MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
PAPA


Kebahagiaan dan kesedihan adalah nikmat Tuhan yang wajib disyukuri. Belajarlah untuk menikmati dan mensyukuri segala yang Tuhan beri.



Sejak melakukan konsultasi dengan psikolog, Kenan sedikit demi sedikit bisa mengatasi traumanya. Memang belum sepenuhnya pulih, tapi dia sudah lebih ceria dibandingkan sebelumnya. Kenan menjadi lebih sabar dan mulai menerima hal yang terjadi dengannya dan papinya.



“Mami! Kok bengong sih mi?” ucap Kenan membuyarkan lamunan Khansa.



“Yaampun sayang, mami kaget tau. Ada apa sayang?”



“Ih mami kan ga dengerin, Kenan bilang Kenan mau pamit ke sekolah dijemput sama papa Ryan.” Kenan mengulangi ucapannya karena maminya tidak mendengarkan perkataannya.



“Oh iya sayang, hati-hati ya jangan nakal loh. Inget kalo ada orang asing yang ngajak Kenan jangan mau.” Tegas Khansa.



“Iya mami, Kenan ga akan tertipu lagi.”



Khansa tersenyum dan melihat kepergian anaknya.



Khansa dan Kenan selalu berada di rumah sakit, bahkan semua keperluan sekolah Kenan dipindahkan ke rumah sakit. Mama Alisha selalu mengajak Kenan untuk pulang bersamanya tetapi Kenan selalu menolak ajakan neneknya itu.



“Assalamualaikum..”



“Waalaikumsalam..” Khansa menoleh ke arah pintu masuk.



“Rose? Lila?” Khansa sangat senang melihat adik dan sahabatnya itu.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1604676580537.jpg)



“Kita bawa makanan buat kamu sa, anak-anak kamu harus banyak makan biar cepat besar.” Canda Lila.



“Ini adalah lalapan kesukaan kak sasa, kita beli ini biar kak sasa makan banyak.” Ucap Rose.



“Terimakasih banyak, kalian memang yang terbaik.” Ucap Khansa.



“Kita makan di luar yuk, kasian suami kamu nanti keganggu.” Ajak Lila.



Khansa menyetujui ajakan sahabatnya itu, sebelum keluar Khansa menoleh ke arah suaminya.



“Aku makan dulu ya mas, anak-anak kita butuh makan biar cepat bertemu dengan papinya.” Ucap Khansa kepada suaminya yang masih tetap memejamkan matanya.


Khansa keluar menyusul Lila dan Rose.



“Gimana keadaan kak Andra?” tanya Lila.



“Ya masih sama kayak kemarin-kemarin lil, belum ada perkembangan.”



“Sabar ya, semua akan baik-baik saja setelah ini.”



“Terimakasih sahabatku sayang..” Khansa memeluk Lila dengan erat.



“Oh iya kak, Kenan gimana?” tanya Rose.



“Dia baik-baik saja, sekarang Kenan mulai lengket dengan kak Ryan.” Ucap Khansa.



“Oh iya kak, aku kaget banget loh ternyata Kenan anak kandungnya kak Ryan.” Ucap Rose.



Setelah kejadian diculiknya Kenan, Rose sudah mengetahui semuanya dia sudah tau jika Kenan adalah anak Ryan.



Bahkan kedua orang tua Khansa dan Kalandra juga sudah mengetahui kebenaran ini, mereka memang terkejut akan hal itu terutama orang tua Kalandra, tapi mereka tidak melarang Ryan untuk menemui Kenan, mereka justru membuka pintu lebar akan kehadiran Ryan.



“Hmm, sudah banyak hal baik yang terjadi. Aku ingin suamiku segera bangun, dia pasti sangat senang melihat semua perubahan ini.” ucap Khansa sambil tersenyum.



Ryan berusaha untuk mendekati Kenan dan menyelesaikan kesalah pahaman di antara mereka. Ryan berinisiatif untuk mengantar jemput Kenan selama Kalandra di rumah sakit.


Ryan berada di rumah sakit untuk menjemput Kenan. Ryan memberanikan diri untuk masuk ruangan Kalandra dan mengajak Kenan berangkat ke sekolah bersamanya.


“Semangat Ryan, kamu pasti bisa” gumam Ryan menyemangati dirinya sendiri sebelum membuka pintu.


“Hai sa..” ucap Ryan yang baru saja membuka pintu.


“Loh kak Ryan, tumben pagi-pagi ke sini?” tanya Khansa.


“Emm,, aku mau nganter Kenan ke sekolah boleh?”


“Emm,, itu terserah Kenan kak.” Khansa menoleh ke arah Kenan untuk memastikan.


Kenan mengangguk menyetujui ajakan Ryan. Khansa tersenyum karena Kenan sudah tidak menolak Ryan.


“Aku titip Kenan ya kak, tunggu sampe dia benar-benar masuk ke dalam kelas juga kak.”


“Siap sa, akan ku pastikan bahwa Kenan aman bersamaku.”


Ryan mengulurkan tangan kepada Kenan, dengan sedikit ragu akhirnya Kenan menerima uluran tangan Ryan.


