MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
PERMINTAAN MAAF


Jangan pernah bangga dengan apa yang kamu punya, banggalah dengan bagaimana cara kamu mendapatkannya.



Robert keluar dari ruangan dengan wajah yang murung, Ardi yang melihat Robert murung segera menghampirinya.



“Kamu kenapa Bert? Apa semua baik-baik saja?” tanya Ardi yang merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.



“Apa sebenarnya selama ini akulah yang memulai semuanya?” tanya Robert secara tiba-tiba hingga membuat Ardi menjadi bingung.



“Kamu ini ngomong apa sih? Jangan ngawur deh!” tegas Ardi.



Tiba-tiba saja Robert meneteskan air mata dan membuat Ardi terkejut bukan main melihat sosok kuat seperti Robert meneteskan air mata, mungkin jika sempat dia akan merekamnya dan menjadikan kenang-kenangan.



“Bert?” panggil Ardi untuk menyadarkan Robert.



“Hikss,, Apa aku adalah orang jahat Ardi? Bilang! Apakah aku adalah orang jahat!?” teriak Robert.



“Sebenarnya apa yang di katakan wanita itu kepadamu Robert!” tegas Ardi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Robert.



Akhirnya Ardi langsung membawa Robert ke dalam mobil agar tidak ada yang melihat keadaan Robert yang sedang kacau itu.



“Ini minum!” Ardi memberikan sebotol air putih untuk membuat Robert menjadi lebih tenang. Setelah Robert meminumnya, Ardi mengambil kembali botol minum itu.



“Sekarang ceritakan kepadaku, sebenarnya apa yang terjadi di dalam ruangan itu?” tanya Ardi sambil melajukan mobilnya dengan perlahan.



“Apa aku terlalu hanyut dalam dendamku hingga aku tidak sadar jika keluargaku sangat menyayangiku?” tanya Robert.



“Apa kamu mau mendengar jawaban jujur dariku?” tanya Ardi.



Robert menoleh ke arah sahabat sekaligus asistennya itu, dia tidak mengerti jawaban jujur apa yang akan di ucapkan dari mulut Ardi.



“Dari dulu aku selalu mengingatkanmu untuk berhenti Robert, tapi kamu selalu marah setiap aku menasehatimu. Aku bahkan memiliki niatan untuk bertemu langsung dengan Kalandra dan bertanya apa yang terjadi di antara kalian.” Jelas Ardi.



“Memang apa yang di bicarakan wanita itu kepadamu?” tanya Ardi.



“Dia memberitauku semua cerita Kalandra kepadanya.” Ucap Robert.



“Jadi maksudmu, wanita itu menceritakan tentang masa lalu Kalandra saat bercerita tentangmu?” tanya Ardi yang mencoba menebaknya dan di balas anggukan oleh Robert.



“Antar aku ke rumah Kalandra!” perintah Robert kepada Ardi.



“Hah! Kamu udah gila ya Bert? Kamu tau apa yang akan dia lakukan kepadamu jika kamu kesana? Dia akan membunuhmu!” tegas Ardi yang mendengar ide konyol sahabatnya itu.



“Kenapa dia akan membunuhku?” tanya Robert tanpa dosa.



“Kamu kayaknya jadi gila setelah menemui wanita itu, apa jangan-jangan kamu akan menikahinya juga nanti?” tanya Ardi yang asal bicara.



“Tentu saja aku akan menikahinya!” tegas Robert.



Citt!! Ardi menginjak pedal rem dan membuat Robert tersungkur ke depan.



“Ardi kamu mau bikin aku mati ya! untung saja aku menahan kepalaku dengan tangan.” Ketus Robert sambil memberikan tatapan tajam kepadanya.




“Lalu? Dia menjadi narapidana karena kesalahanku juga, dia yang menanggung hukuman yang seharusnya aku jalani, dan yang paling penting dia adalah ibu dari anakku Ardi.”



“Setidaknya aku bersyukur karena kamu sudah sadar Robert, aku akan segera mengantarmu ke rumah Kalandra, tapi biarkan aku ikut denganmu masuk ke dalam rumah itu.” Tegas Ardi.



“Baiklah, yang penting aku akan meminta maaf kepada semua orang yang ada di rumah itu. Masalah mereka mau membunuhku aku tidak masalah, setidaknya aku mati dalam keadaan sudah meminta maaf atas dosa-dosaku.” Ucap Robert.



“*Jika tau kamu akan segera sadar, kenapa ga dari dulu aja kamu bertemu dengan wanita itu Bert*.” Batin Ardi yang lanjut melajukan mobilnya.



Rumah Kalandra


Kalandra, Khansa dan Kenan sedang berada di taman. Mereka bertiga duduk-duduk di bangku taman sembari menemani Kenan bermain dengan kelincinya.


