
Kita tidak di takdirkan untuk di sukai semua orang. Yang benci biarlah benci dengan alasannya sendiri, jangan berusaha meyakinkan, sebab dia akan lebih yakin pada kebenciannya.
Di bandara, Anita, Edo, Erina, Audrey, Aldi dan istrinya mengantar kepergian Ken untuk pulang ke Indonesia.
“Hati-hati ya Ken, jangan lupa hubungi papi dan mamimu sesampainya di sana, dan segera hubungi aunty juga oke? Aunty tidak akan bisa tidur nyenyak jika kamu belum sampai di Indonesia.” Tegas aunty Anita.
“Iya aunty, Ken akan segera menghubungimu dan menghubungi papi dan mami segera Ken sampai di sana.” Ucap Ken.
“Dan kenapa rambutmu seperti itu Ken!? Apa kamu sedang menantang papimu dan memberontak?” tanya Anita.
“”Tidak, Ken hanya ingin mencari penampilan baru, apakah sangat aneh dengan penampilan Ken aunty?” tanya Ken.
“Mungkin menurut aunty tidak, karena di sini ada banyak sekali model rambut seperti itu, namun untuk papimu, aunty yakin kalau dia akan sangat terkejut melihat perubahanmu seperti itu.” Ucap Anita.
“Sudahlah ma, mama itu terlalu banyak bicara! Apa mama tidak melihat kalau Audrey sedang menunggu gilirannya untuk mengucapkan salam perpisahan dengan Ken?” ucap Erina yang memotong pembicaraan Ken dan mamanya.
Mendengar ucapan anaknya, akhirnya Anita sadar kalau dirinya terlalu banyak berbicara dengan keponakannya itu. Anita menjauh dari Ken dan membiarkan Audrey untuk berbicara dengan Ken.
“Pokoknya hati-hati ya Ken.” Ucap Anita.
“Titip salam untuk papi dan mami kamu ya Ken, bilang pada mereka kalau kami akan ke sana saat acara pernikahan abangmu.” Ucap Edo.
“Siap om, Ken akan menyampaikan salam om kepada papi dan mami, kalian semua juga jaga diri baik-baik di sini ya.” ucap Ken.
Setelah berpamitan, Anita, Edo dan Erina segera meninggalkan Ken dan keluarga Audrey untuk mengucapkan selamat tinggal.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Ken kepada Audrey.
“Aku baik-baik saja selama kamu terus mengabariku.” Ucap Audrey sambil memanyunkan bibirnya.
Melihat anaknya yang manja seperti itu membuat Aldi dan istrinya saling bertatapan satu sama lain dan menggelengkan kepalanya.
“Om dan tante titip salam untuk orang tuamu ya Ken dan hati-hati di jalan, kami akan segera pergi dari sini jadi kalian berdua bisa berbicara dengan leluasa.” Ucap Aldi sambil menepuk pundak Ken.
“Ken akan menyampaikan salam om dan tante, om dan tante juga harus jaga diri baik-baik di sini ya.” ucap Ken sambil tersenyum.
Setelah mengucapakan selamat tinggal kepada Ken, Aldi dan istrinya segera pergi meninggalkan Ken dan Audrey berdua untuk berbicara.
“Apa kamu akan menghubungiku sesampainya di sana?” tanya Audrey.
“Tentu saja aku akan langsung menghubungimu Audrey, kamu tenang saja.” ucap Ken mencoba untuk menenangkan Audrey.
“Apa kamu akan segera melupakanku setelah sampai di Indonesia?” tanya Audrey.
“Tentu saja tidak! Kenapa aku harus melupakanmu?” tanya Ken.
Audrey hanya diam tidak menjawab apapun ucapan dari Ken, dia hanya menundukkan kepalanya karena mengkhawatirkan Ken.
Ken yang melihat ke khawatiran Audrey langsung membelai rambut panjangnya mencoba untuk menenangkannya.
“Sudahlah, kamu tenang saja karena aku akan selalu menghubungimu dan akan tetap menyukaimu saja Audrey.” Ucap Ken.
“Benarkah?” selidik Audrey.
“Bolehkah aku memelukmu?” tanya Ken.
“Tentu saja.” ucap Audrey.
Mendengar ucapan Audrey, Ken langsung memeluk Ken dengan erat dan mencoba untuk menenangkannya.
“Sudah ya, aku harus segera berangkat agar tidak ketinggalan pesawat.” Ucap Ken sambil melepaskan pelukannya dari Audrey.
“Baiklah, hati-hati di jalan ya Ken, jangan lupa hubungi aku setelah sampai di Indonesia.” Ucap Audrey.
Setelah memberikan salam perpisahan akhirnya Ken berjalan masuk ke dalam untuk check in dan meninggalkan Audrey yang sedang berdiri sendirian melihat kepergian Ken.
\*\*\*
“Kita mau kemana lagi?” tanya Elsa yang masih berada di dalam mobil bersama Bernard, Key dan Rey.
“Kamu mau kemana Key? Aku harus menjawab apa jika papi dan mamimu bertanya kepadaku?” tanya Rey.