Betapa bahagianya Ryan saat itu, dia bahagia karena Kenan sudah mau menerima kehadirannya.


Di dalam mobil, Kenan dan Ryan tidak berbicara sepatah katapun, keadaan di dalam mobil sangat canggung hingga Ryan memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.


“Terimakasih ya Kenan..”


“Kenapa om Ryan bilang terimakasih?” tanya Kenan heran.


“Ya karena Kenan mau menerima ajakan om Ryan.”


“Mulai sekarang Kenan mau diajak om Ryan terus kok.”


Ryan terkejut mendengar ucapan Kenan, Ryan menoleh ke arah Kenan untuk memastikan kebenaran dari ucapan Kenan.


“B,,benarkah?” tanya Ryan memastikan.


Kenan mengangguk mengiyakan pertanyaan Ryan.


“Sebenarnya Kenan mau berterimakasih sama om Ryan karena mau menyelamatkan Kenan padahal bisa aja om Ryan kena tembak kayak papi.” Ucap Kenan sambil meundukkan kepalanya.


Ryan mengerti Kenan merasa bersalah, itulah kenapa dia mulai membuka hati untuk dirinya.


“Walaupun berbahaya, om Ryan akan selalu mlindungi Kenan bagaimanapun caranya.”


“Apakah papi akan baik-baik saja om?” tanya Kenan dengan nada lemas.


“Apa kamu masih merasa bersalah atas papimu?”


“Iya om, gara-gara Kenan mami jadi sedih dan menangis setiap hari.”


“Apa mamimu menangis didepanmu?”


“Tidak.”


“Lalu bagaimana Kenan tau jika mami menangis setiap hari?”


“Kadang kalo mami nyuruh Kenan tidur siang Kenan Cuma pura-pura tidur, terus ternyata mami nangis om nangisnya pelan banget sambil nyuruh papi bangun. Malem juga mami sering menangis, Kenan kasian sama mami om.”


“Astaga, bagaimana bisa anak sekecil ini bisa mengerti kesedihan maminya.” Batin Ryan sambil melihat Kenan yang sedang menundukkan kepalanya.


“Ini bukan salah Kenan, semua memang sudah jalan dari Allah. Kenan gaboleh sedih, Kenan harus mengibur mami dan adik yang ada di dalam perut mami.” Ryan berusaha untuk menenangkan Kenan.


“Benarkah om? Apa benar ini bukan salah Kenan?” tanya Kenan memastikan.


“Benar sayang..”


Ryan melihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 6.30, Ryan berfikir jika itu masih sangat pagi untuk mengantar Kenan ke sekolahnya.


“Kenan, mau sarapan dulu ga sama om Ryan? Masih terlalu pagi kalo harus berangkat ke sekolah sekarang.” Ajak Ryan.


“Tapi Kenan sudah makan om..”


“Ya temenin om Ryan sarapan aja kalo gitu, gimana?”


“Mmm,, baiklah om Kenan akan menemani om Ryan sarapan.”


Mendengar persetujuan dari Kenan, Ryan langsung memberhentikan mobilnya di salah satu warung pinggir jalan, karena masih sangat pagi jadi restoran belum ada yang buka.


“Kita makan di sini ga apa-apa kan Kenan?” tanya Ryan, dia takut jika Kenan tidak pernah diajak makan di tempat pinggiran seperti ini.


“Ga apa-apa kok om, mami sering ngajak papi dan Kenan makan di tempat seperti ini ya walaupun papi sering protes pulangnya, tapi tetep aja makanan papi habis sampe piringnya bersih hehe.” Untuk pertama kalinya Kenan tertawa karena mengingat hal-hal yang dia lalui bersama orang tuanya.


Ryan senang karena bisa membuat tawa Kenan kembali lagi.


“Kenan yakin ga mau pesan apa-apa?” tanya Ryan.


“Kenan mau minum teh manis om.”


Ryan langsung memesankan teh hangat untuk Kenan.


“Emm,, om Ryan boleh tanya ga sama Kenan?” tanya Ryan.


“Mau tanya apa om?”


“Kenan tau kan kalo om Ryan papa kandung Kenan.”


Kenan menatap Ryan sebentar lalu menganggukkan kepalanya.


“Emm,, om Ryan tau ini terlalu cepat, tapi apa Kenan mau manggil om Ryan papa?” tanya Ryan.


“Saat sadar nanti pasti papi sangat senang melihat aku dan om Ryan sudah berbaikan.” Batin Kenan sebelum menjawab pertanyaan Ryan.


Kenan diam tanpa mengatakan sepatah kata apapun membuat Ryan yang melihat ekspresi Kenan langsung menyadari kesalahan yang dia lakukan.


“M,,maafkan om Ryan, om ga bermaksud..” ucapan Ryan terputus karena tiba-tiba saja Kenan mengucapkan kata yang selama ini ia tunggu-tunggu.


“Papa..” kata yang paling membuat Ryan bahagia saat mendengar anaknya yang selama ini membencinya memanggilnya dengan sebutan papa.