
Bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Berjuang meningkatkan kualitas diri. Maka lihatlah, kelak akan kau temukan cinta yang berkualitas.
Semua orang di rumah panik karena Khansa tiba-tiba merasakan sakit di perutnya. Kalandra segera membawa Khansa ke rumah sakit untuk memeriksa keadaannya.
Sedangkan papa Arnlod, mama Alisha dan Kenan menunggu kabar dari rumah dan mempersiapkan barang yang di butuhkan Khansa di rumah sakit, karena mereka takut jika Khansa harus rawat inap di rumah sakit.
“Nek, mami kenapa kesakitan nek? Apa adek-adek Kenan akan segera keluar?” tanya Kenan dengan nada khawatir.

“Nenek juga ga tau sayang, sabar ya kita tunggu kabar dari papa. Nenek mau siapin baju mama dan adik-adik dulu ya.” ucap mama Alisha.
Mama Alisha beranjak pergi ke dalam kamar Khansa untuk membawa beberapa pakaian untuk Khansa dan beranjak ke kamar si kembar untuk menyiapkan baju-baju mereka juga.
“Ma, kamu gausah panik gitu, kita tunggu kabar Andra dulu..” ucap papa Arnold yang melihat istrinya tidak bisa diam.
“Engga pa, nanti kalau Andra telfon kita bisa langsung berangkat.” Ucap mama Alisha yang masih bolak balik menyiapkan barang-barang.
Drrtt,, drrtt..
Kenan melihat hp papa Arnold yang ada di meja berbunyi.
“Kakek, papa nelfon.” Teriak Kenan.
Dengan segera papa Arnold mengangkat telfon itu.
“Halo Ndra, gimana keadaan Khansa?” tanya papa Arnold.
“Khansa harus segera melahirkan pa, papa dan mama cepatlah kemari.” Ucap Andra.
Dengan segera papa Arnold memanggil istrinya dan menyuruh Kenan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
“Ma, ayo kita ke rumah sakit sekarang. Khansa sudah mau melahirkan.” Panggil papa Arnold.
Mama Alisha segera keluar dari kamar si kembar dan membawa dua tas besar untuk Khansa dan kedua anaknya.
“Sebentar pa, mama akan menelfon besan kita dulu.” Ucap mama Alisha yang segera mengambil hpnya lalu menghubungi orang tua Khansa.
Setelah selesai menghubungi orang tua Khansa, mama Alisha, papa Arnold dan Kenan segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke rumah sakit.
“Kenapa Khansa bisa melahirkan di usia kandungan 8 bulan ma?” tanya papa Arnold.
“Entahlah mama juga kurang mengerti, biar nanti kita tanya kepada Anita.” Ucap mama Alisha.
Sesampainya di rumah sakit, mereka bertiga segera menghampiri ruangan Khansa, disana sudah ada banyak orang yang menunggu di depan ruangan.
“Ada apa? Kenapa kalian beada di sini?” tanya mama Alisha.
“Kami segera kemari setelah Anita menelfon dan mengabari mengenai kondisi Khansa tante.” Ucap Edo.
Mama Alisha mencari keberadaan Anita karena ingin menanyakan tentang keadaan Khansa.
“Anita, kemarilah tante ingin berbicara denganmu.” Ucap mama Alisha.
“Tante pasti ingin bertanya tentang keadaan Khansa kan?” ucap Anita yang bisa menebak apa yang akan di tanyakan oleh tantenya.
“Gini tante, memang sebenarnya 50% ibu yang mengandung anak kembar akan melahirkan dengan premature, tapi kita tidak melihat ada tanda-tanda Khansa akan melahirkan premature maka dari itu kita juga sedikit terkejut dengan keadaan Khansa yang harus segera melahirkan.” Jelas Anita.
“Tapi tidak akan ada masalah dengan keadaannya kan nit?”
“Tidak tante, tante tenang aja keadaan Khansa dan kedua bayinya baik-baik saja.”
“Andra sudah melipakan traumanya tante, dia sekarang sedang mendampingi Khansa.”
“Syukurlah jika begitu,” ujar mama Alisha sambil menghela nafas lega.
Di dalam ruangan, Kalandra terus menemani dan menggenggam tangan sang istri dengan sangat erat.
“Mas, setelah anak-anak kita lahir nanti aku ingin kamu mengadzaninya. Kita sudah mempelajarinya bersama bukan?” tanya Khansa.
“Iya aku tau, aku akan mengadzani anak-anak kita. Sudahlah jangan banyak bicara, kamu butuh tenaga untuk melahirkan anak-anak kita.”
