
Kalandra mengusulkan kepada teman dan istrinya untuk menginap di hotel yang ada di tempat wisata itu, Kalandra hanya memesan 3 kamar. 1 kamar untuk Anita dan Khansa, 1kamar untuk Edo dan Kalandra dan 1 lagi untuk Ryan dan Kenan. kalandra sengaja memesan 1 kamar untuk 2 orang agar Kenan mau tidur bersama dengan Ryan agar misinya untuk mendekatkan Kenan dan Ryan berjalan sesuai rencana.
“papi, kok Kenan sama om Ryan? Kenan mau sama mami aja..” rengek Kenan
“mami kan sama tante Anita, cowok sama cowok dong sayang.” Ucap Khansa
“kenapa tante Anita ga sama om Edo aja, papi sama om Ryan, Kenan sama mami” ucap Kenan dengan polosnya.
Anita dan Edo terkejut mendengar perkataan Kenan.
“yaampun Kenan, papi gamau nanti tante Anita dimakan sama om Edo” ucap Kalandra.
“ha? emang om Edo suka makan orang pi?”
Kalandra tidak mampu menjawab pertanyaan yang diberikan kepada anaknya itu.
“sayang, sini deh deket mami.” Ucap Khansa memanggil anaknya. Kenan menuruti maminya dan berjalan menuju ke arah maminya.
“Apa mami?” tanya Kenan
“sayang, tante Anita dan om Edo belum menikah jadi tidak boleh tidur di kamar yang sama. Kalo papi dan mami kan sudah menikah makanya mami dan papi boleh tidur di kamar yang sama.” Jelas Khansa kepada anak kesayangannya itu.
“oh, jadi tante Anita gaboleh tidur sama om Edo ya mi?”
“iya sayang, jadi malam ini Kenan tidur sama om Ryan ya sayang”
“iya mami, malam ini Kenan tidur sama om Ryan deh.”
“anak pintar,,” puji Khansa sambil mengelus lembut kepala Kenan.
“ayo, sekarang masih siang kita taruh barang-barang di kamar masing-masing lalu berkumpul di lobby hotel, kita akan menikmati liburan ini.” ucap Kalandra.
Setelah mendengar intruksi dari Kalandra, mereka semua masuk ke kamar masing-masing untuk menaruh barang yang mereka bawa.
Kenan dan Ryan berada di dalam kamar yang sama, sebenarnya Kenan masih merasa canggung di dekat Ryan, namun ia selalu mengingat ucapan maminya.
“Kenan mau om bantu beresin barangnya?” tanya Ryan membuka percakapan.
“boleh deh om, Kenan juga ga sampe, lemarinya terlalu tinggi” Ryan tersenyum mendengar Kenan yang dengan mudahnya menerima bantuannya.
Ryan dengan segera mengambi tas yang dibawa oleh Kenan lalu membuka isi tasnya dan memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari yang sudah disediakan di hotel itu.
Setelah selesai membereskan kamarnya masing-masing, mereka semua berkumpul di lobby dan merencanakan tempat yang akan mereka kunjungi.
Kalandra menatap istrinya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, ia kagum dengan kecantikan istrinya hari itu, Khansa benar-benar cantik dengan riasan natural di wajahnya.
“kamu cantik sekali hari ini sayang.” bisik Kalandra yang membuat wajah Khansa memerah karena malu.
“kamu apaan sih mas, bikin aku malu aja” ucap Khansa sambil memukul lengan suaminya itu.
Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel dan menikmati sejuknya cuaca disana.
Kenan bergandengan tangan dengan Khansa dan Kalandra, sedangkan Ryan yang melihat dari belakang hanya tersenyum getir.
“kapan kamu akan memanggilku papa dengan senyum ceria di wajahmu?” tanya Ryan di dalam hatinya.
Kalandra menoleh ke belakang dan melihat Ryan yang menatap Kenan dengan tatapan sedih di wajahnya. Kalandra berjongkok dan memegang bahu Kenan dengan kedua tangannya.
“sayang, kamu temenin om Ryan sana, kasian tuh om Ryan jalan sendirian. Om Ryan juga suka sama wahana yang tinggi-tinggi loh jadi Kenan bisa naik bareng om Ryan, mami sama papi naik wahana bebek-bebekan aja di danau.”
“yah,, papi sama mami ga ikut Kenan?”
“engga sayang, kasian adek di perut mami kalo naik wahana yang tinggi nanti dia nangis didalem perut mami.” Ucap Kalandra meyakinkan anaknya untuk pergi bersama Ryan.
Kenan menoleh ke arah Ryan dengan perasaan bimbang, di satu sisi Kenan ingin bersama dengan papi dan maminya, disisi lain Kenan sangat ingin menaiki wahana yang menantang.
“baiklah, Kenan sama om Ryan tapi papi sama mami jangan pergi jauh-jauh ya biar Kenan nyarinya ga susah” ucap Kenan yang akhirnya menyetujui permintaan papinya itu.
