MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
HARI PERNIKAHAN


Tersenyum bukan berarti aku kuat, tersenyum karena tidak perlu menunjukkan betapa hancur dan rapunya aku terhadap orang yang sama sekali tidak peduli.



Hari pernikahan pun telah tiba, Khansa dan mama Alisha sedang sibuk untuk mengecek semua perlengkapan pesta pernikahan. Khansa juga sudah menghubungi orang tuanya untuk datang dan menjaga ke tiga anaknya karena dia sudah yakin jika dia akan sibuk untuk mengurus acara pernikahan yang di adakan di salah satu hotel milik Kalandra.



“Ma, Khansa mau cek Kenan sudah makan atau belum ya..” Khansa meminta ijin kepada mama mertuanya untuk melihat Kenan.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1607901049586.jpg)



“Iya sayang, sekalian kamu kasih si kembar ASI dulu biar mereka ga rewel nanti, kasihan orang tua kamu kalo si kembar rewel.” Ucap mama Alisha.



“Iya ma, Khansa tinggal dulu ya.. mama ga apa-apa kan Khansa tinggal?”



“Iya sa kamu tenang aja, udah sana liat anak-anak kamu dulu.”



“Okedeh ma, mungkin sebentar lagi Rose dan kak Anita akan sampai.” Ucap Khansa lalu pergi meninggalkan mama mertuanya.



Khansa pergi ke kamar yang sudah di sediakan khusus keluarga Kalandra di hotel tersebut untuk mengecek keadaan anak-anaknya.



“Mami..” sapa Kenan saat melihat Khansa membuka pintu kamar.



“Hai sayang,, kamu dan adik-adik nakal ga hayo??” tanya Khansa.



“Engga kok mi, kami tidak nakal.. tadi Kenan habis lihat tante Hani dan om Robert. Mereka sangat cantik dan ganteng mi..” Kenan menceritakan hal yang di alaminya.



“Benarkah sayang? terus papi kemana sayang?”



“Ada di ruangan om Robert mi, mereka lagi ngobrol-ngobrol.”



“Ngobrol apa sayang?”



“Kenan juga ga tau mi, kata papi urusan orang dewasa.” Ucap Kenan dengan polos.



Khansa tertawa mendengar ucapan anaknya dan membelai rambut Kenan dengan lembut.



“Kamu sudah makan sayang? mami ambilin makan ya?” tanya Khansa.



“Kenan sudah makan sa, tadi ibu yang ambilin..” ucap ibu Khansa yang baru saja keluar dari kamar mandi.



“Loh kok ibu sendirian? Ayah kemana?”



“Ayah kamu lagi di ruangan nak Robert sama Kalandra dan papa mertuamu.” Jelas ibu Khansa.



“Kamu kok ke sini sa? Kenapa ga bantuin mama mertuamu?” lanjutnya.



“Khansa ke sini Cuma mau ngecek anak-anak bu, takut Kenan belum makan dan mau ngasih ASI buat si kembar.” Jelas Khansa.



“Kenan sudah makan, dan si kembar juga sudah ibu kasih ASI yang kamu simpan.”



“Baiklah kalau begitu, Khansa pompa ASI aja ya buat stock si kembar nanti.” Ucap Khansa yang di balas anggukan oleh ibunya.



Ruangan Robert


“Makasih ya Ndra, kamu sudah mengijinkanku untuk menggelar pernikahan di hotelmu. Aku tidak tau ternyata adik kecilku memiliki hotel semegah ini.” ucap Robert.


“Tentu saja aku harus memiliki usaha sendiri untuk menghidupi anak dan istriku! Karena setelah ini aku akan mengembalikan perusahaan papa kepadamu.” Ucap Kalandra.


“Kenapa harus di berikan kepadaku? Kamu yang sudah membuat perusahaan papa menjadi sebesar itu, seharusnya kamu lah yang pantas menjadi pemiliknya.”


“Tidak kak, dari awal perusahaan itu adalah milikmu. Aku selama ini hanya menjaganya untukmu, jadi kakak harus menerimanya.”


“Baiklah jika begitu, aku akan mengambil kembali perusahaan itu!” ujar Robert.


“Kamu sudah siap untuk membangun rumah tangga nak?” tanya papa Arnold.


“Iya pa, lagi pula kakak sudah bau tanah jadi harus segera menikah!” ketus Kalandra yang di balas tatapan sinis oleh Robert.


“Sudahlah kalian ini selalu saja berdebat jika bertemu.” Ucap papa Arnold melerai kedua putranya itu.


“Nak Robert, sebentar lagi tanggung jawabmu sebagai laki-laki akan bertambah. Kamu harus bertanggung jawab atas kehidupan istri dan anakmu. Om harap kamu bisa bertanggung jawab atas keluarga kecilmu.” Ucap ayah Khansa.


