MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SEASON 2 (PAWANG?)


Impian tidak akan terwujud dengan sendirinya. Kamu harus segera bangun dan berupaya untuk mewujudkannya.




“Terimakasih karena sudah mempercayakan saya untuk menjadi supir pribadi anak perempuan anda tuan Kalandra.” ucap pak Joko yang sangat berterimakasih dengan papi Kalandra.



“Jangan berterimakasih kepada saya, anak saya lah yang memilih anda secara pribadi, saya tidak bisa menolak keinginan anak saya.” ucap papi Kalandra.



“Terimakasih non, saya tidak menyangka akan mendapat kesempatan seperti ini.” ucap pak Joko kepada Key.



“Sudahlah pak Joko, lebih baik bapak sekarang pulang dulu dan beristirahat.” Ucap Key.



“Iya benar, lebih baik pak Joko pulang ke rumah dulu dan mengemasi pakaian bapak, bapak akan tinggal di sini bersama kami, kami akan secara resmi mengenalkan pak Joko kepada anggota keluarga kita besok.” Ucap mami Khansa.



“T-tinggal di sini? B-baik pak terimakasih banyak, saya permisi pamit pulang dulu, besok pagi saya akan segera kemari.” Ucap pak Joko berpamitan kepada semua orang.



Semua orang tersenyum melihat kepergian pak Joko. Tidak lama kemudian, Ken masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru, saat melihat pak Joko, Ken tersenyum kepada pak Joko dengan tatapan anehnya.



Saat melihat kehadiran Ken, Key langsung duduk di sofa ruang tamu dengan mimik wajah yang tiba-tiba berubah.



“Key, apa kamu baik-baik saja?” tanya Ken.



“Aku baik-baik saja! hari ini adalah pertama dan terakhir aku mengunjungi kampusmu ya Ken!” tegas Key.



“Key, kamu ga boleh gitu sayang, kamu adalah anak seorang pebisnis yang terkenal, ada banyak orang yang menyukaimu, tapi tidak sedikit yang membencimu, jadi kamu harus membiasakan diri untuk hal itu.” Jelas mami Khansa.



“Itulah kenapa Key tidak suka kalau identitas Key terbongkar!”



“Lalu? Kamu mau apa? Mau terus menutupi identitasmu dan membiarkan anak-anak di kampusmu menindasmu!?” ketus Ken.



“Ken!” teriak Key.



“Apa?! Kamu takut kalau papi dan mami tau? Biar mereka tau kalau selama ini kamu itu orang yang selalu di pojokkan di kampusmu karena kamu tidak mau bergaul dengan teman-temanmu!” ucap Ken.



Papi Kalandra dan mami Khansa yang mendengar ucapan Ken langsung terkejut karena selama ini mereka tidak pernah mendengar laporan tentang penindasan Key dari mulut Kenan.



“Kenan? apa maksud dari ucapan Ken? Siapa yang berani menindas Key?” tanya papi Kalandra.



“Maaf pi, Kenan yang terlalu ceroboh dalam menjaga Key, Kenan juga tidak melaporkan apapun kepada papi.” Ucap Kenan sambil menundukkan kepalanya.



“Bukankah papi sudah bilang kepadamu kalau papi paling tidak suka kalau anak-anak papi berbohong! Kenapa kamu tidak melaporkan hal ini Kenan?! kamu tau bukan kalau papi paling tidak suka kalau anak-anak papi menindas orang apalagi di tindas orang!” bentak papi Kalandra.



Key dan Ken yang melihat papinya memarahi Kenan sampai seperti itu langsung panik dan takut, mereka berdua merasa bersalah dengan Kenan.



“Papi, Key yang menyuruh abang untuk tidak melaporkan hal itu kepada papi! Key tidak ingin kalau papi dan mami khawatir karena hal sekecil itu!” tegas Key.



“Hal kecil katamu?! Memang apa yang sudah kamu alami selama ini? bilang sama papi, apa saja yang sudah di lakukan teman-temanmu saat menindasmu!?” tanya papi Kalandra dengan ketus.



Mendengar pertanyaan papi Kalandra, membuat semua orang menjadi gugup dan tidak bisa mengatakan apa-apa.



“Kenapa tidak ada yang menjawab!? Apa perlu papi menelfon rektor kampus kamu!?” tegas papi Kalandra.



“Mas, jangan marah-marah gitu, kasian anak-anak jadi takut.” ucap mami Khansa.



“Diamlah sayang! aku sedang memarahi mereka, jadi kamu sebaiknya tidak membela mereka.” Tegas papi Kalandra.



“Kalian bertiga segera pergi ke ruang kerja papi! Ada banyak hal yang mau papi bicarakan kepada kalian!” tegas papi Kalandra yang langsung berjalan dengan cepat ke ruang kerjanya.



