
Dimana ada pertemuan disitu ada perpisahan. Dan aku cuma bisa berharap dimana ada perpisahan disitu pula kita dapat bertemu kembali.
“Bagaimana, apa kamu sudah melaksanakan apa yang aku perintahkan?” tanya laki-laki tampan yang sedang duduk santai di sofa mewah miliknya kepada orang suruhannya.
“Sudah tuan, sesuai dengan perintah anda.” ucap orang suruhannya itu.
“Hahahaha, aku ingin melihat sampai dimana batas kesabarannya.” Ucap laki-laki itu sambil tertawa puas.
Ya, laki-laki tersebut adalah Robert Adibrata kakak Kalandra Adibrata yang sebenarnya mulai jatuh cinta kepada Khansa yang tanpa dia tau jika Khansa adalah istri dari adiknya.
“Apa kamu harus sampai seperti ini Robert? Dia adalah keluargamu.” Ucap Ardi asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Robert.
“Keluarga katamu? Hahaha keluarga apa yang merebut apa yang aku inginkan? Apa kamu tau? Perusahaan yang saat ini dia ambil alih itu adalah perusahaan yang aku inginkan!” ucap Robert.
“Mungkin ada kesalahpahaman di antara kalian.” Jawab Ardi.
Sebenarnya Ardi sedih melihat Robert yang terus menerus tenggelam dengan dendam pribadinya, Ardi sangat ingin membuat Robert mengerti jika selama ini dia salah telah membenci orang-orang yang sudah sangat menyayanginya.
“Mereka tidak benar-benar menyayangiku Ardi, sudahlah aku tidak ingin mendengar ceramahmu lagi, aku hanya ingin melihat Kalandra menderita.” Ketus Robert.
“Terserah kamu saja lah.” Ucap Ardi pasrah.
“*Apa aku harus menghubungi Kalandra langsung untuk membuat mereka kembali akur? dulu bahkan mereka tidak bisa terpisahkan*.” batin Ardi.
Rumah Kalandra
Kalandra menarik Khansa ke kamar mereka dan menutup pintu kamar dengan kencang, Khansa yang melihat Kalandra yang seperti itu sangat terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa.
“M,,mas? K,kamu kenapa?” tanya Khasa yang berbicara dengan lembut kepada suaminya.
“Kamu kenal sama Robert iya ha!?” bentak Kalandra.
“Robert kan kakak kamu ya aku tau tapi ga kenal mas, ketemu aja ga pernah.”
“Terus kenapa dia bisa ngirim kamu bunga dan mengirim pesan seperti itu! Kamu pasti sudah bertemu dengannya di pesta itu dan tergoda dengan ketampanannya lalu berkenalan dengannya kan? Iya kan!”
Plak!!
Khansa memberikan tamparan yang sangat kencang ke pipi suaminya itu dengan mata yang berkaca-kaca.
“Mas, apa di mata kamu aku ini wanita yang seperti itu? Apa aku di mata kamu ini adalah wanita murahan yang mampu berpindah hati dengan mudahnya karena ketampanannya atau kekayaannya? Jawab mas! Bahkan di pesta itu aku tidak pernah jauh darimu, aku ke toilet saat itu juga hanya sebentar, kapan ada waktu aku untuk berbicara dengan orang lain apalagi laki-laki.” Ucap Khansa yang masih menahan air matanya dengan sekuat tenaga.
“Apa kamu tau? Saat aku mendapatkan bunga itu aku sangat bahagia karena aku mengira bunga itu dari kamu mas, tapi kamu tiba-tiba pulang lalu bentak-bentak aku? Dan yang paling ngebuat aku ga habis fikir, kamu bisa-bisanya mikir kalo aku bisa tergoda hanya karena ketampanan seseorang. Aku kecewa sama kamu mas.” Lanjut Khansa.
Kalandra terdiam, dia hanya memegang pipi yang baru saja di pukul oleh Khansa dan tersadar akan kesalahan yang telah dia lakukan.
“Tolong mas, kita sudah dewasa bahkan sudah memiliki anak aku harap kamu bisa memikirkan baik-baik sebelum bertindak.” Ucap Khansa yang langsung naik ke atas tempat tidurnya.
Kalandra tau jika istrinya masih butuh waktu untuk menenangkan diri, jadi Kalandra memutuskan untuk keluar dan menghampiri mama dan anak-anaknya di bawah.
Alisha yang melihat anaknya menuruni tangga hanya menatapnya dan menghela nafas siap untuk mengintrogasinya.
“Kamu ini kenapa sih tiba-tiba narik Khansa kayak gitu?” ucap Alisha kepada Kalandra.
Kalandra menatap Kenan yang masih berada di pelukan mamanya dan berjongkok untuk berbicara kepada Kenan.
“Sayang, bisakah Kenan ke atas dan menghibur mami?” ucap Kalandra dengan lembut.
Kenan yang mendengar permintaan papinya itu hanya mengangguk mengiyakan ucapan papinya, Kenan segera pergi ke atas menuju kamar maminya dan berusaha untuk menghibur maminya.
