
Kosong dan hampa hati ini tanpa dirimu.
Yang kurasa hanya sakit karena luka.
Aku hanya mencoba mencintaimu sepenuh hati.
Tapi kini engkau tinggalkanku pergi.
Menyisakan sakit dan luka..
***Rumah Kalandra***
Kalandra dan Khansa sedang beristirahat di kamarnya karena mereka baru saja menidurkan si kembar dan Rey.
“Kata mama Rey rewel ga tadi sayang?” tanya Kalandra.
“Engga mas, katanya tadi sempet nangis sebentar terus pas di kasih susu udah ga nangis lagi deh.” Jelas Khansa.
“Syukurlah kalau begitu.. sebenarnya saat kamu berniat untuk merawat Rey di rumah ini aku sedikit tidak setuju.” Ucap Kalandra.
“Loh emang kenapa mas?”
“Aku takut kamu sudah terlalu sayang sama Rey dan saat itu juga Hani membawanya pergi dari sini.” Ucap Kalandra.

Seketika Khansa diam dan memikirkan perkataan Kalandra lalu menghela nafas panjang.
“Hm, mungkin akan ada perasaan sedih saat Hani membawa Rey pergi, tapi aku juga tidak bisa egois untuk menahan Rey di sini sedangkan Hani ibunya Rey sangat membutuhkannya untuk memberikan semangat hidup.” Jelas Khansa.
“Bukankah dulu saat Kenan aku juga seperti itu? Tapi aku berusaha untuk tidak egois, bagaimanapun juga dia adalah anaknya kak Ryan, dan mereka harus tau kebenarannya.” Lanjut Khansa.
Kalandra mengelus rambut Khansa dengan lembut dan mencium keningnya.
“Sepertinya sudah waktunya untuk memberitahu tentang Amelia kepada Kenan.” ucap Kalandra.
“Tapi mas, apa hal itu tidak akan membuatnya bersedih?” tanya Khansa.
“Kamu tanyalah dulu kepadanya, apakah dia ingin mengetahui tentang Amelia.” Suruh Kalandra.
“Hm, baiklah mas aku akan berbicara dengannya.” Jawab Khansa mengerti.
Kalandra dan Khansa memutuskan untuk tidur karena mereka sudah sangat lelah setelah bekerja dan mengasuh anak seharian.
Rumah Ryan
Di dalam rumahnya, Ryan sedang mondar-mandir sambil memegang hp di tangannya, ia berusaha untuk menelfon Rose namun tidak bisa nomernya tidak aktif. Ryan khawatir dengan keadaan Rose, ia takut jika Rose kenapa-kenapa.
Tiba-tiba Ryan terkejut karena mendengar hp yang dia pegang berdering, Ryan melihat nama Rose terpampang jelas di layar hpnya dan segera mengangkatnya.
“Halo Rose?” tanya Ryan dengan segera.
“Halo kak.” Jawab Rose dengan suara lemah.
“Kamu keman aja? Kenapa ga jawab telfonku?”
“Maaf kak, hp aku matiin.”
“Kamu sebenarnya kenapa Rose, ada apa?”
“Kak, aku ingin berbicara denganmu.”
“Baiklah, kita akan bertemu ya aku akan menjemputmu.”
“Tidak kak, lewat telfon saja.”
“Ada apa sebenarnya Rose, jangan buat aku semakin khawatir.” Ucap Ryan yang semakin gugup menunggu Rose berbicara.
“Kak, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini denganmu.” Ucap Rose dengan sekali nafas.
“Apa! Apa maksudnya Rose!? Apa ada laki-laki lain makanya kamu memutuskan hubungan ini ha! kenapa baru sekarang kamu bilang seperti ini, kenapa di saat aku mulai membuka hatiku kembali untukmu tapi kamu malah meninggalkanku!? Apa begini caramu mencintai seorang laki-laki!?”
“Sepertinya kita tidak cocok kak, masih banyak wanita yang lebih pantas untukmu di banding aku.”
“Tidak, aku tidak ingin wanita lain aku hanya ingin kamu Rose!” teriak Ryan yang membuat Rose sedikit terkejut.
“Maaf kak, aku masih ada urusan lain selamat tinggal.” Ucap Rose lalu mematikan telfonnya.
Setelah mematikan telfonnya, Rose menangis sekencang-kencangnya hatiya sakit mengucapkan hal itu tapi dia juga tidak berani memberitahu kebenaran yang pahit itu, Rose tidak ingin melihat ekspresi Ryan dan juga tidak ingin Ryan bersamanya hanya karena merasa kasihan dengan dirinya.
“Hikss,, hikss,, maafkan aku kak Ryan maafkan aku. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dariku hikss,,”
Di sisi lain
Setelah endapat telfon dari Rose, Ryan berusaha menelfon Rose kembali namun hpnya sudah mati. Ryan melempar semua barang yang berada di kamarnya dan berteriak-teriak di dalam kamar, mama Ryan yang mendengar suara berisik dari kamar anaknya itupun segera menghampirinya.