Kenan, Ken dan Key hanya bisa terdiam saling bertatapan satu sama lain, mereka bertiga tidak tau apa yang akan di bicarakan kepada papinya, mereka bertiga menatap mami Khansa dengan mata yang berbinar meminta pembelaan.



“Jangan menatap mami seperti itu! Mami juga tidak bisa berbuat apa-apa kalau papi kamu sudah marah begitu.” Ucap mami Khansa.




"Iya mi, mami kan pawangnya papi.." lanjut Ken.



“Pawang? kalian fikir papi kalian itu singa ada pawangnya?! sudahlah, lebih baik kalian bertiga segera ke ruangan papi sebelum dia semakin marah.” Ucap mami Khansa.



Mendengar ucapan maminya, Kenan, Ken dan Key hanya bisa menghela nafas panjang dan berjalan menghampiri ruang kerja papinya.



“Ini semua gara-gara kamu Ken! Lihatlah betapa marahnya papi mendengar hal itu!” ketus Key.



“Itu adalah salahmu! Kamu selalu saya bertingkah seenaknya dan seperti anak kecil! Dari awal kita di lahirkan di dunia ini seharusnya kita sudah tau kalau ada banyak orang yang menyukai dan tidak menyukai kita.” Ketus Ken.



“Kalian berdua ini tidak bisa diam ya!? kalian berdua sama saja seperti anak kecil! Jangan berdebat dan renungkan kesalahan kalian masing-masing!” tegas Kenan yang sudah pusing mendengar ocehan kedua adiknya itu.



“Abang, maafkan Ken karena sudah membuat abang di marahin papi.” Ucap Ken yang merasa bersalah.



“Sudahlah tidak usah di permasalhkan! Namanya juga bangkai pasti akan kecium juga baunya.” Ucap Kenan.



\*\*\*



Bernard dan Belinda sedang berada di perusahaan keluarganya, hari itu Belinda tidak ikut pergi ke perusahaan Kenan karena ada beberapa laporan yang harus di kerjakan sedangkan Bernard membutuhkan seseorang untuk di mintai pertolongan.



“Kamu ini kenapa tidak meminta Jonathan untuk membantumu saja sih?” tanya Belinda.



“Aku sudah menyuruh Jonathan untuk melakukan hal yang lain, kamu ini jangan bawel deh Belinda.” Ucap Bernard.



“Ih! Aku kan jadi ga bisa bareng sama Kenan gara-gara kamu!” ucap Belinda.



“Gausah lebay! Justru karena kamu sebentar lagi akan menikah, jadi kapan lagi kamu membantuku di perusahaan.” Ketus Bernard.



Mendengar ucapan Bernard, membuat Belinda terdiam dan melanjutkan pekerjaannya. Di saat sedang serius membaca laporan yang bertumpuk-tumpuk di atas meja kerja Bernard, tiba-tiba saja Jonathan datang dan membuat Bernard dn Belinda terkejut.



“Yaampun Jonathan, kamu ini kenapa sih dateng tiba-tiba begitu?!” ketus Belinda.



“Aku punya kabar tidak enak!” ucap Jonathan.



“Ada apa!?” tanya Bernard yang segera bangun dari kursinya.



“Kenan, Ken dan Key sedang di sidang!”



“Apa!?” teriak Bernard dan Belinda.



“Kenapa? Kenapa mereka bertiga di sidang? Memangnya kesalahan apa yang mereka lakukan?!” tanya Belinda.



“Mereka di sidang oleh om Kalandra! karena Kenan selama ini menyembunyikan kenyataan kalau Key ternyata di tindas oleh teman-temannya.” Jelas Jonathan.



Mendengar ucapan Jonathan, Bernard dan Belinda merasa sedikit lega karena ternyata yang menyidang adalah papi Kalandra.



“Kenapa kalian berdua malah menghela nafas lega begitu? Kalian lupa kalau om Kalandra lebih kejam di bandingkan dengan polisi dan hakim di Indonesia?” tanya Jonathan.



“Kamu tau kabar itu dari siapa Jo?”



“Aku di telfon oleh Lana, Key menghubunginya dan meminta tolong untuk menyelamatkannya dari amukan papinya.” Jelas Jonathan.



“Bagaimana ini, apa kita harus membantunya?” tanya Belinda.



“Jangan Belinda, biarkan mereka mengurus masalah keluarga mereka lebih dulu, kita jangan ikut campur, nanti setelah mereka menghubungi kita, baru kita ajak mereka untuk berbicara dan menghibur mereka.” Ucap Bernard.



“Iya, kamu benar. Kalau begitu ayo cepat kita bereskan laporan ini lebih dulu sebelum pergi ke rumah mereka, aku juga akan menghubungi mami Khansa lebih dulu.” Jelas Belinda.



Mendengar ucapan Belinda, akhirnya Bernard, Belinda dan juga Jonathan segera memeriksa semua laporan yang ada agar lebih cepat selesai.