
Sulit ku mengartikan rasa ini..
Padahal terlihat jelas dimataku.
Pikiranku berkata "tidak "
dan hatiku berkata "ya"
Sesuai rencana Kalandra dan Anita, hari ini adalah hari pertama Khansa mengambil alih perusahaan suaminya untuk sementara.
Khansa merasa gugup dan khawatir karena ia tidak tau apa yang harus dia lakukan dengan perusahaan suaminya itu.
“Tenanglah, kita akan selalu membantumu dan mengajarimu.” Ucap Anita yang melihat kegugupan Khansa.
“Tapi kak, bagaimana dengan mas Andra? Siapa yang akan menemaninya di sini?” tanya Khansa.
“Yaampun sa, dia bukan anak kecil lagi biar aku yang merawatnya disini.”
Khansa melihat ke arah suaminya yang masih tertidur pulas.
“Kamu bersiaplah, aku sudah menyiapkan baju yang akan kamu pakai nanti. Aku akan kembali setelah kamu selesai bersiap.” Ucap Anita lalu meninggalkan Khansa.
Khansa berjalan menuju paper bag berisi baju yang sudah di siapkan oleh Anita, Khansa membuka dan melihat baju tersebut lalu menoleh ke arah Kalandra.
“*Apa ini keputusan yang tepat mas? Apa aku tidak akan mengecewakanmu*?” batin Khansa.
Setelah berkutat dengan fikirannya, Khansa akhirnya mengambil pakaian yang ada di paper bag dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Khansa yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat Kalandra yang sudah terbangun dan sedang melihat ke arahnya.

“*Astaga, dia cantik sekali*.” Batin Kalandra yang baru saja melihat Khansa keluar dari kamar mandi.

“M,,mas? Sudah bangun?” tanya Khansa.
“Hmm. Kamu mau berangkat ke perusahaan?” tanya Kalandra.
“Iya mas, apa kamu tidak apa-apa jika aku tinggal?”
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja di sini. Semangat ya, semoga dari hal ini kamu bisa mendapatkan pembelajaran yang akan membantumu di masa depan.” Ujar Kalandra.
Khansa hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya itu.
“Oh iya, di mana Kenan? apa dia sudah berangkat?” Tanya Kalandra sembari mencari anaknya itu.
“Semalam saat kamu tertidur, kak Ryan menjemputnya dan mengajaknya untuk tidur di rumahnya. Mungkin sebentar lagi mereka akan kemari dan berpamitan kepada kita.” Jelas Khansa.
Kalandra hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak lama kemudian, Kenan datang dengan sangat ceria.
“Mami, papi..” ucapnya sambil berlari memeluk mami dan papinya secara bergantian.
“Wah anak papi ceria sekali..” ucap Kalandra.
“Iya pi, semalam Kenan sama papa Ryan main game seru banget loh.”
“Benarkah? Siapa yang lebih jago dalam bermain game, papa Ryan atau papi?” tanya Kalandra.
“Emm,, papi?” ucap Kenan sambil melirik ke arah Ryan karena takut papanya merasa sedih.
Ryan yang mengerti anak sikap anaknya itu hanya tersenyum.
“Papa Ryan sadar kok dari dulu emang papi kamu paling jago main game, tapi tetp aja kamu kalah main lawan papa.” Ejek Ryan kepada Kenan.
“Ih, papa nyebelin deh.” Kenan cemberut dan menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya.
Khana tesenyum melihat interaksi ketiga pria itu, Khansa merasa sangat bahagia karena mereka sudah tidak saling membenci satu sama lain lagi.
“Eh sa, kamu mau kemana? Kok rapih banget sih? Emm, kalo di lihat-lihat kamu cocok loh pake baju kantor gitu, terlihat seperti wanita yang berwibawa dan elegan.” Ucap Ryan.
Kalandra yang mendengar pujian Ryan kepada istrinya itu menatap tajam ke arah Ryan seperti ada laser yang keluar dari matanya.
Ryan yang mengetahui jika Kalandra menatap tajam dirinya hanya tersenyum dan memiliki rencana licik untuk mengerjai Kalandra di pikirannya.
“*Kita? Mengantar Kenan sekolah? Mengantar Khansa setelah mengantar Kenan? berarti mereka hanya berdua? Ah kenapa aku ingin sekali marah dan berkata tidak*.” Kalandra berkutat dengan isi fikirannya sendiri.
Ada rasa cinta di hati Kalandra yang terpendam, yang Kalandra sendiripun tidak tau perasaan apa yang sedang dia rasakan itu.
“Tidak! Khansa sudah aku titipkan kepada Anita, dia akan mengantar Khansa dan mengajarinya masalah perusahaan.” Ucap Kalandra.
“Aku juga memiliki perusahaan Ndra, aku sangat memahami tentang perusahaan jadi aku juga bisa mengajari Khansa kan?” ucap Ryan.
“Tidak! Sekali aku bilang tidak ya tidak!” bentak Kalandra.
“Apa kamu cemburu karena aku dan Khansa akan berduaan saja setelah mengantar Kenan?” tanya Ryan yang ingin sekali jika Kalandra jujur akan perasaan yang sudah mulai ia rasakan.
“Tidak! Mana mungkin!” Tegas Kalandra.
Khansa yang mendengar ucapan suaminya itu merasa sakit hati dan hanya bisa tersenyum getir.
Kalandra tidak sadar jika perkataannya itu telah menyakiti hati Khansa. Kalandra tersadar akan ucapannya dan melihat ke arah Khansa dengan perasaan bersalah.
Khansa hanya membuang wajahnya saat di lihat oleh Kalandra karena ia tidak ingin Kalandra melihat matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Ryan yang melihat interaksi akan keduanya hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“*Kamu sudah sangat jatuh cinta kepadanya Ndra, tapi kenapa kamu tidak ingin mengakuinya dan malah menyakiti hati wanita yang kamu cintai*.” Batin Ryan.
“Maaf kak Ryan, sasa berangkat ke kantor sama kak Anita aja ya karena aku sudah memiliki janji dengannya. Aku titip Kenan ya kak..” Tolak Khansa yang sudah bisa menahan air matanya agar tidak terjatuh.
“Sayang, kamu jangan nakal ya. Nurut sama perkataan papa Ryan.” Ucap Khansa kepada putra kesayangannya itu.

