
Hari ini adalah akhir pekan, Kalandra berjanji kepada Khansa dan Kenan untuk mengajak mereka pergi membeli perlengkapan anak kembarnya.
Kenan sangat antusias ingin membeli perlengkapan adik-adiknya. Kenan memang sudah menunggu sejak lama ingin membeli barang untuk adik-adiknya.
“Papi ayo kita berangkat sekarang.” Ucap Kenan kepada papinya yang baru saja selesai mandi.
“Sabar sayang, memangnya kamu sudah mandi?” tanya Kalandra.
“Sudah pi, Kenan sudah siap. Ayo papi cepat pakai baju pi”
“Astaga tunggu sebentar Kenan, tidak ada mall yang buka jam segini.”
“Suruh buka pi, papi kan bosnya.”
“Papi memang bosnya tapi papi juga harus menaati peraturan dan menjadi contoh yang baik untuk karyawan papi.”
Kenan meninggalkan papinya dengan perasaan kecew, ia menuju ke bawah untuk mengadu kepada maminya.
Khansa yang melihat Kenan menuruni tangga dengan wajah yang murung itu merasa aneh.
“Ada apa sayang? Kenapa kamu murung gitu?” tanya Khansa.
“Papi bilang belum ada mall yang buka mi, tapi kan papi bosnya harusnya papi menyuruh karyawan untuk membuka mall.”
“Sayang, menjadi bos juga tidak bisa seenaknya. Sabarlah sebentar lagi kita akan menghabiskan seluruh uang papi untuk membeli barang untuk adik-adikmu.” Ucap Khansa yang mencoba untuk menghibur anaknya itu.
Kenan tersenyum lebar mendengar perkataan maminya itu dan bersabar menunggu sang papi turun dari kamarnya.
Setelah melihat papinya sedang menuruni tangga, Kenan beranjak dari kursinya dengan semangat dan menarik tangan maminya untuk berdiri juga.
“Mami, ayo kita berangkat mi papi sudah selesai bersiap.” Ucap Kenan.
“Iya sabar sayang sabar, pelan-pelan dong nanti kamu jatuh.” Ucap Khansa memperingati anaknya yang terlalu terburu-buru.
Kalandra hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya itu.
Kalandra, Khansa dan Kenan sudah berada di dalam mobil, Kenan yang duduk di bangku belakang terus berbicara tiada hentinya.
Kalandra yang sedang menyetir pun ikut tertawa mendengar ocehan putranya itu.
“Mas, nanti aku ingin membeli kasur, lemari, dorongan dan banyak hal ya.” ucap Khansa kepada suaminya yang masih menyetir.
“Aku sudah menyiapkan kamar yang lengkap dengan isinya untuk anak-anak kita sayang.” ucap Kalandra.
“Loh, kapan? Kenapa aku tidak mengetahui apapun? Kamar yang di sebelah mana yang kamu maksud?” tanya Khansa.
Kenan pun ikut menunggu jawaban dari papinya.
“Dua hari yang lalu? Ya dua hari yang lalu aku menyiapkan semua peralatan mereka di kamar sebelah kita sayang.” jelas Kalandra.
“Terus buat apa kita sekarang ke mall mas?”
“Aku sudah mempersiapkan kamar saja, tapi untuk yang lain-lain seperti dorongan baju dan semacamnya aku belum membelinya.”
“Ah papi ga seru.” Ujar Kenan kepada papinya.
Sekitar 20 menit kemudian mereka sampai di mall yang di miliki oleh Kalandra.
Setelah turun dari mobil dan memasuki mall tersebut, Kalandra mengajak anak dan istrinya untuk makan terlebih dahulu.
“Mas, aku mau es krim.” Rengek Khansa.
“Kenan juga Kenan juga.” Kenan pun menyauti perkataan maminya.
Kaladra hanya menghela nafas mendengar permintaan mereka berdua dan mengiyakan.
Sesampainya di sebuah café di dalam mall tersebut, Kalandra memesan beberapa makanan untuk istri dan anaknya lalu dia juga memesan es krim untuk mereka.
“Aku seperti sedang mengasuh dua anak kecil.” Batin Kalandra yang berjalan ke arah Khansa dan Kenan dengan membawa es krim di kedua tangannya.
“Ini es krim pesanan kalian berdua.” Ucap Kalandra sambil meletakkan es krim tersebut.
Khansa dan Kenan tersenyum lebar dan berseru secara bersamaan.
“Waahhh..” ucap Khansa dan Kenan.
Kalandra melihat Khansa dan Kenan yang memakan es krim dengan nikmat itu hanya tersenyum senang.
“Apa seenak itu?” tanya Kalandra.
Khansa dan Kenan dengan kompak menganggukkan kepalanya ke arah Kalandra.
“Semoga aku akan selalu melihat senyum indah kalian berdua.” Batin Kalandra.
“Mami, papi. Kenan mau ngomong.” Ucap Kenan di tengah-tengah keheninga mereka.
“Ada apa sayang?” tanya Khansa.
