
Hari sudah sangat malam, jam telah menunjukkan pukul 00.00 dan itu adalah waktu yang paling tepat orang-orang tertidur dengan nyenyak di rumah mereka masing-masing.
Namun tidak dengan seseorang yang sedang menahan rasa sakit di perutnya.
“Kak Bernard!! Sakit kak!” teriak Key.
Namun Bernard yang sudah terlelap sama sekali tidak mendengar teriakan sang istri yang sedang berada di dalam kamar mandi.
Sedangkan Key yang kesal karena sudah menahan sakit dari tadi segera membuka pintu kamar mandinya sedikit lalu kembali berteriak.
“Hei beruang kutub! Kamu ga tau kalo anakmu akan segera keluar!? Cepat bangun!” teriak Key kembali dan kali itu suaranya benar-benar terdengar bahkan sampai ke dalam mimpi Bernard.
Bernard segera membuka kedua matanya dan mencari keberadaan sang istri yang harusnya sedang tertidur di sebelahnya.
“Key? Key kamu di mana sayang?” tanya Bernard.
“Gawat ini, tadi aku mimpi Key berteriak pasti ada sesuatu.” Gumam Bernard yang langsung beranjak dari tempat tidurnya.
“Beruang kutub!” teriak Key namun kali ini semakin pelan karena tenaganya sudah habis untuk berteriak.
Bernard kembali mendengar suara sang istri, dia segera berjalan ke arah kamar mandi yang memang terletak di dalam walk in closet jadi suara Key hanya terdengar dengan samar.
“Yaampun sayang!” ucap Bernard saat melihat Key sudah duduk di lantai kamar mandi dengan wajah yang lemas.
Bernard segera menggendong Key dan menaruhnya di atas tempat tidur, dia lalu segera menghubungi dokter pribadi mereka untuk mengabari kalau dia dan Key akan pergi ke rumah sakit dan juga tidak lupa Bernard menghubungi seluruh keluarga.
“Sayang, kita akan segera ke rumah sakit ya, aku akan menyiapkan mobil dulu dan membawa barang-barangmu.” Ucap Bernard.
Bernard segera mengambil tas yang berisi keperluan Key di rumah sakit, mereka memang sudah menyiapkan semuanya jika Key akan melahirkan tiba-tiba.
Setelah menaruh tas ke bagasi mobil, Bernard segera memarkirkan mobilnya di depan pintu rumahnya lalu dia berlari masuk ke dalam rumah untuk membawa Key.
“Ayo sayang aku akan membawamu pelan-pelan.” Ucap Bernard yang langsung menggendong Key.
Saat itu Bernard benar-benar panik, dia bahkan sedikit berlari agar cepat sampai di rumah sakit.
“Pelan-pelan! Nanti anakmu brojol di sini!” ketus Key sedikit berteriak.
“Ah iya maaf, aku akan pelan-pelan.” Balas Bernard yang memelankan langkahnya.
Namun bukan pelan seperti itu yang di maksud Key, dan Key kembali berteriak.
“Dasar beruang kutub! Kalau kamu se pelan itu aku juga bisa lahiran di sini!” ketus Key.
“Katanya suruh pelan-pelan!” balas Bernard.
“Tapi kamu malah slow motion! Itu namanya bukan pelan! Kenapa kamu membuatku emosi sih?” ketus Key.
Bernard memilih untuk tidak menggubris ucapan Key, dia tetap fokus berjalan ke mobil dan segera menaruh Key di dalam mobil dengan perlahan.
“Tuan anda mau kemana?” tanya satpam yang dari tadi tertidur dan tidak sadar kalau Bernard sudah mau keluar.
“Aku mau ke rumah sakit, kalau ada orang yang mencariku bilang saja aku sedang di rumah sakit.” Ucap Bernard.
Satpam tersebut segera bersikap hormat lalu membukakan pintu gerbang Bernard dan membiarkan Bernard melaju dengan kecepatan tinggi.
“Huh, huh sakit sekali..” ucap Key sambil menahan rasa sakitnya.
“Sabar sayang kita akan sampai.” Ucap Bernard.
“Kenapa kamu tidak membangunkanku kalau merasa sakit?” tanya Bernard.