“Mas, aku sangat bahagia karena saat melahirkan kamu sudah mengingat tentangku.” Ucap Khansa yang hanya dibalas senyuman oleh Kalandra.
“Oh iya mas, setelah aku keluar dari rumah sakit aku ingin megunjungi Hani.”
“Kamu masih belum kapok juga ya sa? Kamu tau kan dia adalah penyebab terjadinya penculikan Kenan?”
“Mas, yang menjadi penyebab penculikan dan penembakan kamu adalah cinta. Dia melakukan itu semua karena terlalu mencintai Robert. Dia juga akan melahirkan sepertiku bulan depan dan aku hanya ingin mengetahui keadaannya, atau jika dia mau kita bisa membantu mengurus anaknya nanti, tidak baik jika seorang anak tumbuh di dalam penjara mas.” Ucap Khansa dengan penuh ketulusan.
“Hatimu terlalu baik sayang, itulah yang membuatku mengkhawatirkanmu.” Batin Kalandra sambil menatap wajah Khansa.
“Mas, kamu kok diem aja sih? Jawab dong” ucap Khansa yang menyadarkan Kalandra.
“Hm, iya sayang nanti kita akan menjenguknya bersama-sama oke?”
Khansa mengangguk senang karena Kalandra menyetujui keinginannya.
“Mas, apa melahirkan rasanya sakit?” tanya Khansa secara tiba-tiba.
“Ya mas ga tau sayang, mas kan ga pernah melahirkan..”
“Tapi mas, sekarang saja perutku sudah mulai sakit. Apa aku akan melahirkan mereka dengan selamat mas hikss? Aku takut,, hikss..hikss.” Khansa mulai memikirkan masalah kelahiran anak-anaknya.
“Tidak sayang, aku tau kamu kuat dan akan melahirkan dengan lancar.” Kalandra tetap berusaha tenang karena ia tidak ingin membuat istrinya menjadi tambah cemas melihatnya mengkhawatirkan Khansa.
“Kak Edo? Gimana keadaan kak sasa?” tanya Leo yang baru saja datang bersama dengan kedua orangtuanya.
“Dia sedang berada di dalam bersama dengan Andra, dia baik-baik saja hanya saja dia harus segera melahirkan mungkin satu jam lagi.” Jelas Edo.
Ibu dan bapak Khansa menghampiri papa Arnold dan mama Alisha.
“YaAllah bu, saya khawatir banget pas ibu Alisha menelfon dan mengatakan bahwa sasa akan segera melahirkan, padahal kan belum waktunya saya kira ada apa-apa dengan sasa dan bayinya.” Ucap ibu Khansa.
“Awalnya saya juga kaget bu, tapi setelah bertanya dengan Anita Alhamdulillah Khansa dan bayinya baik-baik saja.” ucap mama Alisha menenangkan besannya.
“Lalu apakah dia sudah melahirkan?”
“Belum bu, mungkin satu jam lagi dia akan masuk ke dalam ruang bersalin.”
Ibu Khansa , dan mama Alisha menunggu dengan tenang di depan ruangan, tidak lama kemudian para suster masuk ke dalam ruangan lalu membawa Khansa keluar dari ruangannya.
“Khansa? Kamu baik-baik saja sayang?” tanya ibu Khansa.
“Alhamdulillah sasa baik-baik saja bu, maaf ya bu, ma dan yang lainnya. Kalian semua jadi mengkhawatirkan sasa, maaf ya sasa udah ngerepotin.” Ucap Khansa dengan nada yang mulai lemah.
“Sayang kamu ini apa-apaan sih, kita ini semua sangat menanti kehadiran anak-anakmu jadi kita tidak merasa di repotkan.” Ucap mama Alisha dan di susul anggukan oleh yang lainnya.
“Kenan kemana ma?” tanya Khansa.
“Kenan di sini mami hikss,,”
“Sayang, kamu jangan menangis. Kamu adalah kekuatan mami, kalo kekuatan mami menangis lalu mami juga akan menangis.” Ucap Khansa sambil mengusap pipi anaknya.
“Kenan tidak akan menangis lagi mami..” ucap Kenan sambil memegang tangan maminya.
“Mami janji akan kembali menemani Kenan setelah ini, doakan mami agar bisa melahirkan adik-adik Kenan dengan selamat ya sayang.”
“Hm, mami. Kenan yakin adek-adek pasti nurut nanti, dokternya suruh adek-adek keluar pasti langsung keluar nanti mami.” Ucap Kenan dengan polosnya.

Semua orang yang ada di sana termasuk Khansa tertawa karena mendengar ucapan Kenan yang polos itu.
Suster tersebut mendorong kembali tempat tidur Khansa dan membawanya ke ruang bersalin di ikuti oleh Kalandra.