MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
ALAY


Dua minggu telah berlalu, hari ini Ken, dan Rey pergi ke kampus mereka untuk mengambil ijasah dan beberapa sertifikat yang masih tertinggal di kampus.


Sudah sebulan setelah mereka berdua lulus kuliah, dan ini adalah pertama kalinya mereka kembali ke kampus bersama-sama.


“Akhirnya kita bisa keluar bersama lagi setelah kamu terkurung di apartmentmu!” ucap Rey.


“Aku tidak terkurung Rey, aku bersenang-senang di apartmentku!” ucap Ken sambil tersenyum sinis ke arah saudaranya itu.


“Cih! Dasar bucin! Aku benar-benar tidak habis fikir, bagaimana bisa kamu betah sekali di dalam apartmentmu, biasanya juga tiada hari tanpa keluar.”


“Diamlah, kamu tidak akan mengerti rasanya sebelum kamu menikah! Maka dari itu menikahlah.”


Rey hanya tersenyum sinis ke arah Ken tanpa mengucapkan apapun lagi karena mereka sudah sampai di kampus mereka.


“Bagaimana mau menikah, pacar saja aku tidak punya!” batin Rey sambil memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk kampus.


Ken dan Rey sudah selesai mengambil ijasah dan sertifikat mereka yang tertinggal, namun tiba-tiba saja perhatian Rey tertuju kepada Elsa yang sedang berbicara dengan seorang laki-laki sambil tersenyum tidak jauh dari tempat mereka berdiri.



“Kamu lagi liatin apa sih Rey?” tanya Ken yang berada di belakangnya.


Ken menoleh ke arah yang di lihat Rey lalu tersenyum lebar melihat saudaranya di sana.


“Elsa!” teriak Ken.


“Kamu ngapain manggil dia Ken?!” tanya Rey.


“Kenapa emangnya? Aku sudah lama tidak bertemu Elsa tentu saja aku merindukannya.”


Elsa menoleh ke asal suara yang memanggilnya dan membuka kedua matanya dengan lebar saat melihat kakaknya ada di sana.


“Kak Ken!!” teriak Elsa yang segera berlari menghampiri kakaknya.


“Yaampun kak aku sangat merindukanmu! Bagaimana bisa kamu tega sekali tidak menghubungiku sama sekali!” ketus Elsa dengan tangan yang menyilang di dadanya.


“Hahaha, maafkan aku Els, aku kan juga butuh istirahat bersama Andini setelah acara pernikahan kami yang sangat melelahkan itu.” Jelas Ken.


“Kak Ken ada urusan apa ke kampus?”


“Aku dan Rey mengambil beberapa sertifikat yang tertinggal di loker jadi kami kemari untuk mengambilnya.” Ucap Ken.


Elsa melirik ke arah Rey yang sedang membuang mukanya, dia tidak melihat ke arahnya sama sekali.


“Kalau begitu Elsa kembali ke kelas ya kak.” Pamit Elsa.


“Dia pacarmu ya?” tanya Ken sambil menunjuk ke arah laki-laki tampan yang tadi sedang berbicara dengan Elsa.


“Ah, bukan kak, dia hanya temanku saja.”


“Untuk saat ini teman, tapi tidak tahu kedepannya kan?” goda Ken hingga membuat Elsa tersipu malu lalu segera pergi meninggalkan Ken dan Rey menyusul laki-laki tersebut.


Ken melirik ke arah Rey sambil tersenyum penuh arti.


“Kenapa mukanya asem banget begitu? Cemburu ya?” ejek Ken.


“Dih, apaan sih! Ngapain aku harus cemburu dengannya, tidak jelas sekali!” ketus Rey.


“Rey ingatlah, kamu akan merasa kehilangan saat dia sudah di miliki orang lain.” Ucap Ken.


“Apaan sih Ken! Aku tidak perduli dia sudah dimiliki orang lain atau tidak!” ketus Rey yang langsung meninggalkan Ken yang masih berdiri di tempatnya.


“Kamu benar-benar akan merasa kehilangan Rey, dan di saat hal itu tiba aku sudah tidak bisa membantumu lagi.” Batin Ken sambil melihat punggung saudaranya.


Setelah lama menatap punggung saudaranya yang sudah mulai menjauh, Ken langsung berlari menyusul Rey.


Sedangkan Elsa masih di tempatnya menatap kepergian Rey dan Ken yang sudah mulai menghilang dari penglihatannya.


“Aku harus bisa melupakannya, dia hanyalah bintang untukku yang tidak bisa aku gapai.” Gumam Elsa sambil tersenyum sendu.