Kalandra duduk tepat di sebelah maminya untuk menjelaskan apa yang terjadi di antara Kalandra dan Khansa.
“Ini hanya salah paham ma, mungkin Andra terlalu capek di kantor sampai terbawa emosi hanya karena masalah sepele.” Ucap Kalandra.
“Kamu sudah dewasa Ndra, kamu tidak boleh membawa urusan kantor ke dalam rumah.” Ucap Alisha.
“Iya ma, tadi Khansa juga sudah bilang gitu juga sama Andra.”
“Sudahlah, kamu sekarang harus membiarkan Khansa menenangkan diri terlebih dahulu.”
“Iya ma, makanya Andra ke sini karena ingin membiarkan Khansa menyendiri.”
Di dalam kamar, Khansa masih menangis sambil memeluk gulinya. Khansa masih kecewa dengan pemikiran Kalandra yang menganggapnya sebagai wanita yang mudah tergiur dengan ketampanan seseorang.
“Bagaimana bisa kamu seperti itu kepadaku mas, hikss,, hikss.. bagaimana bisa kamu berfikir jika aku wanita yang seperti itu setelah sekian lama kita menghabiskan waktu bersama hikss..”
Awalnya Khansa ingin menelfon Lila untuk menceritakan kejadian hari ini, tapi dia tidak ingin mengganggu Lila yang baru saja memiliki bayi dan dia juga merasa jika masalah rumah tangganya tidak perlu di ceritakan kepada siapapun.
“Oke sa, berfikir positif mungkin saja mas Andra kelelahan dan banyak masalah di luar makanya dia cepat emosi, mungkin mas Andra terlalu takut untuk kehilanganmu makanya dia semarah itu jika kamu mendapatkan bunga dari orang lain. Iya pasti kayak gitu, mas Andra ga mungkin bentak aku kalau tidak ada sebabnya.” Ucap Khansa menyemangati dirinya sendiri dan untuk menenangkan dirinya.
Kenan berada di depan kamar maminya, Kenan sedikit ragu untuk masuk ke dalam karena takut mengganggu maminya yang sedang beristirahat.
“Mami..” panggil Kenan sambil mengetuk pintu kamar maminya.
“Mami ini Kenan, Kenan boleh masuk ke dalam?” tanya Kenan kembali.
Tidak lama kemudian, Khansa membukakan pintu untuk anaknya dan tersenyum lebar berusaha untuk menutupi kesedihannya di depan anak sulungnya itu.
“Masuklah sayang, mami memang sangat membutuhkanmu saat ini.” ucap Khansa yang menyuruh Kenan masuk ke dalam kamarnya.
Akhirnya Kenan masuk ke dalam kamar dan duduk di tempat tidur papi dan maminya. Khansa berjongkok dan menggenggam kedua tangan anaknya dengan sangat erat.
“Kenan sayang, kamu pasti kaget ya melihat papi menarik mami seperti tadi?” tanya Khansa yang di balas anggukan oleh Kenan.
“Kenan sudah besar sekarang jadi Kenan pasti sudah mengerti saat papi dan mami sedang bertengkar karena sedikit salah paham. Kenan jangan takut ya sayang, karena di dalam keluarga pasti ada aja masalah yang akan di hadapi jadi Kenan harus paham dan jangan takut, oke?” Khansa mencoba untuk menjelaskan kepada anaknya secara perlahan.
“Kalau saat adik-adik besar nanti, terus papi dan mami sedang bertengkar kamu harus bisa menenangkan adik-adikmu ya sayang, kamu harus membawa adik-adikmu menjauh agar mereka tidak melihat papi dan mami bertengkar.” Lanjut Khansa.
“Iya mami, Kenan akan berusaha agar adek-adek tidak melihat papi dan mami ke bertengkar kedepannya.” Ucap Kenan.
“Mami jangan bersedih lagi ya, Kenan ga suka kalau papi dan mami bertengkar soalnya mami pasti menangis setelah bertengkar dengan papi.” Ucap Kenan.
Khansa hanya tersenyum mendengar ucapan anak sulungnya itu, dan langsung memeluknya dengan erat.
“Mami sayang sekali sama Kenan, Kenan adalah penerang untuk hidup mami, Kenan jangan pernah tinggalin mami ya sayang mami ga sanggup kalau harus ditinggalkan oleh Kenan.” ucap Khansa.
“Hm mami, Kenan janji akan terus menemani mami dan tidak akan membiarkan mami menangis lagi, kalau papi buat mami nangis lagi nanti Kenan bakalah hajar papi.” Ucap Kenan dengan polos.
“Hahaha, iya hajar yang kencang ya sayang sampai papi teriak minta ampun.” Ucap Khansa sambil tertawa mendengar ucapan anaknya itu.
Kalandra diam-diam mendengar obrolan Khansa dan Kenan di luar kamar dan tersenyum karena Khansa bisa tersenyum kembali.