
Sukses datang bukan dengan berteman baik dengan orang-orang sukses, tapi tahu bagaimana harus belajar dari orang gagal.
Tidak lama setelah Kenan berangkat bersama Ryan, Kalandra dan Khansa sampai di rumah mereka, mereka segera masuk ke kamar dan membersihkan diri terlebih dahulu, setelah selesai membersihkan diri Khansa segera menuju kamar anak-anaknya untuk melihat keadaan mereka.
“Halo anak-anak mami..” ucap Khansa sambil membuka pintu kamar.
Khansa terkejut melihat mama mertuanya yang sedang berbaring di sofa.
“YaAllah ma, mama ngagetin Khansa aja deh. Mama ngapain diem di sana?” tanya Khansa yang menghampiri mama mertuanya.
“Mama ga punya kerjaan nih sa, bosen mama di rumah.” Ucap Alisha dengan wajah memelas.
“Kan tadi mama sudah dapet hiburan ngerjain Kenan.”
“Tapi anak kamu itu ujung-ujungnya ngambek sama mama, soalnya dia tau mama bohong.”
“Benarkah ma? Yaampun lagian mama ada-ada aja deh, udah tau sifat Kenan kayak mas Andra pasti mama langsung di ceramahin ya?”
“Iya sa yaampun mama langsung di ceramahin habis-habisan sama dia.”
Khansa tersenyum dan menghampiri mama mertuanya yang masih berada di sofa.
“Tenanglah ma, Khansa akan berbicara dengan Kenan nanti saat dia pulang.” Ucap Khansa yang mencoba menenangkan mama mertuanya.
Kalandra membuka pintu kamar anak-anaknya dan melihat Khansa sedang berbicara dengan mamanya.
“Ma, Andra mau ngomong.” Ucap Kalandra.
Khansa menoleh ke arah suaminya dan berusaha untuk menahan suaminya agar tidak menegur mama mertuanya itu, namun nihil Kalandra tetap berusaha untuk berbicara dengan mamanya.
Sedangkan Alisha hanya menatap Kalandra, ia sudah tau jika anaknya akan membahas tentang kejadian semalam.
“Ma, kenapa mama sering banget bohongin Kenan sih? Mama tau kan Andra selalu bilang ke Kenan agar dia tidak suka berbohong, tapi kenapa mama malah ngebohongin Kenan? ga sekali loh mama ngebohongin Kenan, udah beberapa kali Andra tau mama ngebohongin Kenan.” tegas Kalandra.
“Mama ga ngebohongin Kenan Ndra, mama juga ngerjain dia.” Ucap Alisha membela diri.
“Ya itu sama aja, bedanya menurut mama ngerjain menurut Kenan ngebohong.”
“Mama tau kalau Kenan itu ingatannya kuat sekali, dia akan selalu mengingat kejadian yang pernah dia alami ma.” Lanjut Kalandra.
Tiba-tiba Kalandra berhenti berbicara karena hp yang berada di sakunya berdering, Kalandra menatap hpnya dan berniat untuk mengangkatnya.
“Kali ini mama selamat karena telfon ini, intinya ini terakhir kalinya mama bohongin Kenan oke.” Ucap Kalandra yang langsung meninggalkan kamar anak-anaknya untuk mengankat telfon yang menurutnya penting itu.
“Siapapun yang menelfon, intinya mama berterimakasih kepadanya.” Ucap Alisha dengan nada bercandanya.
Khansa yang mendengar jika mama mertuanya masih bisa bercanda hanya bisa tersenyum dan menghela nafas lega.
“Yaelah kalo cuma gitu sih udah jadi makanan sehari-hari mama dulu sebelum kamu menikah dengan Andra sa.”
“Bagaimanapun juga mas Andra seperti itu karena sangat menyayangi Kenan ma, mama juga pasti tau akan hal itu makanya mama tidak pernah tersinggung dengan ucapannya.” Ucap Khansa.
“Hm kamu benar, mama memang tidak pernah tersinggung dengan ucapan Andra. Sudahlah karena sudah ada kamu mama kembali tidur dulu ya sa, enak tu papa bisa tidur daritadi lah mama sibuk sendiri.” Ucap Alisha.
“Maaf ya ma, Khansa ngerepotin mama.” Ucap Khansa.
Alisha menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Khansa lalu pergi meninggalkan kamar si kembar.
