MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
HARI PERNIKAHAN 2


Bersikaplah kuat, tapi tidak kasar. Bersikaplah baik, tetapi tidak lemah. Berani, tapi jangan menggertak. Bersikaplah rendah hati, tetapi tidak malu-malu. Percaya diri, tetapi tidak sombong.




Acara pernikahan pun di mulai, Rose dan Anita menjadi MC di acara tersebut.



Sebenarnya Kalandra ingin membayar MC terkenal untuk menuntun acara pernikahan kakaknya itu, namun Khansa mengusulkan untuk menyuruh Rose dan Anita yang mengisinya.



“Siapa yang mengusulkan Anita untuk menjadi MC?!” tanya Edo kepada Andra.



“Istriku.” Jawab Andra cuek.



“Kenapa harus Anita? Lihatlah ada berapa banyak mata laki-laki yang melihat kecantikannya!?” protes Edo.



“Iya, lihatlah ada banyak laki-laki yang melihat kecantikan Roseku..” sambung Ryan.



“Tidak apa, bukankah aku bilang jika aku akan mengenalkan mereka kepada laki-laki tampan dan mapan?” ketus Andra.



Edo dan Ryan kesal dengan Kalandra yang membalas dendam kepada mereka karena kejadian yang terjadi di ruangan Robert.



“Pada kesempatan kali ini, ada seseorang yang akan kami suruh maju dan menyumbangkan sebuah lagu untuk kedua pengantin..” ucap Rose.



“Yak, kita sambut Khansa yang tidak lain adalah adik ipar dari kedua pengantin..” lanjut Anita.



Mendengar hal itu Kalandra langsung membulatkan matanya dan menoleh ke arah istrinya yang berada di sebelahnya.



“Mas aku naik ke atas dulu ya..” ucap Khansa.



“No sayang!” ucap Kalandra.



Namun Khansa tetap naik ke atas panggung tanpa mendengarkaan ucapan suaminya. Sedangkan Edo dan Ryan menertawakan Kalandra yang sedang terkejut.



“Lihatlah ekspresi wajahmu sendiri Ndra, hahaha.” Ejek Ryan.



Kalandra menatap sinis ke arah kedua sahabatnya itu dan kembali melihat Khansa yang berada di atas panggung.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1607948034786.jpg)



Khansa menyanyikan lagu



You Are The Reason – Calum Scott



*I'd climb every mountain*



*And swim every ocean*



*Just to be with you*



*And fix what I've broken*



*Oh, 'cause I need you to see*



*That you are the reason*...



Semua orang yang berada di pesta tersebut kagum mendengar suara emas milik Khansa, begitu pula keluarga Kalandra yang tidak menyangka jika Khansa memiliki suara seindah itu.



“Wah lihatlah, wanita itu sangat sempurna. Dia cantik dan bisa bernyanyi seindah itu.” Ucap salah satu tamu laki-laki yang ada di sana.



“Apakah dia sudah memiliki pasangan? Jika tidak aku ingin sekali menjadi pasangannya.”



“Benar, ingin sekali rasanya aku melamarnya dan menjadikannya istriku.” Balas yang lain.



Semua orang membicarakan kecantikan dan keindahan suara Khansa membuat Kalandra geram mendengarnya, Kalandra menghampiri para tamu laki-laki yang sedang asik membicarakan istrinya.



Edo dan Ryan yang melihat Kalandra menghampiri tamu tersebut menjadi was-was, mereka takut jika Kalandra akan melakukan hal yang tidak terduga.



“Dia sudah menikah, bahkan sudah memiliki anak.” Ucap Kalandra.



“Benarkah? siapa laki-laki yang beruntung mendapatkannya? Mungkin aku masih lebih baik di bandingkan suaminya.” Ucap salah satu tamu undangan tanpa melihat ke arah Kalandra karena matanya fokus kepada Khansa yang sedang bernyanyi di depan.



Kalandra semakin geram di buatnya dan berbicara kepada mereka kembali.



“Aku suaminya! Dan dia adalah ibu dari anak-anakku!” tegas Kalandra.



Para tamu tersebut menoleh ke asal suara dan terkejut melihat Kalandra yang berada di belakang mereka.



“T,,tuan Kalandra..” ucap para tamu dengan terbata-bata.



“Iya aku Kalandra, aku adalah suaminya. Apakah aku tidak lebih baik dibandingkan dengan kalian?” tanya Kalandra.



“T,,tidak tuan, bagaimana bisa kami di bandingkan dengan kehebatan tuan Kalandra.” ucap tamu tersebut.



Kalandra hanya menatap mereka dengan tatapan tajam lalu pergi menghampiri Khansa yang berada di panggung.



Kalandra menaiki panggung lalu mengambil microfon yang berada di tangan Khansa dan membuat Khansa terkejut.




