
Ku coba tuk lupakan dan ku coba tuk membenci,
tapi dirimu selalu ada difikiranku yang tak menentu.
Khansa, Kalandra dan Kenan mengantar kepergian Ryan dan Rose di bandara.
“Papa jaga kesehatan ya, cepetan pulang dan bawain mama baru buat Kenan.” ucap Kenan sambil memeluk Ryan.
Ryan hanya menggelengkan kepalanya sambil memeluk anaknya itu, dia tidak menyangka jika Kenan akan menyuruhnya mencarikan mama baru untuknya.
“Kenan jangan nakal ya, nurut sama papi dan mami.” Perintah Ryan.
“Siap bos.” Ucap Kenan.
“Aku titip Rose ya kak, jangan lupa dikasih makan dia awas aja kalo pulang-pulang dia tambah kurus.” Tegas Khansa.
“Kamu tenang aja kali, kalo dia kelaperan terus pingsan juga aku yang repot.” Canda Ryan.
Rose hanya melirik ke arah Khansa dan Ryan karena sudah membicarakannya.
“Sudahlah, kak sasa aku pamit dulu ya.. kakak jaga diri baik-baik kalo ada apa-apa hubungi aku ya kak.” Ucap Rose sambil memeluk Khansa.
“Seharusnya aku yang ngomong gitu, kamu yang harus jaga diri baik-baik.”
“Sudahlah kalian hati-hati dijalan, dan Ryan kalo ada apa-apa kabari aku. Semoga pertemuan kalian berjalan dengan lancar.” Ucap Kalandra.
Ryan hanya mengacungkan jempol dan tersenyum ke arah Kalandra lalu mengajak Rose untuk check in.
Setelah Ryan dan Rose tidak terlihat lagi, Kalandra mengajak istri dan anaknya untuk pulang kembali ke rumah karena Kalandra sudah merasa bosan berada di rumah sakit.
“Ayo kita pulang ke rumah.” Ajak Kalandra.
“Papi udah boleh pulang?” tanya Kenan antusias.
“Papi kan sudah bisa jalan lagi, jadi papi mau pulang ke rumah.” Ucap Kalandra.
“Em,, mas? Kamu sama Kenan pulang duluan saja ya? aku masih ada keperluan.” Ucap Khansa kepada Kalandra.
“Kamu mau kemana? Gausah macem-macem deh, kalo kamu kenapa-kenapa gimana?” Tegas Kalandra.
Khansa tersenyum melihat jika Kalandra sedang mengkhawatirkannya.
“Jadi kamu khawatir sama aku mas?” tanya Khansa dengan nada mengejek.
“E,,engga. Aku takut Kenan nanti nyariin kamu .” Kalandra mengelak ucapan Khansa.
“Kenan ga nyariin mami kok pi.” Sambung Kenan.
Kalandra langsung melihat ke arah Kenan lalu menggandeng tangannya dan mengajaknya berjalan ke luar bandara.
Khansa tersenyum melihat Kalandra yang salah tingkah, menurutnya Kalandra sangat imut. Khansa sedikit berlari untuk menyusul suami dan anaknya.
“Ngaku aja kalo khawatir sama aku mas..” ucap Khansa sambil menyolek perut Kalandra.
Kalandra hanya diam saja dan tetap berjalan tanpa menghiraukan ucapan Khansa.
Kalandra dan Kenan sudah berada di dalam mobil, sedangkan Khansa tidak ikut masuk ke dalam mobil.
“Kamu sebenernya mau kemana sih sa?” tanya Kalandra kembali.
“Aku ada urusan mas, aku janji ga akan kenapa-kenapa.” Ucap Khansa menenangkan Kalandra.
Kalandra hanya bisa mengalah dan mengijinkan Khansa untuk mengurus urusannya.
Kalandra hanya mengangguk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah melihat kepergian anak dan suaminya, Khansa segera memberhentikan taxi dan menaikinya.
Tidak jauh dari bandara, Kalandra ternyata masih belum pergi dari sana dan mengikuti kemana Khansa pergi.
“Papi kita mau kemana?” tanya Kenan yang tidak tau jika sang papi sedang mengikuti maminya.

“Sebentar ya sayang, papi harus melakukan sesuatu.”
Kenan hanya menuruti perkataan papinya dan duduk dengan tenang di sebelah papinya.
Setelah mengikuti Khansa selama beberapa menit, Khansa memberhentikan mobilnya didepan lapas penjara.
“*Lapas*? *Untuk apa Khansa berada di tempat orang-orang jahat ini*?” batin Kalandra.
Kalandra hanya bisa melihat dan menunggu Khansa keluar dari lapas karena jika Kalandra masuk ke dalam, ia tidak ingin meninggalkan Kenan atau mengajak Kenan masuk ke dalam.
Penjara
Khansa berada di penjara karena ingin menemui seseorang di dalam penjara. Saat Khansa sedang menunggu seseorang, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka.
“Untuk apa kamu ingin menemuiku!?” ketus orang itu.