“Kamu bisa mengatakan kalau aku sedang pergi bersama om beruang, mereka tidak akan bertanya lebih banyak lagi.” Ucap Key.
Bernard menghentikan mobilnya di depan rumah Elsa, Elsa dan Rey segera turun dari mobil sesampainya dia di rumah Elsa.
“Hati-hati di jalan ya kak, sampai bertemu lagi.” Ucap Elsa sambil melambaikan tangannya kepada Key dan Bernard.
“Sepertinya ada sesuatu yang Key sembunyikan.” Gumam Rey yang di dengar samar-samar oleh Elsa.
“Apa? Kak Rey ngomong apa barusan?” tanya Elsa.
“Tidak ada apa-apa, di mana mobil Key? Aku akan segera pulang.” Ucap Rey.
“Apa kak Rey tidak mau mampir dan menyapa papa dan mamaku?” tanya Elsa.
“Aku akan menyapa mereka tapi tidak lama karena papa dan mamaku juga pasti akan mencariku.” Ucap Rey.
Elsa mengangguk mengiyakan ucapan Rey, akhirnya mereka berdua masuk ke dalam rumah dan menyapa papa Ryan dan mama Rose di dalam.
Di dalam mobil, Bernard sesekali melirik Key yang ada di sebelahnya, Bernard takut untuk berbicara kepada Key yang sedang kesal.
“Kenapa ngeliatin aku kayak gitu? Emang om beruang ga penasaran akum au kemana?” tanya Key yang dari tadi sadar kalau Bernard memperhatikannya.
“Aku tau kamu mau kemana kok, tapi bisakah kalau kita kesana lain kali?” tanya Bernard.
“Kenapa harus lain kali kalau sekarang kita bisa kesana? Bukankah lebih cepat lebih baik? Abang dan kak Belinda akan segera menikah, kalau ada masalah kayak gini bukankah kita harus menyelesaikannya?” tanya Key.
“Aku tau kalau kamu mengkhawatirkan hubungan mereka, tapi kembali lagi ini adalah hubungan mereka, jadi aku rasa mereka harus bisa mengatasi semuanya berdua karena mereka sudah dewasa.” Ucap Bernard.
“Tapi, aku takut kalau hubungan mereka akan terguncang karena nenek lampir itu.” Ucap Key.
Mendengar ucapan Key, Bernard menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia menoleh ke arah Key dan memegang kedua bahunya sambil menatap kedua matanya.
“Key, dengarkan aku! Aku adalah kakak Belinda, aku lebih menginginkan kebahagiaannya dari pada orang lain, tapi mereka sudah besar Key, sampai kapan aku harus ikut campur dalam masalah pribadinya, ini adalah ujian untuk hubungannya jadi kita harus membiarkannya mengatasi semuanya sendiri.” Jelas Bernard.
“Aku tau kalau kamu sangat menyayangi Belinda, tapi ada saatnya di mana kita tidak boleh ikut campur dalam hubungan mereka.” Lanjutnya.
Mendengar ucapan Bernard, Key hanya diam, dia sadar kalau dirinya terlalu ikut campur dalam urusan hubungan abangnya sedangkan dia hanyalah anak kemarin sore yang bahkan tidak pernah berpacaran sama sekali.
“Baiklah, aku tidak akan ikut campur ke dalam urusan pribadi mereka, tapi aku tetap ingin bertemu dengan nenek lampir itu lain kali.” Ucap Key.
“Tentu saja, lain kali kita harus mengunjungi wanita itu.” Ucap Bernard.
“Kemana kita sekarang tuan putriku?” tanya Bernard.
“Kita pulang saja, dan om beruang harus langsung pulang dan menjaga kak Belinda, oke?” ucap Key.
“Baiklah, aku akan menjaga Belinda dengan baik, kamu juga harus menjaga dirimu sendiri oke?” ucap Bernard yang di balas anggukan oleh Key.
Akhirnya Bernard kembali menjalankan moilnya menuju rumah keluarga papi Kalandra, setelah sampai, Bernard ikut masuk ke dalam rumah Key untuk menyapa papi Kalandra dan mami Khansa.
“Bernard, Key, kalian sudah pulang? Bukankah kalian bersama Kenan?” tanya papi Kalandra yang sedang duduk di ruang tamu.
“Abang belum pulang? Tadi abang pulang duluan soalnya kak Belinda lagi ga enak badan.” Jelas Key.
“Belinda sakit? Apa sakitnya parah?” tanya mami Khansa yang baru saja menuruni tangga.
“Dia hanya kelelahan tante, Bernard akan segera pulang dan menjaganya dengan baik.” Ucap Bernard.
“Baiklah, tante akan berkujung besok pagi dan membawa beberapa makanan sehat untuk Belinda.” Ucap mami Khansa.
“Terimakasih banyak tante, maaf kami sudah merepotkan.” Ucap Bernard.
“Tidak akan merepotkan om beruang, aku dan mami akan menjaga kak Belinda dengan baik, apalagi om beruang sudah mulai bekerja besok.” Ucap Key.
Mendengar ucapan semua orang, Bernard sangat bersyukur karena adiknya akan mendapatkan keluarga baru yang sangat menyayanginya.