MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
PENCULIK ANAK?


Mencintai bukan sekedar perasaan. Ia lebih kepada tindakan pengorbanan.



Hari itu Khansa pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan terakhir bersama dengan sahabatnya.



“Lilaa..” teriak Khansa.



“Sasa..” balas Lila dengan berteriak juga.



“Bagaimana kabarmu?” tanya Khansa.



“Baik sa, bagaimana kabarmu? Apa kamu siap untuk melahirkan?”



“Siap tidak siap bukankah harus di hadapi? Bagaimanapun aku sudah menunggu kehadiran anak-anakku ini lil jadi aku pasti siap.”



“Yah jadi mulai bulan depan aku akan sendirian melakukan pemeriksaan?” ucap Lila sedih.



Khansa menepuk pundak sahabatnya itu dan tersenyum.



“Aku akan menemanimu untuk melakukan pemeriksaan bulan depan.”



“Benarkah? Awas ya kalau kamu berbohong.”


Khansa hanya tertawa membalas ucapan sahabatnya itu.



Khansa memasuki ruangan bersama dengan suaminya dan melakukan pemeriksaan.



Di dalam ruangan dokter memeriksa keadaan Khansa dan bayinya.



“Syukurlah semua keadaannya normal, akhir bulan nanti nyonya Kalandra sudah bisa di rawat di rumah sakit ya. Apakah kalian tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak-anak kalian?” tanya dokter itu.



“Tidak dok, saya ingin itu menjadi kejutan untuk kita berdua.” Ucap Kalandra yang tetap menggenggam tangan Khansa dengan erat.



“Baiklah jika begitu, biarkan mereka akan memberikan kejutan untuk kalian sekeluarga.” Ucap dokter kandungan itu dengan senyuman.



Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Kalandra berpamitan kepada Riko dan Lila untuk pulang lebih dulu.



“Loh, kenapa kita pulang duluan mas? Biasanya juga bareng-bareng.” Ucap Khansa kepada suaminya.



“Kita akan menjemput mama dan papa di bandara.” Bisik Kalandra.



“Hah! Apa mas? Mama bilang mereka belum bisa datang ke Indonesia karena pekerjaan papa masih banyak.” Ucap Khansa yang terkejut karena mama mertuanya sudah datang ke Indonesia.



“Sudahlah jangan kelamaan kagetnya ntar kita terlambat jemput papa dan mama.”



Akhirnya Khansa dan Kalandra meninggalkan rumah sakit dan menuju ke bandara untuk menjemput mama Alisha dan papa Arnold.



Khansa dan Kalandra sudah berada di bandara dan duduk di ruang tunggu untuk menunggu kedatangan orang tuanya itu.



“Mas, emang jam berapa mama dan papa sampai?” tanya Khansa.



“Entahlah aku juga tidak tau, mungkin sebentar lagi. Apa kamu capek sayang?” tanya Kalandra.



Khansa menggelengkan kepalanya, “Tidak mas, aku tidak capek hanya saja aku sangat merindukan mama dan papa.”



Kalandra tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.



“Kita tunggu di café dekat bandara saja yuk sayang, kita makan dulu.” Ajak Kalandra.



“Baiklah mas, aku juga sudah mulai lapar.”


Akhirnya Kalandra dan Khansa memutuskan untuk menunggu orang tuanya di café dekat bandara karena mereka berdua sudah merasa lapar.



“Oh iya mas, sudah waktunya Kenan untuk pulang sekolah.”



“Aku sudah menghubungi Ryan untuk menjemput Kenan sayang, tenang saja.”



“Wah ternyata kamu sudah merencanakan semua ini ya mas.” Ucap Khansa kepada sang suami yang hanya di balas senyuman.




Hp Kalandra berbunyi, namun Kalandra sedang memesan makanan. Khansa yang melihat hp suaminya berbunyi akhirnya mencoba untuk mengangkat telfonnya.



“Ha,..” Ucapan Khansa dipotong secara tba-tiba.



“Halo Ndra, aku berhasil melamar Anita dan dia menerima lamaranku!” teriak Edo dari sebrang telfon.



Khansa terkejut tidak percaya mendengar ucapan Edo.



“Beneran kak!? Kakak beneran ngelamar kak Anita!?” tanya Khansa dengan antusias.



“Loh, Khansa? Kalandra kemana?”



“Mas Andra lagi pesan makanan kak jadi aku yang jawab telfonnya. Ngomong-ngomong selamat ya kak akhirnya kakak dan kak Anita akan segera menikah..” Khansa memberikan ucapan selamat dengan tulus kepada Edo.



“Makasih ya sa, jangan lupa kasih tau Andra. Aku matiin dulu ya aku harus kembali bekerja.” Ucap Edo.



Khansa langsung memutus sambungan telfon dari Edo. Dan tidak lama kemudian Kalandra datang menghampiri Khansa dengan membawa makanan di tangannya.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605887142095.jpg)



“Kamu habis jawab telfonku sayang?” tanya Kalandra yang melihat istrinya menaruh hpnya.



