
Kesalahan dan kegagalan akan terjadi setiap hari. Jangan habiskan waktumu hanya untuk menyesalinya, belajarlah darinya.
\****Kantor Kalandra***\*
Kalandra dan Edo sedang membicarakan masalah bisnisnya yang berada di Jepang dengan Edo karena ada beberapa masalah.
“do, kamu yakin selama ini perusahaan kita di Jepang baik-baik aja kan?”
“yakin Ndra, aku udah ngutus Robert juga disana dan setauku papamu percaya banget sama Robert.”
“aku tau, tapi juju raku kurang suka sama Robert gatau kenapa tapi aku ngerasa was-was aja sama dia, aku takut masalah di perusahaan kita ada campur tangannya dengan dia.”
Robert adalah orang kepercayaan papa Arnold, umurnya 3 tahun di atas Kalandra tapi papa Arnold sangat mempercayainya namun tidak dengan Kalandra.
“tenanglah, aku akan menyelidikinya diam-diam..” ucap Edo
Di tengah-tengah pembicaraan serius mereka, tiba-tiba saja hp Kalandra berdering dan dilihatnya nomer tidak dikenal yang menelfon, Kalandra mematikannya karena ia tidak pernah mengangkat telfon dari nomer yang tidak dikenal.
“kok ga diangkat Ndra?” tanya Edo
“nomer ga dikenal, males juga yang mau ngangkat.” Jawab Kalandra malas.
Drrtt..drrtt..
“noh telfon lagi, angkat aja kali siapa tau penting.” Ucap Edo sambil menunjuk ke arah hp Kalandra dengan menggunakan dagunya.
“ganggu aja sih!” Kalandra kesal dan mengangkat telfonnya.
“halo?” ucap wanita dari sebrang telfon.
“siapa ya?” tanya Kalandra
“kamu udah lupa sama suaraku ya Ndra?”
“Hani?”
“iya, aku Hani..”
“Ada apa han?” tanya Kalandra
“bisakah kita bertemu? Aku sudah berada di depan kantormu..”
“baiklah, duduklah dulu di lobby aku akan turun ke bawah.”
Kalandra mematikan telfonnya dan beranjak dari tempat duduknya untuk memakai jas yang ia gantung.
“Hani Ndra?” tanya Edo
“iya, katanya dia ada di depan perusahaan.”
“loh, gimana dia bisa tau tentang perusahaanmu? Bukannya dulu saat terakhir bertemu dengannya kita masih kuliah dan kamu juga belum mengambil alih perusahaan ini?” Edo merasa curiga.
“entahlah, aku juga sebenarnya bingung, mungkin dia tau dari berita.”
Kalandra berlalu keluar dari ruangannya meninggalkan Edo yang masih merasa bingung di ruangannya.
Di lobby Kalandra menghampiri Hani yang sedang duduk di sofa khusus tamu.
“hai Ndra..” ucap Hani dengan senyum yang terpasang di wajahnya
“mm,, sebenarnya aku datang ke sini untuk bertanya tentang tawaranmu waktu itu..” ucap Hani ragu

“oh iya, mengenai itu aku benar-benar minta maaf Han aku tidak bisa membiarkanmu tinggal dirumahku”
Hani terkejut karena ia sudah ditolak bahkan sebelum mengucapkan apa-apa.
“a,,apakah istrimu yang tidah mengijinkanku tinggal disana?”
“bukan, tapi hatiku yang tidak mengijinkanmu tinggal dirumahku. Walaupun istriku mengijinkanmu untuk tinggal dirumahku tapi aku tau hati kecilnya akan sakit membiarkan suaminya tinggal bersama cinta pertamanya, jadi aku akan tetap menolaknya karena aku harus menjaga hati istriku”
“tapi kamu tenang saja, aku akan memberikan kamu rumah yang layak untuk kamu dan anakmu tinggali, aku akan menyuruh Edo mencarikan rumah yang berada di tempat strategis.” Jelas Kalandra
“Ndra?” tiba-tiba ada yang memanggil Kalandra. Kalandra yang merasa namanya dipanggil menoleh ke asal suara.
“Ryan? Kamu langsung keatas aja, dirunganku ada Edo aku akan segera menyusul.” Ucap Kalandra kepada sahabatnya yang baru saja datang.
Ryan dengan heran menatap ke arah Hani dan Kalandra secara bergantian lalu pergi meninggalkan mereka menuju ruangan Kalandra.
“maaf Hani, jika tidak ada yang ingin di bicarakan lagi aku akan pergi menyusul Ryan.” Ucap Kalandra
“baiklah, aku akan menghabiskan minumku lalu pulang.” Ucap Hani dengan senyum getir.
“rencanaku gagal lagi, bagaimana ini?” batin Hani yang sedang menatap kepergian Kalandra.
