
Hargailah dia yang menerimamu apa adanya, yang tak menuntutmu harus sesuai yang dia mau. Perjuangkan dia.
“Ryan!” semua orang berteriak melihat pintu Ryan sudah terbuka.
“Khansa dan Kalandra kalian masuklah, Edo sama mama tunggu di luar.” Ucap Ryan.
Khansa dan Kalandra segera masuk ke dalam kamar Ryan yang sangat berantakan itu, Ryan menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
“Kenapa Edo ga boleh masuk?” tanya Kalandra.
“Sebenernya aku cuma mau biarin Khansa masuk, tapi aku juga gamungkin berduaan doang sama istri orang di dalam kamar.” Ketus Ryan.
“Bener juga ya, untung kamu tau diri.” Ucap Kalandra.
“YaAllah kak Ryan, ini apa-apaan seumuanya sampe pecah gini.” Ucap Khansa sambil melihat barang-barang yang sudah berserakan di bawah.
Ryan hanya diam tidak menjawab pertanyaan Khansa. Khansa menoleh ke arah Ryan dan menghela nafas panjang.
“Kak. Aku tau kamu ada masalah sama Rose ya?” tanya Khansa yang membuat Ryan terkejut.
“Bagaimana kamu bisa tau sa? Apa kam mengetahui sesuatu!?” tanya Ryan sambil mencengkram bahu Khansa dengan cukup kuat.
“Aw, lepasin dong kak.” Khansa merasa kesakitan karena cengkraman Ryan yan cukup kuat, Kalandra yang melihatnya segera menghampiri Khansa namun Ryan sudah melepaskan cengkramannya.
Kalandra segera merangkul Khansa, sedangkan Ryan yang menyadari kesalahannya itu langsung melepaskan cengkramannya dari Khansa.
“Maaf sa, aku ga maksud nyakitin kamu.” Ucap Ryan yang merasa bersalah.
“Tidak apa-apa kak aku baik-baik saja.” ucap Khansa.
“Apanya yang tidak apa-apa sa.” Ketus Kalandra yang di tahan oleh Khansa agar tidak emosi.
Khansa mendekati Ryan yang sedang menatap ke luar jendela.
“Kak, tau ga sih kalau Rose itu cinta banget sama kakak. Mungkin aku ga bisa bantu hubungan kalian sampai jauh, tapi aku hanya ingin mengatakan kepada kakak, kalau kak Ryan seperti ini terus Rose akan merasa sangat sedih, percayalah kepada Rose pasti ada alasan di balik ini semua, jangan pernah berhenti berjuang untuk kembali mendekatinya kak, buatlah dia nyaman sampai akhirnya dia siap menceritakan masalah yang menimpanya.” Jelas Khansa.
“Apa dia tidak meninggalkanku karena laki-laki lain?” tanya Ryan yang dibalas gelengan kepala oleh Khansa.
“Tidak kak, dia tidak meninggalkanmu karena laki-laki lain, jadi tetap berjuang untuk kembali mendapatkan kepercayaannya oke?” ucap Khansa dengan tersenyum manis.
“Ndra, sepertinya tidak akan ada yang bisa marah kepada istrimu ini.” ucap Ryan kepada Kalandra sambil tersenyum.
“Tentu saja, bahkan saat aku marahpun aku akan langsung tersenyum jika melihatnya.” Balas Kalanda yang di susul tawa semua orang.
Khansa bersyukur karena perkataannya bisa membuat Ryan kembali bersemangat dan memberikan harapan kepada Ryan.
“Sayang, emang kamu yakin Rose ninggalin Ryan bukan karena laki-laki lain?” tanya Kalandra dengan berbisik.
“InsyaAllah yakin sih mas.” Balas Khansa.
Setelah membuat Ryan kembali bersemangat, Kalandra dan Khansa memutuskan untuk pulang ke rumah mereka, sedangkan Edo yang sedaritadi mengobrol dengan mamanya Ryan tidak menyangka jika Kalandra dan Khansa bisa membujuk Ryan secepat itu.
“Lah kalian sudah mau pulang? Terus aku buat apa di sini?” tanya Edo.
“Kamu kan nemenin tante ngobrol biar ga khawatir lagi sama Ryan.” Ucap Kalandra.
Khansa yang mendengar pembicaraan Edo dan suaminya hanya menggelengkan kepala dan menghampiri mama Ryan.
“Tante, kak Ryan sudah baik-baik saja sekarang. Khansa dan mas Andra pamit ya tante, jika ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi mas Andra atau menghubungi Khansa.” Ucap Khansa sambil memegang tangan mama Ryan.
“Terimakasih banyak karena kalian bertiga mau membantu tante..” ucap mama Ryan kepada Kalandra, Khansa dan Edo.
Mereka bertiga hanya tersenyum menanggapi ucapan mama Ryan dan berpamitan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
“Oh iya sayang, besok malam kita di undang ke acara pesta ulang tahun adiknya tuan Aldi.” Ucap Kalandra.
“Tuan Aldi CEO perusahaan C kan mas?” tanya Khansa memastikan.
“Hm, aku lupa yang mau ngasih tau kamu tadi.”
“Mumpung masih sore mas, ayo kita cari baju kamu tau kan gaunku sedikit.” Ucap Khansa.