“Iya mas, dari kak Edo katanya lamarannya di terima sama kak Anita.” Ucap Khansa memberitahu.



“Benarkah? Baguslah, aku sudah sangat yakin jika Anita akan menerima lamaran Edo.” Ucap Kalandra dengan santai.



“Kamu kok santai banget sih mas, kamu ga ngucapin selamat gitu?”



“Ngapain aku ngucapin selamat, aku kok yang nyaranin dia ngelamar kayak gitu. Sudahlah sekarang lebih baik makan dulu, aku yakin anak-anak kita sudah mulai lapar di dalam perutmu.” Ucap Kalandra yang menyuruh Khansa untuk memakan makanannya.



Sekolah Kenan


Ryan sudah berada di depan sekolah Kenan untuk menjemputnya sesuai dengan permintaan Kalandra.



Ada banyak wanita yang berusaha untuk menarik perhatian Ryan, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang keluar dari mobil.


Wanita itu adalah Rose yang ikut menjemput Kenan bersama dengan Ryan. Rose merasa risih dengan para wanita yang mencoba menarik perhatian Ryan akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil.


“Kamu ngapain keluar Rose?” tanya Ryan.


“Kenapa emangnya? Kamu kesenengan ya di liatin sama wanita-wanita itu?”


“Hahaha, jadi seorang berlian sedang cemburu dengan para batu?” ucap Ryan yang membuat Rose menjadi bingung.


“Hah? Maksudnya berlian sama batu apaan? Kamu kalo ngomong yang jelas deh kak.”


“Kamu sedang cemburu kepada wanita-wanita itu, ibaratnya kamu sebongkah berlian sedangkan mereka hanya para batu yang menghiasi tanah.” Ucap Ryan menjelaskan kepada Rose.


Rose hanya mengangguk setelah mengerti penjelasan yang di ucapkan Ryan.


“Mas, katanya Kenan sudah waktunya pulang tapi kok jam segini masih belum keluar?” tanya Rose.


“Iya juga ya, sebentar deh aku coba tanya sama gurunya.” Ucap Ryan yang memutuskan untuk masuk ke dalam dan bertanya dengan salah satu guru yang ada di sana.


“Permisi, apakan anak-anak masih belum waktunya pulang?” tanya Ryan kepada salah satu guru yang ada di depan kelas.


“Anda siapa ya?” tanya guru tersebut.


“Saya papanya Kenan, saya kemari untuk menjemput Kenan. Tapi saya belum melihat Kenan keluar dari kelasnya.” Jelas Ryan.


Guru itu merasa aneh dan menatap Ryan dengan sangat teliti dari atas hingga ke bawah dengan tatapan menyelidik.


Ryan yang merasa risih karena di lihat seperti itu hanya bisa menatap guru tersebut dengan tatapan aneh.


“Permisi, kenapa ibu ngeliatin saya seperti itu?” Ryan memberanikan diri untuk bertanya kembali.


“Saya sangat paham modus penculik yang berpura-pura menjadi orang tua murid, anda ganteng-ganteng penculik anak ya? saya itu tau papanya Kenan yang mana, jadi anda tidak bisa membohongi saya.” Ketus guru tersebut.


Ryan merasa semakin tidak mengerti apa yang di maksud dengan guru Kenan itu. Namun setelah berfikir, akhirnya Ryan tau di mana letak kesalahannya.


“Ah, saya rasa ibu salah paham sama saya. Saya bukan penculik, saya di suruh Kalandra untuk menjemput Kenan, saya dan Kalandra adalah sahabat jadi saya menganggap Kenan seperti anak saya sendiri.” Ucap Ryan yang berusaha untuk menjelaskan kepada guru tersebut.


“Saya tidak percaya, lebih baik anda pergi sebelum saya memanggil satpam kemari.” Ketus guru itu.


“Ibu bisa panggil Kenan sekarang untuk memastikan kebenarannya.”


Tiba-tiba bel berbunyi dan Kenan keluar dari kelasnya lalu melihat keberadaan Ryan di depan kelasnya.



“Papa!?” teriak Kenan yang langsung segera berlari ke arah Ryan.


Guru yang tadi berbicara dengan Ryan merasa terkejut dan merasa aneh dengan kejadian itu.


“Kenan, ini beneran papa Kenan?” tanya guru tersebut kepada Kenan untuk memastikan.


“Iya bu, ini adalah papa Kenan. Kenan punya dua papa dan sebentar lagi akan memiliki dua mama juga.” Jelas Kenan.


“Wah, saya yang salah pak, mohon maafkan kesalahan saya. saya benar-benar tidak tau jika anda benar-benar papanya Kenan.” ucap guru tersebut merasa bersalah.


“Tidak apa-apa, saya senang dengan ke ketatan penjagaan di sekolah ini, sekarang memang banyak modus penculik anak yang bermacam-macam.” Ucap Ryan sambil tersenyum lalu meninggalkan guru tersebut.


“Kenapa kehidupan orang kaya membingungkan sekali.” batin guru tersebut sambil tersenyum kepada Ryan.