“Ah iya aku baik-baik saja kok, ayo kita ke perpustakaan.” Ajak Elsa.


Rey masih tetap diam di dalam mobil, dia hanya fokus menyetir tanpa mengajak Ken berbicara.


“Hei! Kamu bilang kalau kamu merindukanku, tapi kenapa sekarang kamu malah mendiamkanmu ha?” tanya Ken.


“Aku malas berbicara!”


“Kalau begitu antar aku ke apartment, lebih baik aku bertemu dengan istriku dari pada melihat wajahmu yang jelek ini!”


“Sialan kau ini! Apa kamu tidak bisa diam? Aku ini sedang malas berbicara!” ketus Rey.


“Kenapa? Karena Elsa dekat dengan laki-laki lain?” tanya Ken.


“Bisakah kamu diam Ken? Aku sedang tidak ingin bercanda.”


“Terus apa maumu? Aku harus melihat wajahmu yang bete ini seharian? Kan lebih baik aku melihat wajah Andini!” ketus Ken.


“Kamu ini betah sekali melihat wajah Andini, emang di wajah Andini itu ada apanya hah?”


“Ada pelangi di matanya.”


“Huekkk!! Sialan kamu Ken, sejak kapan kamu jadi alay begini?” ucap Rey.


“Hahahaha, sejak negara api menyerang! Rey, dulu aku juga tidak percaya dengan namanya cinta, bahkan saat menyukai Audrey juga aku tidak sampai seperti ini.” ucap Ken.


“Dan aku yakin kamu juga akan mengalami hal yang sama denganku.” Lanjutnya.


Rey tidak membalas perkataan Ken, Rey sama sekali tidak percaya dengan cinta, menurutnya cinta hanya membuat laki-laki menjadi konyol seperti saudaranya sekarang.


“Bagaimana sekarang? Kamu ingin aku temani kemana?” tanya Ken.


“Hari ini ada film action terbaru yang baru keluar di bioskop, bagaimana jika kita menonton saja?” tanya Rey.


“Hah? Kita laki-laki menonton bioskop berdua saja? Aku akan mengajak Andini juga, dia juga menyukai film action sama dengan kita.” Ucap Ken.


“Lalu kalau kamu mengajak Andini, aku jadi obat nyamuk gitu? Yang bene raja Ken, tega banget kamu ngebiarin aku ngeliat kemesraanmu dan Andini.” Ucap Rey.


“Mau aku ajak Elsa? Dia juga menyukai film action.”


“Tidak!”


“Pokoknya aku mau mengajak Andini! Kalau kamu tidak membolehkan aku membawa Andini kamu nonton sendiri saja!”


“Huh! Baiklah kamu bawa saja Andini, aku ingin lihat ada apa di wajah Andini sampai kamu sangat menyukainya!”


“Cih! Jangan sampai kamu melihat wajah istriku, akan aku colok matamu kalau kamu berani melihatnya terus menerus!” ketus Ken.


Rey hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan saudaranya yang semakin lama semakin berlebihan itu.


Rey segera mengantar Ken ke apartmentnya terlebuh dahulu untuk mengajak Andini, mereka berdua masuk ke dalam apartment Ken di sambut dengan senyuman manis Anidni.


“Jangan tersenyum padanya! Bukankah aku sudah bilang kamu hanya boleh tersenyum seperti itu kepadaku saja!” ketus Ken yang membuat Rey menganga tidak percaya.


“Kamu ini apaan sih Ken, dia itu saudaramu juga jadi aku harus tersenyum padanya.”


“Tapi dia tetap saja laki-laki, jadi kamu tidak boleh tersenyum padanya.” Ucap Ken sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mandi.


“Apa Ken selalu seperti itu?” tanya Rey dengan berbisik kepada Andini.


“Ya begitulah, seperti yang kamu lihat! Aku selalu pusing karena tingkahnya yang berlebihan.” Balas Andini.


“Sayang! Aku mau mandi, kamu siapkan pakaianku dari pada harus berbicara dengannya, nanti dia menyukaimu!” teriak Ken dari dalam kamarnya.


Andini hanya menghela nafas sambil melihat ke arah Rey seperti ingin mengatakan kalau saudaranya memang selalu berlebihan kapanpun.


“Semoga saja aku tidak seperti Ken saat menikah nanti, aku jadi geli sendiri melihatnya.” Gumam Rey sambil memeluk tubuhnya sendiri dan berjalan menuju sofa yang ada di ruang keluarganya.