“Mi, lihatlah mereka sudah semakin besar.” Ucap Kenan dengan senyum ceria di wajahnya.


“Tentu saja semakin besar, Kenan juga sekarang semakin besar.” Ucap Khansa.



“Benarkah mi? apakah Kenan sudah besar?”


“Hm, benar sayang. Kamu sudah sangat besar sekarang, mami saja sudah tidak kuat menggendongmu.” Ucap Khansa.


“Tapi papi masih kuat kok mi, benarkan pi?” tanya Kenan.


Kalandra yang sibuk dengan hpnya itu tidak mendengarkan ucapan anaknya, Khansa yang melihat kelakuan suaminya segera menyenggol lengan suaminya dengan sikunya.



“Eh, apa tadi kamu bilang apa Kenan?” tanya Kalandra.


“Ih papi tuh liat apaan aja sih dari tadi.” ketus Kenan.


“Papi lagi meriksa email masuk sayang.” ucap Kalandra.


Kenan hanya memanyunkan bibirnya karena papinya tidak memperdulikannya. Sedangkan Khansa hanya tersenyum melihat anak sulungnya itu dan beranjak dari kursinya.


“Kamu mau kemana sayang?” tanya Kalandra yang melihat Khansa beranjak dari kursinya.


“Aku mau ke dapur dulu mas, mau ngambil minuman untuk kalian berdua.” Ucap Khansa yang di balas anggukan oleh Kalandra.


Khansa pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin dan beberapa camilan untuk suami dan anaknya itu.


“Mau saya bantu nyonya?” tanya bi Rini.


“Tidak usah bi, sasa bisa bawa sendiri kok terimakasih tawarannya.” Ucap Khansa dengan senyuman.


Khansa keluar dari dapur dan berjalan ke arah taman yang kebetulan melewati pintu utama, Khansa menoleh ke pintu utama karena melihat ada mobil yang baru saja terparkir di depan rumah.


Khansa berhenti dan melihat siapa orang yang turun dari mobil tersebut, Khansa terkejut melihat seseorang yang dia kenal turun dari mobil dan..


PRANG!!


Nampan yang berisi minuman dan camilan yang sedang di bawa Khansa terjatuh dan pecah hingga membuat kaki Khansa terkena pecahan gelas tersebut.


“YaAllah nyonya ada apa!?” teriak bi Rini yang segera menghampiri Khansa yang masih mematung di depan pintu.


Bi Rini menoleh ke arah pintu dan ikut terkejut melihat Robert yang datang ke rumah keluarga Kalandra.


Kalandra dan Kenan yang sedang berada di taman juga mendengar suara pecahan gelas dari arah depan, mereka segera berlari menghampiri asal suara dan terkejut melihat kaki Khansa yang sudah berdarah-darah.


“Sayang kamu tidak apa-apa!?” teriak Kalandra sambil menghampiri istrinya.


Kenan juga ikut menghampiri maminya dan menangis melihat darah yang keluar dari kaki maminya itu.


Khansa meoleh ke arah Kenan yang sedang mendekat ke arahnya, dengan sigap Khansa menarik Kenan dan menyembunyikannya di balik tubuhnya.


“Untuk apa kamu kemari!” teriak Kalandra.


“Tenanglah, bukankah aku ini kakakmu dan juga bagian dari keluarga ini? kenapa aku tidak boleh kemari?” ucap Robert dengan nada sombongnya.


Ardi yang berada di sebelah Robert hanya bisa menggelengkan kepalanya karena melihat kesombongan Robert.


“Sebenernya dia ini mau minta maaf apa ngajak ribut sih!” batin Ardi.


“Keluarga? Bukankah kamu sendiri yang tidak menganggap kami keluarga? Bukankah kamu yang meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali?” ucap Kalandra.


Robert mendekat ke arah mereka dan tiba-tiba berlutut di hadapan mereka. Semua orang yang berada di sana terkejut melihat Robert yang berlutut di hadapan mereka begitu pula dengan Ardi yang tidak tau jika sahabatnya itu akan berlutut.


Mama Alisha dan papa Arnold yang mendengar suara berisik akhirnya keluar dari kamarnya dan turun menuju ruang tamu.


“Robert!” teriak mama Alisha yang segera menghampirinya.


“Kamu sedang apa di sini?” tanya papa Arnold.


“Aku ingin minta maaf kepada kalian semua, karena apa yang sudah aku perbuat selama ini. Selama ini aku sudah banyak menyimpan dendam terhadap kalian hikss,, maafkan aku sudah menjadi anak yang durhaka kepada papa dan mama, aku juga kakak yang buruk bagi Kalandra hikss,, maafkan aku.”


Semua orang terkejut melihat kesombongan Robert seketika hilang begitu saja.


Kalandra menghampiri Robert menarik kerahnya dan menonjok wajah Robert dengan keras hingga membuat semua orang terkejut.