
Jika kita ingin disukai maka akuilah setiap kesalahan tanpa menuntut besarnya kebajikan yang telah kita lakukan.
Setelah mendapatkan hadiah istimewa dari suaminya, Khansa sangat senang terutama mengenai bi Rini, ia merasa aneh karena tiba-tiba saja suaminya ingin mempekerjakan bi Rini kembali.
Khansa dan Kalandra sedang berbincang di kamar mereka.
“Mas? Kamu beneran kembali mempekerjakan bi Rini?” tanya Khansa.
“Iya sayang, bukankah kamu bilang jika semua orang memiliki kesempatan kedua? Aku ingin lihat apakah perkataanmu benar dan bisa di pertanggungjawabkan.” Ucap Kalandra.
“Bisa mas, semoga saja bi Rini bisa berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.” Ucap Khansa.
Tiba-tiba bi Rini datang dan mengetuk pintu kamar majikannya. Khansa membukakan pintu dan melihat bi Rini yang berada di depan pintu.
“Ada apa bi?” tanya Khansa.
“Em,, ada yang ingin saya bicarakan dengan tuan dan nyonya.” Ucap bi Rini.
Khansa tersenyum ke arah bi Rini dan berbalik menuju suaminya yang sedang berbaring di atas tempat tidur.
“Mas, bi Rini ingin berbicara kepada kita.” Ucap Khansa.
Kalandra segera beranjak dari tempat tidurnya lalu mengajak Khansa dan bi Rini ke ruang tamu.
Kalandra dan Khansa sudah duduk di sofa ruang tamunya sedangkan bi Rini berdiri di hadapan mereka lalu tiba-tiba dia berlutut.
“Astaga bi Rini, apa yang bi Rini lakukan? Jangan seperti ini bi..” ucap Khansa yang langsung berdiri dan menghampiri bi Rini, sedangkan Kalandra hanya mengerutkan keningnya melihat yang di lakukan bi Rini.
“S,,saya ingin meminta maaf secara langsung kepada tuan Andra, saya benar-benar tidak memiliki pilihan lain saat itu saya mohon maafkan saya. Saya tidak menyangka jika kakak tuan bisa melakukan hal yang membahayakan nyawa tuan.” Ucap bi Rini dengan penuh penyesalan.
“Sudahlah bi, tidak usah mengingat kejadian yang sudah lewat, toh aku sudah kembali sehat seperti dulu.” Ucap Kalandra.
“Bangunlah bi, mas Andra sudah memaafkan bibi dan melupakan kejadian saat itu.” Ucap Khansa yang membantu bi Rini berdiri.
“Terimakasih banyak tuan, saya juga ingin berterimakasih karena tuan telah menjamin keselamatan anak saya di kampung.” Ucap bi Rini.
Khansa sedikit terkejut dengan perkataan bi Rini, Khansa tidak menyangka jika suaminya itu sampai menjamin keselamatan anak bi Rini.
Tidak lama kemudian, Kenan tiba di rumah papinya bersama dengan Ryan.
“Mami…” teriak Kenan yang tidak mengetahui keberadaan bi Rini.
Kenan menoleh ke arah wanita yang berada di sebelah maminya dan terkejut karena wanita tersebut adalah bi Rini.
“Bibi..” ucap Kenan yang langsung memeluk bi Rini.
Sedangkan bi Rini sedikit terkejut mendapat pelukan dari tuan mudanya itu, bi Rini tidak menyangka jika Kenan tidak membencinya dan bahkan Kenan sedang memeluknya.
“Tuan muda Kenan, bibi senang sekali bisa bertemu denganmu.” Ucap bi Rini membalas pelukan Kenan.
“Kata mami, tidak baik membenci orang. Dan setiap orang itu berhak mempunyai kesempatan ke dua.” Ucap Kenan.
Bi Rini sangat bersyukur dia masih diterima dengan lapang dada di rumah keluarga Kalandra.
tepat pada hari ini, usia kandungan Khansa sudah memasuki usia 8 bulan dan perutnya juga semakin membesar.
Kalandra semakin overpritektif dengan apa yang dikerjakan istrinya begitu pun dengan Kenan yang selalu melarang maminya naik turun dari tangga.
“Mas, aku ga boleh turun tangga sama Kenan.” protes Khansa kepada suaminya.
“Hm, biarkan saja. Kamu memang tidak boleh naik turun tangga sayang. Apa kamu tidak ingat kamu pernah hampir terjatuh di tangga!?” ketus Kalandra.
