MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
BUCKET BUNGA


Merelakan segala sesuatu yang hilang dan pergi itu berarti membuatmu membuka pintu kembali bagi yang baru dan tentu lebih baik. Dunia merupakan aliran ujian, jadi jangan pernah berhenti memaknainya.



Hari itu Kalandra bekerja tanpa di temani oleh istrinya karena Khansa sudah sangat kelelahan dan Kalandra menyuruh istrinya untuk beristirahat di rumah bersama anak-anaknya.



Selama bekerja, Kalandra selalu diam dan sering sekali melamun sampai Edo tidak habis fikir karena Kalandra yang selalu fokus dalam pekerjaan bisa melamun saat jam kerja.



“Woi Ndra, perasaan dari tadi aku liat kamu bengong mulu lagi mikirin apaan sih?” tanya Edo.



“Ntahlah, kayaknya sepi aja gitu ga ada Khansa dan anak-anak di kantor.”



Edo hanya menganga dan menggelengkan kepala karena melihat sahabatnya yang galau karena berjauhan dengan istri dan anak-anaknya.



“Apa aku bakalan kayak gitu juga ya setelah menikah nanti?” batin Edo.



“Oh iya do, gimana rencana melamar Anita? Sukses kan?” tanya Kalandra yang baru ingan jika Edo baru pulang dua hari yang lalu dari rumah orang tua Anita di luar negeri.



“Nanti aja lah aku ceritain, kita kumpul aja yuk aku juga akan mengajak Ryan untuk bertemu di café dekat perusahaan.” Ajak Edo yang di balas anggukan oleh Kalandra.



Setelah mendapat persetujuan dari Kalandra, akhirnya Edo segera menghubungi Ryan untuk bertemu di café dekat perusahaan Kalandra.



Kalandra, Edo dan Ryan sedang berada di café dekat perusahaan Kalandra untuk berkumpul dan berbincang-bincang.



“Apa kamu tidak akan melakukan apapun Ndra?” tanya Ryan kepada Kalandra.



“Iya Ndra, apa kamu akan tetap diam seperti ini? apa kamu ga khawatir kalau dia akan mendekati Khansa?” lanjut Edo.



“Aku diam saja bukan karena aku takut kepadanya, tapi aku tau dia seperti itu karena kesalah pahaman di masa lalu, padahal papa dan mama sudah menjelaskan semua kepadanya bahkan pelayan di rumah kami waktu itu juga sudah di pecat, tapi dia sudah terlanjur membenciku karena dia menganggapku pengganggu.” Ujar Kalandra.



“Tapi kalau sudah ngelunjak kamu juga harus bertindak Ndra, jangan sampai kejadian yang di alami Kenan akan terulang kembali.” Ucap Ryan.



“Jika aku bertindak dia akan semakin menjadi dan akan semakin membenciku, padahal dari dulu aku tidak pernah menginginkan apa yang dia inginkan, dan sampai sekarang aku masih menyayanginya sebagai kakakku. Aku menyesal kenapa aku tidak pernah mengatakan jika aku benar-benar menyayanginya.” Jelas Kalandra.



“Apa jangan-jangan dia mendekati Hani saat itu juga karena tau kalau kamu menyukainya?” tanya Edo.



Ryan dan Kalandra saling menatap satu sama lain lalu menoleh ke arah Edo secara bersamaan, sedangkan Edo yang mendapat tatapan secara serentak itu hanya bisa menelan ludah karena tidak paham apa yang ada di fikiran kedua sahabatnya itu.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1607238550388.jpg)



“A,,apa? Kalian ngajak ribut ya ngeliatin aku sampe kayak gitu?” ucap Edo dengan tergagap.



“Ternyata kamu pintar juga ya do, aku aja ga kepikiran masalah itu aku kira mereka bertemu karena memang kebetulan.” Ucap Kalandra.



“Tidak ada yang kebetulan di dunia ini Ndra.” Ucap Ryan.



“Sudahlah aku akan memikirkan hal ini di rumah, aku akan kembali ke rumah.” Ucap Kalandra.




“Engga yan, Khansa katanya capek jadi dia beristirahat di rumah, makanya dari tadi si Andra lemah lesu tak berdaya.” Ucap Edo dengan nada mengejek.



Rumah Kalandra


Khansa sedang beristirahat di kamar anaknya sambil menunggu Kenan dan Kalandra pulang ke rumah, Khansa memutuskan untuk pergi ke dapur dan membuatkan camilan untuk suami dan anaknya karena tidak bisa tertidur.


Khansa memanggil mama mertuanya dan bi Rini untuk membawa ketiga bayi mungilnya ke bawah, sebenarnya Alisha sudah mengusulkan untuk membangun lift di rumah agar memudahkan membawa ketiga anak-anaknya menggunakan stroller bayi dan sudah di setujui oleh Kalandra, namun Khansa menolaknya karena tidak ingin membuang-buang uang.


