
Pagi itu Kalandra terbangun lebih awal karena hpnya berbunyi, Kalandra menoleh ke arah Khansa dan melihat Khansa masih tertidur dengan menggunakan lengan kiri Kalandra sebagai bantal.
Kalandra mulai merasakan kram di lengan kirinya tapi dia tidak ingin tidur istrinya terganggu jadi Kalandra mengangkat telfon dengan berbisik agar tidak membangunkan Khansa.
“Halo..” bisik Kalandra.
“Halo Ndra..”
“Ada apa yan?”
“Kamu kok ngomongnya bisik-bisik, emang lagi dimana?”
“Ya lagi tidur, takut Khansa bangun.”
“Pindah tempat lah, aku jadi ikutan bisik-bisik gini jadinya.” Ucap Ryan yang ikut berbisik dari sebrang telfonnya.
“Gabisa, tanganku jadi bantal Khansa ntar dia bangun kalo aku gerak.”
“Astaga kamu lagi jadi suami yang baik dan ngebuat sahabatmu ini iri?”
“Makanya cepat menikahlah agar bisa merasakan bagaimana bahagianya memiliki istri.”
“Ya, setelah kita membebaskan Kenan dan dia memaafkanku baru aku mencari ibu baru untuk Kenan.”
“Baguslah Kenan akan memiliki dua papi dan dua mami.”
“Hahaha, sudahlah nanti saja aku hubungi lagi saat kalian sudah terbangun.”
Akhirnya Ryan mematikan telfonnya dan Kalandra sudah semakin merasa pegal di tangan kirinya.
“Mas, kamu udah bangun daritadi?” tanya Khansa yang baru saja terbangun.
Kalandra hanya tersenyum dan menoleh ke arah istrinya.
“Yaampun mas, kamu pegel ya tangannya aku jadiin bantal?” tanya Khansa yang dengan cepat langsung bangun dari tidurnya.
Kalandra yang merasa beban di tangannya sudah hilang langsung terlihat lega dan memijit legan kirinya.
“Mas kok ga bangunin aku kalo pegell..”
“Engga sayang, mas gamau bangunin kamu. Udah sini tidur lagi.” Ucap Kalandra sambil merentangkan lengan kirinya lagi.
Khansa yang mendengar ucapan suaminya itu hanya memanyunkan bibirnya dan membuang wajahnya karena merasa jika suaminya sedang mengejeknya.
“Ayo sini sayang..” ucap Kalandra sambil menarik istrinya ke pelukannya.
“Mas, lepasin nanti kamu pegel lagi.” Ketus Khansa.
Kalandra hanya semakin mempererat pelukannya ketika istrinya berbicara seperti itu.
“Sudah mas, ayo kita bangun dan bersiap.”
Mendengar ucapan istrinya yang menyuruhnya untuk bersiap akhirnya dia bangun dan menyiapkan dirinya untuk menjemput anak kesayangannya itu.
***Rumah Ryan***
Ryan sedang mempersiapkan dengan matang perlengkapan untuk menyelamatkan Kenan di kamarnya.
“Ryan..” ucap mama Ryan sambil mengetuk pintu kamarnya.
“Iya ma, ada apa?” Ryan membukakan pintu kamarnya untuk mamanya.
“Bisakah mama ikut ke rumah Kalandra juga."
“Gausah ma, mama mau ngajak ribut lagi? Tolong lah ma jangan aneh-aneh.”
“Engga yan, mama mau sekalian minta maaf kesana dan menemani Khansa, bukankah dia akan di tinggalkan di rumah? Mama akan menjaganya.”
Ryan berfikir sejenak, ia takut kejadian saat itu akan terulang kembali dan membuat keadaan semakin rumit. Tapi di sisi lain Ryan juga memikirkan niat baik mamanya.
“Ayolah yan, mama janji mama ga akan buat masalah lagi. Mama mau minta maaf sama Khansa dan Kalandra.”
“Baiklah, tapi janji mama jangan buat masalah lagi ya.”
Mama Ryan mengangguk sambil tersenyum mengiyakan ucapan anaknya.
Ryan akhirnya membawa mamanya ikut bersamanya ke rumah Kalandra.
“Assalamualaikum..” ucap Ryan dan mamanya.
“Waalaikumsalam..” ucap Kalandra, Khansa dan Leo yang kebetulan baru saja selesai sarapan dan berada di ruang tamu.
Khansa dan Kalandra terkejut melihat mama Ryan yang ikut bersamanya. Tiba-tiba saja mama Ryan membungkukkan badannya dan meminta maaf kepada Khansa dan Kalandra.
Dengan cepat Khansa menghampiri mama Ryan dan memegang kedua bahunya untuk menegakkannya dan memegang tangannya.
“Tante ga perlu minta maaf, Khansa yang harus minta maaf karena sudah kurang ajar sama tante waktu itu. Maaf ya tante..” ucap Khansa sambil menundukkan kepalanya.
“Tidak sayang, tante minta maaf karena sudah menyalahkan kalian sedangkan kalian lah yang selama ini merawat Kenan.” ucap mama Ryan lalu memeluk Khansa.
Ryan bersyukur karena melihat jika mamanya ternyata benar-benar tulus meminta maaf kepada Khansa dan Kalandra.