Ryan yang berada di belakang mereka tidak mengerti apa yang dikatakan oleh tiga orang yang berada di depannya, tiba-tiba Ryan melihat Kenan yang berlari ke arahnya, dengan sigap Ryan langsung menangkap Kenan dan memeluknya dengan erat.
Ryan yang tidak mengerti itu melihat ke arah Kalandra dan Khansa, disana Kalandra dan Khansa hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Ryan dengan cepat menurunkan Kenan dari pelukannya dan menggandeng tangan Kenan lalu menghapiri Kalandra dan Khansa.
“kak, aku titip Kenan ya. Jangan naik wahana yang terlalu bahaya loh aku gamau Kenan kenapa-kenapa.” Ucap Khansa
“kamu tenang aja sa, aku ga akan membahayakan Kenan kok.”
“oh iya ngomong-ngomong si Edo kemana?” lanjut Ryan
“gausah nunggu dia, palingan juga dia lagi gombalin Anita” ucap Kalandra
“baiklah, aku dan Kenan bersenang-senang dulu ya,, dahh” ucap Ryan, sedangkan Kenan hanya melambaikan tangannya ke arah kedua orang tuanya itu.
Setelah melihat kepergian Kenan dan Ryan, Kalandra mengajak Khansa untuk berjalan-jalan berdua sambil menggenggam erat tangan istrinya itu.
“mas, semoga keputusan kita untuk mendekatkan mereka adalah keputusan yang tepat” ucap Khansa kepada suaminya.
“iya sayang, Amelia juga akan senang melihat dua laki-laki kesayangannya tidak saling membenci.” Ucap Kalandra
Khansa sangat gembira melihat pemandangan yang ada disana, Kalandra yang melihat kebahagiaan di wajah istrinya itu langsung mengeluarkan hp dari saku celananya dan memotret istrinya.
“wah cantik sekali..” ucap Kalandra melihat hasil jepretannya.
“benarkah? Aku ingin lihat.” Ucap Khansa sambil menghampiri suaminya.
“sayang, apa cita-citamu?” tanya Kalandra tiba-tiba.
“aku? Mm,, aku ingin menjadi designer hebat dan motivator.” Ucap Khansa dengan senyum konyolnya.
“apa kamu ingin kuliah sayang? Aku akan membiayai kuliahmu dan mendukung cita-citamu, aku juga bisa mempekerjakanmu di perusahaanku.” Ucap Kalandra
“apa sih mas? Tujuan utamaku sekarang ini adalah keluarga kecilku. Apalagi sekarang aku sedang mengandung, aku tidak ingin perhatianku untuk mereka berkurang karena aku tidak bisa membagi waktu.”
“Baiklah, saat kamu ingin kuliah lagi aku tidak akan melarangmu, jadi kamu jangan sungkan untuk membicarakannya denganku.” Ucap Kalandra
“baiklah mas, aku tidak akan sungkan untuk meminta sesuatu kepadamu.”
Tidak lama setelah mereka berbincang, mereka sudah sampai di tempat wahana bebek-bebekan.
“mas, kita beneran naik ini?” tanya Khansa yang tidak percaya jika suaminya mau menaiki wahana seperti anak kecil ini.
“loh emang kenapa sayang? Ini seru loh, dan tidak membuatmu kelelahan. Kita juga bisa melihat keindahan danau dan pemandangan disini dari atas bebek itu.”
Khansa hanya bisa pasrah mengikuti ajakan suaminya itu dan menaiki perahu bebek dengan bantuan Kalandra.
Diatas bebek tersebut mereka berbincang tentang masa-masa lalu mereka. Kalandra juga menceritakan hal-hal lucu yang dilakukan Kenan saat masih kecil.
“eh mas, bukannya itu kak Edo dan kak Anita?” tanya Khansa yang melihat Anita dan Edo yang sedang menaiki perahu bebek sama seperti mereka.
“ha? mana mungkin mereka naik beginian sayang,, kamu ngaco deh” ucap Kalandra yang masih serius menggoes perahunya.
“mas, liat dulu itu loh” Khansa menunjuk ke arah Anita dan Edo berada. Kalandra akhirnya menoleh dan menyipitkan matanya melihat ke arah yang ditunjuk oleh istrinya itu.
Dan seketika Kalandra melotot melihat pemandangan yang ia lihat itu, ia tidak menyangka sahabatnya mau menaiki wahana seperti anak kecil ini.
“mas biasa aja liatnya, matanya hampir jatoh tuh.” Ucap Khansa yang melihat keterkejutan suaminya.
“ih kamu tuh, mas kan ganyangka aja mereka naik wahana kayak begini. Ayo kita kerjain mereka.” Dengan semangat Kalandra ingin menggoes ke arah Edo dan Anita namun dicegah oleh Khansa.
“jangan mas, kamu tuh seneng banget ganggu orang lagi PDKT.” Ucap Khansa.
“yaudah deh kita biarin aja mereka seneng-seneng dulu.” Ucap Kalandra dengan pasrah menuruti permintaan istrinya itu.