merindukan ke bawelannya, aku menyesal dulu aku selalu ketus padanya. Aku akan menggantikan semua perbuatanku di masa lalu dengan cinta tulusku di masa depan.” Gumam Kenan lalu berusaha untuk terlelap.