“Benarkah? Jadi kamu sudah memanggilku dari tadi?” tanya Bernard.
“Makanya kalo buat kamar mandi jangan jauh-jauh dari tempat tidur!” ketus Key.
“Hah? Tapi kan desain kamar kita sesuai dengan keinginanmu Key.” Balas Bernard.
“Diamlah! Semuanya salahmu!” ketus Key lagi.
Mendengar ucapan Key membuat Bernard menghela nafas panjang lalu kembali menyetir mobilnya.
“Salah lagi gue…” batin Bernard yang terus saja fokus menyetir mobilnya sampai di rumah sakit.
Dokter yang tadi dia telfon dan beberapa perawat sudah menunggu di depan rumah sakit, mereka segera menggotong Key dan menaruhnya di atas tempat tidur pasien lalu segera menuju ke ruang persalinan.
“Sudah berapa lama kontraksinya nyonya Key?” tanya dokter wanita tersebut.
“Entahlah dok, lama sekali mungkin sudah setengah jam.” Jawab Key.
Dokter tersebut segera memeriksa keadaan Key dengan teliti, dia memeriksa apakah Key akan segera melahirkan atau tidak.
Sedangkan Bernard duduk di kursi tunggu, dia menunggu kabar selanjutnya dari dokter wanita itu.
“Bagaimana dok?” tanya Bernard yang melihat sang dokter sudah keluar dari ruangan.
“Dia akan segera melahirkan, sebaiknya anda segera berisap kalau anda mau menemani istri anda melahirkan.” Ucap dokter tersebut.
“Baiklah aku akan mememani istriku.” Ucap Bernard.
Dokter tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, Bernard mengikuti dokter tersebut dan dia segera di pakaikan pakaian khusus untuk masuk ke dalam ruang bersalin.
Di dalam ruangan Bernard sedih melihat istrinya yang biasanya bawel dan selalu mengomel saat ini sedang merintih kesakitan dengan keringat yang sudah bercanpur dengan air matanya.
Bernard segera berjalan menghampiri Key lalu menggenggam tangannya dengan erat untuk memberikan kekuatan kepada sang istri.
“Sayang bertahanlah.” Ucap Bernard.
Setelah semuanya siap, dokter menyuruh Key untuk berteriak sekencang-kencangnya agar bayinya terdorong ke luar.
Dan saat itulah tanpa sadar air mata Bernard menetes, perjuangan Key saat berusaha untuk mengeluarkan darah dagingnya itu benar-benar sangat hebat.
“Ayo sayang kamu pasti bisa..” ucap Bernard sambil menciumi tangan Key berkali-kali.
Sampai akhirnya suara tangisan bayi terdengar memenuhi seluruh ruangan persalinan, semua orang mengucap syukur melihat bayi mungil yang berjenis kelamin perempuan itu telah lahir dengan sehat tanpa kekurangan apapun.
“Alhamdulillah,, selamat ya tuan anak anda sudah lahir, putri yang sangat cantik.” Ucap dokter tersebut.
Bernard mencoba untuk melihat putrinya yang sedang di bersihkan oleh para perawat, lalu bayi mungil itu langsung di bawa ke pelukan Key agar merasakan kehangatan seorang ibu.
Tangis Bernard benar-benar pecah melihat anaknya yang sangat cantik, mirip dengannya. Bernard menggenggam tangan mungil itu dan bahkan bayi mungil itu langsung menggenggam tangan Bernard dengan erat seperti tau kalau Bernard adalah papinya.
“Terimakasih karena sudah hadir di dalam kehidupan papi dan mami tuan putri.” Ucap Bernard kepada sang putri.
“Terimakasih karena sudah melahirkan putri yang sangat cantik sayang, aku mencintamu.” Ucap Bernard kepada Key yang langsung menciumi pipi istrinya berkali-kali.
Setelah selesai persalinan, dokter menyuruh Bernard keluar dari ruangan karena Key dan bayinya akan segera di pindahkan.
Bernard hanya menurut dan langsung keluar dari ruang persalinan, dia kembali duduk di kursi tunggu sambil menundukkan kepalanya dan melihat tangannya sendiri.
Bernard merasa sangat bahagia mengingat tangan mungil putrinya menggenggam erat tangannya dan air mata kembali menetes di pipinya.