“Mohon maaf, tapi saya tidak ingin membiarkan kalian menikmati suara merdu istri saya lebih lama lagi!” ketus Kalandra lalu memberikan mic yang di peganggnya kepada Anita lalu menuntun istrinya untuk turun dari panggung.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1607948034778.jpg)



Suasana di pesta itu menjadi canggung, mereka tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Ryan dan Edo yang melihat aksi Kalandra hanya bisa menertawakan kekonyolan sahabatnya itu.



“Hahaha, maaf ya sepertinya ada suami yang cemburu jika ada yang mendengar suara merdu istrinya.” Ucap Anita sambil di selingi tawa agar suasana menjadi cair kembali.



Karena ucapan Anita, akhirnya semua tamu yang ada di sana ikut menertawakan sikap Klanadra.



“Mas, kamu ini kenapa sih?” tanya Khansa yang masih di rangkul oleh Kalandra.



“Diamlah, kamu membuatku kesal!” ketus Kalandra.



Kalandra mendorong Khansa masuk ke dalam kamar mereka yang kebetulan kosong karena semua orang sedang berada di bawah.



Kalandra mendorong Khansa ke atas tempat tidur lalu Kalandra berada di atas Khansa dengan tangan yang menahan badannya.



“Mas, kamu ini kenapa!?”



“Aku tidak ingin ada yang melihatmu selain aku!”



“Yaampun mas, mereka kan punya mata ya pasti bisa melihat aku.”



“Tidak! Pokoknya kamu harus menyanyi untukku setiap hari!”



“Mas, suaraku akan habis jika harus menyanyi setiap hari.” Protes Khansa.



“Baiklah, tubuhmu saja yang akan aku habiskan!” ucap Kalandra sambil menciumi seluruh tubuh Khansa, mulai dari wajah turun ke leher dan terus turun hingga meninggalkan jejak di tubuh Khansa.



“Mas! Kenapa kamu meninggalkan jejak di leherku! Nanti banyak orang yang melihatnya!” protes Khansa.



“Biarkan saja! aku ingin mereka semua tau jika kamu sudah ada yang memiliki!” tegas Kalandra.



Khansa kesal mendengar ucapan suaminya itu, ia tidak habis fikir jika suaminya memiliki sikap yang kekanak-kanakan seperti itu.



“*Dia sudah memiliki tiga anak namun fikirannya masih seperti anak-anak*!” batin Khasa sambil menggelengkan kepalanya.



Khansa beranjak dari tempat tidur, merapihkan pakaiannya dan berusaha untuk menutupi kissmark yang ada di lehernya menggunakan foundation.



“Kenapa di tutup!?” tanya Kalandra.



“Ya biar ga keliatan mas, malu di liat orang!”



“Biarkan saja mereka melihatnya agar tidak ada yang melirikmu!”



“Sekalian aja aku di borgol mas!”



“Ide bagus, nanti saat pulang aku akan mampir untuk membeli borgol.”



Khansa tidak percaya dengan jawaban suaminya, ia tidak menyangka jika suaminya akan benar-benar membeli borgol untuk memborgolnya.



“Sudahlah mas, ayo kita turun ke bawah kan ga enak ninggal tamu kelamaan”



“Baiklah, tapi kamu harus berada di dekatku terus! Ambil Key di ibu.”



“Kenapa harus ambil Key?”



“Biar semua tau jika kamu sudah memiliki anak!”



“*YaAllah, kenapa suamiku jadi begini huhuhu~ untung kamu ganteng mas*..” Khansa menangis di dalam hati meratapi nasibnya yang memiliki suami over protective.



Kalandra melingkarkan tangannya di pinggang Khansa, ia tidak sedetikpun meninggalkan istrinya itu walau hanya untuk menyapa teman-temannya.



“Mas, aku mau ambil Key di ibu terus mau menyapa Lila dan anaknya.” Ucap Khansa.



“Aku ikut!” tegas Kalandra.



“Iya silahkan ikut mas, tapi tidak bisakah kamu melepas pinggangku? Kita bagaikan surat dan perangko yang menempel terus menerus!” ucap Khansa.



“Tidak apa-apa, itu lebih bagus!”



Khansa hanya menghela nafas panjang melihat suaminya yang tidak mau melepaskan dirinya.



Khansa akhirnya menyapa sahabatnya bersama dengan Kalandra, kemana-mana mereka selalu berdua hingga Ryan dan Edo menggelengkan kepala melihat tingkah Kalandra yang kekanak-kanakan.



“Begitulah! Sok-sokan mau ngerjain kita ternyata dia sendiri yang kena hahaha.” Ucap Ryan.



“Benar yan, sekarang kelihatan siapa yang bucin.” Balas Edo.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1607948034783.jpg)