“Yaampun sa, mama kan udah bilang buat lift aja uang Kalandra ga akan habis kalau hanya untuk membuat lift.” Protes Alisha yang sedang menggendong Rey.


“Engga ma, anak-anak itu cepat besarnya terus kalo mereka sudah besar liftnya tidak bisa di gunakan lagi.” Ucap Khansa.


“Iya deh iya sa, mama ngalah aja sama kamu.” Ucap Alisha pasrah.


Setelah sampai di bawah, mereka menaruh Ken, Rey dan Key di kasur yang memang di sediakan untuk mereka bertiga di bawah.


“Nyonya, ada kurir yang mengirimkan bunga.” Ucap satpam rumah Kalandra.


“Suruh masuk saja pak.” Ucap Alisha.


Kurir bunga tersebut masuk ke dalam rumah dan memberikan bucket bunga kepada Khansa.


“Ini siapa yang ngirim ya pak?” tanya bi Rini kepada kurir bunga tersebut.


“Saya juga ga tau bu, saya hanya di suruh mengantarkan bunga ini untuk nyonya Khansa.”


Khansa yang merasa namanya dipanggil segera menghampiri bi Rini yang sedang berbicara dengan kurir bunga tersebut.


“Saya Khasa pak, saya akan mengambil bunga ini. terimakasih ya pak.” Ucap Khansa.


“Bunga dari siapa sa?” tanya Alisha.


“Khansa juga ga tau ma.” Ucap Khansa sambil melihat kertas yang ada di dalam bucket bunga itu.



‘Kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku temui’


Khansa tersenyum membaca tulisan yang ada di dalam bunga itu, ia mengira Kalandra yang mengirim bunga itu untuknya.


“Kayaknya dari mas Andra ma.” Khansa menaruh bunga tersebut di sofa ruang tamu dan melanjutkan niatnya untuk membuatkan camilan untuk suami dan anaknya.


Alisha menghampiri menantunya dan berniat untuk melihat apa yang di buat oleh Khansa.


“Kamu buat apaan sih sa?” tanya Alisha.


“Buat camilan ma, sebentar lagi mas Andra dan Kenan akan pulang jadi Khansa mau membuatkan camilan untuk mereka.”


“Baiklah, mama sama anak-anak aja ya sa.” Ucap Alisha lalu meninggalkan Khansa dan bi Rini yang berada di dapur.


Khansa membuat camilan dengan sepenuh hati sambil bersenandung, sedangkan Kalandra dan Kenan sudah masuk ke dalam rumah, Kenan melihat neneknya sedang berada di ruang tamu bersama adik-adiknya segera menghampiri mereka.


Seperti biasa, Kenan mencium punggung tangan neneknya terlebih dulu lalu duduk di sebelahnya.


“Nek, maafin Kenan ya Kenan sudah marah sama nenek. Kenan sayang banget sama nenek.” Ucap Kenan sambil memeluk tubuh neneknya itu.


“Tidak apa-apa sayang, nenek juga minta maaf ya karena nenek sudah berbohong sama Kenan.” ucap Alisha yang di balas anggukan oleh Kenan.


“Mami dimana nek?” tanya Kenan.


“Ada di belakang sayang sedang membuat camilan untukmu dan papi kamu.”


Akhrinya Kenan dengan bersemangat menghampiri maminya dan memeluknya dari belakang, Khansa terkejut karena ada tangan kecil yang memeluknya dari belakang.


“Anak ganteng mami sudah pulang ya sayang.” ucap Khansa sambil mencium pipi kanan dan kiri Kenan.


“Iya mi, Kenan kangen banget sama mami.” Ucap Kenan.


Sedangkan di ruang tamu Kalandra yang baru saja masuk ke dalam rumah melihat bucket bunga yang berada di sofa ruang tamunya.


“Ini dari siapa ma?” tanya Kalandra kepada mamanya.


“Loh bukan dari kamu Ndra?” tanya Alisha, kalandra yang mendengar ucapan mamanya itu merasa heran dan menggelengkan kepalanya.


Kalandra mengambil bucket bunga tersebut dan melihat catatan yang ada di dalam bunga tersebut, Kalandra sangat kesal setelah membaca pesan yang ada di bunga itu, dengan segera Kalandra menghampiri Khansa yang berada di dapur dan menarik tangannya sampai di kamar.


Alisha yang melihat kejadian itu mulai merasa ada yang aneh di antara mereka berdua, Kenan juga sedikit merasa ketakutan melihat wajah papinya yang tiba-tiba berubah seperti orang yang sedang marah.


“Nek, papi kenapa narik mami kayak gitu?” tanya Kenan kepada neneknya.


Alisha hanya menarik Kenan ke dalam pelukannya untuk mencoba menenangkan cucunya itu.


“Sebenarnya ada apa hingga Kalandra semarah itu?” batin Alisha yang menatap ke atas.