MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
KEJAILAN KHANSA


Hari ini adalah hari pemeriksaan Khansa, tidak terasa usia kandungannya sudah berjalan 2 bulan. Khansa berjanji untuk melakukan pemeriksaan kandungan bersama Lila sahabatnya.


“Mas, ayo bangun kita harus ke dokter” ucap Khansa membangunkan suaminya yang masih tertidur.


“Mmm,, sebentar sayang 5 menit lagi.” Ucap Kalandra dengan mata yang masih tertutup rapat.



“Ayo mas, aku udah nyiapin sarapan juga loh. Kita juga harus nganter Kenan ke sekolah dulu..” ucap Kansa sambil menarik tangan Kalandra.


Kalandra tidak berkutik sama sekali dan membuat Khansa merasa kesal, lalu Khansa memikirkan sebuah ide licik untuk mengerjai dan membangunkan suaminya itu. Khansa berpura-pura terjatuh saat menarik tangan Kalandra.


“Aww!..” teriak Khansa setelah menarik tangan suaminya.


Kalandra yang mendengar teriakan Khansa langsung terbangun dan melepas penutup matanya dengan kasar, lalu melompat dari kasur menghampiri Khansa yang tergeletak di lantai.


“Sayang! kamu gapapa!?” tanya Kalandra dengan nada berteriak hampir mendekati telinga Khansa.


Khansa yang sedang berpura-pura meringis menahan rasa sakitnya itu merasa gendang telinganya akan pecah.


“Duh mas Andra gabisa biasa aja apa kalo teriak.” Batin Khansa dengan wajah yang masih meringis kesakitan.


“Sayang!! Maafin aku ya maaf aku ga sengaja..” ucap Kalandra merasa bersalah kepada istrinya.


Khansa yang melihat suaminya panik dan merasa bersalah itu hanya memancarkan senyum kemenangan di hatinya.


“Rasain kamu mas, emang enak.” Batin Khansa


“hikss,, mas Andra jahat dorong aku sampe jatoh hikss..” Khansa berpura-pura menangis agar suaminya itu semakin merasa bersalah.


“Sayang mas minta maaf ya tapi mas ga dorong kamu kok tadi, kamu jatoh sendiri” ucap Kalandra memelas.


“Huaaaa,, mas Andra kok ga ngaku kalo dorong Khansa, mas jahat huhuhu..”


“Astaga, iya iya mas yang dorong kamu maaf ya mas udah dorong kamu sayang”


“Kan mas Andra jahat tega banget sampe dorong Khansa huaaaa”


“YaAllah salah apa hamba hari ini? kenapa jadi serbasalah begini” batin Kalandra.


Kenan yang sudah bangun dan mendengar suara tangisan maminya langsung berlari dan membuka kamar orang tuanya itu.


“Mami!! Kenapa mami nangis? Mami di nakalin papi lagi ya?” tanya Kenan yang panik karena melihat maminya menangis.


Khansa yang melihat anaknya itu ikut merasa cemas menjadi tidak tega lalu terbangun dengan santainya hingga membuat Kalandra dan Kenan merasa aneh dan terkejut.


“S,,sayang kamu ga apa-apa?” tanya Kalandra ragu.


“Aku ga apa-apa kok mas, liat kan aku bisa berdiri.” Ucap Khansa dengan santainya.


“Yaampun jadi kamu ngerjain aku?” tanya Kalandra tidak menyangka.


Khansa cekikikan melihat ekspresi yang ditunjukkan suaminya itu.


“Plok..plok..plok.. Wah, kamu cocok jadi artis sayang..” Kalandra bertepuk tangan namun nada bicaranya seperti sedang menyindir Khansa.


“Maaf ya mas, habis kamu ga bangun-bangun aku kan jadi kesel heee..” ucap Khansa sambil memamerkan gigi putihnya.


“Huh kirain Kenan mami kenapa-kenapa, mami ngagetin Kenan aja nih.” Ucap Kenan memajukan bibirnya.


“Maafin mami ya sayang,, soalnya papi nakal jadi mami kerjain deh. Udah ah ayo semuanya mandi setelah itu kita sarapan bersama.”


“Kenan udah mandi mi”


“Benarkah? Wah hebatnya abang Kenan. yaudah yuk turuh ke bawah, kita tinggalin yang belum mandi.” Ucap Khansa sambil melirik suaminya.


Kalandra tidak menjawab apa-apa dan berbalik menuju kamar mandi.




Khansa dan Kenan sudah duduk di meja makan dengan rapi dan tenang.



“Mami, katanya tinggalin papi tapi kok sekarang kita nungguin papi?” tanya Kenan yang dari tadi belum menyentuh makanannya.



“Mami hanya bercanda sayang, papi adalah kepala keluarga di rumah ini dan karena kerja keras papi juga kita bisa menikmati makanan yang enak dan hidup yang serba cukup. Jadi tidak sopan namanya jika kita makan lebih dulu dari kepala keluarga.” Jelas Khansa kepada anaknya agar tidak menganggap serius tentang ucapannya tadi.



