MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
UNTUNG SAJA AKU MEMILIH ISTRI YANG TEPAT


Rumah Kalandra


Khansa sedang membantu bi Rini menyiapkan sarapan untuk keluarganya di dapur.


“Bi, sasa mau bangunin mas Andra sama yang lainnya dulu ya” ucap Khansa dan di jawab anggukan oleh bi Rini.


Khansa berjalan menuju kamarnya untuk membangunkan suaminya yang masih tertidur dengan nyenyak.


“Loh, mas kok udah bangun?” tanya Khansa yang melihat suaminya ternyata sudah terbangun bahkan sudah mandi dan memakai pakaian kantornya.


“Iya dong sayang, kapan lagi kan suami kamu sepagi ini sudah tampan?”


“Baguslah, aku harap kamu akan selalu seperti ini setiap pagi ya suamiku sayang”


ucap Khansa lalu membalikkan badannya untuk keluar kamar.


Tiba-tiba Kalandra memeluk Khansa dari belakang dan membuat Khansa sangat terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.


“Kamu mau kemana sayang?” rengek Kalandra dengan nada manja seperti anak kecil.


“Kamu apasih mas, aku mau bangunin Kenan sama Leo” ucap Khansa yang berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.


“Kan aku udah bangun pagi, harusnya di kasih hadiah dong sayang..”


“Cup.. Itu hadiah buat kamu pagi ini sayang, semoga setiap pagi aku tidak perlu membangungkan bayi gurita ini” ucap Khansa dengan cekikikan.


“Yah sayang, masa Cuma di cium aja?” tanya Kalandra dengan wajah yang sedih.


“Udah mas gausah protes ya nanti telat. Aku mau bangunin Kenan dan Leo.” Ucap Khansa lalu pergi meninggalkan suaminya yang masih menekuk wajahnya.


Khansa meninggalkan suaminya yang masih berada di kamarnya, lalu Khansa menuju ke kamar Kenan untuk membangunkan Leo dan Kenan.


Sebenarnya ada banyak kamar di rumah Kalandra, namun setiap ada Leo di rumah mereka Leo lebih memilih tidur bersama Kenan karena ia ingin lebih dekat dengan anak kesayangan kakaknya itu.


“Leo, ayo bangun mandi katanya kamu mau diajak mas Andra ke kantor” ucap Khansa


Leo langsung terbangun dan mengucek matanya yang masih terasa berat.


“Kak, emang ngapain sih kak Andra ngajak aku ke kantornya?” tanya Leo yang memang masih belum diberi tau tujuannya diajak ke perusahaan Kalandra.


Khansa hanya menaikkan kedua bahunya kode bahwa dia tidak mengetahui apa-apa padahal Khansa memang sengaja pura-pura tidak mengetahui apa-apa karena ingin suaminya yang memberitau tujuannya mengajak Leo ke perusahaannya.


“Entahlah, sudah cepat mandi mas Andra juga sudah membelikanmu jas untuk menemaninya ke kantor” ucap Khansa sambil menaruh satu stel jas berwarna hitam diatas tempat tidurnya.


Leo yang tidak mengetahui apa-apa itu hanya mengikuti perkataan kakaknya dan segera mandi lalu memakai pakaian yang sudah di siapkan kakaknya itu.


Setelah selesai berpakaian, Leo yang melihat kakaknya masih berada di kamarnya sedang membantu Kenan memakai bajunya.



“Kak, kayaknya aku aneh banget pake baju kayak begini” ucap Leo kepada Khansa.


Khansa menoleh ke arah adiknya dan menatapnya dari atas ke bawah dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Leo yang melihat kakaknya tersenyum merasa bahwa kakaknya sedang mengejek penampilannya.



“Kakak ngejek penampilan aku ya?” tanya Leo dengan kesal.


“Engga kok, penampilan kamu bagus loh, kamu cocok pake baju kayak gitu.” Puji Khansa.


“Serius kak? Tapi aku ngerasa aneh dan kurang nyaman”


“Itu karena kamu belum terbiasa, kalo kamu sering pake baju kayak gini pasti lama-lama terbiasa kok”


“Lagian kak Andra ga ngomong apa-apa ke aku masa tiba-tiba mau di ajak ke perusahaannya? Jangan-jangan aku mau langsung disuruh kerja tanpa kuliah kak”


“Iya kakakku yang bawel, aku ke bawah dulu ya mau nyari kak Andra”


Leo pergi meninggalkan kakaknya yang masih mengurus Kenan.


“Mami, Kenan juga mau pake baju kayak om Leo dan papi” ucap Kenan yang sedang mengancing baju sekolahnya.


