MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
GENGSI


Kita tak harus merasa hebat untuk memulai tetapi kita harus tetap memulai untuk menjadi orang yang hebat.



Setelah menunggu beberapa jam, Kalandra memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar dan melihat Khansa dan Kenan sedang tertawa ceria. Khansa dan Kenan seketika terdiam melihat Kalandra masuk ke dalam kamar, dan suasana di dalam kamar menjadi canggung.



“Em, papi bisa ngobrol sama mami sebentar ga Kenan?” tanya Kalandra kepada anaknya.



Kenan menoleh ke arah maminya terlebih dahulu, setelah melihat maminya mengangguk akhirnya Kenan keluar dari kamar papi dan maminya.



Setelah memastikan Kenan keluar dari kamarnya, Kalandra segera menghampiri Khansa dan tidur di samping istrinya yang sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidur.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1607404163804.jpg)



“Sayang..” ucap Kalandra dengan nada manja dan tangan yang di lingkarkan di paha istrinya.



Khansa hanya diam menahan tawa melihat tingkah suaminya, Khansa menatap wajah suaminya dan melihat pipi suaminya yang berwarna merah karena tamparannya tadi.



Khansa merasa bersalah namun dia juga masih kesal dengan apa yang di katakana suaminya kepadanya.



“Sayang,, kamu masih marah ya sama aku?” Kalandra kembali berbicara kepada istrinya namun tetap tidak ada jawaban.



“Maaf ya karena berbicara seperti itu kepadamu, aku sangat kesal aku takut dia akan merebutmu dariku.” Jelas Kalandra.



Karena kasihan dengan suaminya, akhirnya Khansa mau membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan suaminya.



“Tidak apa-apa mas, aku mengerti kalau kamu kecapekan habis kerja terus malah liat bucket bunga dari orang lain ya aku bisa maklumin kok.” Ucap Khansa.



Kalandra tersenyum mendengar ucapan istrinya yang bisa mengerti dengan kondisinya. Kalandra menoleh ke atas menatap wajah cantik istrinya itu lalu menyentuh wajah istrinya dengan tangan kanannya.



Khansa tersenyum kepada suaminya, ia menyentuh tangan suaminya yang berada di pipinya sedangkan tangannya yang lain menyentuh pipi yang tadi dia tampar dengan kencang.



“Maaf ya mas, apakah ini sakit?” tanya Khansa.



Kalandra menggelengkan kepalanya. “Dibandingkan dengan ucapanku kepadamu tadi, rasa sakit ini tidak ada apa-apanya sayang.”



“Tidak usah mengingatnya mas, kalau sudah emosi ya kita ga akan bisa mengendalikannya.” Ucap Khansa yang mencoba untuk tenang agar suaminya tidak merasa bersalah.



“Terimakasih karena sudah mau mengerti sayang, mulai saat ini jika ada yang mengirim bunga tanpa nama jangan di ambil ya sayang.” ujar Kalandra.



“Apa kamu begitu yakin jika Robert yang mengirimkan bunga itu mas?”



“Iya, aku sangat yakin dia akan melakukan apapun untuk membuat kita salah paham.” Ketus Kalandra.



“Dari mana kamu tau mas, sebenernya apa yang kamu sembunyikan dariku?” tanya Khansa yang merasa penasaran.



Kalandra bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di sebelah istrinya sambil menggenggam tangan istrinya.




“Tapi mas, selama ini dia berada di luar negeri tidak mungkin dia memiliki waktu untuk melihat berita di tv jadi mungkin saja dia memang tidak mengetahui tentangku dan pertemuan kita kemarin adalah suatu kebetulan.” Ucap Khansa.



“Sayang, dia itu tidak semudah yang kita fikirkan. Dia bisa mengetahui tentang apapun dengan mudah. Jika memang dia tidak mengenalmu, dia pasti akan mencaritahu tentangmu setelah bertemu denganmu buktinya dia tau jika kamu adalah istriku dan memberikan bucket bunga untukmu.” Ucap Kalandra.



“Tapi aku tidak mengenalnya, bahkan aku tidak melihat wajah laki-laki yang menabrakku saat di pesta.” Ucap Khansa.



“Besok kamu ikut aku mengunjungi gallery seni rekan bisnisku, aku yakin dia akan berada di sana juga karena dia menyukai seni sejak dulu.”



“Kamu begitu menyayanginya, dan aku yakin jika dia juga sangat menyayangimu mas. Kalian sama-sama sangat mengetahui kebiasaan dan kesukaan masing-masing.”



“Ha? so tau kamu ah kayak dukun aja.” Ucap Kalandra tidak mengakui ucapan istrinya.