Robert tersenyum ke arah ayah Khansa. “Om tenang saja, Robert akan berusaha untuk bertanggung jawab atas keluarga kecil Robert kedepannya.”



Tok,,tok,,


Di sela-sela obrolan mereka, ada yang mengetuk pintu ruangan itu dan membuat semua orang melihat ke arah pintu.


“Hai bro..” ucap Ryan dan Edo yang memperlihatkan kepala mereka di ambang pintu.


“Kalian sudah datang? masuklah.” Ucap Kalandra.


“Sepertinya sekarang saatnya para anak muda untuk berbicara., kalau begitu biar papa dan ayah mertuamu keluar dulu ya Ndra.” Ucap papa Arnold.


“Baiklah pa, Kalandra akan menyusul ke bawah nanti.”


Setelah mendengar jawaban Kalandra, papa Arnold dan ayah Khansa segera keluar dari ruangan tersebut.


“Wah, jadi yang sekarang kucing dan tikus sudah akur ya?” ejek Edo.


“Hahaha, kamu benar do mereka sudah akur sekarang dan kita akan di tinggalkan seperti saat SMA dulu. Sebentar lagi Kalandra akan bucin dengan kak Robert.” Sambung Ryan.


Edo dan Ryan tertawa terbahak-bahak begitu pula dengan Robert yang menahan tawanya, sedangkan Kalandra yang mendengarnya menjadi kesal atas ejekan kakak dan teman-temannya dan memberikan tatapan mematikan kepada mereka.


“Santai Ndra, ini hari pernikahan kak Robert jadi kamu jangan marah-marah.” Ucap Edo.


“Kalian cepatlah menikah juga.” Ucap Robert mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


“Mereka akan jadi jomblo seumur hidup kak, karena sebentar lagi aku akan menyuruh Anita dan Rose meninggalkan mereka, dan aku akan mengenalkan pria tampan dan mapan untuk mereka berdua!” ketus Kalandra.


Edo dan Ryan yang mendengarnya saling menatap satu sama lain dan memikirkan tentang ucapan Kalandra. Sedangkan Kalandra segera meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang kesal.


“Apa Kalandra benar-benar akan melakukan hal itu?” tanya Edo.


“Entahlah, tapi tidak ada yang tidak bisa di lakukan Kalandra.” balas Ryan.


“Hahaha, sudahlah kalian ini seperti tidak tau Kalandra saja. Dia hanya kesal jadi asal ngomong gitu.” Ucap Robert menenangkan kedua sahabat adiknya itu.


“Oh iya kak, selamat atas pernikahannya ya..” ucap Ryan dan Edo secara bergantian.


“Terimakasih, maafkan semua kesalahanku yang sudah membuat kalian kesulitan ya..” ucap Robert.


Edo dan Ryan hanya mengangguk dan tersenyum kepada Robert.




Kalandra masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal dan menutup pintu dengan keras hingga Ken dan Key yang tadinya tidur menjadi bangun kembali.



“Yaallah mas, kamu ga bisa nutup pintu pelan-pelan?” ucap Khansa yang sedang berusaha menenengkan si kembar.



“Maaf sayang, habisnya aku tadi kesel banget.”



“Kesel kenapa mas? Kamu ga lihat Kenan juga kaget tuh.”



Kalandra melihat Kenan yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.



“Maaf ya sayang, papi tadi lagi kesel habis di lekedin papa Ryan sama om Edo.” Ucap Kalandra yang mencoba untuk meminta maaf kepada anak sulungnya itu.



“Emang ngeledekin kamu apa mas?” tanya Khansa.



“Ya pokoknya ngeledekin deh sayang, udah ah males bahas mereka.” Ucap Kalandra sambil mengambil Ken yang masih menangis.



“Ssstt,, anak papi jangan menangis lagi ya, maaf papi ngebangunin kamu.” Kalandra mencoba untuk berbicara kepada anaknya.


Setelah mendengar perkataan papinya, Ken tertawa kepada Kalandra dan membuat kekesalan Kalandra menjadi berkurang secara perlahan.



“Rasanya adem deh kalo melihat tawa anak-anak sayang.” ucap Kalandra kepada istrinya.



Khansa tersenyum dan menghampiri suaminya yang sedang menggendong Ken, Khansa menaruh Key di atas tempat tidur dan melingkarkan kedua tangannya ke perut suaminya.



“Mereka ada untuk menghilangkan beban yang kita alami mas, aku selalu bersyukur atas kehadiran ketiga anak kita di keluarga kecil ini.” Ucap Khansa dengan lembut.



Kenan yang melihat kedua orang tuanya sedang berpelukan segera menghampiri mereka dan ikut memeluk papi dan maminya.



“Terimakasih kalian telah hadir di kehidupan papi.” Ucap Kalandra sambil melihat ke arah ketiga anaknya secara bergantian.