Memang benar jika Khansa pernah hampir terjatuh di tangga karena tidak berhati-hati dan mengakibatkan semua orang mengkhawatirkannya.
“Lalu kalau aku lapar bagaimana?” tanya Khansa.
“Di atas meja sebelah tempat tidurmu ada tombol yang tersambung dengan bel di dapur, kalo kamu lapar kamu bisa menekan tombol itu sehingga bi Rini bisa membawakan makanan untukmu.” Jelas Kalandra.
“Yaampun ini sih aku bakalan jadi bengkak ga gerak sama sekali.” batin Khansa.
“Tapi mas, ibu hamil yang mendekati lahiran harus sering berjalan agar lahirannya gampang.” Ucap Khansa.
“Aku kan selalu mengajakmu berjalan saat pagi hari sebelum aku bekerja.”
“Iyasih, yasudahlah sana berangkat bekerja, jangan lupa antar Kenan.” ucap Khansa dengan nada kesal.
Tok,,tok,,tok.
“Mami..” panggil Kenan sambil membuka sedikit pintu kamar maminya.
“Hai anak mami sudah siap untuk bersekolah ya?” tanya Khansa.
“Iya mami, Kenan sudah siap untuk bersekolah. Kenan mau ijin sama mami.” Ucap Kenan yang dengan segera menghampiri maminya untuk mencium punggung tangannya.
“Semoga Kenan menjadi anak yang pintar ya sayang, dan jangan lupa untuk sarapan terlebih dahulu.” Ucap Khansa sambil mencium pucuk rambut putranya itu.
Kenan hanya tersenyum menanggapi ucapan maminya dan mengecup pipi kanan dan kiri maminya secara bergantian, setelah itu Kenan langsung keluar dari kamar orangtuanya dan menuju dapur untuk sarapan terlebih dahulu.
“Kamu juga sarapan dulu mas, jangan bekerja dengan keadaan prut kosong.” Ucap Khansa mengingatkan suaminya.
Kalandra menghampiri Khansa dan menghujani seluruh wajah istrinya itu dengan ciuman tanpa terkecuali.
“Aku pamit dulu ya sayang, inget kalo ada apa-apa segera hubungi aku.” Ucap Kalandra yang hanya dibalas senyuman oleh Khansa.
Setelah menunggu dan memastikan jika suami dan anaknya sudah berangkat, Khansa segera menghubungi seseorang.
“Halo Rose?” ucap Khansa.
“Halo kak, ada apa?” tanya Rose.
“Kamu dimana sekarang Rose?”
“Aku di kantor menemani kak Ryan bertemu klient kak.”
“Astaga sebenarnya kamu ini asistenku apa asisten kak Ryan sih Rose?”
“Entahlah, tuan Andra sepertinya labil kak, dia tiba-tiba menyuruhku untuk menjadi asisten kak Ryan.”
“Hm, yasudahlah padahal aku sedang bosan di rumah tadinya ingin menyuruhmu untuk menemaniku di sini.” Ucap Khansa dengan nada lemas.
“Mungkin setelah aku menemani kak Ryan bertemu dengan klient aku akan segera ke sana kak untuk menemanimu.” Ucap Rose berusaha membujuk Khansa.
“Benarkah?” tanya Khansa antusias.
“Benar kak, aku akan segera kesana untuk menemanimu, sekarang kakak beristirahatlah dulu agar tidak kelelahan.” Ucap Rose.
Khansa yang menuruti ucapan Rose dengan segera mematikan telfonnya dan menaruhnya kembali di meja tempat tidur di sebelahnya.
Khansa berusaha untuk memejamkan matanya dan tertidur, namun dia tidak bisa tertidur sama sekali.
“Ah, aku tidak bisa tertidur bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan.” Gumam Khansa.
Akhirnya Khansa memutuskan untuk menekan tombol yang ada di sebelah tempat tidurnya agar bi Rini datang ke kamarnya.
Tidak lama setelah Khansa menekan bel, bi Rini datang menghampirinya.
“Ada apa nyonya? Saya membawakan buah untuk nyonya.” Ucap bi Rini yang baru saja memasuki kamar Khansa.
“Bi, sasa bosan di kamar terus.” Rengek Khansa.
“Aduh, bi Rini tidak bisa melakukan apapun karena tuan Andra tidak mengijinkan nyonya untuk keluar dari kamar kecuali bersamanya.” Ucap bi Rini.
“Yasudah bi, bibi di sini aja nemenin sasa ya..” ucap Khansa.
Akhirnya bi Rini menemani Khansa dan membicarakan berbagai hal sampai Khansa merasa mengantuk dan akhirnya tertidur.