*Ruangan Kalandra*
Ryan masuk ke dalam ruangan dan melihat Edo sedang duduk santai di sofa ruangan Kalandra.
“woy, enak banget hidup kamu do kayak gaada beban hidup.” Ucap Ryan mengagetkan Edo yang sedang bersandar dan menutup matanya.
“astaga, kamu mau buat aku mati muda ya yan? Aku belom punya istri.” Edo kesal karena dirinya dikagetkan oleh Ryan.
“what?? Muda? Kamu ga sadar diri amat sih do kamu tuh udah bangkotan.” Ryan tertawa terbahak-bahak
“eh tadi kamu ketemu Kalandra dan Hani ga dibawah?” tanya Edo
“iya, ada apa sih? Kayaknya muka mereka serius banget tadi.”
“ntahlah, tiba-tiba aja Hani ada didepan perusahaan, aneh kan?”
Kalandra masuk ke dalam ruangan dan mengejutkan Ryan dan Edo yang ada di ruangannya. Mereka akhirnya membahas mengenai kerjasama antara perusahaan Ryan dan Kalandra.
“Ndra, kamu ada hubungan lagi sama Hani?” tanya Ryan tiba-tiba
“ha? gila apa, ya engga lah” Kalandra menyangkal pertanyaan dari sahabatnya itu.
“kalo sampe kamu balik lagi sama Hani, Khansa dan Kenan akan aku ambil darimu.” Canda Ryan yang terdengar seperti sedang serius.
“berani nyentuh istri dan anakku aku hajar kamu yan.” Ucap Kalandra
Edo yang melihat kecanggungan diantara kedua sahabatnya itu akhinya mencairkan suasana.
“eh, udahlah kayak anak kecil aja sih kalian. Ayo kita kerumah Kalandra numpang makan. Masakan Khansa uueenak banget loh.” Ucap Edo dengan nada yang dilebih-lebihkan.
Setelah mendengar ucapan Edo, Kalandra dan Ryan kembali tertawa seperti biasa. Dan berencana untuk makan bersama dirumah Kalandra tetapi sebelum pulang ke rumahnya, Khansa menelfon Kalandra untuk menjemput Kenan terlebih dahulu karena ia sedang sibuk menyiapkan makanan untuk ketika sahabat itu dirumah.
“loh Ndra ini kan bukan jalan kerumah kamu?” tanya Edo yang menyadari jika mereka tidak berada di jalan yang benar
“iya, aku disuruh jemput Kenan dulu ke sekolah soalnya Khansa sibuk masak untuk kalian, ah kalian ini menyusahkan istriku saja.” ucap Kalandra
“benarkah kita akan menjemput Kenan?” tanya Ryan yang sangat antusias menjemput anak kandungnya itu.
“tentu saja benar.” Ucap Kalandra
“oh iya Ndra, apakah aku boleh bertanya tentang Amelia kepadamu?” pertanyaan Ryan yang tiba-tiba itu membuat Kalandra dan Edo terdiam.
“silahkan saja jika kau memang penasaran” ucap Kalandra
“bagaimana saat Amelia mengandung? Apakah dia mengidam yang macam-macam?” tanya Ryan
“emm,, tidak dia tidak pernah meminta apapun dariku, ntah karena dia tidak enak padaku atau memang tidak ingin apa-apa aku juga tidak tahu.” Jelas Kalandra.
“lalu bagaimana dia bisa meninggal saat melahirkan?” tanya Ryan.
“sebenarnya, saat usia kandungan K
Amelia menginjak usia 9 bulan awal, Amelia tiba-tiba saja memgalami serangan jantung dan saat dibawa ke rumah sakit, Amelia ternyata punya penyakit jantung yang sudah parah. Disitu aku benar-benar khawatir dan takut, sebelum operasi Amelia mengumpulkan segala kekuatannya untuk menulis surat untukmu dan Kenan. Lalu dokter mengatakan jika hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka, dan Amelia memilih untuk menyelamatkan Kenan saat itu. Yah intinya seperti itu yan, aku tidak mungkin mencontohkannya kan?” jelas Kalandra
“bahkan sampai hari ini, aku masi trauma untuk menemani Khansa masuk ke dalam ruangan kontrol.” Lanjut Kalandra.
Setelah bercerita panjang lebar, mereka tiba di sekolah Kenan dan menunggu Kenan sampai keluar dari ruang kelasnya.
Saat keluar kelas, Kenan sangat antusias melihat papinya datang untuk menjemputnya namun saat melihat Ryan yang berada disebelah papinya itu mukanya langsung berubah 180ᵒ.
“papa akan menerima semua perlakuanmu pada papa nak. Jika itu bisa membuatmu tidak membenciku lagi” ucap Ryan di dalam hati.