
Bukanlah kesabaran jika masih mempunyai batas dan bukanlah keikhlasan jika masih merasakan sakit.
Drrtt,,drtt..
Kenan yang sedang fokus dengan laptopnya melirik hpnya yang dari tadi berbunyi, Kenan melihat kalau Bernard menelfon akhirnya Kenan segera mengangkatnya.

“Halo Bernard, ada apa?” tanya Kenan.
“Kenan, aku ingin memberi tau kalau Key mala mini akan tidur di rumahku.” Ucap Bernard.
“Kenapa? Apa ada masalah?” tanya Kenan.
“Tidak apa-apa, mamaku merindukannya jadi dia menyuruh Key untuk menginap di rumah.” Ucap Bernard.
Akhirnya Kenan menyetujui permintaan Bernard dan mematikan telfon dari sahabatnya itu.
“*Dari dulu kamu ini memang tidak bisa berbohong Bernard, aku tau pasti ada sesuatu yang terjadi di pesta itu*.” Gumam Kenan.
Setelah selesai berbicara dengan Bernard, Kenan segera menelfon Belinda untuk memastikan keadaan Key karena Kenan merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Bernard.
“Halo Kenan?” sapa Belinda dari sebrang telfon.
“Hai sayang, apakah Key ada di rumahmu?” tanya Kenan.
“Key? Tidak ada, bukan kah dia tidur di apartmentmu?” tanya Belinda.
“Ah tidak, aku hanya memastikan selamat malam sayang.” ucap Kenan yang segera mematikan telfonnya.
Kenan semakin khawatir karena kecurigaannya benar, Kenan segera menghubungi orang-orangnya yang berada di Jepang untuk mencari tau apa yang terjadi di pesta itu.
“Halo tuan, ada apa?” tanya seseorang dari telfon.
“Tolong cari tau apa yang terjadi di pesta yang di adakan di hotel X yang berhubungan dengan adikku.” Ucap Kenan.
“Baik tuan!”
Setelah menyuruh orang suruhannya, Kenan segera melanjutkan aktifitasnya dan kembali sibuk menatap laptopnya.
Drrtt,, drrtt,,
Mendengar hpnya berbunyi, Kenan segera mengangkatnya karena tau kalau orang suruhannya pasti sudah mendapatkan informasi mengenai adiknya.
“Halo, bagaimana?” tanya Kenan.
Akhirnya orang itu menceritakan semua yang terjadi di pesta itu secara rinci, Kenan yang mendengarnya segera mengepalkan tangan kanannya, dia sangat marah mendengar jika ada seseorang yang mau melukai adik kesayanganya.
“Sial! Cepat cari tau siapa orang yang sudah membuat adikku celaka dan hampir di permalukan! Sekarang!” bentak Kenan lalu mematikan telfonnya dan membanting barang yang ada di meja kerjanya.
“*Tidak bisa di biarkan! Dia tidak tau sedang berurusan dengan siapa! Kalau tidak ada Bernard mungkin Key sudah menjadi berita hangat di mana-mana*!” gumam Kenan yang masih menahan emosinya.
Tok,,tok,, tok..
“Siapa?” tanya Kenan.
“Abang, ini aku Elsa. Bolehkah Elsa masuk ke dalam?” tanya Elsa.
“Hm, masuklah.” Ucap Kenan yang tidak mungkin melarang Elsa masuk ke dalam.
Elsa yang baru saja membuka ruang kerja abangnya itu langsung terkejut melihat barang-barang yang berserakan di lantai.
“Abang? Ada apa ini?” tanya Elsa.
“Tidak, abang hanya kesal karena sesuatu. Kamu ada apa kemari?” tanya Kenan.
“Mami Khansa suruh Elsa tanya abang, apakah kak Key tidak pulang malam ini? karena hari sudah mulai larut, mami Khansa merasa khawatir.” Ucap Elsa.
“Bilang mami tidak usah mengkhawatirkan Key karena Key malam ini menginap di rumah Bernard karena mamanya merindukan Key.” Ucap Kenan.
“Benarkah bang? Abang tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?” tanya Elsa dengan tatapan curiga.
“Tidak, abang tidak menyembunyikan apapun, kamu segera tidurlah tidak baik anak perempuan tidur malam.” Ucap Kenan sambil tersenyum ke arah Elsa.
Akhirnya Elsa mengangguk mengiyakan ucapan abangnya dan pergi meninggalkan ruang kerjanya dengan perasaan yang masih curiga.