“Yaudah kalo ga percaya.” Ucap Khansa dengan malas.



Khansa sangat yakin jika di dalam hati Kalandra dan Robert sebenarnya masih ada rasa sayang satu sama lain, namun mereka sama-sama memiliki gengsi yang tinggi untuk mulai meminta maaf satu sama lain.



“*Jika begini terus, keluarga kita tidak akan bisa hidup dengan tenang. Aku harus mencari cara agar mereka bisa kembali seperti dulu*.” Batin Khansa dengan senyum penuh rencana.



Ryan


Sudah seminggu Ryan dan Rose tidak pernah saling mengabari satu sama lain. Bahkan mereka tidak pernah bertemu walaupun hanya kebetulan, Rose benar-benar pandai menyembunyikan dirinya dari Ryan, sudah puluhan pesan yang di kirim oleh Ryan dan ratusan kalo Ryan menelfon Rose namun hasilnya nihil. Ryan benar-benar tidak tau lagi apa yang harus di lakukan untuk membuat Rose membalas pesannya atau mengangkat telfonnya.


“Yan, kamu ga iri melihat Kalandra menikah dan memiliki anak-anak? Sebentar lagi juga Edo akan segera menikah, lalu kapan kamu akan menyusul mereka dan membuat cucu-cucu untuk mama dan papa?” tanya mama Ryan.


“Ma, Ryan masih belum memikirkan tentang pernikahan Ryan masih ingin menyendiri, lagipula kan Kenan cucu mama jadi mama sudah punya cucu dari Ryan kan?” ucap Ryan dengan tidak bersemangat.


“Tapikan Kenan selalu bersama Kalandra dan Khansa, lagipula mama tidak pernah mengurusnya dari kecil yan. Cepatlah menikah selagi papa dan mamamu masih sehat, apa perlu papa dan mama mengatur perjodohan untukmu?” ucap mama Ryan.


“Tidak ma. Ryan tidak ingin di jodohkan, Ryan sudah menyukai seorang wanita dan Ryan sedang berusaha untuk mengejarnya agar dia mau menikah dengan Ryan.” Ucap Ryan yang menolak mentah-mentah tawaran mamanya.


“Benarkah? siapa wanita itu? Apa dia baik dan cantik?” ucap mama Ryan penasaran.


“Sudahlah ma, intinya Ryan akan memilih wanita baik-baik untuk menjadi istri Ryan nantinya.”


Setelah mendengar perkataan Ryan, mamanya sedikit lebih tenang karena ternyata anaknya sudah memiliki wanita yang dia sukai.


Ryan mencoba untuk menghubungi Kalandra dan bertanya tentang Rose.


“Halo Ndra?” ucap Ryan.


“Halo yan, ada apa?” tanya Kalandra dari sebrang telfon.


“Apa Rose tidak pernah bekerja?” tanya Ryan kepada Kalandra.


“Kenapa baru sekarang nanya? Dari tadi kamu kemana aja yan?”


“Tadi aku terlalu sibuk dengan informasi Robert dan di otakku sudah tidak ada pikiran yang lain lagi.”


“Hm, alesan aja kamu yan. Rose selalu masuk untuk bekerja setiap hari bahkan dia selalu tepat waktu.”


“Tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya, padahal aku sering sekali ke perusahaanmu.”


“Entahlah, tanyakan saja padanya kenapa dia tidak pernah menampakkan diri kepadamu.” Ucap Kalandra dengan cuek.


“Ndra, kamu tuh harusnya bantuin sahabat kamu ini, harusnya kamu ancem Rose biar dia mau ketemu sama aku, bilang aja kalo ga mau ketemu sama Ryan nanti di pecat gitu.” Rengek Ryan.


“Gila apa, ngapain aku mecat karyawan yang berpotensi seperti Rose.” Ketus Kalandra.


“Ya kan dia juga gamungkin mau di pecat pasti dia mau ketemu sama aku Ndra.”


“Iya kalo mau ketemu, lah kalo dia malah bilang mending di pecat dari pada ketemu kamu gimana?”


“Yaelah, masa iya segitunya dia sangking ga mau ketemu sama aku Ndra.”


“Kamu tanya Khansa aja deh, kalo kamu berhasil ngebuat istriku ngomong tentang urusan pribadinya Rose kamu akan lebih mudah mencari jalan keluar.” Ucap Kalandra yang langsung mematikan telfonnya tanpa mendengar jawaban dari Ryan.



“Ga sopan emang ni orang, siapa yang nelfon siapa yang matiin. Nyuruh ngomong sama Khansa bukannya hpnya di kasih ke orangnya malah di matiin, ga berguna kayaknya aku punya sahabat.” Gumam Ryan sambil menghela nafas panjang.