Kalandra dan Ryan sudah bersiap untuk menuju ke lokasi, Kalandra menaruh alat pelacak di bagian tubuhnya agar Khansa bisa memantau lokasi keberadaannya.
Ryan dan Kalandra menggunakan mobil terpisah untuk menuju ke lokasi. Kalandra juga sudah menghubungi semua orang agar berada di tempatnya masing-masing.
Setelah sampai di lokasi, Kalandra dan Ryan keluar dari mobilnya masing-masing secara bersamaan.
“Apa kamu siap Ndra?” tanya Ryan
Kalandra mengangguk dengan yakin lalu mereka bersama mendekati pintu masuk gudang yang gelap itu.
“*Tunggu papi Kenan, papi akan menyelamatkanmu apapun resikonya*.” Batin Kalandra yang sedang berjalan menuju pintu gudang.
“*Tunggu papa, kita akan bertemu kembali dan menyelesaikan kesalah pahaman kita*.” Batin Ryan.

Kalandra dan Ryan sudah memasuki gudang gelap itu.
“Papii!” teriak Kenan yang sedang duduk terikat di tengah ruangan.
“Kenan!” ucap Kalandra dan Ryan secara bersamaan.
Kalandra sangat sedih melihat anak kesayangannya yang sedang diikat dengan pakaian yang lusuh, wajah yang pucat dan sedih.
Kalandra mengepalkan telapak tangannya dan memendam amarahnya yang melihat keadaan putranya itu.
“Kalian sudah datang?” tanya Hani yang sedang berada di belakang Kenan.
“Ya, kami sudah datang sekarang tolong lepaskan anakku.” Ucap Kalandra.
“Bagaimana bisa kamu melakukan ini kepada kami Hani? Apakah selama ini kami memperlakukanmu dengan buruk?” tanya Ryan yang tidak menyangka jika ternyata sahabat SMAnya itulah yang menculik anak kandungnya itu.
“Aku tidak ada pilihan lain, aku juga butuh hidup aku harus melindungi anak yang ada di dalam perutku.” Ucap Hani.
“Aku tidak tau apakah dia sudah bercerita hal ini atau belum, tapi asal kamu tau Robert adalah kakak tiriku, dia di angkat oleh kedua orang tuaku di panti asuhan sebelum aku lahir.
Coba kamu bayangkan bahkan orang yang sudah mengangkatnya dan mengasuhnya dengan kasih sayang saja bisa dia khianati, bagaimana denganmu dan anak yang kau kandung? Mungkin sekarang dia hanya menganggap kalian sebagai penghambatnya.” Jelas Kalandra.
“Tidak mungkin! Dia sudah berjanji untuk menikahiku!” teriak Hani.
“Salah! Dia tidak menikahimu, dia memanfaatkanmu karena dia tau jika dulu aku mencintaimu. Dia ingin kamu menjadi pancingan untuk menggodaku dan menghancurkan rumah tangga dan masa depanku.” Ucap Kalandra.
“Berhentilah berharap padanya, masih banyak di luar sana laki-laki baik yang bisa menerimamu apa adanya.” Lanjut Ryan.
“Tidak! Tidak! Kalian bohong!” Hani menjadi histeris karena ucapan Kalandra dan Ryan.
Kenan berhasil melepaskan diri dan berlari ke arah papinya, namun Hani yang saat itu memegang pistol mengarahkan pistolnya ke arah Kenan.
DORR...!!
Kalandra yang melihat anaknya sedang berada dalam bahaya dengan segera memeluk Kenan dan menghadang peluru yang berasal dari pistol yang dipegang Hani.
Melihat Kalandra yang terkapar di tanah membuat Ryan sangat kesal dan menembakkan peluru ke tangan Hani sehingga dia menjatuhkan pistol yang ada di tangannya.
“PAPI!!!” teriak Kenan yang melihat papinya penuh dengan darah di kepalanya.
“Hiksss, hikss, papi tolong bangun papi..”
Ryan segera menelfon Anita dan lainnya untuk segera menjemput mereka dan membawa Kalandra ke rumah sakit.
“Bagaimana keadaannya Anita!? Apakah dia akan baik-baik saja?” tanya Ryan.
“Tenanglah! aku tidak bisa memeriksanya karena tidak ada perlengkapan medis di mobil. Aku sudah menelfon pihak rumah sakit dan dia akan segera berjaga didepan.” Ucap Anita.
Semua orang yang ada di sana sangat panik karena keadaan Kalandra.
Rose juga bingung untuk menghubungi Khansa dan memberitau keadaan suaminya.
“Apakah aku harus menghubungi kak sasa?” tanya Rose kepada Edo yang ada di sebelahnya.
“Hubungi saja, dia harus tau keadaan Kalandra yang sebenarnya.” Ucap Edo.
Mereka semua sudah berada di rumah sakit, Kalandra segera di tangani oleh dokter terhebat di rumah sakit itu termasuk Anita.
“Hikss.. papi, apakah papi akan baik-baik saja om?” tanya Kenan kepada Edo sambil menangis tersedu-sedu.
“Tenanglah Kenan, kita harus berdoa agar papi baik-baik saja.” ucap Edo menenangkan Kenan.
Ryan yang melihat Kenan menangis histeris hanya bisa meneteskan air mata dan merasa bersalah.
“*Kenapa bukan aku saja yang terkena peluru itu, kenapa*!?” batin Ryan sambil mengacak-ngacak rambutnya.