“Wah hebatnya suamiku, kenapa kamu ga sekalian buat butik pribadi di rumah sayang.” canda Khansa.
“Bolehkah? Jika kamu mengijinkan aku akan segera membuka butik di rumah kita.” Ucap Kalandra yang membuat Khansa tidak menyangka mendengarnya.
“Ha? aku bercanda mas, awas aja sampe kamu buat butik beneran aku robohin ntar.” Ancam Khansa yang di balas tawa oleh Kalandra.
Sesampainya di rumah, Kalandra dan Khansa di sambut oleh putra kesayangannya di halaman rumah.
“Papi, mami. Kalian habis dari mana? Kenapa Kenan cari di dalam rumah ga ada?” tanya Kenan yang langsung berlari ke arah orang tuanya.
“Mami dan papi habis dari rumah papa Ryan sayang.” ucap Kalandra.
“Kenapa ke rumah papa Ryan? Apa papa Ryan sakit pi?”
“Tidak sayang, hanya ada sedikit masalah tapi sudah beres sayang, sudahlah ayo kita masuk di luar mulai dingin nanti kamu masuk angin.” Kalandra mengajak Kenan untuk masuk ke dalam rumah diikuti oleh Khansa.
“Kamu lapar sayang?” tanya Khansa.
“Tidak mami, tadi Kenan udah makan di masakin bi Rini.” Ucap Kenan.
“Baiklah, sekarang Kenan mau ngapain sayang?”
“Bagaimana kalau sekarang kita tiduran bersama di kamar papi dan mami sambil bercerita-cerita.” Ajak Kenan.
Kalandra dan Khansa tersenyum mendengar ucapan Kenan dan mengangukkan kepalanya.
“*Ini kesempatan bagus untuk berbicara kepada Kenan*.” batin Khansa.
Kenan langsung naik ke atas tempat tidur papi dan maminya dan tersenyum bahagia karena ingin mendengar cerita dari papi dan maminya.
Kalandra mulai bercerita tentang tuan putri dan pangeran katak dan membuat Kenan bosan mendengarnya karena cerita itu selalu ia dengar di manapun.
“Papi, bisakah menceritakan cerita yang lain? Dimana-mana Kenan selalu mendengar cerita itu.” Protes Kenan.
Khansa tertawa mendengar ucapan Kenan kepada Kalandra, dia juga sebenarnya tidak menyangka jika suaminya akan menceritakan dongeng sejak jaman dulu.

“Bagaimana jika giliran mami sekarang?” ucap Khansa.
Kenan mengangguk dan melihat ke arah maminya dengan bersemangat.
“Sayang, kenapa kamu tidak mau berteman dengan Belinda?” tanya Khansa, Kenan yang mendengarnya tiba-tiba merubah ekspresinya.
“Mi, sebenarnya ada banyak cewe-cewe di sekolah yang mau temenan sama Kenan tapi pas Kenan tolak mereka langsung ngejauhin Kenan, cuma Belinda doang yang tetep deketin Kenan kan Kenan jadi risih.”
“Sayang, itu tandanya Belinda memang bersungguh-sungguh ingin menjadi temanmu. Coba Kenan bayangkan jika Key ada di posisi Belinda, bagaimana perasaan Kenan jika adik Kenan diperlakukan seperti itu oleh teman laki-lakinya?” tanya Khansa.
“Kenan marah lah mi.” sahut Kenan.
“Nah, perasaan Kenan itu sama dengan perasaan kakaknya Belinda yang melihat adiknya di gituin sama Kenan.”
“Tapi dia diam saja tuh mi.”
“Karena dia benar-benar menganggap Kenan sebagai sahabatnya dan tidak ingin hubungan persahabatan kalian rusak karena masalah itu, jika tidak dia mungkin akan memarahi Kenan karena sudah galak dengan adiknya.” Jelas Khansa, Kalandra yang mendengarnya tersenyum karena paham dengan apa yang dimaksud istrinya.
“Benarkah mi? apa Kenan terlalu berlebihan ya mi?”
“Coba Kenan pikirkan kembali dan tanya kepada diri Kenan sendiri di mana kesalahan Kenan.” ucap Khansa.
“*Kamu memang selalu memiliki cara untuk memberi pelajaran dan pengertian kepada anak-anak kita tanpa memarahi dan membentak mereka*.” Batin Kalandra sambil tersenyum ke arah istrinya.

Kamar Ryan
Ryan yang baru saja mendapatkan harapan karena mendengar ucapan Khansa memutuskan untuk mengambil hp yang tadi dia lempar dan mencoba untuk kembali menghubungi Rose namun tetap saja nomernya tidak bisa di hubungi, akhirnya Ryan memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Rose.
“Rose, aku tau kamu memutuskan hubungan denganku tapi aku tidak akan menerima hal itu, aku tau kamu saat ini sedang memiliki masalah sehingga kamu mengakhiri hubungan kita dan aku ingin menjadi sandaran untukmu saat kamu menghadapi masalah, aku tidak akan meninggalkanmu disaat kamu sedang terpuruk. Ingatlah, aku adalah rumah dimana kamu bisa pulang kapanpun kamu mau Rose, aku mencintaimu.”
Ryan mengirimkan pesan yang cukup panjang kepada Rose dan berharap agar Rose bisa membacanya dan akan membalas pesannya.