Di mobil, Kenan duduk di kursi sebelah Ryan dengan wajah yang cemberut bahkan tidak berbicara sepatah katapun.
“Kenan, kamu kenapa cemberut gitu?” tanya Ryan berusaha untuk membuka pembicaraan dengan anak kesayangannya itu.
“Tidak apa-apa pa, Kenan lagi ngambek sama nenek.” Ucap Kenan sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
“Lah, marahnya sama nenek kok papa juga di cemberutin?” tanya Ryan.
Kenan melihat papanya dengan perasaan bersalah karena telah membuat papanya juga ikut merasakan kekesalannya.
“Maafkan Kenan pa, Kenan udah cemberutin papa.” Ucap Kenan.
“Tidak apa-apa sayang, emang nenek kamu ngapain kamu kok sampe ngambek gini sih?” tanya Ryan.
“Kenan kan tau kalo papi dan mami itu pergi ke pesta semalem, tapi Kenan sampe pagi ga lihat papi dan mami jadi Kenan ke kamar nenek terus bilang ke nenek kalo papi dan mami ga ada, Kenan ngira papi dan mami di culik terus nenek malah ga bilang apa-apa malah ikutan pura-pura panik.” Jelas Kenan.
Ryan hanya tersenyum mendengar ucapan anaknya itu.
“Sudahlah sayang, tidak apa-apa. Papa tau kamu marah sama nenek kamu tapi kan maksud nenek kamu bukan ngebuat kamu marah, dia hanya ingin bercanda dengan Kenan.” jelas Ryan.
“Tapikan harusnya ga usah bohong masalah papi dan mami pa.”
“Iya mungkin caranya aja yang salah sayang, papa yakin nenek kamu ga pernah berniat untuk membohongi Kenan, jadi Kenan jangan marah lagi sama nenek ya dia pasti sedih banget deh kalo Kenan marah sama nenek.”
“Baiklah pa, Kenan ga akan marah lagi sama nenek.” Ucap Kenan.
“Nah gitu dong, itu baru namanya anak papa Ryan.” Puji Ryan.
Setelah sampai di sekolah, Kenan turun dan masuk ke dalam kelasnya. Sedangkan Ryan yang melihat anaknya sudah masuk ke dalam kelasnya segera mengeluarkan hpnya dan menelfon Kalandra.
“Halo Ndra.” Ucap Ryan.
“Halo Ryan ada apa?” tanya Andra.
“Aku punya dua hal yang ingin aku beritahu.”
“Apa itu?”
“Pertama, aku sudah mengetahui keberadaan Robert dia ada di Indonesia. Dan Kedua, Khansa dan Robert sudah pernah bertemu secara tidak sengaja, tapi mereka berdua tidak mengenal satu sama lain.” Jelas Ryan.
“Ga, mungkin Khansa memang tidak mengenal Robert, tapi ga mungkin Robert tidak mengenal Khansa karena aku sudah memberi tau media kalau Khansa adalah istriku dan dia tidak mungkin tidak melihat tentang hal itu, dia pasti sengaja bertemu dengan Khansa.” Ucap Kalandra.
“Bagaimana jika dia benar-benar belum mengetahui tentang hal itu?”
“Ntahlah, semoga saja dia tidak mencaritahu tentang Khansa.” Ucap Kalandra.
Setelah selesai berbicara, Kalandra mematikan telfonnya dan menaruh kembali hpnya di saku celananya.
“Jangan-jangan orang yang menabrak Khansa saat di pesta itu Robert?” batin Kalandra.
Di sisi lain, ada laki-laki bertubuh kekar yang memberikan selembaran kertas berisi informasi seseorang laki-laki tampan yang sedang duduk di sofa mewahnya, kertas tersebut membuat laki-laki tersebut yang membacanya kesal dan meremas gelas beling yang ada ditangannya sampai pecah dan membuat tangannya berdarah.

“Wanita itu miliknya? Sial! kenapa dia selalu mendapatkan semua yang aku inginkan kenapa!!” teriak laki-laki itu.
“Aku harus merebutnya, aku harus merebut apa yang seharusnya menjadi milikku.” Ucapnya lagi.
Laki-laki itu meluapkan amarahnya dengan melempar barang ke sembarang arah di ruangannya, dia merasa jika semua yang seharusnya menjadi miliknya tiba-tiba saja hilang di rebut oleh orang yang di bencinya sejak dulu.