Khansa tersenyum mendengar perkataan anaknya itu. “Iya sayang, saat Kenan sudah besar nanti Kenan pasti pake baju kayak papi dan om Leo”


“Tapi Kenan juga mau jadi dokter mi, Kenan mau nyembuhin orang yang sakit” ucapnya.


“Wah mulia sekali cita-cita anak mami ini, terserah Kenan mau jadi apa. Intinya Kenan harus rajin belajar biar pinter, kalo Kenan pinter Kenan tinggal pilih mau jadi apa.” Ucap Khansa menyemangati anaknya untuk rajin belajar.


“Iya mami, Kenan pasti belajar terus biar cita-cita Kenan tercapai.” Ucap Kenan dengan semangat.


Setelah pembicaraan kecil mereka, Khansa dan Kenan langsung turun menuju ruang makan. Disana Kalandra dan Leo sudah menunggu kedatangan mereka untuk sarapan bersama.


Setelah semua orang berkumpul di meja makan, mereka semua memulai sarapan mereka dengan tenang.


“Kak Andra, sebenernya Leo ngapain ikut ke perusahaan kakak?” tanya Leo yang dari tadi memang sudah penasaran.


“Kakak mau kamu belajar tentang urusan perkantoran, Edo juga akan membantu kamu disana. Aku mau kamu mengerti tentang masalah perkantoran sebelum kamu masuk kuliah.” Jelas Kalandra.


“Kenapa? Bukannya kita emang harus belajar dasar-dasarnya dulu saat kuliah baru mulai bekerja?” tanya Leo.


“Memang benar semua harus dari dasar, tapi kalau kamu belajar dasar sabil praktek bukannya lebih mudah dan lebih bagus?” tanya Kalandra.


“Iyasih bener kak, kalo Cuma belajar teori tapi ga di praktekin juga ga akan lancar ya” ucap Leo sambil berfikir.


Khansa dan Kalandra hanya tersenyum melihat Leo yang baru mengerti maksud kakak iparnya itu.


“Oh iya, katanya kakak mau punya anak kembar ya?” tanya Leo kepada Khansa.


“Iya, kamu akan punya 3 ponakan sebentar lagi” ucap Kalandra yang langsung menjawab pertanyaan Leo.


“Kak Andra mau anak cewe apa cowo nih?” tanya Leo


“Cewe lah, kan udah punya cowo”


“Kenan mau punya adik cowo, biar Kenan bisa ajak dia main game sama main bola” Kenan tiba-tiba menyauti perkataan papinya.


“Duh udah gausah mulai rebut deh pagi-pagi, mau cewe atau cowo yang menting mereka sehat di perut mami” ucap Khansa melerai suami dan anaknya agar tidak memulai perdebatan di pagi hari.


“Udah ayo Kenan, Leo bawa piring kalian masing-masing ke belakang jangan nyusahi bibi terus.” Ucap Khansa yang mengajarkan anak dan adiknya agar mandiri dan tidak selalu bergantung kepada pelayan.


Khansa beranjak dari kursinya dan mengambil piring kotornya dan berjalan menuju suaminya untuk mengambil piring kotor.


“Kok aku ga di suruh naro piring kotor ke belakang juga sayang?” tanya Kalandra


“Karena kamu sudah memiliki istri, laki-laki yang sudah menikah harus sepenuhnya di layanin oleh istrinya, jadi kamu sebagai kepala keluarga di rumah ini tugasnya hanya bekerja.” Bisik Khansa pelan tepat di telinga suaminya.


“Untung saja aku memilih istri yang tepat” ucap Kalandra lalu mencium pipi istrinya.


“Ih dasar mencari kesempatan dalam kesempitan.” Ucap Khansa lalu meninggalkan suaminya.


Setelah semua selesai, Kalandra dan Leo bersiap untuk berangkat ke kantor, begitu pun dengan Kenan yang hari ini di antar oleh Kalandra dan Leo ke sekolah.


“Maaf ya sayang, mami ga nganter kamu hari ini. Kasian papi kalo harus bolak-balik nganter mami ke rumah.” Ucap Khansa kepada sang anak.


“Ga apa-apa mami, Kenan sekarang sudah besar.” Jawab Kenan membanggakan dirinya.


“Iya anak mami sudah besar dan pintar. Kenan harus jadi anak yang baik di sekolah ya sayang, mwah” Khansa mencium kening anak kesayangannya.


Setelah berpaitan dengan Khansa, Kalandra mulai melajukan mobilnya. Khansa melambaikan tangannya sambil melihat kepergian mereka.