“Ryan.. Ryan ada apa?” tanya mama Ryan sambil mengetuk pintu berulang kali.
“Ryan, buka pintunya! Jangan bikin mama khawatir ya!”
Mama Ryan sudah berulang kali teriak menyuruh Ryan membuka pintu namun tidak di dengar oleh Ryan, karena khawatir mama Ryan akhirnya menelfon Edo dan Kalandra untuk datang ke rumahnya.
“Ada apa mas? Kamu mau kemana?” tanya Khansa.
“Mama Ryan telfon aku, katanya Ryan ngamuk-ngamuk di kamarnya dan ga mau buka pintu.” Ucap Kalandra yang sibuk memakai jaketnya.
“Apa? Jangan-jangan..” Khansa memikirkan sesuatu yang tidak ingin dia bayangkan.
“Jangan-jangan apa sayang? kamu tau sesuatu?” tanya Kalandra yang tiba-tiba menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Khansa.
“Kalo apa yang aku fikirkan benar, jangan-jangan Rose mengakhiri hubungannya dengan kak Ryan.” Ucap Khansa.
“Kenapa dia mengakhiri hubungannya dengan Ryan, bukankah selama ini hubungan mereka baik-baik saja, bahkan Kenan sudah mulai dekat dengannya.” Ucap Kalandra.
“Ada masalah pribadi yang tidak bisa dia ceritakan kepada semua orang mas, aku juga sulit untuk menceritakan masalahnya.” Ucap Khansa.
“Ada apa sayang? bukankah kamu bilang kalau tidak boleh ada rahasia di antara kita?”
“Kamu benar tapi..”
“Ceritakanlah, aku janji tidak akan memberitahu siapapun.”

“Rose di fonis memiliki penyakit yang membuatnya sulit memiliki anak. Aku sudah menyarankan untuk memberitahu kak Ryan tapi sepertinya dia tidak siap menerima kenyataan jika kak Ryan akan menolaknya.” Jelas Khansa.
“Apa?” Kalandra sudah tidak bisa berkata apapun lagi, dia juga bingung bagaimana cara memecahkan masalah ini.
“Sulitkan mas? Aku mungkin mudah untuk memberitahunya agar mengatakan yang sebenarnya kepada kak Ryan, tapi di sisi lain aku juga mengerti apa yang dia rasakan. Sebagai wanita yang sudah memiliki keluarga pasti dia sangat ingin memberikan keturunan untuk suaminya, namun jika harapan memiliki anak hanya beberapa persen saja dia itu akan merasa tidak sempurna sebagai seorang perempuan dan istri.” Ucap Khansa.
“Lalu bagaimana caranya memecahkan masalah tanpa memberitahu kebenaran kepadanya?” tanya Kalandra.
“Aku juga bingung mas, apakah aku boleh ikut denganmu dan berbicara kepada kak Ryan? Mungkin jika dia berbicara dengan wanita dia akan lebih terbuka dan ingin berbicara.”
Kalandra mengangguk menyetujui permintaan istrinya untuk ikut dengannya ke rumah Ryan.
Kalandra dan Khansa sudah sampai di halaman rumah Ryan, disana sudah ada Edo yang sedang menunggu Kalandra.
“Khansa ikut juga?” tanya Edo yang melihat Khansa turun dari mobil.
“Iya kak.” Ucap Khansa sambil tersenyum.
Mereka memutuskan untuk masuk dan segera naik ke lantai atas menuju kamar Ryan, di depan kamar Ryan ada mamanya yang masih berdiri di depan pintu kamar dengan perasaan Khawatir.
“Tante..” sapa Khansa.
“Sa, yaampun kamu ikut datang juga” ucap mama Ryan sambil memeluk Khansa.
“Hm tante sasa datang, boleh kah sasa berbicara dengan kak Ryan?” tanya Khansa.
“Tentu, tentu saja boleh.” Mama Ryan mempersilahkan Khansa untuk berbicara dengan Ryan lewat luar.
Tok..tok..tok..
“Kak Ryan. Ini sasa kak, apakah tidak bisa kaka buka pintunya dan kita berbicara baik-baik?” ucap Khansa yang tidak di gubris oleh Ryan.
“Kak, apa kakak tau jika aku menganggap kak Ryan dan kak Edo sebagai kakakku sendiri. Apa seorang kakak tidak ingin membicarakan permasalahannya dengan adiknya?” lanjut Khansa.
“Kak, aku minta tolong bukakan pintunya ya.”
Khansa tetap berusaha untuk membujuk Ryan agar mau membuka pintu kamarnya dan bercerita kepada Khansa.
Cklek.. pintu terbuka dan membuat semua orang terkejut.
“Kakak,,” ucap Khansa sambil tersenyum senang.