Setelah Kenan dan Ryan keluar ruangan, Khansa segera mencium punggung tangan Kalandra dan berpamitan kepadanya.
“Sa, aku minta maaf.. ucapanku barusan..” ucapan Kalandra terputus.
“Tidak apa-apa mas, aku sangat senang karena kamu tidak menolakku, kita jalani perlahan dan aku hanya bisa berharap semoga perasaanmu terhadapku dulu akan tumbuh kembali suatu saat nanti.” Ucap Khansa dengan lembut.
Khansa merasa sakit di hatinya, tapi dia tetap berusaha untuk bersabar karena ia tau jika suaminya mengucapkan kata seperti itu karena sedang lupa ingatan.
Khansa segera pergi meninggalkan Kalandra yang masih merasa bersalah karena ucapannya.
“*Bodoh kamu Ndra, kenapa bikin masalah lagi sih! Pasti jadi canggung lagi deh ntar, padahal kan kita udah susah payah mendekatkan diri*.” Batin Kalandra yang masih menyalahkan dirinya sendiri.
Khansa sudah berada di mobil bersama dengan Anita. Di sepanjang jalan Anita menyalakan musik dan ikut bersenandung mengikuti lagu yang sedang di putarnya.
“Sa, kamu kok ga semangat amat sih? Yang semangat dong, ini hari pertama kamu jadi CEO di peruahaan besar loh, karyawanmu akan sangat memperhatikanmu dan jika kamu ga semangat kayak gitu mereka juga ikut ga semangat lah.” Ujar Anita.
“Kak, kayaknya kakak yang terlalu bersemangat deh hari ini, aku biasa aja kok.” Ucap Khansa yang bingung dengan tingkah laku Anita.
“Ah masa sih? Kayaknya aku juga biasa aja kok.” Ucap Anita yang mulai gugup.
“Ada apa hayo, pasti ada sesuatu hal baik yang terjadi ya?” tebak Khansa.
Anita dengan malu-malu menunjukkan tangan kirinya kepada Khansa.
Khansa terkejut melihat cincin indah yang menghiasi jari manis Anita.
“Kak? I,,ini cincin dari siapa?” tanya Khansa.
“Dari Edo.” Bisik Anita.
Khansa yang mendengar kabar gembira dari Anita langsung berteriak senang hingga suaranya menggema ke seluruh mobil Anita.
“Akhirnya kakakku yang satu ini akan melepas status jomblonya.. kapan kalian akan menikah kak?” tanya Khansa.
“Setelah Kalandra pulih dan bisa berjalan kembali kita akan melangsungkan pernikahan.” Ucap Anita.
“Semoga kalian bahagia selalu dan dijauhkan dari segala cobaan yang ada ya kak.”
Anita hanya mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan Khansa yang sangat tulus itu.