Pagi sudah datang, sinar matahari masuk di sela-sela jendela kamar Bernard yang tertutup tirai putih. Key terbangun dengan kepala yang terasa pusing dan mata yang belum terbuka sepenuhnya, tangannya meraba tempat tidur di sebelahnya namun tidak menemukan sosok Bernard, Key membuka matanya dan mecari keberadaan Bernard, pandangannya terhenti di sebuah sofa yang ada di samping tempat tidur, Key tersenyum melihat Bernard yang masih tertidur lelap di sofa tersebut.
“Terimakasih yaAllah karena engkau sudah memberikan laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab kepadaku, aku tidak akan menyia-nyiakannya.” Batin Key sambil menatap Bernard dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Key beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk menyikat gigi dan mencucui mukanya terlebih dulu lalu dia pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk dirinya dan Bernard.
“Huh dasar om beruang, katanya dia yang mau masakin aku. Sekarang malah dia masih di dalam mimpi.” Gumam Key sambil membuka kulkas untuk mencari bahan makanan yang akan di buatnya.
“Aku mau masak apa ya, aku kan ga bisa masak yang susah-susah. Aku masak omelette aja deh itu kan gampang enak lagi hihi.” Ucap Key sambil cekikikan.
Key akhirnya mengambil bahan-bahan yang akan dia gunakan untuk memasak omelette sambil bersenandung, kepalanya terasa pusing tapi entah dia merasa sangat bersemangat memasak untuk Bernard.
Bernard yang masih berada di dalam kamarnya membuka matanya secara perlahan karena silau terkena sinar matahari, Bernard terkejut setelah melihat kalau Key tidak ada di atas tempat tidur. Bernard segera pergi ke kamar mandi untuk mencari Key namun tidak ada juga.
Tiba-tiba Bernard di kejutkan oleh suara benda jatuh dari arah dapur, dengan perasaan was-was Bernard berjalan menuju dapur untuk memastikan siapa yang sedang berada di dapur.
Bernard melihat Key yang sedang mengambil alat dapur yang terjatuh lalu kembali memasak dengan wajah yang ceria.
“Apa dia tidak pusing setelah tidak sadarkan diri semalam? Bagaimana bisa dia selincah dan seceria itu.” Gumam Bernard di dalam hatinya sambil menggelengkan kepala.
Bernard menatap Key dari belakang dan baru menyadari betapa cantik dan sexynya Key dengan kemeja putih miliknya yang kebesaran di tubuhnya dengan rambut panjangnya yang terurai.
“Ternyata dia sexy juga ya hihi.” Gumam Bernard.
Bernard yang melihat Key kesulitan karena rambutnya yang terurai segera menghampirinya dan mengikat rambut Key hingga membuat Key terkejut karena hal itu.
“Yaampun om beruang mau bikin Key jantungan ya?” ketus Key yang menoleh ke arah Bernard.
“Aku kan Cuma mau bantu mengikat rambutmu, bukannya terimakasih malah ngomel-ngomel.” Ucap Bernard.
“Ya tapi bilang dulu harusnya kasih aba-aba dulu kek gitu.”
“Kamu masak apa? Emang kamu bisa masak?” tanya Bernard mengalihkan pembicaraan.
“Aku ga bisa masak yang macem-macem, jadi aku Cuma masak omelette sama sayur bening aja pake bahan yang ada.” Ucap Key.
“Emang kamu ga pusing Key? Semalam kamu itu ga sadar loh.”
“Pusing kok, tapi tiba-tiba pusingnya ilang aja gitu pas masak.”
“Hem dasar aneh, yaudahlah aku mau menghubungi Jo untuk menjemput Lana dan membawakan pakaianmu kemari, aku juga mau mandi dulu.” Ucap Bernard yang di balas anggukan oleh Key.
Melihat Key yang sibuk memasak, Bernard akhirnya segera pergi ke kamarnya lalu menelfon Lana dan Jonathan untuk membawakan pakaian untuk Key.
“Jo, tolong jemput Lana dan suruh dia membawakan pakaian untuk Key, segera bawa ke apartment pribadiku, tapi jangan sampai ada keluarga Key yang lain mengetahui hal ini.” Perintah Bernard dari telfon.
“Baik tuan, saya akan segera menjemput nona Lana.”
“Tidak usah terburu-buru, aku juga baru mau sarapan berdua dengan Key, jangan menggangguku sebelum aku selesai sarapan!” tegas Bernard.
“Baik tuan.”
“Aku juga kan mau sarapan berdua sama Key itung-itung latihan sebelum menikah.” Gumam Bernard sambil tersenyum penuh arti lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.