“Apa setelah adek-adek lahir mami dan papi akan lebih menyayangi mereka?” tanya Kenan dengan nada lemah.
Khansa dan Kalandra terkejut dan saling menatap satu sama lain mendengar pertanyaan anaknya secara tiba-tiba.
“Sayang, kenapa Kenan bisa bertanya seperti itu? Kenan adalah hidup papi dan mami, papi dan mami tidak akan pernah bersatu jika tidak ada Kenan.” jelas Khansa.
“Kenan, mungkin ada saatnya papi dan mami sibuk mengurus adik-adikmu tapi bukan berarti papi dan mami tidak menyayangimu. Kamu akan tetap menjadi anak kesayangan papi dan mami sampai kapan pun.” Tambah Kalandra.
“Hikss,, Kenan takut jika kalian akan lebih menyayangi adek-adek karena Kenan bukan anak kandung papi dan mami.” Ucap Kenan yang tiba-tiba saja meneteskan air mata.
Khansa segera memeluk Kenan dengan sangat erat begitu pun dengan Kalandra yang ikut memeluk Kenan dengan sangat erat.
“Ingat satu hal, kamu akan selalu menjadi anak kandung papi dan mami, tidak ada yang boleh merubah hal ini.” ucap Kalandra.
Setelah menenangkan Kenan sebenarnya Khansa meminta Kalandra untuk segera pulang saja, namun Kenan menolak dan tetap ingin membeli barang untuk adik-adiknya, akhirnya mereka memutuskan untuk berbelanja peralatan bayi sebentar dan langsung pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Kalandra mengajak Khansa dan Kenan untuk mengikutinya ke kamar bayi yan sudah di siapkan oleh Kalandra.
Di depan kamar, Kalandra membuka pintu secara perlahan sehingga membuat Khansa dan Kenan sangat penasaran.
Akhirnya Kalandra segera membuka pintu kamar tersebut, Khansa dan Kenan tertegun melihat dekorasi kamar yang sudah di persiapkan oleh Kalandra.
“Yaampun mas, ini bagus sekali.” ucap Khansa sambil melihat sekeliling ruangan tersebut.
“Benar pi, ini bagus sekali.” ucap Kenan.
“Tapi kenapa kamarnya besar sekali hanya untuk anak bayi?” tanya Khansa.
“Tentu saja harus besar, bahkan menurutku kamar ini kurang besar sayang, mereka kan berdua jadi mereka membutuhkan kamar yang lebih besar. Pertumbuhan bayi itu sangat cepat.” Jelas Kalandra.
“Benar apa kata papi mi..” ucap Kenan.
Khansa hanya tertawa mendengar Kenan yang hanya mengiyakan ucapannya dan ucapan Kalandra.
Di sisi lain, Edo menghampiri Anita yang baru saja selesai melakukan operasi.
“Hai sayang.” sapa Edo kepada Anita.
“Edo?” Anita terkejut melihat kedatangan kekasihnya yang secara tiba-tiba itu.
“Aku ingin membawamu ke suatu tempat.” Ucap Edo.
“Kemana do? Ini masih jam kerja.”
“Aku tau, tapi bukankah operasimu sudah selesai? Aku hanya ingin membawamu sebentar saja.” ucap Edo.
Setelah berfikir sejenak akhirnya Anita mengiyakan ajakan sang kekasihnya itu.
“Baiklah tunggu sebentar, aku akan mengganti pakaianku lebih dulu.” Ucap Anita yang dibalas anggukan oleh Edo.
Setelah menunggu sekitar 15 menit, Anita menghampiri Edo dan mereka menuju ke tempat yang akan Edo tuju.
“Sebenarnya kamu mau ngajak aku kemana sih do?” tanya Anita.
“Diam dan lihat saja.”
Akhirnya mereka sampai di apartment Edo. Anita tidak mengerti maksud dari suatu tempat itu adalah apartment Edo.
“K,,kamu ngapain ngajak aku ke apartmentmu? Jangan macam-macam ya do, aku akan menelfon Andra dan dia akan memenggal kepalamu jika kamu berani macam-macam denganku.” Ucap Anita sambil menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
Edo hanya menahan tawanya mendengar ucapan sang kekasih, dia menggenggam tangan Anita dan menariknya masuk ke dalam apartmentnya.
Sesampainya di depan pintu kamar, Edo menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Anita.
“A,,ada apa? K,,kenapa kita ada di depan kamarmu?” tanya Anita.
“Tunggu sebentar, aku harus menutup matamu.” Ucap Edo.
Anita semakin gugup dengan perlakuan Edo yang aneh itu.
“*Huaaa,, apakah aku akan kehilangan kesucianku hari ini*?” batin Anita.
Edo hanya menahan tawa melihat kelakuan Anita yang semakin gugup itu.
Edo menutup mata Anita dan membuka kamarnya perlahan lalu membuka penutup mata Anita, dan..

Betapa terkejutnya Anita melihat kamar Edo yang sudah di hiasi berbagai macam balon dan ada sebuah tulisan, WILL YOU MARRY ME.