Kenan mengangguk tanda mengerti dengan ucapan maminya hingga Kalandra datang menghampiri mereka dan mengerutkan keningnya karena melihat makanan dimeja makan masih utuh tanpa tersentuh sama sekali.



“Loh kok kalian belum makan?” tanya Kalandra yang baru saja duduk di kursi.



“Kata mami ga sopan kalo makan duluan sebelum kepala keluarga.” Ucap Kenan


Kalandra melihat ke arah Khansa lalu tersenyum karena Khansa selalu mengajarkan kebaikan kepada anaknya.



Setelah mereka selesai menghabiskan makanan mereka, mereka bersantai lebih dulu sambil menunggu kabar dari Lila.



“Gimana sayang? Udah ada kabar dari Lila?” tanya Kalandra.



“Sudah mas, baru saja Lila kirim pesan katanya kita langsung ke rumah sakit saja setelah mengantar Kenan sekolah.”



Kalandra dan Khansa mengantar Kenan menuju ke sekolahnya.



“Belajar yang pintar ya anak mami, jangan nakal ya sayang..mwah” ucap Khansa sambil mencium kening anaknya.




“Adek, jangan nakal di perut mami ya. Cepet keluar dati perut mami biar bisa main sama abang.” Bisik Kenan sambil mencium perut Khansa dan mengelusnya.



Kalandra dan Khansa yang melihat Kenan sangat bersemangat untuk menyambut adiknya itu merasa sangat bahagia.



“Iya abang, abang cepat besar ya biar abang bisa gendong adek nanti” ucap Khansa menirukan suara anak kecil.



Setelah selesai, Kenan langsung keluar dari mobil dan melambaikan tangannya ke arah papi dan maminya.



Setelah memastikan Kenan masuk ke dalam kelas, Kalandra langsung menanjap gas menuju ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.



Di rumah sakit, Lila dan Riko sudah menunggu di lobby.



“Hai Lila, aku rindu banget.” Rengek Khansa dan memeluk sahabatnya itu.



“Aku juga rindu sa,, kamu liburan ga ngajak-ngajak ah ga seru”



“Maaf ya lil habisnya itu juga kita rencananya dadak juga. Kapan-kapan kita liburan bareng ya” bujuk Khansa kepada sahabatnya itu.



Setelah perbincangan kecil mereka, mereka langsung menaiki lift menuju ruang pemeriksaan.



“Mas, ikut masuk ya?” tanya Khansa meyakinkan suaminya untuk ikut masuk dan melihat perkembangan anak-anaknya.



“Tapi sayang, aku takut..”



Khansa langsung menggenggam tangan Kalandra dengan erat untuk mngurangi kegugupan suaminya.



“Sayang, aku dan anak kita akan baik-baik saja. kamu pasti tidak akan merasa gugup lagi setelah meihat anak kita di layar.”



“Baiklah aku akan memberanikan diri untuk menemanimu masuk ke dalam”



Khansa senang karena suaminya sudah mau memberanikan diri untuk menemaninya melakukan pemeriksaan.



“Kamu beneran Kalandra mau ikut masuk kedalam sa?” tanya Lila yang mengetahui jika Kalandra masih memiliki trauma dengan ruangan yang berhubungan dengan kandungan.



“Iya, aku meyakinkannya untuk menemaniku ke dalam. Semoga saja dia akan mengatasi traumanya setelah mengetahui jika anak yang aku kandung kembar.”



“Tapi bukannya kamu akan memberikan kejutan untuk hari ulang tahunnya?”



“Hari ulang tahunnya masih lama, aku udah geregetan mau ngasih tau mas Andra dari kemarin.”



“Baguslah, memang sudah seharusnya suamimu mengetahui tentang perkembangan anakmu.”



Nama Khansa dipanggil oleh dokter kandungan yang memeriksanya, Khansa menatap ke arah suaminya yang masih terlihat gugup.



“Mas, kamu bisa aku yakin kamu bisa mas. Ayo..” ajak Khansa sambil mengulurkan tangannya ke arah suaminya.



Kalandra menghela nafas panjang dan meraih tangan istrinya itu.



Kalandra dan Khansa memasuki ruangan, Kalandra terkejut karena melihat 2 titik yang ada di layar.



“Dok, kenapa di layar ada 2 titik?” tanya Kalandra yang masih belum paham.



“Itu tandanya bayi tuan Kalandra kembar.” Ucap dokter yang memeriksa Khansa


Kalandra sangat bahagia sampai tidak bisa berkata apa-apa, Kalandra hanya bisa menatap ke arah layar sambil meneteskan air matanya.



“*Ya Allah terimakasih karena telah memberikan 2 malaikat sekaligus di dalam perut istriku*” batin Kalandra.