“Wah! Hebat sekali kamu, setelah membuat keluargaku berantakan masih tetap berlagak se angkuh ini nyonya Hani!?” tanya Khansa dengan nada sinisnya.
“Kamu tidak perlu pura-pura tegar Hani, kita sama-sama wanita dan aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu.”
“Bagaimana bisa kamu mengerti apa yang aku rasakan! Apa kamu dicampakkan oleh orang yang kamu cintai!?” bentak Hani.
Khansa sudah mulai kesal karena ucapan Hani.
“Apa kamu tau yang terjadi setelah penembakanmu!? Apa kamu tau jika suamiku tertembak di bagian kepalanya dan mengakibatkannya kehilangan ingatannya dan tidak bisa berjalan karena terlalu lama koma!? Apa yang kamu tau Hani ha!?” bentak Khansa.
Hani hanya diam karena terkejut mendengar ucapan Khansa.
“Apa kamu tau jika hal itu tidak kalah menyakitkannya dengan sakit yang kau rasakan! Coba bayangkan bagaimana rasanya jika suamimu sendiri bahkan tidak mengenali istrinya! Bagaimana perasaan anakku karena papinya tidak mengenalnya! Kamu telah menghancurkan keluargaku Hani, bagaimana bisa kamu berlagak seperti kamulah yang paling menderita disini!” bentak Khansa.
“Bukankah aku pernah bilang kepadamu jika karma itu ada? Anggap saja ruangan gelap dan dingin di dalam sini adalah karma karena telah menghancurkan kebahagiaan keluargaku!” lanjut Khansa.
Hani hanya diam saja dan mulai meneteskan air matanya, ia tidak tau bagaimana keadaan Kalandra setelah dia menembaknya karena di dalam gudang sangat gelap dan dia tidak bisa melihat keadaannya.
“Hikss,, hikss,, maafkan aku sa, aku benar-benar minta maaf, aku tidak tau jika Kalandra akan jadi seperti itu. Maafkan aku hikss..” Hani bersujud meminta maaf kepada Khansa.
Khansa bangun dari tempat duduknya dan membantu Hani berdiri.
“Aku tidak membutuhkan maafmu. Aku hanya tidak habis fikir bagaimana kamu bisa ditipu oleh Robert, dan dimana dia sekarang!?.” Ucap Khansa.
“Hikss,, Aku tidak tau, setelah kejadian itu dia bahkan tidak pernah menanyakan kondisiku.”
“Tidak usah menangis karena laki-laki tidak bertanggung jawab! Kamu berhak bahagia dan mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya.” Tegas Khansa.
“Aku di sini hanya ingin melihat keadaan bayi di dalam kandunganmu, dan setelah melihat jika kamu masih bisa se angkuh ini sepertinya kamu dan bayimu baik-baik saja. Untuk masalah Robert, aku akan menanganinya sendiri dengan caraku!” tegas Khansa yang langsung berdiri meninggalkan Hani di ruangan itu sendirian.
Hani hanya menangis kencang karena merasa sangat bersalah terhadap teman masa SMAnya itu.
Khansa keluar dari kantor polisi dengan sempoyongan, ia menahan sakit di hatinya saat berbicara seperti itu kepada Hani. Dia mengingat bagaimana perasaannya saat melihat suaminya terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit.
Kalandra melihat Khansa yang baru keluar dari kantor polisi dengan keadaan yang lemah merasa sangat khawatir.
Kalandra menoleh ke arah Kenan yang sedang tertidur dan langsung keluar dari mobil menghampiri Khansa.
“Sa, kamu gapapa?” tanya Kalandra yang langsung memeluk Khansa dengan erat.
Khansa terkejut melihat Kalandra yang berada di sana, tapi air matanya sudah terbendung sangat lama sehingga dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
“Hiikss,, hikss,, mas..”
“Ada apa? Apa yang kamu lakukan di sini sa?” tanya Kalandra dengan lembut.
“Hikss,, entahlah kenapa aku datang ke tempat ini dan membuat hatiku sakit hikss,, hikss..”
“Ssstt.. sudahlah ayo kita pulang bersama, anak kita sedang tidur di dalam mobil.” Ucap Kalandra menenangkan Khansa.
Kalandra merangkul Khansa dan membantunya berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan kantor polisi.
“Kamu ngikutin aku sampe kesini mas?” tanya Khansa yang sudah berada di kursi belakang.
“Hmm, aku ngikutin kamu, aku takut ada apa-apa sama kamu.”
“Kan kamu beneran khawatir sama aku.”
Kalandra hanya diam tidak menjawab perkataan Khansa.
“Aku mau mulai sekarang kamu selalu ngasih tau aku kemanapun kamu pergi.” Tegas Kalandra.
Khansa hanya memanyunkan bibirnya tanpa menjawab perkataan suaminya itu.
“Sebenarnya siapa yang kamu cari sa, aku harus segera menyelidikinya. Aku takut kamu akan berada dalam bahaya.” Batin Kalandra sambil melihat ke arah Khansa yang berada di belakang lewat kaca spion tengahnya.